
Setelah semua orang pergi, Zahra mencoba untuk menenangkan diri . Sungguh tidak mudah baginya untuk berdamai dengan keadaan. Dia merasa lelah dalam pertikaian yang terjadi dalam hidupnya.
"Aku harus bisa bertahan sendirian sekarang. Aku tidak boleh mengharap sesuatu pada orang lain," gumam Zahra, dia mengusap air matanya.
Zahra beranjak turun dari ranjangnya. Dia ingin pergi dari rumah sakit dan berniat untuk menjauh dari orang-orang yang mengenalnya. Zahra melepas infus yang tertancap di tangannya. Setelah itu dia mengambil tas dan segera pergi keluar ruangan.
Sebenarnya kondisi Zahra masih belum stabil. Tetapi, dia memaksakan diri karena sudah tidak kuat lagi berada di lingkungan yang terus menekan perasaannya. Zahra berjalan melewati orang-orang, dan terlihat seperti ketakutan.
Tidak lama kemudian, Zahra sudah berada di lantai bawah rumah sakit. Dia keluar dan langsung menuju ke jalan raya. Di area parkir seseorang melihat kepergiannya. Orang itu adalah Reza, dia belum pergi sesaat keluar dari ruangan Zahra.
"Zahra, mau ke mana dia? Apa jangan-jangan dia mau kabur?" ucap Reza. Setelah itu dia cepat keluar dari mobilnya dan pergi mengejar Zahra.
Reza berlari dan berteriak memanggil adik iparnya, "Zahra berhenti, mau pergi ke mana kamu?"
Zahra menoleh ke belakang, lalu dia mempercepat langkahnya agar Reza tidak menghentikan niatnya. Tapi kaki Zahra tidak cukup cepat berlari. Reza tetap saja dapat mengejarnya.
Reza menarik tangan Zahra dan memeluknya. Zahra pun langsung reflek mendorong kasar tubuh kakak iparnya. "Lepaskan aku, Mas. Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi dari kalian semua. Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Aku tidak ingin kalian terus menggangguku," seru Zahra dengan napas tersengal.
"Kamu mau ke mana Zahra? Kondisimu belum pulih, kamu harus istirahat secara total. Agar kandunganmu tetap sehat. Kita kembali ya, aku antar kamu ke dalam," ucap Reza. Dia mencoba meredam emosi Zahra.
"Aku tidak akan kembali ke dalam. Aku ingin pergi dari kalian. Aku tidak mau tahu urusan kalian lagi," tegas Zahra.
Reza kembali memegangi tangan adik iparnya. Dia terus menahan Zahra agar tidak pergi dari rumah sakit. "Zahra, aku mohon sama kamu menurutlah. Kamu masih perlu perawatan. Kita kembali ya. Ayo masuk ke dalam!"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau! Berhentilah untuk peduli padaku, Mas. Kalau kamu masih mencegahku pergi. Jangan salahkan aku bila membencimu. Jangan ikuti aku! Aku butuh waktu sendiri untuk menata kembali jiwaku. Aku mohon kamu jangan melangkah melangkah walau selangkah pun. Berhenti dan stop mengikutiku!"
Zahra berjalan mundur, dan membalikkan badannya. Setelah itu dia pergi dari hadapan kakak iparnya. Reza tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia takut jika sampai Zahra membencinya. Tapi Reza tidak tahan jika hanya berdiam diri.
Dia kembali ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Dia ingin mengikuti ke mana Zahra pergi. Sesampainya di jalan raya, Zahra menghentikan sebuah angkot lalu dia naik ke dalamnya. Reza pun mengikuti angkot itu dari belakang.
Sekitar 20 menit, angkot itu berhenti di depan gang kompleks rumah kontrakan. Setelah membayar ongkos, Zahra turun dan segera masuk ke dalam gang tersebut. Zahra berjalan dan berniat untuk mencari sebuah rumah kontrakan.
Dia menghampiri ibu-ibu yang sedang bergerombol di depan rumah. "Assalamualaikum Ibu, permisi numpang tanya di sini pemilik kontrakan rumahnya sebelah mana ya?" tanya Zahra.
"Neng mau cari kontrakan? Neng lurus aja dari sini nanti ada gang pertama belok ke kanan terus rumah nomor 2 deretan sebelah kiri. Itu juragan kontrakan di sini neng namanya Ibu Romlah," jawab ibu-ibu itu.
"Terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu! Assalamualaikum." Setelah itu Zahra langsung menuju ke rumah yang ditunjukkan oleh ibu-ibu kompleks.
"Assalamualaikum, apa benar ini rumah Ibu Romlah?" tanya Zahra.
"Iya benar saya sendiri, ada perlu apa ya, Neng?" tanya ibu itu.
"Saya mencari tempat tinggal, Bu. Apa masih ada kontrakan yang kosong di komplek ini?" tanya Zahra dengan suara lemas.
Ibu komplek itu menjawab, "Saya masih ada dua rumah yang kosong. Tapi, maaf harganya sewanya cukup mahal per-bulannya. Sekitar sejuta per-bulan. Harus wajib bayar uang muka 50% dulu, Neng."
Mendengar itu tubuh Zahra langsung lemas. Dia tidak mungkin bisa membayar uang muka karena dia tidak punya uang banyak.
__ADS_1
"Tapi saya belum punya uang sebanyak itu, Bu. Apakah boleh saya membayarnya ketika 1 bulan kemudian nanti saya akan mencari pekerjaan, Bu," ucap Zahra menawar.
"Maaf, Neng tapi tidak bisa. Harus wajib membayar separuh dulu," jawab ibu itu.
Terlihat kekecewaan di wajah Zahra. "Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Assalamualaikum!" ucap Zahra pergi dari tempat itu.
Zahra melanjutkan lagi langkahnya, dia tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Reza yang melihat situasi tersebut pun langsung menghampiri ibu pemilik kontrakan yang menolak Zahra.
"Permisi, Bu!" sapa Reza.
Ibu pemilik kontrakan itu pun mengembalikan badan. "Iya Mas ada apa?"
"Saya ingin menyewa kontrakan ibu, untuk wanita yang baru saja pergi dari sini," ucap Reza.
Reza mengambil beberapa lembar uang tunai dan langsung diberikan kepada pemilik kontrakan itu. "Ini uang muka untuk sewa kontrakan. Tolong ibu cari wanita tadi dan ibu ajak kembali ke sini. Sisa pembayarannya akan saya transfer sekarang lewat banking."
"Ba- baik Mas, akan segera saya cari. Masnya tunggu di dalam saja, ya!" ucap pemilik kontrakan itu.
"Bu, saya minta tolong jangan beritahukan kepada dia, kalau saya yang telah membantunya," pesan Reza.
"Baik, Mas. Saya pergi dulu mencari Neng tadi." Ibu pemilik kontrakan tersebut langsung pergi mencari Zahra.
Reza hanya bisa menunggu dengan hati yang cemas. Dia tidak bisa membiarkan Zahra sendirian menghadapi masalahnya. "Zahra, meski kamu menyuruhku pergi aku akan tetap melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi kesulitan ini sendirian," ucap Reza dalam hati.
__ADS_1
Perasaan Reza yang sudah terlalu dalam untuk Zahra. Membuatnya tidak bisa bekerja dengan tenang. Bayang-bayang wajah Zahra ketika bersedih selalu mengusik ketenangan hati Reza. Untuk itu, Reza terus memberikan perhatian walaupun Zahra tak menginginkannya.