
Kini Zahra dan Reza sudah sampai di kontrakan. Zahra membuka pintu dan membersihkan Reza untuk masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Reza langsung melihat ke sekeliling ruangan. Ada rasa prihatin di hatinya melihat tempat tinggal Zahra.
Setelah meletakkan tasnya, Zahra langsung menuju ke dapur untuk mengambil piring. Kemudian, Zahra membawa piring itu ke ruang tamu. Dia membuka rantang yang diberikan oleh Bu Romlah tadi.
"Semua makanan yang kamu kirim itu porsinya terlalu banyak, Mas. Aku tidak memakannya habis dan mubazir. Setiap hari aku selalu membuang makanan, karena di sini tidak ada kulkas," ucap Zahra.
Reza terus menatap adik iparnya, hingga Zahra tersadar dan membuatnya salah tingkah. "Jangan menatapku seperti itu," ucap Zahra tersipu.
"Memang kenapa? Toh, aku hanya melihat saja, tidak melakukan apapun," sanggah Reza dengan santainya.
Zahra menggeleng, dia tahu kalau tidak bisa melarang sikap kakak iparnya itu. "Makanlah, Mas." Zahra memberikan piring yang berisi nasi dan lauk itu kepada Reza.
Reza menerima piring itu dan segera memakannya. "Kapan kamu cek up ke dokter?" Reza bertanya.
"Masih satu minggu lagi, kenapa memangnya?" balas Zahra.
"Tidak apa-apa hanya bertanya saja," jawab Reza santai. Sebenarnya dia ingin menawari jasa, tapi Reza merasa tidak enak karena sikap Zahra yang masih cuek padanya.
Reza masih memakan makanannya. Setelah itu dia mengambil dompet di sakunya. Reza mengeluarkan sebuah kartu kredit dan diberikan pada Zahra.
"Zahra, bawalah kartu itu. Gunakan di saat kamu memerlukannya," ucap Reza.
Zahra berhenti mengunyah, dia meletakkan piringnya di meja. "Apa maksudmu, Mas?" Zahra bertanya dengan nada datar.
"Kamu menganggap ku apa, Mas? Dalam status aku ini masih istri orang Mas. Meski, Mas Rizal sudah mengucapkan kata cerai tetapi dia belum memproses perpisahan ke pengadilan. Jadi lebih baik kita berjaga jarak, agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih kejam lagi," ucap Zahra membuat Reza terdiam.
__ADS_1
"Terima kasih untuk rasa pedulimu. Terima kasih juga atas kebaikanmu padaku, Mas. Aku menghargai semua itu, kamu ada di setiap aku membutuhkan. Terima kasih! Tetapi balik lagi ini bukan kewajibanmu untuk menafkahiku, Mas. Ini masih kewajiban Mas Rizal. Ya memang, aku sudah putus hubungan dengannya. Tapi, dia tidak akan pernah putus dengan bayi yang aku kandung, karena ini adalah darah dagingnya," jelas Zahra.
"Bagaimana kalau Rizal tidak melakukan tanggung jawabnya? Apa kamu akan terus pasrah dalam keadaan yang seperti ini?" Reza terus mendebat ucapan Zahra.
"Kamu pikir, apakah aku ini sangat lemah Mas? Kalau untuk kebutuhan, aku masih bisa untuk mencarinya. Aku bisa bekerja dan mengandalkan otakku untuk mencari uang. Aku tidak akan kehabisan akal, Mas. Jadi jangan suap aku dengan semua materi itu, karena kita tidak akan bisa bersatu meski aku telah resmi bercerai dari Mas Rizal sekalipun," ucap Zahra, dengan tegas. Hingga membuat hati Reza sedikit sakit.
Reza terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Apa maksud dari kata-katamu itu, Zahra?"
Zahra tersenyum kesal. "Apa ucapanku masih kurang jelas, Mas. Kalau begitu aku perjelas lagi. Berhenti berharap padaku. Lupakan aku, hilangkan aku dari hatimu. Jalani hidupmu dengan wanita yang lebih pantas. Kamu baik, aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang baik juga. Aku ingin menikmati kesendirian ini, Mas. Jadi berhentilah sampai di sini," ucap Zahra dengan sangat jelas. Hingga kata-kata itu terasa menusuk di hati Reza.
Kedua tangan Reza menggenggam erat menahan rasa nyeri di hatinya. "Kamu tidak pernah tahu, bagaimana usahaku untuk melupakanmu Zahra. Kamu tahu kenapa aku sering di luar negeri, itu karena aku menghindari mu. Aku ingin melupakanmu, Zahra. Tapi bertahun-tahun aku mencoba, tetap saja aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku tidak bisa menghapusnya begitu saja, karena kamu adalah cinta pertamaku."
Zahra terdiam, dia melihat mata Reza berkaca-kaca. Terlihat ketulusan di dalam sana. Tetapi, Zahra tidak ingin larut dalam perasaan itu. Dia tidak mungkin berhubungan dengan kakak iparnya sendiri.
Reza berdiri dari tempatnya, dia tidak bisa menahan kesedihan jika terus berada di depan Zahra. "Aku pulang dulu. Aku tetap meninggalkan kartu ini, kamu gunakanlah ketika mendesak atau terserah padamu. Assalamualaikum."
Setelah itu, Reza keluar dan langsung pergi dari kontrakan Zahra dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Reza masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari kawasan tersebut.
Di Tempat Lain.
Rizal masih bermalas-malasan di ranjangnya. Kepalanya masih sangat pusing sekali. Hal itu membuat Viona kesal. "Sayang, kamu jangan seperti ini dong. Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin membenci wanita itu," ucap Viona dengan nada emosi.
Sejak Viona kembali dari rumah sakit tadi siang, Rizal belum keluar dari kamarnya. Dia masih terlalu malas untuk beraktivitas karena tubuhnya sakit semua.
"Sayang, kamu bangun dong!"
__ADS_1
Rizal menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Setelah itu dia meminta pada istrinya untuk membuatkan sesuatu.
"Buatkan aku madu jahe sekarang," ucap Rizal.
"Kamu suruh saja bibi, aku malas ke dapur terlebih lagi aku tidak bisa membuat madu jahe," tolak Viona.
Rizal menarik napas dalam, dia bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke lemari. Dia mengambil hoodie lalu memakainya. Setelah itu dia mengambil remote mobil dan keluar dari kamar.
Melihat suaminya keluar tanpa izin membuat Viona marah. Dia berteriak memanggil Rizal, akan tetapi tidak dihiraukan.
"Rizal mau ke mana kamu? Kembali kamu Rizal," teriak Viona.
Rizal keluar dari rumah menuju ke parkiran. Dia ingin pergi dari rumahnya itu untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Rizal memacu mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke kafe tempat dia hang out saat muda dulu.
Di dalam rumah, Viona kesal bukan main. Dia tidak menyangka akan ada hal semacam itu. Viona langsung menelpon mertuanya untuk mengadukan perbuatan Rizal.
"Ma, Rizal pergi dari rumah. Seharian dia tidak keluar kamar dan setelah bangun dia pergi tanpa pamit ke aku, Ma," rengek Viona.
[Keterlaluan sekali Rizal itu, kamu tidak usah khawatir. Besok Mama akan marahi dia. Ya sudah sekarang kamu istirahat saja, nanti dia juga pulang. Baru kali ini Rizal mabuk, jadi biarkan saja dia. Mungkin lagi banyak pikiran.] ucap Bu Silvi dari rumahnya.
"Iya, Ma tetap saja aku tidak tenang. Bagaimana nanti kalau dia ke klub malam. Aku sangat khawatir, Ma." Viona masih terus merengek.
[Tidak akan Rizal berbuat seperti itu. Mama sangat yakin, sudah ya. Nanti kalau sampai jam 12 malam dia belum pulang kamu telepon Mama.]
"Iya Ma," jawab Viona dengan muka cemberut.
__ADS_1
Setelah itu, Viona menutup teleponnya dan kembali ke kamar dengan perasaan yang campur aduk.