Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Kenyataan Yang Terungkap


__ADS_3

Reza sampai juga di sebuah klinik, dia terpaksa berhenti di sana karena keadaan darurat. Reza mengangkat tubuh Zahra dan membawanya masuk ke dalam. "Dokter, tolong adik saya! Dia mengalami kram kandungan," teriak Reza dengan meletakkan tubuh Zahra di atas bed.


Dokter itu langsung melakukan pemeriksaan. Reza diminta keluar oleh dokter. Di ruang tunggu, Reza sangat cemas sekali. Dia berjalan mondar-mandir merasa khawatir. "Ya Allah, semoga tidak terjadi hal buruk pada Zahra. Selalu lindungi dia ya Allah," ucap Reza dalam hati. Dia terus berdoa untuk keselamatan Zahra.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan. Dia memberitahukan sesuatu pada Reza. "Sepertinya, pasien memang mempunyai riwayat kandungan lemah. Jadi, hal seperti ini sering terjadi karena pasien mengalami stres berat. Untuk mendapatkan kandungan yang sehat cukup dengan pikiran yang tenang dan juga nutrisi makanan bervitamin. Kalau begitu saya permisi dulu, biarkan pasien beristirahat sebentar," jelas dokter.


"Terima kasih, Dok," jawab Reza.


Setelah itu dokter pun pergi dan Reza langsung masuk ke dalam. Dia melihat Zahra yang terbaring lemah di atas ranjang. Seluruh tubuh penuh dengan luka lebam. Reza duduk dan menggenggam tangan adik iparnya itu dengan menciumnya lembut.


"Aku akan membawamu pergi dari sini, Zahra. Akulah yang akan membahagiakanmu nanti. Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu lagi. Seandainya Rizal memintamu kembali, akulah yang akan mencegahnya. Tidak akan aku biarkan kamu kembali padanya," ucap Reza pelan dan penuh keyakinan.


Di Tempat Lain.


Bu Silvi sedang bertengkar hebat dengan suaminya. Pak Roni memarahi istrinya karena sikap keterlaluan yang dilakukan. "Mama sudah keterlaluan sekali. Teganya Mama berbuat seperti itu dengan keluarga sendiri. Apa salah Reza dan Zahra, sehingga kamu tega memfitnahnya?"


"Diam kamu, Pa. Jangan ikut campur urusan Mama. Semua ini aku lakukan demi kebahagiaan Rizal, karena aku tidak suka dia hidup bahagia dengan wanita sialan itu," teriak Bu Silvi keras sekali.


Pak Roni menggeleng tidak percaya, ternyata selama ini sikap sayangnya adalah sebuah kepalsuan. "Papa sangat terkejut melihat berita ini. Video Mama viral kemana-mana. Mama juga melakukan tindakan keji. Teganya kamu menendang dan memukul orang yang sedang hamil. Bahkan kamu tidak mengakui cucumu sendiri. Sungguh ironis sekali kebenaran ini," balas pak Roni.


"Sampai kapanpun, menantuku hanya satu dan cucuku hanya lahir dari rahim Viona. Aku tidak akan pernah mengakui anak yang lahir dari rahim wanita itu meski dia adalah anak kandung Rizal."

__ADS_1


"MAMA ...." Rizal datang dan memotong pertengkaran kedua orang tuanya.


Bu Silvi menoleh, dia terkejut karena Rizal sudah mendengar semuanya. "Rizal kamu sudah pulang, Sayang," ucap bu Silvi mendekati Rizal.


"Berhenti di situ, Ma. Sekarang jawab pertanyaanku, apa semua yang Mama katakan itu benar? Jadi selama ini kalian sudah bersekongkol untuk membohongiku? Jawab Ma! Apa semuanya itu benar?" Rizal berteriak sangat emosi.


"Iya semuanya memang benar, wanita itu memang sedang mengandung anakmu. Tapi sekarang, sudah tidak penting lagi. Kamu sudah memiliki Viona, dia lebih baik dari wanita itu, Rizal. Kamu bujuk Viona ya, kondisinya sangat lemah sekarang. Semua ini gara-gara wanita tidak tahu diri itu," ujar bu Silvi tidak mau kalah.


"Cukup ... aku sudah muak dengan sandiwara ini. Kenapa Ma? Kenapa Mama tega, menghancurkan kebahagiaanku? Mama tahu 'kan, kalau aku sangat mencintai Zahra. Dia istri sempurna bagiku, Ma. Dia bahkan rela melihatku untuk menikah lagi. Semua itu demi Mama. Tapi apa balasan Mama? Aku anak yang berbakti tetapi, Mama hanya memanfaatkan ku saja. Aku sudah tidak peduli lagi sekarang, terserah Mama ingin melakukan apa? Jangan lagi mengatur kehidupanku."


"Rizal mau pergi ke mana kamu? Rizal, jangan coba-coba untuk membantah Mama. Rizal kembali kamu ...."


Rizal pergi keluar dari rumah tanpa mendengarkan panggilan ibunya. Dia menyesal telah terhasut selama ini. "Bodoh, kenapa aku bisa sebodoh ini. Seharusnya aku percaya dengan Zahra. Tidak, aku sudah menyakiti Zahra. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Zahra ... aku harus mencarinya sekarang."


"Aku harus mencarinya kemana? Bahkan aku tidak tahu tempat tinggalnya sekarang. Aku sudah Mela kesalahan besar. Zahra maafkan aku!" Rizal terus merutuki nasibnya sendiri.


Rizal terus berkeliling dengan mobilnya. Dia mengunjungi tempat yang dulu disinggahi oleh Zahra. Akan tetapi, dia tidak menemukan jejaknya sama sekali, hingga membuatnya sangat stres.


Setelah itu dia berhenti sejenak di pinggir jalan dan membuka handphonenya. Rizal mendapati video ibunya yang sedang bersikap kejam kepada Zahra.


"Mama, keterlaluan sekali. Zahra, maafkan aku! Zahra maafkan aku ...." Rizal berteriak histeris melihat Zahra yang lemah dan tidak berdaya ketika ibunya berbuat kasar.

__ADS_1


Di Tempat Lain.


"Mas, tolong! Mas tolong ... Mas, tolong aku ...."


"Zahra kamu kenapa? Apa kamu sedang bermimpi buruk?" tanya Reza khawatir.


Zahra sadar dan langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia bermimpi tentang Rizal. "Mas, ayo kita pergi sekarang. Aku ingin pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin lagi bertemu dengan mereka," seru Zahra ketakutan.


"Iya, kita akan pergi. Tetapi tunggu kamu sehat dulu. Sekarang kamu masih lemas," jelas Reza.


"Tidak Mas. Aku ingin pergi sekarang! Kalau kamu tidak mau, aku akan pergi sendiri." Zahra memaksa dan sangat keras kepala.


"Oke, baiklah! Kita pergi sekarang, aku harus ke administrasi dulu. Tunggu di sini ya." Reza keluar ruangan dan segera menuju ke bagian administrasi.


Selesai membayar, Reza kembali lgi lagi ke ruangan untuk mengajak Zahra pergi. Di dalam, Zahra sudah bersiap. Setelah itu mereka keluar dan melanjutkan perjalanan.


Reza ingin membawa Zahra, di villa barunya. Belum ada satu orang pun yang pergi ke sana. Reza membeli villa itu untuk seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.


Di dalam mobil, Reza bertanya, "Zahra, aku ingin membawamu pergi ke luar kota. Apa tidak apa-apa?"


"Bawa aku kemanapun, Mas. Aku tidak peduli jika itu sangat jauh sekali. Aku tidak ingin bertemu mereka lagi," jawab Zahra.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membawamu ke sana. Kamu lah yang pertama kali aku ajak ke tempat ini. Jadi sangat aman untukmu," balas Reza. Dia ingin mengupayakan yang terbaik untuk pujaan hatinya itu.


Zahra hanya menjawab seadanya saja. Dia lebih banyak melamun dan melihat ke luar jendela dengan pandangan kosong. Reza hanya memperhatikan, dia masih memberikan waktu sendiri untuk Zahra, hanya itulah yang dia bis lakukan.


__ADS_2