
Setelah berkunjung ke rumah baru Rizal, Bu Silvi pamit pulang. Dia sudah sangat puas sekali dengan rencana yang telah disepakatinya bersama Viona.
Di Tempat Lain.
Reza menurunkan adik iparnya itu di depan sebuah butik. "Nanti siang kalau kamu ada waktu, aku ingin mengajakmu untuk pergi makan siang. Kamu tidak menolaknya kan?" tanya Reza pada Zahra.
Zahra tampak bingung ingin menjawab. Dia tersenyum canggung. "Iya lihat nanti, Mas. Aku belum tahu wawancara ku seperti apa?"
"Oke, kalau sudah selesai kamu hubungi aku saja! Hari ini pekerjaanku tidak terlalu padat," ucap Reza, setelah itu dia melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke kantor.
Zahra menarik nafas dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik tersebut. Dia sangat gugup sekali karena ini pertama kalinya dia bekerja di sebuah butik.
"Baiklah, kamu harus percaya diri, Zahra. Kamu pasti bisa," ucap Zahra dalam hati. Dia mencoba untuk menyemangati diri sendiri.
Setelah semangat terkumpul, Zahra masuk ke dalam dengan langkah yakin. Sesampainya di dalam, Zahra langsung disambut oleh resepsionis yang sedang bertugas. Dia mendaftarkan namanya di bagian pendaftaran, selanjutnya Zahra menunggu di ruang tunggu.
Zahra tampak gugup di ruang tunggu. Berkali-kali dia menarik nafas untuk menghilangkan kegugupannya. Tak lama kemudian nama Zahra terpanggil. Dia mengucapkan Bismillah dan masuk masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam ruangan sudah ada tiga orang yang duduk secara berjajar. "Zahra Verlita silakan duduk!" ucap salah satu petugas.
Zahra langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia duduk dengan tenang dan menatap ketika petugas itu dengan wajah yang ramah. Setelah itu wawancara dimulai. Mereka menanyakan desain gambar yang dikirimkan Zahra lewat email beberapa hari yang lalu.
Mereka berpendapat kalau desain gambar yang dikirimkan Zahra sangat bagus dan unik. Untuk itu mereka menawarkan sebuah kontrak kerja pada Zahra. Tentu saja hal itu membuat saya Zahra senang dan dia secara bersemangat menerima kontrak tersebut.
"Terima kasih sudah menerima saya di sini. Saya akan bekerja secara baik dan profesional," ucap Zahra bahagia.
"Bagus, perusahaan kami sangat menyukai karya anda. Jadi selamat bergabung dengan kami di perusahaan ini."
"Jadi kapan saya bisa mulai bekerja?" Zahra bertanya pada petugas itu.
"Besok kamu sudah mulai bekerja, hanya membawa laptop saja karena semuanya sudah disediakan di sini," jawab petugas itu.
Zahra mengangguk-anggukan kepalanya. Dia sangat bersemangat sekali. "Baiklah, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Zahra keluar dari ruangan itu.
"Alhamdulillah aku diterima bekerja, kali ini aku akan sungguh-sungguh. Aku akan tunjukkan pada Mama kalau aku bukanlah benalu yang merugikan," gumam Zahra pelan kemudian dia meninggalkan butik itu.
Sesampainya di luar, Zahra langsung mencari taksi. Dia mencoba untuk menelepon Rizal. Panggilan tersambung, akan tetapi tidak dijawab. "Apakah kamu sesibuk itu Mas sampai tidak mengangkat panggilanku," ucap Zahra pelan.
Setelah mendapatkan taksi, Zahra masuk ke dalam dan segera pulang ke rumah. Dia tidak ingin pergi kemana-mana. Zahra duduk dengan tenang di dalam taksi. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk dari suaminya. Zahra langsung tersenyum senang dan langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Mas, Assalamualaikum."
[Waalaikumsalam, Zahra kamu dimana? Kenapa kamu tidak ada di rumah?]
"Mas, sudah pulang? Aku sedang keluar Mas. Tapi aku sudah perjalanan pulang, tunggu aku ya Mas. Aku sebentar lagi sampai," ucap Zahra senang.
[Maaf, tapi aku sudah pulang! Aku sekarang sudah dalam perjalanan. Aku hanya membelikanmu oleh-oleh saja. Sudah aku titipkan pada Papa di rumah.]
Zahra langsung terdiam, harapannya untuk bertemu suaminya pun sirna. "Kenapa kamu tidak menungguku, Mas. Aku kangen sama kamu, beberapa hari ini kamu tidak pernah meneleponku," ucap Zahra sedih.
[Maafkan aku, tadi Viona menyuruhku cepat pulang. Katanya dia ingin pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan. Mungkin saja Viona sudah hamil. Lain kali aku akan menginap, nanti kita bicarakan lagi. Sudah dulu ya, Zahra. Aku tutup teleponnya. Assalamualaikum.]
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Zahra lirih. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Zahra menarik nafasnya dalam, dia mencoba untuk tenang. "Aku harus tetap tenang apapun yang terjadi. Aku harus kuat, sampai rahim ini terisi kembali," gumam Zahra dalam hati.
Zahra mengelus perutnya sembari berdoa dalam hati, "Ya Allah berilah hamba kesempatan untuk menjaga amanah darimu. Sentuhlah rahim ini agar bisa menghadirkan malaikat kecil untuk suamiku."
Sudah banyak sekali doa yang sadapankan pada Sang Pencipta. Dia tidak pernah menyerah meski berkali-kali gagal. Beberapa menit kemudian Zahra sampai di rumah. Dia turun dan keluar dari taksi. Sesampainya di dalam, Zahra sudah disambut oleh ibu mertuanya.
"Hebat sekali kamu baru pulang, pasti kelayapan dulu. Kalaupun hanya wawancara tidak akan selama itu," cibir Bu Silvi sinis.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Zahra pada ibu mertuanya, akan tetapi salam itu tidak dijawab.
"Tadi Mas Rizal dari sini ya, Ma?" tanya Zahra.
Bu Silvi berdiri dengan angkuh lalu meninggalkan Zahra tanpa memberikan jawaban. Zahra hanya berdiri dan menatap keangkuhan Ibu mertuanya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Sesampainya di dalam kamar Zahra meletakkan tasnya di atas meja. Dia cuci tangan dan berganti baju. Tak lama kemudian handphonenya berdering. Panggilan dari desa masuk ke dalam handphonenya.
Zahra mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum Mas, ada apa?"
[Waalaikumsalam, kamu sudah pulang wawancara, Zahra?]
"Sudah Mas, baru saja sampai rumah. Aku langsung pulang saja, kebetulan Mas Rizal sudah pulang. Tapi, dia tidak sempat bertemu denganku," ucap Zahra sedih.
[Kamu yang sabar ya. Oh, ya. Apa besok sudah mulai bekerja?]
"Sudah, Mas. Besok aku sudah mulai berangkat," jawab Zahra.
"Waalaikumsalam." Zahra menutup teleponnya dan kembali duduk di kasur. Matanya menerawang jauh ke jendela.
Di Tempat Lain.
Rizal sudah sampai di rumah barunya. Dia turun dan keluar dari mobilnya. Tak lama kemudian Viona keluar dari dalam rumah menyambut suaminya. "Sayang kamu sudah pulang? Aku sangat merindukanmu," seru Viona dengan memeluk Rizal.
"Aku capek ayo kita masuk ke dalam. Kata Mama kamu kalau datang bulan." Rizal bertanya pada istrinya.
"Iya aku telat satu minggu dan semoga saja positif hamil," jawab Viona dengan manja.
"Kalau begitu besok kita pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu."
"Baiklah," jawab Viona dengan bergelayut manja di lengan suaminya.
Setelah itu Rizal naik ke atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin beristirahat sebentar, karena perjalanan luar kotanya yang sangat jauh.
Rizal meletakkan tasnya dan segera mengambil handuk untuk pergi mandi. "Sayang apa kamu lapar? aku bisa siapin makanan buat kamu," tanya Viona.
"Tidak usah tadi aku sudah makan di rumah Mama," jawab Rizal.
Setelah itu Rizal masuk ke dalam kamar mandi. Viona langsung merapikan tas milik suaminya. Tak lama kemudian handphone Rizal berdering. Tertera nama Zahra di layar handphone itu. Viona pun langsung mengangkat panggilan dari Zahra.
"Hai, Zahra. Ada apa?" tanya Viona.
__ADS_1
[Viona aku ingin bicara sama Mas Rizal. Apa Mas rizalnya ada?]
"Tapi sayang mas Rizalmu sedang istirahat, jadi tidak bisa diganggu. Kamu telepon lain kali saja," ucap Viona dengan nada remeh.
[Apa kamu bisa menyuruh Mas Risal untuk meneleponku balik ketika dia sudah bangun nanti?]
"Boleh saja kalau aku tidak lupa, kalau aku lupa ya maaf."
[Ya sudah kalau gitu terima kasih.]
Viona langsung menutup telepon dari Zahra. "Enak saja ingin bicara dengan Rizal, tidak akan aku biarkan itu terjadi," ucap Viona sinis, kemudian dia meletakkan kembali handphone Rizal diatas meja.
Beberapa saat kemudian Rizal keluar dari kamar mandi. "Kamu sedang apa, Vio?" tanya Rizal sembari mengeringkan rambutnya.
"Hem, tidak apa-apa aku hanya merapikan bajumu saja. Istirahatlah aku akan menemanimu." Viona merapikan kasurnya, setelah itu Rizal langsung naik ke atas kasur dan beristirahat.
Sore hari, Rizal sudah bangun dari tidurnya. Dia meminta izin pada Viona lalu dia ingin menginap di rumah ibunya. "Malam ini aku akan menginap di rumahnya mama. Kasihan Zahra tidak pernah mendapatkan waktuku," ucap Rizal pada istrinya.
"Apa? Tidak bisa, kamu jangan pergi tanpaku. Aku tidak mengizinkanmu," sahut Viona.
"Apa maksudmu, aku harus adil dalam pernikahan ini karena Zahra masih istriku. Pokoknya tanpa izinmu pun aku akan menginap di rumah Mama malam ini."
"Kalau begitu aku ikut ke rumah, aku tidak mau di sini sendiri," ucap Viona.
"Besok pagi aku akan pulang. Kamu malam ini di sini saja, karena aku yakin kalau kamu di sana pasti kamu akan menyakiti Zahra. Aku harap kamu mengerti Vio, karena Zahra sangat tersakiti dalam hubungan ini."
Viona kesal dengan suaminya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa jika Rizal sudah memaksakan kehendaknya. "Baiklah silakan saja kamu pergi ke sana. Tapi besok kamu harus seminggu di rumah. Kamu ke sana harus sebulan sekali. Kalau kamu tidak setuju aku hanya tinggal bilang sama mama."
Rizal menarik nafas dalam, dia hanya bisa mengiyakan karena tidak ingin berdebat dengan Viona. "Baiklah aku setuju, asal kamu bersikap baik pada Zahra. Aku pergi dulu."
Viona menggeram kesal pada suaminya. Dia sangat ingin marah kepada Zahra. "Awas saja setelah ini tidak akan memberikanmu kesempatan untuk pergi ke sana lagi. Semoga saja besok aku positif, jadi aku mempunyai alasan untuk mengekang Rizal," gumam Viona dengan senyum liciknya.
Rizal langsung melesat pergi ke rumah ibunya. Dia sudah sangat merindukan Zahra. Dalam setengah jam Rizal sampai di rumah ibunya. Dia melihat Zahra yang sedang ada di halaman rumah.
"Zahra," panggil Rizal pada istrinya.
"Mas Rizal, kamu datang," seru Zahra berlari ke pelukan Rizal. "Aku kangen banget sama kamu, Mas," ucap Zahra memeluk erat suaminya.
"Aku juga kangen sama kamu, masak apa kamu hari ini? Aku kangen sekali masakanmu? Dan aku sudah sangat lapar ingin memakanmu," bisik Rizal pada istrinya.
Zahra tersenyum malu. "Apa kamu sengaja menggodaku, Mas?"
"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak merindukanku?"
"Aku sangat, sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu, Mas," ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.
Rizal memeluk kembali istrinya dengan erat. "Maafkan aku, memposisikanmu dalam hubungan ini."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah menyiapkan hati ini agar selalu kuat. Sekarang kita masuk ke dalam, aku akan memasak menu kesukaanmu," ucap Zahra mencoba untuk tegar.
Rizal mengangguk dan masuk ke dalam rumah bersama istrinya.
__ADS_1