
Di sebuah kafe, Viona sedang sarapan pagi bersama dengan ibu mertuanya. Mereka tampak mengobrol dengan asyiknya. Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki dengan pakaian preman. Lelaki itu menyerahkan sebuah kamera yang berisi tentang foto Zahra dan Reza.
Viona menerima kamera tersebut. "Kerja bagus, terus lanjutkan! Aku ingin hasil yang lebih valid lagi. Kalau tugasmu semakin bagus, aku akan menambahi bayaran mu lagi," ucap Viona pada lelaki itu.
"Siap laksanakan, Nona! Aku akan mengerjakan secara profesional, jika bayarannya menjanjikan," ucap lelaki itu.
Viona mengembalikan kamera itu pada orang suruhannya. Dia sangat puas dengan hasil yang dilihatnya. "Hasilnya sangat bagus Ma! Aku yakin foto-foto itu bisa segera mengusir Zahra dari rumah."
"Kamu bisa pergi, nanti siang akan aku transfer uangnya ke rekeningmu," ucap Viona pada lelaki itu.
Lelaki itu pun pergi segera pergi, kemudian Viona melanjutkan lagi sarapan paginya.
Bu Silvi tersenyum senang, dia sangat puas melihat hidup Zahra yang menderita. "Hasil yang bagus, Mama ingin sekali mengusirnya pergi. Entah kenapa Mama begitu benci padanya. Oh, ya Sayang. Siang nanti bukannya kamu ada check up ke dokter?" tanya Bu Silvi.
"Iya Ma nanti siang aku ingin pergi ke rumah sakit untuk cek up," jawab Viona.
"Mama tidak bisa mengantar kamu karena ada arisan dengan teman-teman Mama," sahut Bu Silvi.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku bisa pergi sendiri kok," balas Viona.
Di Tempat Lain.
Zahra bekerja dengan serius sejak pagi. Dia membuat desain dari pelanggan butik yang cukup rumit. Dia memeras otak untuk memikirkan rancangan itu. Tiba-tiba perutnya merasakan kram, Zahra memegangi perutnya yang sakit.
"Astagfirullah, perutku!" ucap Zahra menahan rasa sakitnya.
Zahra terus meringis kesakitan, keringat dingin keluar membasahi wajahnya. Zahra mencoba berdiri untuk meminta tolong. Namun, kakinya tidak kuat untuk berjalan hingga membuat dirinya terjatuh di lantai
Zahra berteriak meminta pertolongan,"Tolong! Tolong aku!"
Untung saja ada satu karyawan yang lewat depan ruangannya dan melihat Zahra yang terduduk di lantai.
"Zahra kamu kenapa?" teriak orang itu.
"Tolong perutku sakit sekali," rintih Zahra.
Orang itu puk menolong Zahra. "Maaf sebelumnya, aku ingin menggendongmu," ucapnya gugup.
Zahra menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia dibawa oleh teman kerjanya ke rumah sakit. Setelah keluar dari ruangan, semua orang terkejut melihat keadaan Zahra.
__ADS_1
"Zahra, Zahra kamu kenapa?" teriak semua orang.
"Kamu hubungi keluarganya untuk datang ke rumah sakit," ucap teman Zahra pada karyawan lain.
Semua orang ikut panik melihat kondisi Zahra yang sudah lemas. Teman Zahra mencoba untuk menghubungi nomor Rizal, namun panggilan itu tidak tersambung. Lalu, sangat kebetulan sekali panggilan dari Reza masuk ke handphone Zahra.
[ Halo, Assalamualaikum Zahra ] ucap Reza di kantornya.
"Waalaikumsalam, maaf ini saya teman Zahra. Dia sekarang sedang dibawa ke rumah sakit, karena terjadi sesuatu pada kandungannya," ucap teman Zahra pada Reza.
[ Apa? Baiklah kalau begitu aku segera ke rumah sakit. Tolong jagakan Zahra sebentar untukku ]
"Iya, sebaiknya anda cepat!" jawab teman Zahra.
Setelah itu panggilan pun terputus. Teman Zahra langsung menyusul ke rumah sakit.
Di Tempat Lain.
Mendengar kabar itu Reza langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Dia terlihat sangat panik sekali. Perasaannya sudah terlalu dalam kepada Zahra. Reza melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumah sakit tersebut.
Reza turun dari mobil dan langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Zahra dirawat.
"Sebentar saya carikan dulu," jawab suster itu. Tak lama kemudian suster itu pun menjawab," Pasien atas nama Zahra Verlita ada di ruangan 105 di lantai 3, Pak."
"Oke, terima kasih!"
Reza pun langsung melesat ke lantai 3. Sesampainya di atas Rizal langsung menuju ke kamar nomor 105. Setibanya di sana, Reza melihat beberapa orang sedang menunggu di depan ruangan.
"Maaf, bagaimana keadaan Zahra? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Reza dengan nafas terengah-engah.
"Apakah anda suaminya, Zahra? Dokter baru memeriksa keadaannya," jawab teman Zahra.
Reza bernafas lega. Namun, perasaannya belum tenang. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruangan hingga membuat teman-teman Zahra heran. Berapa menit kemudian dokter keluar dari dalam ruangan.
"Apakah suami pasien berada di sini?" seru sang dokter.
Reza maju ke depan dan memperkenalkan dirinya sebagai kakak ipar Zahra. "Maaf saya keluarganya, Dok. Zahra adik ipar saya, kebetulan suaminya sedang berada di luar negeri. Apa keadaannya baik-baik saja, Dok?"
Teman-teman Zahra saling berpandangan ketika mendengar Reza yang memperkenalkan diri sebagai kakak ipar. Setelah itu pun dokter pun menjelaskan kondisi Zahra.
__ADS_1
"Kandungan pasien sangat lemah sekali, jadi tidak dianjurkan untuk terlalu stres, maupun bekerja dengan menguras tenaga dan pikiran. Pasien, seharusnya tahu hal ini, jika ingin mempertahankan kandungannya tetap berjalan. Hanya itu saran saya, agar beristirahat yang cukup dan jangan terlalu berpikiran yang berat-berat. Pasien sudah sadar dan anda bisa menjenguknya kalau begitu saya permisi!" Dokter pun pergi dari ruangan tempat Zahra dirawat.
"Terima kasih dok atas bantuannya," ucap Reza.
Setelah itu Reza dan teman-teman Zahra masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan secara terlihat lemas dan wajahnya sangat pucat sekali. Reza langsung menghampiri Zahra di atas ranjang.
"Zahra kamu tidak apa-apa kan? Apakah perutmu masih sakit?" tanya Reza dengan sangat khawatir.
Teman-teman Zahra saling berpandangan satu sama lain. Mereka heran dengan perhatian Reza kepada Zahra yang tak biasa.
"Badanku masih sedikit lemas, Mas! Untung ada teman-teman yang membawaku ke sini," ucap Zahra dengan nada lirih.
Salah satu teman menghampiri Zahra di ranjang. "Zahra, kami semua pamit dulu ya! Sudah ada kakak iparmu di sini. Cepat sembuh ya, sebaiknya kamu mengajukan cuti hamil dulu. Tunggu kandunganmu stabil baru kembali bekerja," ucap teman Zahra.
Zahra mengangguk pelan dan sedikit tersenyum. "Terima kasih sudah menolongku. Kalian semua baik sekali," ucap Zahra.
"Sama-sama, ya sudah kami kembali bekerja ya, Zahra! Bye, cepat pulih!"
Teman-teman Zahra pun pergi. Kini tinggal Reza dan Zahra dalam ruangan itu. Reza memandang adik iparnya dengan penuh perasaan yang sangat dalam. Zahra yang tersadar langsung mengalihkan pandangan kakak iparnya.
"Jangan memandangku seperti itu, Mas! Aku sudah bersuami, tidak sepantasnya kamu memandangku sedalam itu," ucap Zahra, memperingatkan Reza.
"Kamu pasti merasakan apa yang aku rasakan saat ini, Zahra! Kamu tahu, betapa sakitnya hati ini melihatmu menderita! Ingin sekali aku merebutmu dari Rizal. Tetapi aku sadar kalau hal itu bukan yang terbaik. Aku mencintaimu Zahra! Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku." Reza akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Zahra.
"Sebaiknya kita berjaga jarak Mas. Tidak baik jika kita terus berdekatan. Aku mencintai Mas Rizal, karena dia adalah suamiku. Untuk bantuanmu selama ini aku hanya menganggap seorang kakak yang membantu adiknya dalam kesulitan. Kamu lelaki baik, Mas. Aku yakin kamu makan mendapatkan wanita yang terbaik juga," ucap Zahra, membuat hati Reza berdenyut.
Reza tersenyum tipis, dia merasa bodoh mencintai adik iparnya sendiri. "Tidak apa-apa jika aku tak bisa mendapatkanmu, Zahra. Aku akan selalu membantumu untuk menghadapi semua kesulitan yang sedang menimpa rumah tanggamu. Aku akan selalu melindungimu dari kejahatan apapun. Aku juga akan membela ketika ada yang menyalahkanmu. Melihatmu tersenyum saja sudah membuatku senang. Aku selalu berharap kamu tetap bahagia bersama Rizal. Semoga Rizal cepat sadar agar bisa menghargaimu lagi, menyayangi, dan mencintaimu sepenuh hatinya. Kamu pantas mendapatkan itu Zahra. Kamu pantas bahagia! Satu pesanku jika kamu lelah, apabila kamu mempunyai keinginan untuk menyerah. Datanglah padaku! Hati ini selalu terbuka untukmu, Zahra. Aku siap untuk membahagiakanmu apapun yang terjadi!"
Hati Zahra bergetar mendengar ungkapan perasaan Reza. Dadanya terasa sesak seperti berada di dalam ruangan hampa udara. Dia tak menjawab ungkapan yang dalam itu.
"Aku ingin pulang, Mas! Bisakah kamu membawa ku pulang?" ucap Zahra mengalihkan pembicaraan.
Reza berdiri dia langsung menyanggupi permintaan Zahra. "Baiklah aku ambil kursi roda dulu di luar."
Reza keluar ruangan untuk mengambil kursi roda. Berapa menit kemudian dia masuk kembali dengan mendorong kursi roda. "Ayo turun pelan-pelan aku akan membantumu," ucap Reza, menuntun Zahra turun dari ranjang.
Zahra pun duduk di kursi roda, dan Reza pun mendorongnya keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar, Reza menuju ke bagian administrasi untuk membayar tagihan. Dari kejauhan ada seseorang yang tidak sengaja melihat keberadaan Reza.
"Apa-apaan mereka? Terlihat seperti sepasang suami istri yang bahagia. Aku harus segera mengabadikan momen ini, untuk melengkapi semua koleksi fotoku tentunya." Viona langsung mengambil ponselnya untuk memotret kebersamaan Reza dan Zahra.
__ADS_1
Viona sama sekali tidak melewatkan kesempatan itu. Ambisi, untuk menyingkirkan Zahra dari sisi Rizal telah mengalahkan akal sehatnya. Viona tidak sadar kalau dia juga sedang mengandung. Sungguh dia tidak memikirkan istilah tabur tuai dalam sebuah kehidupan, sehingga dia mengabaikan sebab dan akibat dalam perbuatannya.