Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Kembali Sedih


__ADS_3

Rizal merangkul pinggang istrinya dengan mesra. Sesampainya di dalam, Bu Silvi sangat terkejut melihat Rizal yang datang berkunjung. "Rizal apa yang kamu lakukan di sini?" tanya sang ibu.


"Maksud Mama apa? Aku datang hanya untuk Zahra," jawab Rizal dengan santainya.


"Lalu bagaimana dengan Viona? Kamu membiarkan dia sendirian di rumah?"


Rizal menarik nafas dalam. "Ma, aku harus bersikap adil pada kedua istriku. Kalau tidak maka aku akan sangat bersalah sekali," jelas Rizal.


"Sudahlah, Ma. Aku tidak ingin berdebat, biarkan aku menikmati waktu bersama Zahra," sambung Rizal.


Setelah itu dia naik ke atas untuk masuk ke dalam kamar. Bu Silvi berdecak kesal karena Rizal yang mulai membantahnya. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu," gumam Bu Silvi.


Sesampainya di kamar Zahra terdiam. Lalu, Rizal bertanya pada istrinya, "Kamu kenapa? Kok gitu mukanya?"


Zahra menggelengkan kepalanya."Aku merasa kalau aku ini memang pembuat keributan di keluarga ini Mas."


"Siapa bilang? Kamu adalah istri terbaikku, sifat yang kamu miliki aku sangat menyukainya. Hanya kamu yang bisa mengerti apa yang aku mau," ucap Rizal menyanjung istrinya.


Zahra tersenyum getir mendengar pujian dari Rizal. "Sanjunganmu membuatku merasa aneh, Mas. Seharusnya aku senang, tapi sekarang begitu berbeda."


"Ayok sekarang," ajak Rizal.


"Kemana Mas?" tanya Zahra bingung.


Mata Rizal melirik-lirik ke arah kasur. Namun, Zahra masih saja belum mengerti. "Mas mau tidur? Masih sore Mas," ucap Zahra polos.


Rizal menghela nafas panjang, lalu dengan cepat dia menggendong istrinya dan membawanya ke atas kasur. "Kenapa kamu tidak konek, Sayang! Aku tadi bukannya sudah bilang ingin memakanmu." Rizal menaikkan kedua alisnya dan tersenyum menyeringai.


"Mas, tapi ini masih sore. Katanya kamu tadi ingin aku memasak sesuatu," seru Zahra protes.


Rizal meletakkan tubuh istrinya pelan diatas kasur. Setelah itu dia segera mengungkungnya. "Masaknya nanti saja setelah jeda iklan yang akan aku lakukan."


Zahra tersenyum melihat Rizal yang tersenyum manis padanya. Setelah itu mereka pun memadu kasih dan melepaskan rindu yang sempat terhalang beberapa minggu.


Satu jam kemudian.


Zahra baru selesai mandi untuk mensucikan diri sebelum beribadah. Tak lama kemudian, keluarlah Rizal dari dalam kamar mandi. Dia sudah lengkap dengan baju koko dan sarungnya.


"Sudah siap, yuk sholat!" ajak Rizal.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia membentangkan sajadah dan mulai berdiri di belakang suaminya. Rizal pun mengimami istrinya. Kurang lebih lima belas menit sholat Maghrib selesai. Zahra mencium tangan suaminya setelah selesai berdoa.


"Aku senang jika kita seperti ini Mas. Hal seperti ini sudah jarang terjadi. Semenjak kamu ...."


"Jangan teruskan, aku tidak mau kamu bersedih. Kita pasrahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Semoga doa kita didengar dan dikabulkan," ucap Rizal menenangkan hati istrinya.


Zahra mengangguk dan tersenyum penuh dengan cinta. Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Zahra menoleh. "Aku membuka pintu dulu Mas."


Zahra berdiri dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Setelah pintu terbuka, ternyata Reza yang datang. "Iya ada apa Mas? Mau tanya Papa sama Mama lagi pergi ya?"


"Hem, entah kalau mereka pergi," jawab Zahra bingung.


"Siapa Sayang?" seru Rizal dari dalam.


Reza mengerutkan dahinya ketika mendengar suara Rizal.


"Ini Mas Reza, tanya Papa sama Mama ada dimana?" sahut Zahra.


Rizal pun ikut muncul menghampiri istrinya. Lalu, Reza langsung menyapa adiknya itu. "Kamu sudah pulang, Zal? Kapan?"


"Tadi pagi, Mas," jawab Rizal sedikit cuek.


"Oh ya tadi aku beli makanan, kita makan bareng saja. Kalian sudah makan belum?" tanya Reza.


"Sepertinya ti ...."

__ADS_1


"Baiklah Mas, kita akan makan bareng. Aku juga ingin memasak sedikit makanan," sahut Zahra, dia memotong pembicaraan suaminya.


Reza tersenyum lalu pergi dari tempat itu. Rizal menatap heran istrinya. "Kamu sejak kapan akrab dengan Mas Reza?" tanya Rizal.


"Emangnya kelihatan akrab Mas? Perasaan hanya biasa saja kok, ya sudah ayo turun makan malam. Aku masakin sesuatu buat kamu." Zahra masuk ke dalam kamar untuk berganti baju. Setelah itu dia turun ke dapur untuk memasak makan malam.


Rizal masih menatap heran istrinya, ada pemikiran aneh yang melintas di kepalanya. Namun, Rizal tidak mau memikirkan hal itu. Sesampainya di bawah, Zahra langsung masuk ke dalam dapur untuk membuat mi goreng kesukaan suaminya.


Zahra menyiapkan semua bahan dan datanglah Reza dari belakang. "Kamu sedang apa Zahra?" tanya Reza.


"Ini Mas, aku lagi memasak mi goreng kesukaan Mas Rizal. Memang tadi Mas Reza membeli apa?"


"Ouh aku membeli ayam goreng penyet, kebetulan ada 3 bungkus. Tadinya aku mau kasih ke Papa, tapi orangnya pergi. Ya sudah aku ajak kamu saja," jawab Reza, dengan mempersiapkan makanan di meja.


Tak lama kemudian, Rizal turun dan melihat kakaknya sedang mengobrol dengan Zahra. Rizal berdehem untuk mengurai keakraban itu.


"Ehem."


Reza menoleh ke arah Rizal, sepertinya dia tahu maksud dari adiknya itu. Rizal berjalan masuk ke dalam dapur untuk menghampiri Zahra. "Kamu masak apa sayang?" tanya Rizal.


"Ini Mas, aku sedang masak mi goreng kesukaanmu," jawab Zahra.


"Hem, seperti biasanya masakan istriku ini pasti sangat harum dan enak."


"Sudah sana, cepat duduk! Ini sudah mau matang." Zahra meminta Rizal untuk duduk di meja makan. Setelah itu dia menuangkan semua mi gorengnya ke dalam piring.


Zahra membawa 3 piring yang semua berisi mi goreng. Satu piring diberikan pada Rizal dan yang satu ke kakak iparnya. Setelah itu, dia duduk di samping suaminya.


Semua makan dengan lahap, tak ada obrolan di meja makan itu. Sesekali Rizal menggoda istrinya hingga tersipu malu. Zahra ingin berbicara sesuatu pada suaminya. Dia ingin berkata kalau dia sudah bekerja.


"Mas, aku mau ...." Tiba-tiba saja handphone Rizal berbunyi. Panggilan dari Bu Silvi terpampang di layarnya.


"Sebentar aku angkat telepon dulu, panggilan dari Mama," ucap Rizal.


Rizal pergi dari meja makan untuk mengangkat telepon. Beberapa saat kemudian, kembali dan meminta izin pada Zahra untuk pergi ke rumah sakit.


Hati Zahra terasa nyeri, senyum di wajahnya hilang seketika. "Viona kenapa Mas?" tanya Zahra.


"Aku juga tidak tahu, Mama hanya menyuruhku untuk ke rumah sakit. Aku bersiap-siap ya. Kamu lanjutkan makanmu saja!"


Rizal langsung naik ke atas untuk menuju ke kamarnya. Zahra langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa sedih dalam hatinya.


Reza hanya diam dan memperhatikan, ingin dia menghibur Zahra. Namun, dia tahu posisinya saat ini tidak tepat. Tak lama kemudian, Rizal turun dari lantai atas. Dia tampak terburu-buru sekali.


"Sayang aku pergi ya, Assalamualaikum!" pamit Rizal pada istrinya.


"Waalaikumsalam, Mas hati-hati di jalan."


Rizal pun pergi meninggalkan Zahra di rumah. Sesampainya di luar, Rizal langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pergi ke rumah sakit untuk menemui Viona.


Membutuhkan waktu, setengah jam untuk sampai di rumah sakit. Sesampainya di sana, Rizal langsung turun dan masuk ke dalam. Dia naik ke lantai 4 untuk menuju ke ruang rawat Viona.


Sesampainya di ruangan, Rizal pun masuk ke dalam. "Assalamualaikum," ucap Rizal.


"Sayang, kamu datang juga," seru Viona senang.


"Ada masalah apa? Kamu sakit?"


Viona menggeleng lalu tersenyum. "Ada berita bagus untukmu. Aku hamil," ucap Viona senang.


"Iya Viona hamil, jadi kamu harus baik-baik dengannya. Jangan membuatnya stres," sahut Bu Silvi.


Rizal mendekati Viona yang sedang berbaring di atas kasur. Dia memegang perut Viona yang masih rata itu. Seketika dia mengingat Zahra yang sedang ada di rumah.


"Sayang kamu kenapa? Kok diam saja dari tadi, kamu tidak senang ya aku hamil," ucap Viona dengan perasaan yang curiga.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka kalau kamu akan secepat ini hamil," jawab Rizal.


"Tentu saja cepat, Viona itu wanita sehat dan sempurna. Tidak seperti orang itu, dia jadi istri yang merugikan," cibir Bu Silvi menyindir Zahra.


Rizal hanya diam tak menjawab cibiran ibunya. Dia tahu kalau tidak akan menang jika membantah sang ibu.


"Sayang, sekarang kita pulang. Aku ingin segera istirahat di rumah sama kamu," ajak Viona, dia berubah semakin manja.


"Baiklah, ayo kita pulang karena hampir malam."


Setelah itu, Rizal pulang ke rumah bersama Viona. Lalu, Bu Silvi pulang ke bersama suaminya. Pak Roni sengaja menunggu di mobil karena dia sedikit muak dengan sandiwara istri beserta menantunya.


Di Rumah.


Sejak Rizal memutuskan untuk pulang. Zahra terus diam tanpa berkata sepatah katapun. Zahra terus melamun, seperti orang yang kehilangan semangat. Selesai makan malam dia langsung masuk kamar setelah membereskan semua piring. Reza juga tidak berani mengatakan apapun karena dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Zahra.


Di dalam kamar, Zahra sedang menyiapkan peralatan untuk kerja besok. Setelah itu dia langsung ambil wudhu karena sudah memasuki waktu ibadah isya'. Setiap hatinya merasa sedih, Zahra menggunakannya untuk berdoa pada Sang Pencipta. Hanya doa lah yang mampu membuatnya tenang.


Sepuluh menit kemudian, Zahra selesai beribadah. Lalu, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Suara ibu mertuanya menggelegar sedang memanggilnya.


"Zahra, Zahra, keluar kamu," panggil Bu Silvi keras.


Zahra segera melepaskan mukenanya, dia beranjak untuk membukakan pintu. "Iya Ma, ada apa?"


"Ada apa, ada apa? Kamu itu harusnya tahu diri, jangan sok-sokan untuk mempengaruhi Rizal. Lalu, mulai sekarang kamu harus bersikap baik dengan Viona karena dia sudah positif hamil. Jadi kamu harus memposisikan dirimu dengan baik, jangan membuat masalah terus. Mengerti!"


"Juga, mulai besok Bi Surti akan aku pindahkan ke rumah Rizal. Jadi semua pekerjaan di rumah ini kamu yang pegang. Jadi kalau ingin pergi bekerja kamu harus selesaikan dulu pekerjaan rumah," tegas Bu Silvi pada menantunya.


Zahra diam mengangguk, dia pasrah terhadap semuanya. Kemudian, Bu Silvi beranjak dari kamar itu. Zahra menutup pintunya dan dia menghela nafas dalam, "Aku harus kuat dan tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa melalui semua ini."


Setelah itu Zahra bersiap untuk tidur. Dia ingin menenangkan hatinya agar bisa menghadapi kenyataan esok pagi.


Keesokan harinya.


Fajar menyingsing, Zahra telah selesai sholat subuh. Dia segera beberes dan menuju ke dapur untuk memasak serta melakukan pekerjaan lainnya. Pagi ini Bi Surti masih di rumah jadi sebagian pekerjaannya masih dipegangnya.


"Bi, biar aku bantu!" Zahra membantu Bi Surti memasak. Tiba-tiba dari belakang datang Reza yang ingin mengambil minum.


"Zahra," sapa Reza.


"Mas, tumben kamu sudah bangun," ucap Zahra membalas sapaan kakak iparnya.


"Iya, karena aku haus. Nanti, kita berangkat bareng ya!"


Zahra terdiam dan belum menjawab pertanyaan Reza.


"Zahra," ucap Reza mengulangi panggilannya.


"Baiklah Mas, nanti kita bareng lagi."


Reza tersenyum. "Oke, kamu sebaiknya jangan terlalu capek. Biar semua dikerjakan oleh Bi Surti."


Setelah itu Reza langsung pergi dari dapur. Zahra merasa tidak enak dengan perhatian kakak iparnya. Satu jam kemudian, ketika semua masakan selesai. Zahra bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih dan bersiap untuk bekerja.


Semua orang pun sudah turun ke bawah untuk memulai sarapan pagi. Pak Roni, Bu Silvi, dan Reza turun menuju ke meja makan. Tak lama kemudian, Zahra menyusul dan segera ikut bergabung.


"Zahra, apa kamu baik-baik saja?" tanya pak Roni pada menantunya.


Zahra menjawab pertanyaan mertuanya, "Aku baik-baik saja, Pa."


"Ya sudah, untuk sementara kamu berangkat kerja bareng Reza saja. Ya hemat ongkos juga kan?" ucap pak Roni, hingga membuat istrinya tidak suka.


Zahra hanya mengangguk saja, dia lama-lama merasa sungkan dengan kakak iparnya sendiri.


"Bi Surti siang ini akan pindah ke rumah Rizal. Jadi, aku harap kamu bisa membagi waktu antara pekerjaanmu di luar dan juga di rumah. Kalau kamu tidak bisa membagi waktu, sebaiknya berhentilah bekerja," tegas Bu Silvi pada Zahra.

__ADS_1


"Iya Ma, aku mengerti!" jawab Zahra.


__ADS_2