
2 Bulan Kemudian.
"Za-Ra, Za-Ra ...." panggil Bu Silvi pada menantunya.
"Iya Ma, sebentar! Aku sedang buat susu untuk Sazhia," seru Zahra dari dapur.
Sudah dua bulan lamanya,Bu Silvi kembali ke rumah setelah menerima Zahra untuk terus menjadi menantunya. Kesehatannya pun semakin ada kemajuan. Bu Silvi bisa berbicara, meski masih duduk di kursi roda.
"Sayang sudah lapar saja kamu, Nak! Bunda 'kan sudah bilang, kalau bersama nenek tidak boleh rewel," seru Zahra menghampiri putrinya.
Zahra terpaksa memberikan susu formula kepada kedua putrinya karena asinya tidak keluar. Keynara sudah berusia 4 bulan dan lagi aktif-aktifnya. Reza juga sudah satu bulan di luar negeri mengurus bisnis Rizal yang sudah kembali normal.
"Mama istirahat saja, biar Sazhia sama aku. Maaf jika sudah membuat Mama capek," ucap Zahra pada mertuanya.
Bu Silvi menggeleng. "Ti-tidak a-pa a-pa, Za-ra," jawab Bu Silvi.
Hari sudah sore, pak Roni pulang bekerja. Dia masuk dalam rumah dan menyapa cucu kesayangannya. "Assalamualaikum, kakek pulang Sazhia," seru pak Roni.
Zahra menjawab salam ayah mertuanya, "Waalaikumsalam, Kakek."
"Bagaimana Keynara dan Sazhia hari ini Zahra? Apa mereka ada yang rewel?" tanya pak Roni.
"Beginilah, Pa. Tadi Sazhia nangis karena minta susu. Keynara nangis juga minta gendong. Lucunya lagi, mereka tahu siapa yang menggendongnya. Jadi Key sama adiknya saling berebut perhatian," jawab Zahra merasa gemas.
"Mbak Rini mana? Kok tidak bantuin kamu?"
"Mbak Rini sedang sakit kepala jadi aku suruh istirahat. Mbak Lilis sibuk dengan Keynara, jadi Sazhia ikut Mama tadi, Pa!" jawab Zahra dengan tersenyum pada ibu mertuanya.
Pak Roni mengangguk. "Apa kamu sudah menyuruh Rini untuk minum obat? Soalnya nanti Papa ingin kamu mengantarkan sesuatu pada teman Papa di restoran," ucap Pak Roni.
"Mengantarkan apa, Pa?" tanya Zahra bingung.
__ADS_1
"Sebuah kado, teman Papa ulang tahun dan Papa tidak bisa hadir membawakan kado untuknya. Jadi mau 'kan, nanti kamu bantu Papa untuk memberikan kado itu. Acaranya dimulai jam 19.00 malam. Hanya sebentar kok, nanti kamu pakai gaun yang Papa taruh di sofa ruang tamu kamu ambil ya" jawab pak Roni.
Zahra mengangguk. "Iya Pa," jawab Zahra.
Setelah itu Pak Roni membawa istrinya masuk ke dalam kamar dan Zahra segera menidurkan Sazhia karena dia harus siap-siap.
Dua jam kemudian.
Zahra sedang mematutkan diri di depan cermin. Dia sedang melihat gaun yang sedang dipakainya itu. "Kenapa gaun ini terlihat sangat mewah. Jadi grogi aku," gumam Zahra. Dia berdandan sangat cantik.
Zahra menarik napas dalam-dalam. "Ayo kita berangkat, hanya sebuah pesta tidak usah grogi. Kenapa jantungku berdebar-debar rasanya," gumam Zahra pelan. Setelah itu dia turun ke bawah untuk segera berangkat.
Di bawah sudah ada Pak Roni yang sedang menggendong Sazhia. Zahra pamit kepada ayah mertuanya. "Pa, Zahra berangkat dulu ya. Titip Key dan Sazhia. Kalau rewel langsung telepon aku ya, Pa."
"Ya kamu tenang saja. Hati-hati di jalan," jawab pak Roni.
Zahra ke pesta dengan diantar oleh sopir. Sepanjang perjalanan hatinya tidak tenang. Akan tetapi, Zahra mencoba untuk menetralkannya. Setengah jam kemudian sampailah dia ke sebuah cafe. Zahra turun dan segera masuk ke dalam.
Saat itu juga terdengar suara gitar dan seseorang menyanyi lagu cinta. Zahra mengenal suara itu, dia langsung menoleh ke belakang dan melihat Reza sedang berjalan pelan menuju kepadanya.
"Mas Reza, kenapa kamu ada di sini? Atau jangan-jangan semua ini rencanamu?" tanya Zahra heran.
Reza terus mendekat dan tetap melanjutkan lagunya hingga selesai. "Hai calon istri, bagaimana kabarmu?" tanya Reza pada Zahra.
Zahra tersenyum. "Siapa calon istrimu? Aku ke sini mau menghadiri pesta ulang tahun, kok yang muncul kamu Mas? Terus kapan kamu pulang kenapa tidak meneleponku?"
"Aku harus menjawab yang mana dulu? Hem? Pertanyaanmu banyak sekali?" jawab Reza.
"Ck, menyebalkan! Aku tanya kamu kenapa bisa ada di sini, Mas?"
"Aku menghadiri pesta ulang tahun juga. Selamat ulang tahun calon istri." Reza mengucapkan itu pada Zahra.
__ADS_1
Zahra terkejut dia bahkan tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Kenapa? Kamu lupa 'kan? Sudah aku duga, pasti kamu tidak mengingatnya," ujar Reza terus memandang wajah Zahra.
"Ya, aku memang lupa hari ulang tahunku Mas. Kamu tahu kalau Keynara dan Sazhia saling berebut perhatianku. Sampai aku bingung ketika mereka nangis bersamaan," ucap Zahra.
"Apa mereka merepotkanmu? Kenapa kamu terlihat sedikit kurus? Hem?" tanya Reza.
Zahra tersenyum. "Apa begitu terlihat, Mas. Kenapa penglihatanmu jeli sekali, padahal hanya turun 5kg," sahut Zahra pelan.
"Apa 5kg? Kamu sengaja berdiet 'kan Zahra? Ayo bicara jujur!"
"Aku diet sedikit saja kok, kamu tahu badanku terlihat gendut setelah melahirkan. Aku ingin memakai bajuku yang dulu," jawab Zahra dengan bibir mengerucut.
Reza menarik napas dalam dia mencubit gemas pipi Zahra. "Bukankah sudah aku bilang tidak usah diet, Hem! Kenapa kamu tidak menurutinya?"
"Aww, stop sakit Mas. Apa? 5kg tidak masalah, targetku itu 8kg sebenarnya," sahut Zahra datar.
"Apa? Masih berani bicara?" Reza menegur Zahra dengan matanya yang melotot.
Zahra tersenyum lebar sembari menggeleng. "Tidak Mas, aku tidak berani," jawab Zahra.
"Jangan pernah diet kalau tidak aku suruh, oke! Aku hanya ingin melihatmu segini saja, aku tidak suka kamu menjadi kurus." Reza meraih kedua tangan Zahra dan menciumnya.
Kedua mata Reza terus menatap wajah cantik di depannya itu. "Zahra, kedatanganku kali ini adalah untuk menepati janji yang pernah aku ucapkan dulu. Selamat ulang tahun, Zahra. Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu. Aku sudah mempersiapkan semua ini jauh hari. Jadi aku akan mengungkapkan semuanya padamu."
Reza mengambil sesuatu dari saku jasnya. Dia mengambil kotak cincin berbentuk hati dan membukanya. Dia berlutut di depan wanita pujaannya. "Zahra, hari ini aku memutuskan melamarmu. Aku ingin menjadikanmu sebagai bagian dari sisa hidupku. Aku ingin kamu bisa menemani hari tuaku nanti, saling menjaga dan saling menyayangi. Zahra jadilah istriku, aku berjanji akan menjadi lelaki setia dan jujur. Aku ingin menjadikan dua keponakan ku itu sebagai anakku. Aku akan menyayanginya dengan sepenuh hati seperti aku menyayangimu. Zahra terimalah rasa cintaku ini."
Zahra menitikkan air mata haru. Dia mengingat semua kebaikan Reza. "Iya Mas, aku mau menjadi istrimu. Aku ingin menikah denganmu. Menjalani kehidupan hingga tua nanti dan tidak akan terpisah kecuali maut yang memisahkan," ucap Zahra penuh kasih.
Reza langsung mengambil cincin itu dan segera memasangkannya di jari manis. Reza memeluk Zahra penuh dengan cinta. "Terima kasih sudah memercayaiku. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk membahagiakanmu, Zahra. Aku mencintaimu," ucap Reza pelan -pelan.
__ADS_1
Zahra mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Hatinya terasa hangat penuh kenyamanan. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Semoga Mas Reza adalah jodoh yang engkau kirimkan untuk hamba," doa Zahra dalam hati.