
Di dalam kamar, Zahra sedang memijat kakinya yang terkilir. Dia sangat sedih sekali dengan perlakuan Viona yang sudah keterlaluan. Di saat seperti ini yang dia rindukan adalah Rizal. Namun, suaminya sangat sibuk sehingga tidak waktu untuk menghubunginya.
"Mas, kapan kamu pulang? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu!" gumamnya pelan.
Hampir sebulan Rizal menjalankan bisnisnya di luar negeri. Jadi sudah hampir sebulan juga Viona tinggal bersama ibu mertuanya. Setiap hari Zahra selalu mendapatkan hinaan dan juga cacian dari madunya. Hingga terkadang membuat Zahra ingin menyerah.
Disaat Zahra melamun pintu kamarnya pun ada yang mengetuk dari luar. "Non Zahra. Ini Bibi, Non," seru Bi Surti dari luar.
Zahra turun dari ranjangnya dan segera membukakan pintu. "Ada apa Bi?" tanya Zahra.
"Ini saya diminta, Den Reza untuk mengantarkan obat ini untuk Non!" ucap Bi Surti.
Zahra menerima obat itu, kemudian dia kembali masuk dalam kamar. Zahra melihat obat yang diterimanya itu. Dia menarik nafas panjang, dadanya masih terlalu sesak untuk bernafas.
"Perhatian Mas Reza sudah melebihi perhatian Mas Rizal. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman nanti. Aku bingung harus bagaimana? Aku sudah berusaha untuk mengabaikannya, tetapi dia terus membantuku," ucap Zahra pelan.
Tak lama kemudian ponsel Zahra berdering. Nama Rizal terpampang jelas di layar. Zahra sangat senang sekali dan langsung mengangkat telepon dari suaminya. "Assalamualaikum Mas, akhirnya kamu meneleponku," sapa Zahra.
[Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu Zahra?]
"Aku baik-baik saja Mas, kamu sendiri bagaimana? Aku sangat merindukanmu, apa tugasmu masih lama di sana Mas?" tanya Zahra sedih.
[ Pekerjaanku masih sekitar 2 mingguan lagi. Kamu sabar ya, Sayang! Kamu ingin oleh-oleh apa kalau aku pulang?]
Zahra menggelengkan kepalanya. "Tidak usah Mas. Cukup kamu pulang dengan selamat itu sudah lebih dari cukup."
[Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya. Tadi aku coba telepon Viona tapi sepertinya dia sedang sibuk. Kamu baik-baik ya Sayang. Assalamu'alaikum.]
"Waalaikumsalam, kamu hati-hati dalam bekerja Mas."
[Iya.]
Setelah itu panggilan berakhir. Zahra sangat senang, hatinya lega sekali. "Ternyata Mas Rizal masih ingat sama aku, jadi aku tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Di Lantai bawah.
Bu Silvi dan Viona sedang berbincang dengan teman-teman arisannya. Bahkan salah satu dari mereka juga menggunjing Zahra. Acara kumpul-kumpul itu sudah selesai. Bu Silvi pun mengantarkan mereka semua ke luar rumah.
"Eh Jeng, mana menantumu yang satu itu? Kok tidak kelihatan," tanya salah satu teman Bu Silvi.
"Tidak usah ditanyakan, yang ada hanya membuat orang emosi saja. Lagian sudah ada menantu terbaikku di sini," jawab Bu Silvi dengan bangganya.
"Ya, menurut aku ya Jeng, kamu justru harus berhati-hati dengan tipe menantu yang mempunyai sifat angkuh dan sombong. Biasanya orang yang mempunyai sifat seperti itu akan menghancurkan keluarganya sendiri."
Viona tersinggung dengan ucapan teman arisan ibu mertuanya. "Maaf yang Tante maksud itu siapa?"
"Bukan siapa-siapa? Hanya sekedar bayangan saja, kalau begitu saya permisi dulu. Bye ."
Setelah itu semua orang pergi dan Viona masih kesal. "Ma, Mama lihat kan tadi salah satu teman Mama itu sedang menyindir aku. Mana dibandingin lagi sama si bodoh itu," ucap Viona kasar.
"Sayang kamu tenang ya, sekarang kita pikirkan bagaimana memberi pelajaran untuk si Zahra?" Bu Silvi diam dan berpikir. Lalu, Viona mendapatkan sebuah ide.
"Ma, aku ada cara yang sangat bagus." Viona pun membisikkan sesuatu pada ibu mertuanya.
"Kamu memang menantu Mama paling the best, Sayang. Idemu ini sangat cocok sekali. Baiklah kalau begitu kita mulai permainan ini." Bu Silvi dan menantunya itu pun pergi dari ruang tamu, dia bersiap-siap untuk melakukan sesuatu pada Zahra.
Malam hari.
Tiba saat makan malam, kebetulan semua makanan sudah siap di meja. Bi Surti menyiapkan semua makanan itu. Reza turun dari tangga dan belum melihat ayah dan juga ibunya..
"Pergi ke mana semua orang, Bi?" tanya Reza.
"Nyonya sama Non Viona pergi ke rumah satunya, Den," jawab Bi Surti.
"Kalau begitu panggilkan Zahra untuk turun, Bi!"
"Baik Den." Bu Surti langsung naik ke atas untuk memanggil Zahra turun. Sesampainya di atas, Bi Surti langsung mengetuk pintu. Namun, Zahra tidak membukakannya.
__ADS_1
Tidak mendapatkan tanggapan, Bi Surti turun lagi ke bawah. "Itu, Den. Non Zahranya tidak mau membuka pintu. Mungkin sudah tidur."
Reza melihat jam di dinding. "Dia belum tidur Bi. Ya sudah nanti biar aku saja yang membujuknya."
Setelah itu Reza pun makan sendiri dengan lahap. Dia memakan nasi dan juga meminum habis jus yang sudah disiapkan sejak tadi.
Selesai makan, Reza beristirahat sejenak. Setelah itu, dia langsung mengambilkan makanan untuk Zahra. Reza membawa nasi beserta lauknya ke atas nampan. Kemudian dia pergi ke menuju ke kamar Zahra.
Sesampainya di atas, Reza mengetuk pintu dengan keras. "Zahra buka pintunya kamu harus makan malam, kalau tidak nanti kamu bisa sakit."
Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. "Mas Reza tidak perlu repot-repot membawanya sampai ke atas. Nanti kalau aku lapar juga akan makan sendiri," ucap Zahra tidak senang.
"Aku ... aku hanya."
"Kamu kenapa, Mas? Apa ada yang salah? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Zahra bingung. Zahra menerima nampan itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Reza masih berdiri di depan pintu kamar Zahra. Melihat ada yang aneh pada kakak iparnya membuat Zahra penasaran. Dia mendekati dan melihat wajah Reza yang sudah berkeringat dan juga dengan nafas yang memburu.
"Mas kamu sakit? Kenapa kamu berkeringat seperti itu? Mas, kok diam. Sebaiknya kamu istirahat saja di kam ...."
Reza tiba-tiba menarik tangan Zahra dan memeluk tubuhnya dengan erat. Zahra terkejut dan mencoba untuk melepaskan diri. Namun dekapan tangan Reza sangatlah kuat membuat Zahra kesulitan.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku Mas! Sadarlah! Mas kamu kenapa?"
Reza terus memeluk Zahra dia bahkan berani mengendus ceruk leher adik iparnya. "Zahra aku menyukaimu, entah apa yang terjadi pada tubuhku ini. Aku menginginkanmu Zahra."
Zahra menggelar kepalanya. "Tidak Mas, ini tidak benar. Kamu harus sadar, aku istri adikmu, Mas. Aku adik iparmu! Kamu harus sadar, Mas!"
Reza mengendurkan pelukannya. Dia menatap sendu Zahra dengan pandangan penuh harap. "Bantu aku menuntaskan ini, Zahra!"
Zahra gemetar, dia mendorong tubuh kakak iparnya keluar dari kamarnya. Namun tenaganya tak cukup kuat. "Mas aku mohon kamu pergi dari sini! Aku tidak ingin terjadi salah paham. Mas sadarlah, pergi dari sini!"
"Aku tidak kuat Zahra! Aku menginginkanmu." Reza terus mendorong pintu kamar itu. Hingga membuat tubuh Zahra terhuyung ke belakang. Dari kejauhan terlihat Bi Surti memasang kamera merekam kejadian itu dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Reza berhasil masuk ke dalam kamar dan melihat Zahra jatuh ke lantai. Reza segera mengangkat tubuh adik iparnya itu ke atas kasur. Zahra memberontak bahkan memukuli wajah Reza. Namun, Reza belum sadar karena sudah dikuasai oleh napsu.