Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Nasehat Pak Roni


__ADS_3

Pak Roni sudah sampai di rumah. Dia masuk ketika semua orang sedang sarapan pagi. "Assalamualaikum," ucap Pak Roni.


"Waalaikumsalam," sahut Bu Silvi.


"Papa sudah pulang, kok tidak hubungi Mama sih. Nanti kan bisa dijemput sama Rizal," sambungnya.


Pak Roni menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Dia mencuci tangan di dapur dan langsung bergabung di meja makan. "Apa yang sedang terjadi dalam rumah ini? Rizal bisakah kamu menjelaskan semuanya pada Papa," tanya Pak Roni penasaran.


Rizal meletakkan sendoknya, dia diam seakan enggan untuk menjelaskan. "Zahra telah berselingkuh dengan Mas Reza, Pa! Bahkan sampai hamil," ucap Rizal dengan raut wajah penuh kebencian.


"Apa kamu percaya dengan semua itu?"


Rizal mengangguk. "Iya Pa, aku mempunyai bukti untuk membuktikannya," jawab Rizal.


"Papa tidak menyangka kalau kamu bisa sampai sejauh ini. Selama ini Papa diam ketika kalian menindas Zahra. Tapi kali ini sikap kalian sangat keterlaluan. Terutama kamu Ma, sejak pertama kali Zahra masuk di rumah ini. Kamu sudah menyiksanya, seharusnya Mama itu bersyukur karena Zahra adalah anak yang baik," ucap Pak Roni, dia menegur semua orang yang ada di meja makan.


Bu Silvi terkejut ketika mendapat teguran dari suaminya. Dia meletakkan sendok dengan kasar dan berkata, "jadi Papa menyalakan Mama juga. Terus selama 5 tahun keluarga ini belum mendapatkan keturunan juga, apa itu juga salah Mama? Seharusnya Papa itu mikir dong, mempunyai menantu kalau tidak berguna itu buat apa, Pa?"


"Sudah deh, Papa tidak usah ikut campur dengan masalah Rizal biar Mama ya menanganinya. Apapun yang Mama lakukan itu semuanya demi kebaikan Rizal, Pa. Demi kebahagiaan keluarga kita, kalau Papa tidak mendukung lebih baik diam," sambung Bu Silvi dengan nada ketus.


Pak hanya bisa menghela nafas panjang. Dalam masalah seperti ini dia tidak akan pernah bisa membantah istrinya. "Tapi bapak tidak percaya kalau Reza, melakukan hal seperti itu pada adik iparnya sendiri. Papa tahu betul sifat dan watak Reza itu seperti apa. Jadi kalian berhenti melibatkan Reza dalam masalah ini. Papa tidak tahu permainan apa yang sedang kalian lakukan. Satu pesan Papa tetap bersikap baiklah dalam keadaan apapun. Jangan menggunakan cara-cara kotor hanya untuk mencapai sebuah tujuan. Ingatlah selalu hukum tabur tuai dalam kehidupan ini. Hanya mengingatkan kalian terserah kalian mau mendengarkannya atau tidak."

__ADS_1


"Oh ya, Zahra sedang dirawat di rumah sakit. Rizal, sebaiknya kamu ke sana, temani istri kamu. Untuk sekarang dia butuh dukunganmu. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anak kamu," ucap Pak Roni dengan tegas.


"Tidak Pa. Aku tidak akan menemuinya lagi. Aku akan menceraikannya di saat bayinya lahir nanti. Kenapa Papa begitu yakin kalau anak yang dikandung Zahra itu adalah anakku. Papa seharusnya lihat video yang ada di dalam ponselku. Dalam video itu Mas Reza ingin memperkosa Zahra dan hal itu terjadi ketika aku sedang ada di luar negeri. Terus sekarang, Papa menyuruhku untuk percaya dengan dia. Sedangkan aku mempunyai semua bukti," ucap Rizal dengan sorot mata penuh kebencian.


"Rizal Mungkin kamu lebih mendengarkan ucapan Mama kamu daripada ucapan Papa. Sebaiknya kamu merenungkan dulu sikapmu itu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Dalam hati Papa, Zahra lah yang terbaik. Meskipun, sekarang kamu sudah menyanding istri yang baru. Akan tetapi wanita seperti Zahra sangat langka di dunia ini," sahut Pak Roni.


"Papa sebaiknya diam, Mama tidak ingin ada keributan di meja makan ini. Apalagi keributan itu karena membicarakan seseorang yang tidak penting. Satu lagi menantu Mama adalah Viona, sedangkan wanita Itu akan Mama hapus dari daftar keluarga secepatnya." Bu Silvi selalu membantah ucapan suaminya.


Akhirnya Pak Roni menyerah dia beranjak dan naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya. Viona hanya diam dia tidak berbicara sedikitpun, ketika ada ayah mertuanya. Merasa dibandingkan membuat Viona semakin membenci Zahra.


"Dasar mertua sialan, apa matanya sudah buta? beraninya membandingkan aku dengan wanita itu. Sampai mati pun dia tidak akan pernah sebanding denganku," gumam Viona dalam hati. Dia sangat tidak suka dengan ucapan ayah mertuanya.


"Rizal kamu tidak usah memperdulikan ucapan Papamu. Kamu harus percaya sama Mama, lagian semua bukti sudah jelas. Jadi tidak ada yang diragukan lagi," sambung Bu Silvi.


Rizal hanya menarik nafas sedalam-dalamnya. Dadanya terasa sesak jika mengingat video dan semua foto Zahra dengan Reza.


"Baiklah kalau begitu aku pergi ke kantor dulu. Nanti malam mungkin aku akan lembur, jadi tidak usah tunggu aku pulang," ucap Rizal, dia tampak lesu dan tidak bersemangat.


Viona berdiri dari tempatnya. Dia berjalan menghampiri Rizal untuk merapikan jas dan juga dasinya. "Baiklah aku akan langsung tidur nanti malam. Kamu hati-hati dalam bekerja ya. Semangat dong, jangan lesu seperti ini. Dilihatnya tidak enak, Sayang," ucap Viona dengan nada manja.


Rizal menurunkan tangan Viona setelah itu dia mengambil tasnya dan langsung pergi ke kantor. "Aku berangkat Ma," pamit Rizal.

__ADS_1


"Hem, hati-hati di jalan," seru Bu Silvi.


Sesampainya di luar, Rizal langsung masuk ke dalam mobilnya. Kemudian Rizal melajukan kendaraannya itu ke jalan raya. Pikiran Rizal masih terbang kemana-mana. Meski dia telah berusaha, namun sangat sulit menghilangkan bayangan Zahra dalam benaknya.


Rizal menambah kecepatan mobilnya, dia berbelok ke arah rumah sakit. Dia penasaran dengan keadaan Zahra. Kurang lebih setengah jam, Rizal sampai di rumah sakit. Dia keluar dari mobil dan langsung masuk menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan Zahra.


"Maaf Sus, ruangan pasien atas nama Zahra Verlita ada di lantai berapa ya?" tanya Rizal.


"Sebentar Pak, saya carikan!" jawab suster.


Suster itu langsung mencari dari komputernya. Setelah ketemu suster itu pun menjawab, "Ruangan atas nama Zahra Verlita berada di lantai 3 ruangan nomor 105 Pak."


"Terima kasih, Sus. Saya permisi dulu." Rizal langsung menuju ke lantai tiga dengan naik lift. Tak ada lima menit, Rizal sudah sampai. Dia mencari kamar nomor 105.


Sesampainya di depan pintu, langkah Rizal pun terhenti. Dia melihat Zahra dari kaca pintu. Rizal ingin masuk ke dalam, akan tetapi lagi-lagi dia mengingat video tersebut sehingga membuatnya ragu.


Di dalam ruangan, Zahra terlihat sangat lemah dengan beberapa memar di wajahnya. "Memar di wajahnya apa karena tamparanku kemarin?" gumam Rizal dalam hati.


Melihat itu membuat dada Rizal terasa sesak. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sakit melihat Zahra yang terlihat lemah seperti itu? Sikapku ini ... Ahh, membuatku bingung sekali."


Rizal mengusap kasar wajahnya, setelah itu dia menjauh dari ruangan Zahra. Dia tidak berani untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2