
Reza menghampiri Rizal yang ingin membawa Zahra pergi. Dia menarik tangan Zahra, dan langsung di tepis oleh tangan Rizal. "Jangan mencoba untuk membawa Zahra lagi, karena dia akan pulang bersamaku," seru Rizal.
"Aku tidak mau pulang denganmu, Mas. Kita sudah tidak bisa bersama kembali,"sahut Zahra. Dia menghempaskan genggaman tangan Rizal.
"Tapi anak dalam kandunganmu membutuhkan aku, Zahra. Dia lebih membutuhkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Zahra, ayolah ikut aku kembali." Rizal terus memohon pada Zahra.
Zahra terus berjalan mendekati Reza. Dia tidak memedulikan lagi ucapan Rizal. "Ayo Mas, kita masuk ke dalam lagi," ucap Zahra, dia menggandeng tangan Reza.
Rizal terus berteriak memanggil nama Zahra. Dia sudah seperti orang yang hilang akal. "Aku akan tetap menunggumu di sini, Zahra. Aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan menunggumu," seru Rizal.
Sesampainya di dalam, Zahra langsung duduk di kursi. Jantungnya berdegup kencang karena sangat terkejut.
"Kamu tidak apa-apa, Zahra? Apa ada yang terluka?" tanya Reza khawatir.
"Tidak ada, Mas. Kamu kok bisa kembali?"
Reza menjawab, "Tadi BI Ani meneleponku. Jadi aku putar balik."
"Bagaimana perasaanmu? Dia sudah tahu sekarang," tanya Reza. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan Zahra.
Zahra menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak tahu Mas, yang pasti aku tidak ingin anakku menjadi korban lagi. Aku tidak ingin anakku jadi sasaran mereka," jawab Zahra.
"Tapi dia terlihat sangat menyesal sekali. Apa kamu tidak merasa tersentuh?" Reza mencoba untuk menggali terus perasan Zahra.
Zahra tersenyum tipis. "Pada dasarnya penyesalan selalu datang di saat semuanya benar-benar sudah pergi. Barulah rasa sesal itu terasa," jawab Zahra sedikit tegar.
"Lalu, bagaimana kalau dia tidak pergi dari sini? Kamu pasti sudah tahu sikap keras kepalanya."
"Ada kamu di sini, Mas. Bukankah kamu ingin terus melindungiku?" ucap Zahra dengan tersenyum.
__ADS_1
Reza langsung membalas senyuman Zahra. "Terima kasih, telah memberikan sedikit angin segar dalam hati ini," ujar Reza.
Zahra mencoba menenangkan hatinya sendiri. Sebenarnya dia sedikit khawatir dengan keberadaan Rizal di luar. Dia takut kalau Viona datang dan tahu dengan kondisinya saat ini. Reza juga tahu kalau Zahra sedang bimbang. Reza beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Zahra.
"Mengusir Rizal dari sini, dia harus segera pergi dari rumah ini," jawab Reza tegas.
Zahra menghentikan langkah Reza. "Jangan, Mas. Aku tidak ingin ada kekerasan lagi. Jangan bertengkar hanya karena aku."
"Apakah kamu ingin dia berada di sini? Kalau aku tidak mengusirnya. Dia tidak akan pergi dari sini. Rizal akan pergi jika kamu juga ikut pergi, Zahra," jawab Reza.
Zahra terdiam, dia bingung harus melakukan apa lagi. Akhirnya, Reza mengalah. Dia tidak jadi mengusir Rizal. "Baiklah aku tidak jadi mengusirnya. Beristirahatlah! Seharian kamu sudah beraktivitas," ujar Reza.
Zahra pun menurut, tanpa menjawab dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu Reza mencari cara untuk mengisi Rizal dari villanya.
"Bagaimanakah cara aku mengusirnya? Tidak mungkin aku memberitahu orang rumah," gumam Reza.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Rizal masih saja berdiri di halaman. Sesekali dia berteriak memanggil nama Zahra. Rizal tidak ingin menyerah karena dia ingin membawa Zahra pulang.
"Zahra keluar lah, ayo kita pulang! Zahra aku mohon, kita pulang. Kita mulai semua dari awal," teriak Rizal dengan sekuat tenaga.
Di dalam rumah, Reza mendengar semua ucapan Rizal. Dia sangat muak sekali dengan sikap adiknya itu. Tak lama kemudian, Reza mendengar suara keributan di luar. Dia mengintip dari balik tirai, lalu Reza melihat Viona datang.
"Rizal apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sudah gila? Ayo kita pulang sekarang!" Viona menarik tangan Rizal.
"Minggir kamu, aku hanya ingin membawa Zahra pulang. Aku menginginkan dia, jadi jangan ikut campur urusanku," teriak Rizal pada Viona.
"Jadi kamu ke sini hanya demi wanita itu? Rizal, aku sudah cukup bersabar menghadapimu. Sekarang aku mohon kembali ke rumah bersamaku. Jangan lagi kamu menginginkan dia," teriak Viona dengan perasaan hancur.
__ADS_1
"Aku tidak akan kembali tanpa, Zahra. Lebih baik kamu yang pergi dari sini, aku tidak membutuhkanmu," tolak Rizal.
Adegan itu dilihat Zahra dari balik tirai kamarnya. Dia menitikkan air mata melihat ke penyesalan Rizal. "Andai dulu kamu mempercayaiku, Mas. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, tanpa melukai perasaanku.
Zahra mengelus perutnya. "Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda yang harus melakukan ini. Semuanya demi keselamatanmu karena, Bunda ingin kamu hadir di dunia dengan selamat tanpa kekurangan apapun," ujar Zahra.
Di luar ketegangan masih terjadi. Rizal terus bertengkar dengan Viona. Bahkan mereka berteriak sehingga menimbulkan keributan.
"Zahra, aku mohon Zahra! Keluarlah, ayo kita pulang! Zahra ...."
Sudah tidak tahan, Reza pun menghubungi ketua RT setempat untuk mengusir mereka berdua pergi. "Permisi, Mas, Mbak. Saya mendapatkan laporan kalau ada keributan di sini. Untuk menjaga kenyamanan bersama, sebaiknya anda berdua pulang. Tidak sepantasnya membuat keributan di sini. Kalau anda tidak menghargai orang sekitar maka dengan sangat terpaksa kami akan melapor pada pihak yang berwajib," ucap ketua RT itu.
Rizal semakin putus harapan, usahanya tidak bisa meluluhkan hati Zahra. Akhirnya, dia mulai menyerah dan mulai kembali dengan Viona. Dari dalam kamar, Zahra melihat semuanya.
"Zahra, aku akan kembali lagi. Aku tidak akan menyerah sebelum membawamu pergi. Aku akan kembali, Zahra," seru Rizal terus berteriak.
"Cepat pergi, kamu jangan lagi meneriakinya," sahut Viona penuh kebencian. Viona telah memasang GPS pada mobil Rizal, sehingga dia tahu kemana saja suaminya itu pergi.
Di dalam mobil pertengkaran masih berlanjut. Viona emosi karena diperlakukan secara buruk oleh suaminya. "Kamu sudah keterlaluan, Rizal. Aku tidak menyangka kamu masih mencari wanita itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, ha?"
Rizal terus diam, dia tidak mendengarkan ucapan Viona. Dalam pikiran hanya ada Zahra, Zahra, dan Zahra.
"Kamu seharusnya memiliki tentang anak dalam rahimku ini. Dia lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatianmu. Tapi apa yang kamu lakukan sungguh menjijikkan sekali. Kamu rela memohon dan mengemis cintanya. Apa istimewanya Zahra? Jelas-jelas aku lah yang lebih sempurna, Rizal. Aku lah yang layak untukmu." Viona terus berteriak di dalam mobil. Dia terus memancing emosi Rizal.
"Rizal kamu dengar aku tidak, kenapa kamu diam? Aku tidak suka, aku tidak suka." Viona memukul lengan Rizal, dia sudah di luar kendali.
"Viona apa yang kamu lakukan? Aku sedang menyetir. Jangan gila kamu!"
Rizal ikut berteriak karena Viona terus memukulinya. Hingga akhirnya, Rizal kehilangan keseimbangan dan dia tidak tahu ada sebuah truk yang sedang berjalan ke arahnya. Truk itu membunyikan klakson dengan sangat keras.
__ADS_1
Rizal langsung fokus ke depan, tetapi dia terkejut dan membanting setir ke arah kiri sehingga mobilnya menabrak pagar pembatas hingga hancur. Mobil Rizal tergelincir masuk ke dalam jurang yang ada pinggir jalan itu.
Viona dan Rizal berteriak keras karena mobilnya meluncur ke bawah tanpa kendali. Mobil itu berhenti ketika menabrak sebuah pohon. Rizal dan Viona terluka parah sehingga nyawa mereka terancam.