Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Kebaikan Reza


__ADS_3

Pagi hari.


Semua orang sedang sibuk dalam kegiatan masing-masing. Pak Roni sedang merawat istrinya, sedangkan Reza sedang membantu Zahra yang masih kesakitan. Untung saja, Keynara tidak rewel jadi Zahra bisa beristirahat dengan tenang.


"Zahra, kamu sarapan dulu. Selesai sarapan nanti kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu," ucap Reza, dia menyiapkan sarapan untuk Zahra.


Zahra mencoba untuk duduk, perutnya masih terasa nyeri sekali. "Perutku sakit sekali, Mas. Sangat nyeri di bagian sini," ucap Zahra dengan meringis menahan sakit.


Reza bingung harus bagaimana. Dia ingin menyentuh Zahra tapi sangat ragu. Mengingat dia belum resmi menikah dengan Zahra yang masih berstatus adik iparnya itu.


"Aku harus bagaimana, Zahra? Aku bingung sekali," ucap Reza, dia frustasi sekali karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Usia kandungan Zahra menuju ke 6 bulan. Jenis kelaminnya pun sudah diketahui. Kelak bayi Zahra berjenis kelamin perempuan.


Reza terus membantu Zahra untuk duduk dengan nyaman. Dia rela meninggalkan pekerjaannya demi mengurus sang pujaan hati.


"Kamu makan ya, aku suapi kamu!" Reza terus berupaya untuk membuat Zahra rileks.


Zahra mengunyah makanannya dengan susah payah. Nyeri di perutnya tidak bisa ditahan lagi. "Aduh Mas, sakit banget! Bagian sini sakit sekali," rintih Zahra kesakitan.


"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang." Reza panik dan segera bersiap membawa Zahra.


"Reza bagaimana keadaan, Zahra?" tanya pak Roni yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Zahra.

__ADS_1


Reza siap menggendong Zahra. "Aku mau membawanya ke rumah sakit, Pa. Perutnya semakin sakit," jawab Reza.


"Bawalah, maaf Papa tidak bisa membantu," ucap pak Roni. Dia sangat bingung sekali dengan semua masalah yang timbul.


"Kita harus membahas masalah ini, Pa. Semuanya sangat kacau dan tak terkendali. Nanti, Reza akan hubungi Papa."


Setelah itu Reza pergi keluar dari rumah untuk menuju ke rumah sakit. Dia semakin panik karena wajah Zahra sangat pucat disertai keringat dingin.


"Zahra kamu bertahan ya! Aku akan cepat menuju ke rumah sakit!" ucap Reza. Zahra hanya diam, dia masih menahan rasa nyeri yang luar biasa itu.


Perjalanan menuju ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit saja. Sesampainya di sana, Reza keluar dan langsung menggendong Zahra masuk ke ruang IGD untuk pertolongan pertama.


"Dokter, tolong bantu periksa adik saya. Dia habis terpeleset di lantai," seru Reza disertai rasa panik.


Dokter langsung menangani Zahra. Lalu Reza segera keluar ruangan untuk mengisi pendaftaran di resepsionis. Beberapa menit kemudian, Reza telah selesai. Zahra juga sudah pindah ke ruang rawat. Dia sedikit bernapas lega karena Zahra mendapatkan pertolongan yang tepat sehingga kejadian buruk dapat dihindarkan.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan itu. Reza segera berdiri dan menanyai dokter tentang kondisi Zahra.


"Bagaimana kondisi adik saya, dok?" tanya Reza.


Dokter menghela napas panjang. "Untung saja anda langsung bawa ke rumah sakit. Kalau telat sedikit saja bisa berbahaya. Kemungkinan bayi akan lahir prematur karena kondisi fisik ibu bayi juga tidak sehat. Harus banyak istirahat dan juga jangan terlalu stres. Pasien sedang istirahat, jadi jangan ganggu dulu. Kalau begitu saya permisi!" jelas dokter.


Reza mengangguk lalu berpikir keras. "Bagaimana Zahra tidak kecapekan? Di rumah dia harus membantu mengurus Keynara. Apalagi saat Keynara rewel, Zahra harus ekstra sabar dengan perutnya yang besar. Di tambah lagi, tekanan batin dari Mama yang masih belum bisa menerima kehadirannya kembali. Mama terus menyalahkan Zahra atas kecelakaan Rizal," monolog Reza dalam hati.

__ADS_1


"Ingin sekali aku membawanya pergi dari sini, tetapi kenyataan lah yang membelenggu di sini. Aku belum berhak atas diri Zahra, karena sampai saat ini aku masih berstatus mantan kakak ipar." Reza terus berbicara dalam hati. Dia sangat gusar dengan semuanya.


Akhirnya, Reza kembali ke rumah untuk berbicara pada ayahnya. Dia ingin membahas tentang masalah saat ini. Reza keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran mobil. Setelah itu dia melajukkan mobilnya hingga sampai rumah.


Dua puluh menit kemudian, Reza sampai juga di rumah. Dia langsung mencari ayahnya yang ternyata tidak bisa pergi ke kantor. "Pa kita harus bicara!" panggil Reza pada ayahnya.


Pak Roni berjalan lesu ke ruang tamu. "Iya ada apa?" tanya pak Roni kurang semangat.


"Sebelumnya aku minta, Pa. Tapi ini demi kebaikan semuanya. Aku mau mengusulkan, bagaimana kalau kita pindahkan Mama ke panti jompo. Kalau Mama di sana tentunya akan lebih terawat. Papa bisa mengurus kantor, pekerjaanku juga tidak terganggu. Lalu, yang lebih penting. Zahra nyaman tinggal di rumah ini," jelas Reza.


Pak Roni diam tak menjawab usulan Reza. Dia masih memikirkan baik dan buruknya jika rencana itu terlaksana.


"Pa, sikap Mama yang belum bisa menerima kenyataan membuat batin Zahra tertekan. Aku tidak mau itu terjadi, Pa. Aku tidak melihat Zahra kesulitan dan bersedih. Aku ingin dia bahagia, karena tekadku sudah bulat akan menikahinya ketika Zahra sudah melahirkan nanti. Aku akan menjadi ayah untuk kedua anak Rizal. Semua itu aku lakukan demi Zahra. Jadi aku mohon Papa pertimbahkan maksudku ini, karena aku yakin ini terbaik untuk semuanya," ucap Reza, dia mengungkapkan perasaannya.


Pak Roni menghirup napas dalam. "Baiklah, Papa akan memindahkan Mamamu ke panti jompo. Papa juga sudah menyerah dengan sikap keras kepalanya itu. Sampai saat ini dia belum bisa menerima kenyataan kalau Rizal telah meninggal. Jujur Papa sangat sedih dengan kenyataan ini, tapi mengingat perilaku Mamamu terhadap Zahra membuat Papa tidak bisa menyalahkan takdir ini."


"Terima kasih Papa sudah mengerti maksudku. Kalau begitu aku sedikit lega, Pa. Semoga Mama cepat diberi kesadaran agar bisa menjalani hidup ini dengan baik. Aku dan Zahra akan selalu bersama Papa sampai kapanpun," ucap Reza hingga membuat ayahnya terharu.


Pak Roni meneteskan air mata haru. "Kamu anak baik, sifatmu mirip sekali dengan almarhum Mamamu. Terima kasih sudah menjadi anak yang berbakti meski Mamamu yang sekarang tidak menyayangimu, tapi kamu masih bersikap baik padanya."


Reza tersenyum. "Semua karena Zahra, Pa. Zahra lah yang membuatku seperti ini. Aku berubah karena kebaikan hatinya. Maka dari itu aku tidak akan membiarkan masalah menimpa hidupnya," jawab Reza.


Pak Roni mengangguk. "Papa merestui hubungan kalian. Semoga jalanmu dipermudah untuk meminang Zahra."

__ADS_1


"Aammiin, terima kasih atas restu dan doa Papa. Kalau begitu aku kembali ke rumah sakit dulu karena Zahra belum sadar. Kandungannya mengalami masalah karena terpeleset tadi malam saat ingin menolong Mama. Kata dokter, ada kemungkinan kalau Zahra akan melahirkan secara prematur, Pa!" jelas Reza.


"Kamu harus selalu memantau kondisi Zahra. Hanya kamu yang bisa dia andalkan. Ya sudah kamu cepat kembali ke rumah sakit. Biar Papa yang mengurus pindahan Mamamu," ucap pak Roni. Reza tersenyum, setelah itu dia pergi untuk kembali ke rumah sakit.


__ADS_2