
Bu Silvi sedang memikirkan rencana untuk mencelakai Zahra. Entah kenapa dia sangat membenci menantunya itu. Padahal sebagai seseorang menantu Zahra itu sangat penurut bahkan jarang sekali melawan. Seharusnya Bu Silvi itu bersyukur mempunyai menantu seperti Zahra.
Tiba-tiba Viona memberikan usul pada mertuanya, "Bagaimana kalau kita pura-pura tidak tahu saja. Kita buat Zahra stres dalam rumah ini agar kandungannya itu mendapat kendala. Bukankah Mama tadi bilang kalau kandungannya itu selalu tidak bisa bertahan dalam waktu 2 bulan? Cara yang terbaik adalah memberikan beban mental padanya agar kita aman dari kasus kriminal. Sangat berbahaya Ma, jika kita melakukan sebuah aksi yang terlihat nyata."
Bu Silvi terdiam sembari mencerna ucapan Viona. "Baiklah Mama setuju dengan usulmu. Mama akan selalu menekan dia dalam rumah ini. Sepertinya kamu juga harus menunjukkan kekuasaanmu atas Rizal. Jangan biarkan Rizal bisa menghubunginya, karena dia adalah sumber kekuatan Zahra," imbuh Bu Silvi.
"Oke Ma, aku akan setuju dengan usul Mama. Lagian kita sudah mempunyai satu video yang akan bisa mengusir Zahra dari rumah ini. Video itu adalah senjata pamungkasku." Viona tersenyum licik dan juga bangga.
Di Tempat Lain.
Zahra masih makan-makan dengan teman kerjanya. Dia terlihat sangat senang dan bahagia dengan apa yang dicapainya. Senyumannya lebar tanpa menunjukkan kekisruhan dalam hatinya. Dia tetap bisa membawa diri meski rumah tangganya di ambang kehancuran.
"Zahra, terima kasih ya. Berkat kamu kita semua jadi happy. Gaji semua karyawan jadi naik karena kamu," bisik salah satu teman Zahra.
Zahra menanggapi dengan senyuman, "Sama-sama, mungkin ini rezeki buat kita semua. Jangan lupa selalu mengucap syukur Alhamdulillah pada yang Kuasa," jawab Zahra.
"Iya kita semua bersyukur banget," sambung temannya.
Acara makan-makan itu dilakukan sampai sore hari. Mereka berbincang ria menikmatinya kebersamaan. Hingga tepat jam 4 sore, kegiatan itu pun selesai. Sang pemilik butik menutup acara dan semua orang mulai membubarkan diri.
Dinda berpisah dengan teman-temannya. Dia akan pulang dengan naik taksi. Tak menunggu lama, ada taksi yang lewat. Zahra masuk ke dalam dan menuju ke rumah.
Di dalam taksi, Zahra mengelus perutnya dengan penuh kasih. Dia tersenyum seakan mempunyai kekuatan baru untuk tetap bisa bertahan. Zahra sudah membayangkan untuk menggendong bayinya nanti.
__ADS_1
Larut dalam khayalan membuat Zahra tidak menyadari kalau dia sudah sampai di rumah. "Mbak kita sudah sampai di rumah," ucap sopir taksi itu, dia membuyarkan lamunan Zahra.
"Oh, iya Pak. Maaf saya melamun tadi," sahut Zahra," sahut Zahra. Setelah itu dia membayar ongkos taksi kemudian dia keluar dan langsung masuk ke dalam rumah.
Ketika masuk rumah dalam keadaan sepi. Siaran langsung naik ke atas tanpa mempedulikan semua itu. Namun, sesampainya di atas Zahra dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat ibu mertuanya sedang mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kamar.
"Ma ada apa, Ma? Kenapa Mama mengeluarkan semua barangku dari dalam kamar?" tanya Zahra dengan wajah melas.
"Malam ini, kamu harus pindah dari sini ke kamar bawah. Viona menginginkan kamarmu. Jadi, silakan kamu pindah ke kamar bawah," ujar Bu Silvi tanpa perasaan.
Zahra menahan emosinya. "Aku tidak mau pindah Ma. Jadi jangan paksa aku untuk pindah dari kamarku sendiri. Ini kamarku dengan Mas Rizal jadi tidak satupun orang yang bisa menggantikannya," ucap Zahra dengan menahan sakit di dadanya.
Penolakan Zahra membuat Bu Silvi geram. Lalu, dengan emosinya Bu Silvi mengumpat menantunya itu dengan kasar. "Kamu pikir rumah ini, rumah siapa? Akulah yang berkuasa di sini. Jadi kalau aku memintamu untuk pindah ya pindah saja, tidak usah menolak karena kamu tidak punya hak untuk itu. Lagian, Rizal juga sudah menyetujui hal ini. Cepat bereskan barang-barangmu dan bawa semuanya ke lantai bawah, tepat jam sembilan nanti kamu harus selesai mengerjakan semua ini," ucap Bu Silvi.
Bu Silvi mengepalkan kedua tangannya. Dia mendorong tubuh Zahra hingga terpental ke tembok.
"Aww," pekik Zahra sembari memegangi perutnya.
"Kamu tetap pindah malam ini. Kalau tidak, lebih baik angkat kaki saja dari sini. Mungkin akan lebih baik jika seperti itu," sentak Bu Silvi dengan kejamnya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Zahra yang terduduk di lantai.
"Mas, apa semua ini memang benar keputusanmu? Kalaupun iya kenapa kamu begitu tega? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku? Apakah aku memang sudah tidak berarti dalam hidupmu?" Zahra terisak dalam tangis, hatinya hancur sekali lagi.
Zahra berdiri dengan menguatkan kakinya. Dia melangkah ke dalam kamar dengan berat hati. Zahra melihat ke sekeliling ruangan, semua baju dan barang-barang yang sudah berada di luar dan berserakan.
__ADS_1
Zahra mengambil tas dan koper untuk memindahkan semua barang-barangnya. Kamar yang penuh dengan kenangan manis bersama Rizal, kini akan ditinggalkannya. Hati Zahra begitu rapuh jika mengingat kenangan manis itu. Dia tidak bisa merasakan kembali masa-masa bahagia bersama suaminya.
Setelah mengemasi semua barang-barangnya, Zahra mulai mengangkat koper dan tas itu ke lantai bawah. Dia mengangkat semua itu satu persatu dengan menuruni anak tangga.
Di bawah terlihat Viona dan juga Ibu mertuanya sedang bersantai dan bercengkrama di depan televisi. Terdengar suara gelak tawa Viona seakan puas melihat penderitaan Zahra. Sungguh sangat ironis kehidupan Zahra di keluarga itu.
Saat Zahra kesulitan membawa semua barang-barangnya, datanglah Reza yang baru pulang dari kantor. Dia terkejut melihat Zahra yang sedang sibuk memindahkan barang.
"Zahra, apa yang kamu lakukan? Kamu pindah kamar?" tanya Reza. Dia sudah tahu siapa dibalik semua itu.
Reza melangkahkan kakinya, dia ingin melabrak ibu dan juga Viona. Namun, langkahnya dicegah oleh Zahra. "Stop, Mas. Kamu jangan ikut campur, aku tidak mau timbul salah paham yang nanti bisa memperburuk keadaan."
"Mereka itu sudah keterlaluan, Zahra. Aku harus menyelesaikan semua ini, jika suamimu memang tidak bisa tegas pada keluarganya sendiri. Aku tidak sanggup melihatmu menderita Zahra. Sungguh bodohnya Rizal membiarkanmu menderita seperti ini. Aku harus menemui mereka," ucap Reza penuh emosi.
Zahra langsung menarik tangan kakak iparnya. Dia sungguh tidak ingin jika Reza terlibat keributan dengan ibu mertuanya. "Mas aku mohon, jangan Mas. Aku tidak mau kamu terlibat keributan dengan Mama hanya karena aku."
Reza menarik nafas dalam, dia mencoba bersabar untuk menghadapi situasi itu. "Apa kamu tahu tujuan mereka, Zahra? Mereka ingin kamu pergi dari rumah ini, mereka sengaja membuat kamu tidak betah dan selalu menindasmu. Sampai kapan kamu akan seperti ini, Zahra? Sampai kapan kamu akan bertahan dan menyakiti dirimu sendiri. Aku mohon sama kamu, lawan mereka. Jika kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu. Buang sifat pasrahmu itu, Zahra. Buang jauh-jauh! Kalau kamu tidak memikirkan dirimu sendiri, coba kamu pikirkan nasib janin yang ada dalam kandunganmu. Dia akan menderita jika kamu terus bersedih."
Ucapan Reza membuat Zahra menangis. Semua kata-kata Reza memang benar kenyataannya. Zahra terdiam tak berkata-kata hingga membuat Reza begitu iba.
"Sudahlah, aku yakin kamu tidak bisa melakukannya. Hatimu terlalu lembut untuk disakiti, Zahra. Kamu terlalu istimewa untuk mendapatkan penderitaan ini. Kamu beristirahatlah, biar aku yang mengangkat semua barang-barang mu. Jangan sampai kecapean, berhentilah menangis!"
Reza mengusap air mata Zahra, dan adegan itu disaksikan oleh Viona. Dia langsung menggunakan kameranya untuk mengabadikan momen itu.
__ADS_1
"Koleksiku bertambah lagi, sungguh sangat romantis sekali mereka. Aku jadi tidak sabar menyerahkan ini pada Rizal. Bagaimanakah nanti ekspresi Rizal, jika melihat istri tercintanya itu bermesra-mesraan dengan kakak iparnya sendiri? Pasti akan sangat mengasyikkan jika terjadi keributan di antara mereka," ucap Viona dengan tersenyum licik.