Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Ketulusan Hati Zahra


__ADS_3

Zahra melipat sajadahnya, dia selesai mengerjakan sholat subuh. Semalam, Zahra tidak bisa tidur terbayang-bayang kejadian yang menimpa keluarga Rizal. "Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku menjadi sangat gelisah," ucapnya pelan.


Akhirnya, Zahra keluar dari dalam kamar. Dia menuju dapur lalu ingin memasak sarapan pagi untuk Reza dan ayah mertuanya. Sesampainya di dapur, Zahra segera menyiapkan bahan masakan. Dia hanya ingin mengalihkan pikirannya saja.


"Neng Zahra sedang apa?" tanya Bi Ani, dia sudah bangun dan mulai bekerja.


"Saya sedang memasak, Bi. Ingin membuat sarapan untuk Mas Reza dan papa mertua," jawab Zahra.


"Kalau begitu biar Bibi yang bantu Non. Biar tidak terlalu capek." Bi Ani langsung membantu Zahra memasak.


"Terima kasih, Bi."


Zahra memasak sarapan dengan dibantu oleh Bi Ani. Semenjak berhubungan dengan Reza kehidupan Zahra menjadi sangat teratur. Perhatian yang Reza berikan mampu mengobati luka yang ada dalam hatinya.


Melihat Rizal yang sedang mengalami kecelakaan sedikit membuat hati Zahra tidak tenang. Dia berpikir kalau terjadi sesuatu buruk pada Rizal maka bayi yang ada di dalam kandungannya akan menjadi anak yatim.


Zahra selalu mengingat perlakuan buruk yang dilakukan oleh suami dan juga Ibu mertuanya. Akan tetapi Zahra mempunyai sifat tidak bisa menyimpan dendam. Jadi sifat buruk mereka hanya menjadi kebencian sesaat di hati Zahra.


Satu setengah jam akhirnya sarapan pagi itu pun siap. Sarah segera menelepon Reza untuk mengambil makanan yang telah masak. "Mas, bisakah kamu pulang sebentar untuk mengambil sarapan pagi untukmu dan papa," ucap Zahra.


Reza pun menyanggupi dan dia langsung kembali ke villa untuk mengambil masakan Zahra.


Setelah itu, Zahra langsung menyiapkan dua rantang makanan di atas meja. Dia menunggu kedatangan Reza di luar pintu. Lima belas menit kemudian Reza sampai juga di villanya. Dia turun dan keluar dari mobil.


"Kamu sudah menungguku di luar? Kenapa wajahmu terlihat sangat gelisah sekali? Hem?" Reza langsung bertanya pada wanita pujaannya itu.


Zahra langsung menunduk. "Apa memang terlihat sangat jelas sekali, Mas?"

__ADS_1


"Apa yang tidak aku tahu darimu? Aku tahu ketika hatimu senang, aku juga tahu di saat kamu bersedih. Kamu sedang berbohong padaku pun, aku juga tahu! Tetapi aku memilih diam, hanya untuk menghargai perasaanmu. Jadi mulai sekarang selalu jujurlah padaku, karena itu akan membuatmu lebih baik," jawab Reza dengan penuh kelembutan.


Zahra diam seakan membenarkan perkataan Reza. Lalu tanpa kata dia mengajak kakak iparnya itu masuk ke dalam, "Ayo masuk, Mas! Semuanya sudah aku siapkan di meja."


Reza masuk ke dalam mengikuti Zahra. Setelah itu dia menuju ke meja makan. Reza melihat dua rantang makanan di sana. "Kamu bangun jam berapa untuk menyiapkan semua ini?" tanya Reza.


"Subuh, selesai sholat."


Reza menoleh ke arah Zahra. "Kamu pasti tidak bisa tidur? Apa yang sedang kamu pikirkan? Coba ceritakan padaku! Kalau kamu tidak menceritakannya nanti malam kamu tidak bisa tidur lagi," ucap Reza.


Zahra mencengkram kuat ujung bajunya. "Bagaimana keadaan Mas Rizal? Apa dia baik-baik saja atauaaih kritis?"


Reza menarik napas dalam, dia harus menjawab pertanyaan itu. "Rizal masih dalam keadaan kritis, Viona juga sama. Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku yakin tidak hanya itu pertanyaanmu!"


"Aku sedang berpikir, bagaimana jika anak ini lahir tanpa seorang ayah." Zahra berkata dengan ragu.


"Hanya itu? Kamu yakin hanya itu? Apa perasaanmu masih sangat dalam kepada Rizal? Apa kamu tidak perasaanku yang tulus padamu selama ini?"


"Lalu, apa? Coba katakan semua padaku." Reza menatap Zahra dengan sangat serius sekali.


Zahra masih terdiam, di terlihat sangat bingung sekali. Tiba-tiba saja, Reza merengkuh tubuh Zahra ke dalam pelukannya. "Zahra harus dengan cara apa lagi aku meyakinkan hatimu? Aku mencintaimu dengan hati yang tulus. Aku akan menjamin kebahagiaanmu dengan segenap jiwaku. Jangan khawatir kalau anakmu nanti tidak mempunyai seorang ayah, jika memang terjadi sesuatu pada Rizal. Kalaupun takdir berkata lain, aku akan tetap nekat untuk menikahimu setelah kamu resmi bercerai dengan Rizal. Aku tidak akan melepaskanmu lagi Zahra. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku tidak membutuhkan jawabanmu sekarang. Jawablah nanti setelah kamu melahirkan anak ini dengan selamat. Sekarang Jangan berpikiran aneh dulu, tetaplah berdoa agar semua diberi kelancaran."


Reza melepas pelukannya. "Maafkan aku, memelukmu sembarangan. Semua itu karena aku sangat gemas melihat keraguan di hatimu. Aku yakin ada sedikit cinta untukku. Cinta itu terlihat dari tatapan matamu kepadaku, Zahra."


"Apa kamu mau ikut ke rumah sakit? Kalau iya kita berangkat sekarang."


Zahra tersenyum dan mengangguk. "Sebentar aku ambil tas dulu, Mas."

__ADS_1


"Ya, aku tunggu di sini."


Zahra naik ke atas untuk mengambil tasnya. Setelah itu dia menuju ke rumah sakit bersama Reza. Sepertinya Zahra sudah mulai ketergantungan dengan sikap lembut Reza. Kesabaran dan juga sikap dewasanya mampu menyembuhkan hati Zahra yang terluka.


Beberapa menit kemudian, mobil Reza sampai juga di rumah sakit. Mereka turun dan segera menuju ke ruang rawat Ibu mertuanya, karena Pak Roni sedang berjaga di sana.


"Assalamualaikum, Pa!" Siapa Zahra kepada ayah mertuanya.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Roni.


Zahra menyalami ayah mertuanya. "Bagaimana keadaan Mama, Pa? Apakah sudah membaik?"


Pak Roni menatap menantunya dengan tatapan sendu. "Kamu tidak membenci Mamamu? Dia sudah bersikap terlalu kejam kepadamu, Nak!"


Zahra tersenyum getir. "Menurut Papa, apakah Zahra pernah membenci seseorang? Bahkan aku mampu bertahan selama ini, meski Mama tidak pernah menyukaiku sedikitpun. Hatiku memang terluka, Pa! Tapi, entah kenapa aku tidak bisa berhenti untuk tidak peduli meski aku telah disakiti," jawab Zahra lirih.


"Hatimu memang baik, Nak! Betapa ruginya Rizal telah melepaskanmu! Papanya ingin minta maaf atas nama Rizal dan juga Mamamu. Papa minta maaf atas semua kesalahan yang mereka perbuat selama ini. Maafkan Papa karena belum bisa menjadi mertua yang baik buat kamu. Maafkan Papa, Nak!" Pak Roni meneteskan air matanya, dia terharu dengan kebaikan Zahra.


"Pa, sudah Pa! Papa tidak bersalah, Jadi Papa tidak perlu untuk meminta maaf. Aku sudah memaafkan mereka semua, Pa. Aku ikhlas memaafkan Mama, Mas Rizal dan juga Viona. Aku akan pergunakan masa Iddah ku ini untuk membantu mereka semua. Aku akan berada di keluarga ini sampai aku melahirkan bayiku. Apakah Papa masih menerimaku?" tanya Zahra dengan menahan air matanya.


Reza terkejut mendengar ucapan Zahra. Begitu juga dengan Pak Roni. "Apa benar yang kamu katakan itu, Nak?"


Zahra mengangguk. "Iya Pa, aku melakukannya dengan ikhlas."


"Sungguh mulia hatimu, Zahra. Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan kepadamu."


"Amin ya robbal alamin. Kalau begitu Papa sarapan dulu, karena aku sudah memasak khusus untuk Papa."

__ADS_1


Setelah itu, mereka semua kembali duduk dan membuka rantang makanan yang dibawa tadi. Tiba-tiba ada suster datang memberikan informasi. "Maaf permisi, Pak! Pasien atas nama Viona dinyatakan meninggal dunia," ucap suster itu.


Zahra kaget, dia menjatuhkan rantang makanannya hingga berserakan di lantai. "Vi-Viona, kenapa?"


__ADS_2