Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Permintaan Zahra


__ADS_3

"Diam, kamu wanita sialan," teriak Viona keras. Dia mendorong Zahra ke belakang.


Zahra yang hampir terjatuh menyenggol guci bunga hingga pecah. Semua orang melihat pertengkaran itu dan membuat Bu Silvi geram. "Ada apa ini? Ribut sekali," seru Bu Silvi.


"Ma, dia berani menghinaku di depan semua orang," rengek Viona.


"Lagi-lagi kamu wanita tidak tahu diri. Kenapa dunia sangat sempit sekali?" teriak Bu Silvi keras.


Zahra mencoba berdiri tegak, dia tidak mungkin terjatuh lagi. Sebisa mungkin dia harus bertahan untuk menjaga kandungannya.


"Maaf, lebih baik kita akhiri keributan ini. Jangan sampai membuat malu diri sendiri. Kalian orang berpendidikan, jadi jangan rendahkan diri sendiri demi keegoisan. Maaf saya harus melanjutkan pekerjaan," ucap Zahra dengan sabar.


Bu Silvi tidak terima dengan ucapan Zahra yang terlihat menggurui. Dia mencoba untuk menahan Zahra. "Sini kamu ikut aku keluar dari sini." Bu Silvi menarik tangan Zahra dan memaksanya untuk keluar.


"Ma, lepaskan tanganku."


"Jangan gunakan mulutmu untuk memanggilku Mama. Aku tidak suka dipanggil oleh wanita rendahan sepertimu," umpat Bu Silvi sangat kejam.


Semua orang melihat adegan itu. Mereka berbisik-bisik satu sama lain. Zahra terus ditarik hingga sampai di taman. Setelah itu, Bu Silvi mendorong keras tubuh Zahra hingga kepalanya terbentur di pohon.


Dugg!


Zahra memegangi dahinya yang lecet akibat di dorong keras oleh ibu mertuanya.


"Kamu beraninya mempermalukan Viona seperti itu. Apa yang membuatmu seberani itu, Ha?" teriak Bu Silvi seperti orang kesetanan.

__ADS_1


"Aku hanya melindungi diri, aku tidak mungkin terus mengalah pada kalian. Aku mempunyai hati dan perasaan. Jadi kalian jangan seenaknya menginjak-injak harga diriku," balas Zahra tak mau kalah.


Bu Silvi semakin geram melihat sikap Zahra yang semakin berani. "Jangan membicarakan harga diri di sini, karena kamu wanita tidak punya harga diri."


"Mungkin menurut Mama aku tidak punya harga diri. Tapi setidaknya aku lebih terhormat daripada Viona. Hanya wanita yang tidak terhormat yang merusak pernikahan orang lain demi keegoisannya. Wanita itu adalah Viona menantu kesayangan Mama, menantu yang Mama banggakan," teriak Zahra, dia semakin berani membalas perkataan ibu mertuanya.


Plakk!


Tamparan keras mendarat lagi di pipi Zahra. "Diam kamu! Kamu tidak pantas menjelekkan Viona, karena di mataku kamulah yang paling rendah. Kamu tidak berguna, sial sekali hidup Rizal menikah denganmu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu."


"Semoga apa yang kalian lakukan ini berbalik pada hidup kalian sendiri." Zahra membalas ucapan Bu Silvi dengan wajah melas menahan air mata.


"Kamu ... Memang harus diberi pelajaran. Sini kamu ... Rasakan ini!"


Untung datang dua orang satpam yang menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh Bu Silvi. Setelah pukulan dan tendangan itu berakhir, Zahra langsung berdiri dan pergi dari tempat itu dengan tubuh dan wajah penuh lebam.


"Hei, jangan pergi kamu wanita sialan! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah terima kamu mengandung bayi Rizal. Aku akan mencari cara untuk menghilangkan milikmu itu," teriak Bu Silvi hingga membuat semua orang heran.


Zahra terus berjalan, dia takut kalau terjadi apa-apa dengan bayinya. Sesampainya di jalan raya, Zahra langsung menghentikan taksi. Dia ingin ke suatu tempat di mana dia merasa aman.


"Ya Allah, selamatkan hamba, lindungilah hamba," ucap Zahra dalam hati.


Dahi, sudut bibir, kaki, dan tangannya penuh luka lebam. Tubuh Zahra terasa lemas sekali. Keringat dingin mengucur menahan semua perih dalam hati dan juga kram di perutnya.


Dua puluh menit di dalam taksi, Zahra sampai di suatu tempat yaitu kantornya Reza. Zahra keluar dari taksi itu dan langsung mencari tempat duduk di sana. Dia tidak kuat berjalan masuk ke dalam kantor. Zahra mengambil handphone lalu menghubungi Reza.

__ADS_1


"Mas Reza, bisakah kamu keluar. Aku ada di depan kantormu. Cepat keluar, Mas. Aku butuh pertolonganmu," ucap Zahra, dengan suara lirih.


Setelah berbicara secara menutup teleponnya. Dia duduk dan menunggu Reza keluar dari dalam kantor. Beberapa menit kemudian, Reza sampai juga di luar. Zahra menoleh ke arah Reza. Dia langsung berdiri dan berlari ke arah Reza yang berdiri mematung.


Zahra menangis dalam pelukan Reza. "Mas, bawa aku pergi dari sini. Aku mohon, jauhkan aku dari mereka. Aku ingin kamu membawa aku pergi dari sini, Mas. Aku tidak kuat lagi, aku tidak kuat lagi bertahan. Aku tidak mau anak ini celaka. Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku mohon," ucap Zahra terisak dan terlihat sangat lemah.


Reza memeluk Zahra dengan erat. Dia menitikkan air mata melihat kondisi Zahra yang sangat memprihatinkan. "Kenapa mereka tega sekali menyakitimu, Zahra. Ini sudah keterlaluan, aku akan melaporkannya pada polisi. Mereka harus dihukum biar jera. Luka luka di tubuhmu akan menjadi bukti untuk menjebloskan mereka ke penjara."


"Tidak Mas, aku tidak mau melaporkan ke polisi. Aku hanya ingin pergi dari sini tolong bawa aku pergi! Aku mohon!" Zahra terus memohon kepada Reza.


Reza mengendurkan pelukannya, dia melihat wajah Zahra. Reza menyentuh luka di dahi dan juga sudut bibir Zahra. "Baiklah kita pergi dari sini, aku akan membawamu ke tempat yang aman. Di mana mereka tidak bisa menemukanmu dan kamu juga tidak bertemu dengan mereka. Kamu tunggu di sini, aku ambil mobil dulu."


Zahra mengangguk, dia menunggu Reza mengambil mobilnya di parkiran. Zahra benar-benar terlepas dari mereka semua. Dia ingin melindungi buah hati yang akan menemani hidupnya nanti. Tak lama kemudian, Reza keluar dengan mengendarai mobilnya.


Zahra segera masuk ke dalam mobil Reza. Setelah itu mereka pergi menjauh dari tempat tinggalnya menuju tempat yang aman. Di dalam mobil, Zahra menyandarkan tubuhnya dan selalu melihat ke luar jendela. Air matanya tidak berhenti mengalir. Seluruh jiwa dan raganya sakit.


Reza merasa iba melihat kondisi orang yang paling dicintainya itu menderita lahir dan batin. Ingin sekali dia membalas rasa sakit hati seorang itu kepada mereka semua. Akan tetapi dia tidak melakukan karena Zahra melarangnya.


Kini Reza akan membawa Zahra ke tempat yang aman. Dia akan membawa adik iparnya itu keluar kota. Agar terjauh dari mereka yang jahat kepada Zahra.


Tiba-tiba Zahra mengerang kesakitan. "Aduh, Mas. Perutku sakit sekali, tolong cari rumah sakit. Aku tidak ingin kehilangan bayiku, Mas. Tolong aku!"


"Iya aku akan cari rumah sakit. Kamu ... kamu bertahan ya, Zahra!"


Reza menambah kecepatan mobilnya agar segera menemukan rumah sakit. Dia tidak boleh terlambat agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Zahra.

__ADS_1


__ADS_2