
"Mas, lepaskan tanganmu!" Zahra menarik paksa tangan Rizal yang mencengkramnya hingga terlepas. Zahra beringsut ke belakang untuk menjauhkan diri dari suaminya. Dia menangis sesenggukan, kedua pipinya merah akibat kekuatan tangan Rizal.
Rizal terus berjalan mondar-mandir dengan memijat kepalanya yang sudah sangat pusing. Dia masih belum puas dengan jawaban istrinya.
"Sekarang aku tanya sekali lagi sama kamu, Zahra. Kamu hamil anak siapa? Jawab dengan jujur, sekarang!" teriak Rizal penuh dengan penekanan.
"Seribu kali kamu bertanya maka jawabanku akan tetap sama, bahwa anak yang aku kandung adalah anakmu, Mas," jawab Zahra dengan suara lemas. Dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk melawan.
"BOHONG, apa yang dikatakannya itu palsu, Rizal!" Tiba-tiba saja Bu Silvi menyahut ucapan Zahra.
"Seharusnya kamu itu jujur saja kalau sudah berselingkuh dengan Reza," seru Bu Silvi dengan ucapan bohongnya.
Zahra menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak benar Mas. Aku tidak pernah berselingkuh."
__ADS_1
Rizal mulai kehilangan kesabaran. Dia berjalan cepat ke arah Zahra. Setelah itu, Rizale menarik paksa istrinya untuk berdiri. "Sini kamu! Berdiri dan cepat jawab, agar semuanya selesai tanpa perdebatan lagi. Cepat jawab dan jujur, Zahra. Jangan membuatku semakin marah," teriak Rizal sangat kasar.
"Aku tidak berselingkuh, justru yang selingkuh di sini adalah kamu, Mas! Kamu yang sudah menduakan aku. Kamu juga yang telah mengkhianati rumah tangga ini. Kamu Mas, kamu yang berselingkuh."
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Zahra. Dia terhuyung ke samping dengan luka hati yang tak bisa tergambarkan lagi. Bu Silvi sangat senang melihat kehancuran rumah tangga Rizal dengan Zahra.
Air mata Zahra terus mengalir. Dia tidak menyangka jika pernikahannya akan berakhir dengan cara yang menyakitkan. Zahra mencoba untuk berdiri, meski tubuhnya lemas dan gemetar.
"Baiklah, aku akan pergi dari sisimu. Inilah akhir dari jalan cerita kita. Semoga kamu tidak menyesal, Mas. Di saat aku merestui pernikahanmu, di saat itu lah kamu menuduhku telah berselingkuh. Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan ibumu. Terima kasih atas luka ini."
Zahra berjalan tertatih menuju ke lemari untuk mengemasi barang-barangnya. Dia mengumpulkan kekuatan agar bisa melangkahkan kakinya keluar dari sangkar yang telah membelenggunya beberapa tahun.
__ADS_1
Rizal keluar dari kamar itu, setelah itu Bu Silvi menghampiri Zahra. Dia pun meledek menantunya, "Akhirnya kamu pergi juga dari sini. Seharusnya kamu itu pergi sejak awal. Semua ini salahmu sendiri yang tak tahu diri."
Bu Silvi sangatlah puas, tak lama kemudian Viona masuk ke dalam. Dia juga ikut memberikan selamat pada Zahra. "Ouh, kasihan sekali. Malang nian nasibmu Zahra. Makanya jangan sok kuat jadi orang, paling tidak tahu diri lah. Kamu tahu, orang yang sok kuat itu akan berakhir menyedihkan. Ya seperti kamu ini. Satu lagi, akulah pemenang dari permainan ini. Yuk, Ma kita keluar dari sini!"
"Yuk, makin sumpek suasana di kamar ini." Bu Silvi dan Viona pun keluar dari kamar itu. Sedangkan, Zahra mengemasi bajunya ke dalam koper.
Setelah mengemasi barangnya, Zahra bersiap untuk keluar. Dia mengelus perutnya dengan terus menitikkan air mata. Zahra melihat cincin di jari manisnya. Cincin yang mengikatnya dalam janji suci 5 tahun silam.
Zahra melepas cincin itu menaruhnya di meja. "Selamat tinggal, Mas. Aku anggap semua ini adalah jawaban atas doaku," ucap Zahra dalam hati, dengan langkah tegar dia keluar dari kamar itu.
Di ruang tamu, Viona dan ibu mertuanya mengantar kepergian Zahra dengan suka cita. Mereka tertawa di atas penderitaan Zahra. "Bye, bye, hati-hati di jalan ya. Jangan pingsan nanti nyusahin orang," ucap Viona mengejek.
Zahra tidak menghiraukan ejekan Viona. Dia tetap keluar dengan langkah tegar. Zahra menarik kopernya menuju jalan raya. Dari atas balkon, Rizal melihat kepergian istrinya. Ada rasa ragu, namun emosi telah menguasainya pikirannya.
__ADS_1