Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Penyesalan Bu Silvi


__ADS_3

Reza sudah sampai di rumah sakit. Dia segera menuju ke ruang rawat Zahra. Pada saat yang bersamaan, Zahra telah sadar. "Zahra kamu sudah sadar?" seru Reza dari depan pintu.


"Bagaimana apa masih terasa sakit?" tanya Reza.


Zahra menggeleng dan menjawab,"Sudah agak baikan kok, Mas."


"Alhamdulillah, aku khawatir sekali padamu. Aku takut kalau terjadi apa-apa."


Zahra tersenyum tipis, raut wajahnya tampak lemas sekali. "Kandungaku tidak apa-apa 'kan, Mas?" tanya Zahra.


Reza membalas senyum. "Kandunganmu baik-baik saja. Kamu hanya perlu istirahat dan jangan terlalu capek. Harus istirahat total, jangan berpikiran macam-macam," jelas Reza.


"Bagaimana aku bisa berpikir tenang, Mas. Andai saja aku bisa mungkin tidak akan seperti ini. Mungkin mulutku bisa berbicara kalau aku sedang tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, secara tidak langsung tekanan batin itu menyerangku. Aku ingin tenang Mas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayiku," ujar Zahra dengan suara lirih.


"Iya kamu tenang saja karena masalah sudah aku atasi. Sudah lebih baik kamu beristirahat," jawab Reza. Dia mengelus ujung kepala Zahra.


Reza terdiam sejenak dia prihatin dengan kondisi wanita pujaannya. Tak lama kemudian, handphone Reza berbunyi. Dia mendapatkan laporan dari asistennya. "Halo, iya ada apa? Bagaimana bisa itu terjadi?" seru Reza sedikit terkejut. "Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi," imbuhnya.

__ADS_1


Reza tampak kebingungan, antara ingin pergi atau tidak. Kemudian, Zahra berkata, "Pergilah Mas, aku tidak apa-apa. Di sini juga ada suster, nanti aku minta bantuan sama suster saja kalau butuh sesuatu."


"Benarkah? Aku akan menyelesaikan secepatnya. Setelah itu aku akan segera kembali," ucap Reza pada Zahra.


Zahra mengangguk. "Iya Mas, hati-hati di jalan. Tidak usah terburu-buru, kerjakan pelan-pelan," balas Zahra.


"Iya, aku pergi dulu. Kamu beristirahatlah, aku akan segera kembali." Reza mengelus ujung kepala Zahra. Setelah itu dia segera pergi ke kantor.


Reza sangat terburu-buru sekali, karena dia harus melaksanakan rapat dengan dewan direksi lainnya. Sesampainya di luar, Reza segera menuju ke mobil dan melajukannya menuju ke kantor.


Di dalam kamar, Zahra menarik napas dalam. Dia kembali flashback dengan kisah hidupnya yang penuh dengan drama.


Di Tempat Lain.


Pak Roni sedang sibuk mengurus istrinya yang pindah ke panti jompo. Dia sudah mengambil keputusan setelah membicarakannya pada Reza.


Bu Silvi sedang menangis karena dia tidak ingin berada di panti jompo. Akan tetapi, pak Roni sudah bertekad karena semua demi kebaikan bersama.

__ADS_1


"Ma, maafkan Papa harus melakukan ini. Tapi, Papa benar-benar tidak sanggup untuk merawat Mama sendiri. Sikap keras kepalamu membuat Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Seharusnya Mama itu berbuah, karena dengan keadaanmu yang seperti ini membuat Zahra tetap bertahan menjadi menantu kita. Dia ikut mengurus anak Viona. Dia mengasuhnya dengan penuh kasih sayang karena Zahra menganggap Keynara sebagai anak kandungnya. Aku harap Mama bisa memikirkan semuanya, dan cepat sadar akan semua kesalahan yang kamu perbuat selama ini," jelas pak Roni.


Bu Silvi hanya bisa menahan tangis dia terus menggeram karena dia tidak bisa berbicara.


"Emm ... Emm ... Emm ...." rengek Bu Silvi pada suaminya.


"Maaf, Papa harus pulang dulu. Mama istirahat di sini baik-baik ya. Selalu lakukan terapi rutin agar kondisi Mama kembali pulih. Ingat di rumah ada dua cucu yang sedang menunggu neneknya pulang. Papa akan rutin ke sini untuk menjenguk mu."


Setelah berpamitan pak Roni pergi dari panti jompo itu untuk pergi ke kantor. Rasanya berat, akan tetapi dia tetap harus melakukannya. Dia juga ingin membuat istrinya introspeksi diri agar kembali ke jalan yang benar.


"Maafkan Papa, Ma! Aku harap kamu segera sadar dan bisa menerima Zahra menjadi menantu di keluarga Narendra. Ya meski dia harus menjalani lembaran baru bersama Reza. Aku sangat yakin kalau mereka bisa bahagia," gumam pak Roni dalam hati.


Pak Roni menuju ke mobilnya untuk segera pergi ke kantor. Pekerjaannya tidak bisa ditinggal karena memang perusahaannya mengalami penurunan sejak terpuruknya Rizal. Pak Roni harus memulainya dari awal lagi untuk membuat perusahaannya bangkit kembali.


Di dalam panti itu, Bu Silvi terus menangis. Dia masih tidak terima dengan semua yang di alaminya.


"Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku? Aku hanya ingin membahagiakan putraku, tapi apa yang aku dapatkan? Dia justru pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Rizal, Mama ingin ikut denganmu. Mama tidak bisa hidup sendiri tanpamu."

__ADS_1


Bu Silvi terus berbicara dalam hati. Dia sangat menyesal, tapi nasi telah menjadi bubur. Mau tidak mau dia harus menjalani sisa hidupnya yang kelam itu.


__ADS_2