
Di bawah pohon terlihat ada seseorang yang sedang memantau kondisi villa Reza. Dia melaporkan informasi yang telah didapatkannya pada seseorang. Setelah itu dia pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Di dalam rumah Reza dan Zahra sudah selesai makan. Zahra berdiri ingin membereskan piring akan tetapi Reza mencegahnya. " Sudah biar Bi Ani saja yang membereskannya. Kamu beristirahatlah, aku yakin kamu pasti capek."
" Hari ini aku mau menanam bunga Mas. Kemarin aku sudah memesan beberapa bunga, dan hari ini aku mau menyelesaikannya," ucap Zahra.
" Oke, nanti biar aku bantu agar cepat selesai. Kamu ya sudah pasti akan seperti itu, tidak bisa diam," sahut Reza heran.
" Aku tidak mungkin berdiam diri tanpa melakukan aktivitas apapun, Mas! Sebisa mungkin aku melakukan aktivitas kecil-kecilan, agar aku tidak makan, tidur, dan melamun," balas Zahra.
Reza pun mengalah dan tidak lagi mendebat kegiatan yang akan dilakukan oleh Zahra. Didebat juga percuma karena Zahra tidak akan mengalah.
Kini mereka berdua sudah berada di taman samping rumah. Di taman tersebut terdapat gazebo kecil dengan di kelilingi bunga-bunga yang beraneka macam.
"Aku ke sini sudah ke sekian kalinya, tetapi baru melihat keindahan taman ini sekarang. Kenapa kamu tidak memberitahuku, Zahra? Semua tanaman ini menyejukkan mata," seru Reza kagum.
"Ya aku tidak tahu kalau kamu juga suka, Mas. Bukannya setiap kamu ke sini itu berakhir dengan wajah sedih dan masam," sindir Zahra. Dia mulai memindahkan bunga anggrek ke pot.
Reza berdiri dan membantu Zahra untuk mengambil tanah dan juga pupuk. "Aku bersedih juga ada sebabnya kok. Di dunia ini hanya kamu yang bisa membuatku sedih dan juga hancur, Zahra," ucap Reza. Dia terus mengungkapkan perasaannya.
"Mas, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Zahra menimbulkan rasa penasaran Reza.
"Apa?" tanya Reza.
"Jika kisahku ini sudah berakhir, tetapi aku memutuskan untuk tidak ingin menjalin sebuah hubungan terlebih dulu. Apakah kamu akan menyerah padaku?"
__ADS_1
Reza terdiam, pertanyaan itu membuat hatinya bergetar. Tetapi, Reza akan menjawabnya tegas. "Aku tidak akan menyerah sampai aku mendapatkan hatimu. Walau itu sampai kapanpun aku akan terus berusaha menggapaimu, Zahra."
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Reza.
Zahra menundukkan wajahnya. "Aku takut untuk memulai lagi, Mas," jawab Zahra.
Reza menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dia menangkup wajah sendu wanita pujaannya itu. "Zahra, berikanlah semua rasa sedihmu untuk kupeluk, karena aku tidak ingin melihatmu merasakan sedih sendiri. Dia telah memilih pergi darimu, dan tak seharusnya juga membiarkanmu terlalu lama merasakan kesedihan ini. Aku juga tahu Zahra, akan sulit bagimu untuk menerimaku sebagai penggantinya. Karena kamu pasti butuh waktu untuk mengerti dirimu sendiri dan bukan hanya sekedar menyakinkan hati. Aku mencintaimu Zahra, aku sangat sayang padamu. Bahkan aku rela menunggumu membuka hati untukku. Dekatkan hatimu untuk kuketuk dan berikan sedihmu untuk kupeluk. Aku rela menerima segala beban di hatimu."
Zahra tersenyum mendengar ucapan Reza yang begitu menenangkan. "Terima kasih selalu mendukungku, Mas. Semoga hati segera sembuh, aku hanya mengikuti alur yang ada. Untuk kedepankan aku masih belum tahu akan bagaimana."
"Sudah tidak usah berpikiran macam-macam. Terus fokus pada kandunganmu, jangan sampai calon bayimu itu juga merasakan kesedihan ibunya," sahut Reza.
"Baiklah, aku akan mengikuti jalan cerita yang dibuat untukku. Semoga aku tidak mengecewakanmu suatu hari nanti, Mas," balas Zahra. Setelah itu, Zahra melanjutkan lagi kegiatannya sampai sore tiba.
Beberapa jam kemudian.
"Iya Mas, aku masih ingat semua pesan dan nasehatmu," jawab Zahra.
Selesai berpamitan Reza langsung menuju ke mobilnya, kemudian dia pulang kembali ke Jakarta. Setelah mobil tak terlihat, Zahra langsung masuk ke dalam. Dia menutup pintu dan berjalan menuju kamar.
Namun, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu lagi. Zahra menghentikan langkahnya dan kembali membuka pintu. "Kenapa Mas Reza kembali lagi, apa ada yang ketinggalan?" gumam Zahra.
"Ada apa Mas? Kok kembali lag ...." Zahra terkejut dengan apa yang di depan matanya. Dia melihat Rizal ada di depan pintu.
"Zahra, akhirnya aku menemukanmu! Aku mencarimu kemanapun, tapi tidak ada. Ternyata kamu ada di sini. Zahra aku minta ma ...."
__ADS_1
"Pergi kamu, jangan menyakitiku lagi!" teriak Zahra keras. Dia berusaha mendorong keluar Rizal dari depan pintu. "Keluar kamu, Mas. Minggir!" Zahra terus mendorong tubuh Rizal, tetapi dia tidak kuat.
"Aku ke sini mau minta maaf. Aku menyesal, Zahra. Aku ingin bertemu dengan anak kita." Rizal berjalan maju dan ingin memeluk Zahra.
"Stop, berhenti di situ! Jangan mendekat! Bi ... Bi Ani ... tolong ke sini!" seru Zahra memanggil asistennya.
Rizal kesal karena sikap Zahra yang anti padanya. "Zahra, kenapa kamu seperti ini? Aku menemuimu karena ingin menjelaskan semuanya. Aku ingin kembali padamu, aku ingin memulainya semua dari awal. Zahra aku mohon padamu, maafkan aku!"
"Diam, kamu! Aku tidak mau mengulang kesalahan lagi. Cukup sekali aku menjadi orang bodoh! Sekarang kamu pergi, keluar dari rumah ini!" Zahra terus mendorong Rizal, akan tetapi tidak kuat.
"Aku tidak akan pergi sebelum membawamu kembali. Aku ingin kamu, Zahra. Kamu masih istriku! Ayo kita pergi dari sini ya!"
Rizal terus membujuk Zahra. Tetapi, Zahra kukuh pada keputusannya, yaitu dengan mengusir Rizal pergi.
"Aku sudah bukan istrimu, Mas. Kamu sudah menceraikan aku. Jadi kita sudah tidak ada hubungan suami istri. Setelah anak ini lahir, kamu kita resmikan saja. Agar kamu bisa hidup bebas dengannya," ucap Zahra. Hatinya mulai sakit ketika mengingat kata perceraian yang dilontarkan Rizal saat itu.
"Tidak, aku sangat menyesal mengatakannya. Zahra aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya," sahut Rizal.
Zahra terus mendorong mundur Rizal dengan seluruh kekuatannya. "Minggir kamu, Mas. Pergi dari sini," ucap Zahra.
Rizal kehilangan kesabaran, dia justru menarik paksa tangan Zahra dan dia ingin mengajaknya pergi dari villa itu. "Kalau kamu tidak menerimaku, maka aku akan membawamu pergi dari sini. Ayo ikut aku pulang."
"Tidak, aku tidak mau pulang! Aku tidak ingin bertemu mereka! Lepas, Mas! Lepaskan tanganku!" Zahra terus memberontak ketik Rizal menarik tangannya.
Saat Zahra sampai di mobil, tiba-tiba Reza kembali. Dia melihat Rizal yang menarik paksa Zahra. "Rizal berhenti kamu. Jangan berani kamu menyentuhnya," teriak Reza keras.
__ADS_1
Rizal menoleh dan semakin mempererat genggaman tangannya. "Aku hanya ingin membawa istriku pulang. Jadi kamu tidak berhak melarangku," balas Rizal.
"Istri yang mana? Kamu tidak ingat, Zahra bukan istrimu lagi. Kamu sudah menceraikannya, Rizal. Sekarang lepaskan dia, atau aku tidak akan segan padamu," seru Reza. Dia sangat emosi sekali dengan sikap tidak tahu malu Rizal.