
Tiga hari kemudian.
Zahra sedang bersiap untuk pergi ke KUA. Dia sendiri yang memilih pernikahan yang sederhana, karena tidak ingin ada gosip miring yang menerpanya lagi.
Reza masuk ke dalam kamar Zahra. Dia melihat wanita yang akan dinikahinya itu cantik sekali dengan balutan kebaya putih. Reza memeluk Zahra dari belakang. "Cantik sekali calon istriku," bisik Reza pada Zahra.
Zahra tersenyum malu melihat Reza yang berani bersikap manja. "Apa kamu bahagia, Mas?" tanya Zahra.
"Tentu saja bahagia, aku sangat bahagia melebihi apapun di dunia ini. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Padahal kamu sudah tahu alasannya, Zahra," balas Reza.
Zahra terkekeh, dia membalikkan badannya lalu menatap mata Reza. "Memang kenapa kalau aku bertanya padamu, Mas? Aku hanya ingin memastikan saja kalau lelaki yang ada di hadapanku sekarang ini adalah benar-benar calon suamiku. Reza Narendra anak pertama dari keluarga Narendra. Lalu aku Zahra Verlita, si gadis biasa yang berhasil memenangkan kedua hati Kakak beradik dalam satu keluarga. Bukankah aku sangat hebat sekali, Mas," ujar Zahra.
Reza tersenyum tipis. Dia menarik Zahra ke dalam pelukannya. "Kamu memang wanita hebat, dan aku sangat beruntung sekali bisa memilikimu. Meski bukan yang pertama tapi akan menjadi yang terakhir. Menjagamu, menyayangimu, dan mencintaimu dengan segenap hati. Ayo kita berangkat sekarang, sudah waktunya untuk mengucap janji suci."
Zahra mengangguk, dia selalu terharu dengan sikap manis Reza yang mampu membuat jantungnya berdebar. Setelah itu mereka keluar dari kamar untuk segera pergi ke kantor urusan agama.
Di luar sudah ada kedua mertua Zahra yang juga sangat senang menyambut pernikahan kedua anak dan menantunya.
"Papa, Mama, kita pergi dulu ke KUA. Titip Key dan Sazhia ya. Juga minta doa restu Papa dan Mama atas niatku menikahi Zahra," ucap Reza pada kedua orang tuanya.
"Iya, Papa dan Mama merestui niatmu itu Reza. Semoga pernikahanmu ini selalu dilimpahi kebahagian dan juga Rahmat dari yang Maha Kuasa. Jagalah Zahra dan bahagiakan lah dia. Kamu pantas untuk mendapatkan wanita sebaik dan setulus Zahra. Doa papa menyertaimu," ucap pak Roni.
Ibu Silvi juga ikut mendoakan Reza dengan segala keterbatasannya berbicara. Dia hanya mengangguk ketika pak Roni mendoakan Reza.
Setelah Reza selesai meminta dia restu. Kini giliran Zahra untuk bersimpuh meminta restu. "Papa, Mama, sebelum aku melakukan pernikahan ini. Pertama, aku minta dia restu Papa dan juga Mama. Aku ingin menikah dengan Mas Reza. Izinkan aku untuk menjadi menantu dari keluarga ini untuk yang kedua kalinya. Aku berharap Papa dan Mama memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga Narendra," ucap Zahra dengan menitikkan air mata. Dia mengingat kembali kenangan masa lalu bersama Rizal.
"Papa dan Mama merestui kalian. Doa kami juga selalu menyertaimu, Nak! Kamu adalah menantu yang paling di keluarga ini. Beruntung sekali kedua anak lelaki Papa mempunyai kesempatan menjalin rumah tangga denganmu, Nak. Jasamu sangat besar di keluarga ini. Berdirilah cepat sana ikatlah janji suci bersama Reza. Papa dan Mama mendoakan kalian di sini," ucap pak Roni pada Zahra. Situasi tersebut sangat mengharukan.
Zahra berdiri setelah selesai sungkem di depan kedua mertuanya. Reza dan Zahra berjalan bersama keluar menuju ke mobil. Sesampainya di luar, mereka segra masuk dan berangkat ke kantor urusan agama.
Mobil melaju pelan dan Reza fokus menyetir. Dia selalu melihat ke arah Zahra yang tampak gugup dan tegang. "Sayang, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan agar kamu tidak grogi," ucap Reza pada Zahra.
"Aku sangat gugup Mas. Entah kenapa aku tidak bisa bersikap biasa," jawab Zahra.
"Itu karena kamu pernah trauma di masa lalu. Aku yakin kenangan itu tidak sepenuhnya hilang dari hatimu. Jadi wajar kalau sikapmu seperti ini sekarang." Reza selalu bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Zahra.
"Kenapa kamu selalu benar dalam menebak perasaanku, Mas?"
Reza tersenyum manis. "Itu karena aku memahami karaktermu, Sayang," sahut Reza.
Zahra tersipu malu. "Bahkan aku baru sadar kalau kamu sekarang sangat suka menggodaku."
__ADS_1
Reza terkekeh. "Ini belum seberapa, kamu lihat saja kharisama ku nanti setelah kita sah. Aku jamin kamu akan tersipu setiap saat," ujar Reza dengan penuh kehangatan.
"Sudah Mas, jangan menggodaku terus. Aku tidak mau salah tingkah di sini."
Reza terus tersenyum bahagia, karena dia bisa menetralkan rasa gugup Zahra. "Aku akan selalu membuatmu nyaman denganku Zahra. Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk memikirkan sesuatu hal yang tidak penting," gumam Reza dalam hati.
Beberapa menit perjalanan, sampailah Reza di KUA. Dia turun dan keluar dari mobil membukakan pintu untuk Zahra. Kemudian mereka masuk ke dalam.
Setibanya di dalam, Reza di sambut oleh beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahannya. Penghulu dan semua yang terlibat juga sudah siap di sana.
Reza dan Zahra segera di duduk dan di arahkan untuk menandatangani beberapa kertas. Setelah selesai, ijab kabul pun segera dimulai. Penghulu menjabat tangan Reza dan mengucapkan ijab untuknya.
Reza menjawabnya dengan lantang tanpa keraguan. Tentu saja hal itu membuat jantung Zahra tidak karuan. Dia terus menunduk dan berdoa dalam hati agar pernikahannya kali ini penuh dengan keberkahan.
Akhirnya Reza selesai mengucap ijab kabulnya. Dia sudah mengucapkan janji suci untuk sehidup semati bersama wanita yang dicintainya yaitu Zahra.
Zahra menjabat tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Dia mencium tangan itu dengan lembut dan penuh perasaan. Reza juga mencium kening dan juga memakaikan cincin pernikahan di jari Zahra.
"Selamat kalian sudah resmi menjadi suami istri," ucap pak penghulu.
Reza dan Zahra saling tersenyum. Setelah itu mereka pamit karena acara telah selesai. Keduanya masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah. Setelah masuk, Reza langsung mengemudikan mobilnya.
"Alhamdulillah Mas, niat kita sudah terkabulkan. Aku masih tidak menyangka kita sudah sah menjadi suami istri," ucap Zahra dengan bibir selalu tersenyum.
Zahra mengangguk. "Sangat bahagia, Mas. Aku bahagia bisa menjadi istrimu," jawab Zahra.
"Aku senang mendengarnya. Baiklah ayo kita menuju ke suatu tempat untuk menyempurnakan kebahagiaan kita," ujar Reza membuat Zahra penasaran.
"Kita kemana, Mas? Ini bukan arah rumah kita," seru Zahra bingung.
Reza diam tak menjawab pertanyaan istrinya. Dia terus tersenyum dan fokus menyetir mobil. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas.
Zahra kagum melihat rumah itu. "Rumah siapa ini Mas?"
Reza masih diam tak menjawab. Dia memberhentikan mobilnya, lalu keluar dan membukakan pintu untuk mobil untuk Zahra. "Ayo kita keluar istriku tercinta," ucap Reza. Dia ingin menggendong Zahra keluar dari mobil.
"Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku. Ini rumah siapa?"
"Tentu saja ini rumah kita, Sayang. Aku sudah mempersiapkan rumah ini khusus setelah kita resmi menikah. Nanti kita juga akan tinggal di sini bersama Key dan Sazhia. Bagaimana kamu suka 'kan dengan hadiahku?" tanya Reza pada istrinya.
"Apapun yang kamu berikan, aku sangat menyukainya, Mas." Zahra menjawab pertanyaan suaminya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita masuk, dan menyempurnakan pernikahan ini."
"Mas, kita tidak pulang dulu?" tanya Zahra.
"Malam ini kita menginap di sini. Besok kita pulang, aku sudah bicara dengan papa. Kamu tidak usah khawatir, Key dan Sazhia pasti mengerti dengan hari bahagia bundanya," seru Reza. Dia terus menggendong Zahra masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Reza langsung menuju ke kamar pengantin yang sudah dia siapakan sebelumnya. Reza membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam. Setelah itu dia menuju ke ranjang dan meletakkan tubuh Zahra di atas kasur.
Reza membuka jasnya dan juga kemejanya. Zahra menunduk melihat Reza yang sudah bersiap meminta haknya sebagai suami. Zahra bangun dan turun dari ranjang, akan tetapi Rasa segera mencegahnya.
"Mau kemana? Jangan bilang kamu ingin kabur di hari bahagia ini," ucap Reza dengan raut wajah khawatir.
Zahra tersenyum. "Kamu bicara apa Mas? Mana mungkin aku kabur di hari pernikahanku? Aku juga akan bersiap untuk melayani suamiku. Izinkan aku ke kamar mandi, apa tidak boleh?"
"Silakan, aku takut kamu pergi dan kabur dariku Zahra. Maaf sudah berburuk sangka," ucap Reza.
Zahra mengalungkan tangannya di leher Reza. Dia berjinjit dan memberanikan diri mengecup bibir suaminya. "Aku tidak pergi kemanapun. Hari ini dan seterusnya aku adalah milikmu, Mas. Aku akan menjadi istri yang baik dan juga ibu yang baik pada anak kita nanti. Aku mencintaimu, suamiku!"
Reza senang mendengar ungkapan hati Zahra. Dia langsung membalas ciuman itu dengan mesra dan juga hasrat yang menggebu. Beberapa detik ciuman itu semakin lama semakin dalam. Deru napas keduanya saling bersahutan.
"Mas, aku ingin pergi ke kamar mandi dulu," bisik Zahra pelan.
Reza terus menc umbu tengkuk istrinya dan tidak membiarkan untuk pergi kemanapun. Tangannya mulai membuka resleting kebaya yang dipakai Zahra.
"Aku menginginkanmu istriku," ucap Reza dengan mendekatkan wajahnya di depan wajah istrinya.
"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan Mas. Tidakkah kamu mengizinkan aku membersihkan make up dulu?"
Reza menjawab, "Tidak ada waktu untuk itu, Sayang. Mari kita tuntaskan adegan ini dulu."
Setelah berhasil membuka kebaya Zahra. Reza merebahkan tubuh istrinya kembali di atas ranjang. Setelah itu dia mulai menindih dan terus memberikan sentuhan lembut pada Zahra.
"Zahra, aku bahagia memilikimu," bisik Reza di dekat telinga Zahra.
"Aku pun Mas. Semoga kamu bisa memegang janji suci yang telah kamu ucapkan tadi sampai akhir nanti bersamaku," balas Zahra dengan buliran air mata yang menetes lembut.
"Jangan menangis di hari bahagia kita. Aku tidak ingin melihat air mata ini terjatuh," ujar Reza dengan menghapus air mata istrinya.
"Ini air mata bahagia, Mas. Aku behagia menjalani semua ini bersamamu."
"Syukurlah, kalau begitu terima kebahagiaan ini." Reza melaksanakan aksinya. Dia mulai meluncur semua pakaian Zahra dan juga pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Reza juga menjamah setiap jengkal tubuh istrinya dengan penuh cinta dan kelembutan. Tersebut suara lirih keluar dari bibir keduany. Saling menikmati peraduan yang mempu membawa mereka merasakan surga duniawi.
Zahra terus memeluk suaminya yang berada di atas tubuhnya. Sesekali dia mencium pundak Reza untuk meredakan tekanan yang sedang mendesaknya.