Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Bu Silvi Sadar


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu setelah Bu Silvi tinggal di panti jompo. Kandungan Zahra juga dalam keadaan baik-baik saja karena memang kesehariannya sudah tidak begitu stres.


Zahra sedikit melakukan pekerjaan, karena memang dilarang oleh Reza. Keynara juga sudah tidak sering rewel, dan umurnya sudah 2 bulan.


"Zahra hari ini apa kamu jadi menjenguk Mama?" tanya Reza yang sedang bersiap pergi ke kantor.


Zahra menoleh lalu menjawab, "Jadi dong, Mas. Mama sedikit bisa menerimaku, dia tidak lagi marah ketika aku dekati. Alhamdulillah Mas akhirnya Mama sadar juga."


"Syukurlah aku juga ikut senang. Kamu nanti pergi dengan siapa?" tanya Reza.


Zahra meletakkan Keynara di sofa. "Aku nanti pergi sama Mbak Lilis naik taksi, Mas," jawab Zahra.


"Kamu mau bawa Keynara bersamamu?" tanya Reza.


Zahra mengangguk. "Ya, aku ingin mempertemukan Keynara dengan neneknya. Bukankah Mama menantikannya selama ini. Selama sakit Mama tidak bisa menggendong cucunya. Jadi aku punya inisiatif untuk mempertemukan Keynara dengan Mama," ujar Zahra dengan menatap Keynara.


"Zahra, aku sangat bangga padamu, kesabaran dan ketulusan hatimu mampu merubah segalanya. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk ...."


"Stop, Mas. Jangan lanjutkan lagi." Zahra memotong pembicaraan Reza.


Reza tersenyum ketika melihat Zahra yang tersipu malu. "Oke baiklah, aku tidak akan melanjutkan ucapan itu. Sampai kapanpun aku akan menunggu sampai kamu mengatakan iya dan bersedia untuk menerimaku menjadi pendamping hidupmu," jelas Reza.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu aku kantor dulu ya. Kamu nanti perginya hati-hati, selalu waspada dalam keadaan apapun. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku," imbuh Reza.


"Iya Mas kamu tidak usah khawatir aku akan jaga diri dengan baik," jawab Zahra.


Setelah itu Reza langsung pergi ke kantor. Dia memaklumi Zahra yang selalu membatasi diri ketika berhadapan dengannya. Reza sudah memantapkan hatinya akan menikahi Zahra ketika sudah melahirkan nanti.


Dua jam kemudian.


"Mbak, tolong bawa tas kecil untuk menaruh botol susu Key, ya!" seru Zahra dengan menggendong bayinya.


Sang pengasuh yang dipanggil mbak Lilis itu langsung mengambil tas kecil dan menaruh botol susu Keynara. Setelah itu mereka berangkat menuju ke panti jompo dengan naik taksi.


Bu Silvi sudah bisa sedikit berbicara. Akan tetapi kakinya masih belum bisa digerakkan. Semua itu karena usaha z


Zahra yang terus mendekati dan ingin berdamai dengan ibu mertuanya.


"Assalamualaikum, Ma aku datang! Seperti janjiku kemarin aku membawa Keynara ke sini." Zahra menggendong Keynara dan berjalan mendekat ke ranjang Ibu mertuanya.


Bu Silvi menatap menantunya itu dengan penuh rasa haru. Dalam hati dia merasa sangat senang sekali bisa melihat dan menggendong cucu yang sudah diidamkan selama ini.


"Sayang, itu Nenek! Halo Nenek, Key sudah bisa tersenyum. Nenek cepat sembuh ya, kalau sudah sembuh nanti pulang dan bermain sama Key," ucap Zahra pada ibu mertuanya.

__ADS_1


Bu Silvi hanya bisa mengangguk dan bergumam untuk menunjukkan ekspresi bahagianya. Bahkan bu Silvi menangis karena merasa terharu sekali.


"Ma, bukankah aku sudah bilang kalau Mama jangan menangis. Mama harus punya semangat untuk sembuh, karena sebentar lagi cucu Mama juga akan lahir. Aku berharap Mama mau menerima yang ada dalam kandunganku ini sebagai cucu kesayangan Mama juga," ucap Zahra lirih.


Bu Silvi menggeleng dan mengangguk. Dalam hatinya sangat ingin sekali memeluk dan meminta maaf pada Zahra. Dia sudah merenungi kesalahannya selama ini. Bu Silvi semakin tidak terkendali karena dia masih berusaha untuk bicara, akan tetapi tidak bisa.


"Sudah Ma, kalau sulit tidak usah dipaksakan. Aku sudah memaafkan Mama sejak awal. Aku sudah melupakan semuanya. Mari kita mulai dari awal, Ma! Aku ingin membentuk keluarga yang bahagia bersama Keynara dan juga adiknya yang ada di dalam kandunganku ini. Mama setuju 'kan?"


Bu Silvi mengangguk, dia menyetujui semua ucapan Zahra. Setelah itu Zahra memeluk Ibu mertuanya dengan tulus dan penuh kasih sayang dari seorang anak kepada orang tua.


"Mama akan mempunyai dua cucu perempuan. Apa Mama senang jika semua jenis kelaminnya adalah perempuan? Tidak apa-apa 'kan, Ma? jika aku melahirkan bayi perempuan?" tanya Zahra dengan suara lirih.


Lagi-lagi Bu Silvi menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia selalu menyetujui apa yang dikatakan oleh Zahra. Dia ingin berubah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya.


"Syukurlah kalau begitu, Ma. Aku sangat senang sekali jika Mama ikut senang. Sekarang tugas Mama adalah cepat sembuh. Selalu dengarkan ucapan perawat yang ada di sini. Agar Mama bisa berjalan lagi dan bisa bermain dengan kedua cucu Mama yang lucu. Mama pasti menantikan momen ini 'kan?" Zahra terus bertanya pada ibu mertuanya.


"Emm ... Emm ... Emm ...." Bu Silvi mengangguk mengiyakan.


Tekadnya sudah bulat untuk berubah. Lalu dalam hati dia berdoa dalam hati,"Ya Allah berikanlah hamba kesempatan untuk bertobat padamu. Berikanlah hamba kesempatan untuk meminta maaf kepada menantuku yang telah ku sia-siakan dulu. Aku ingin sehat kembali. Aku ingin menimang cucuku, Aku ingin menyayangi mereka. Berilah hamba kesempatan untuk mewujudkan semua itu ya Allah."


Bu Silvi menangis dan selalu tetap tersenyum untuk membuat Zahra senang. Mulai sekarang dia akan selalu menyenangkan hati menantunya itu.

__ADS_1


__ADS_2