
Sudah tak terasa waktu berjalan bulan berganti tahun. Sekarang Aini sudah lumayan lancar bahasa urdu. Aini selalu berusaha bagaimana cara agar dia selalu faham apa yang dibicarakan orang lain. Karena kalau mahu menjawab tentulah harus paham dulu.
"Mau kemana kamu,tanya iparnya.
"Mahu jahit baju anakku."
"Kenapa kamu sendiri pergi?"
"Memang kamu mau menemani?"
"Nanti sebentar aku mau ganti baju dulu."
"Nanti kamu lambat."
"Kenapa harus buru burukan cuma mau ngantar ke tukang jahit."
Akhir nya Aini menunggu padahal rumah orang yang di tuju dekat.
"Kamu kok belum selesai?" tanya Aini kesal.
"Apa yang kau kejar buru buru?" jawab iparnya cuek.
"Kalau menunggu kamu selesai, bisa berjam jam makanya saya lebih baik pergi sendiri," jawab Aini ketus. Karena dia paham sekali sikap iparnya. Sengaja lambat lambat, padahal cuma sebentar perlunya.
"Di sini perempuan tidak boleh keluar sendiri," cegah iparnya lagi.
"Kalau begitu sekarang ayo ikut saya," tantang Aini.
"Kan saya, mahu ganti baju dulu," elak iparnya lagi dengan angkuh.
"Kalau memang niat mau ngantar kenapa harus ganti baju dulu? Kita bukannya pergi jauh," jawab Aini kesal bukan main. Sengaja di permainkan iparnya.
"Kau ini aku malulah pakai baju ini keluar," alasan iparnya di buat buat.
"Trus mau pakai baju apa ? Baju pesta?"
Saking keselnya Aini dengan iparnya ini akhirnya dia pergi saja sendiri. Setelah beberapa menit sudah kembali ke rumah sesampai di rumah ternyata suaminya sudah pulang.
"Loh kamu dari mana kenapa sendiri keluar?"
"Tadi saya bilang saya temanin tapi dia tidak mau"
"Bukan saya tidak mau, kamu memang bilang mau menemani, tapi kamu alasan ganti baju. Sudah beberapa lama saya tunggu tunggu, kamu belum juga ganti baju,emang apa perlu ganti baju kalau hanya ke rumah tetangga yang jaraknya cuma tiga rumah dari sini"
"Kamu jangan pergi sendiri"
"Apa apaan kalian ini aku bukannya jalan jalan kalau harus nunggu adek mu aku bisa mampus tau."
"Itulah apa pun itu kamu keluar jangan sendiri."
Melihat pertengkaran iparnya tersenyum menang. Oh jadi ini tujuan mu kata Aini dalam hati lihat aja nanti.
"Aini kemana adek ku?"
"Mana kutahu."
"Bukankah tadi ku bilang nanti kamu ikut dia jangan biarkan dia pergi sendiri."
"Dia memang tak mengajakku."
"Kamu ini bagaimana? Kenapa dia tak ajak kamu?"
"Kamu tanya sendirilah sama dia. Saya dari tadi di rumah tidak ke mana mana. Terserah dia, kalau dia memang ingin ditemanin kan gampang tinggal ngomong ke aku. Ini malah pergi diam diam."
"Kenapa sih kamu ada aja jawaban? Maksud saya cukup kamu temanin saja."
"Nah tuh dia sudah datang. Kamu tanya sendiri la sama dia."
"Ke mana kamu tadi pergi ? Kenapa tak ajak Aini?"
"Saya tadi terburu buru," jawab adek suaminya.
"Ami tadi Popo pergi ke rumah orang," tiba tiba anak Aini ikut nimbrung.
"Hei anak kecil jangan sembarangan bicara yah." Sambil tangan iparnya mau mukul anak Aini.
"Hei kalau kamu memang tidak salah kenapa harus marah kalau ponakan mu bagi tau?"
"Iya benar tadi Popo beli sesuatu, saya minta jajan dia tak bagi dasar pelit"
"Awas kamu ya anak kecil."
Sambil lari menghindar anak itu kabur keluar. Panggilan ibunya pun tidak di gubris.
"Ajarin anak mu itu sopan santun."
__ADS_1
"Oh sepertinya kamu memang punya sifat suka nyalahkan orang sementara kesalahan sendiri tidak mahu mengakui."
"Aku memang tadi terburu buru itu lah makanya aku pergi sendiri."
"Bukan urusanku kamu mau pergi sendiri atau di temanin. Terserah kamu, urusan kamu, yang penting kamu jangan ganggu aku dan anakku paham", hardik Aini kesal lalu pergi meninggalkan iparnya yang kebingungan sendiri.
Sudah beberapa hari iparnya di rumah Aini belum juga ada tanda tanda mhu pergi ke rumah suaminya.
Kringgg.. tiba tiba hp iparnya berbunyi. Oh rupanya dia lupa bawa hpnya tadi. Dengan ragu ragu dijawab nya panggilan itu.
"hallo," jawab Aini.
"Loh kok kamu yang jawab Aini? Mana pergi istriku?"
"Aku tidak tau hpnya di rumah dia tak tau ke mana tadi tak ada pamit juga kalau mau pergi," jawab Aini lagi.
"Kenapa kok begitu?" tanya suami iparnya keheranan dengan jawaban Aini.
"Tanya istrimu lah kenapa?" jawab Aini lagi dengan ketus
"Ok nanti bagi tau kalau dia sudah pulang.''
"Baiklah."
Rupanya suami iparnya yang telpon. Yah terpaksa Aini bagi tau memang harus bohong bilang istrinya di dapur atau di sumur.
Tidak berapa lama rupa nya suami ipar nya datang. Tadi dia sengaja nelpon dulu.
Dan iparnya belum juga kembali. Dan Aini cuma diam saja sama suami ipar nya Aini jarang bicara kalau datang yah cuma basa basi.
"kok dia belum datang lagi ? Tanya suami ipar nya.
"Nah tuh sudah datang," tak lama iparnya datang. Dia terkejut lihat suaminya sudah di rumah Aini.
"Kapan sampai?" tanya perempuan itu.
"Sudah satu jam."
"Maaf membuat mu menunggu."
"Yah sudah kamu berkemaslah kita pulang sekarang."
"Baiklah, semua akan baik baik saja.''
Iparnya berkemas kemas untuk pulang ke rumah suaminya. Dan semua barang barang yang di beli nya sejak datang ke sini di bawa semua. Seperti orang tidak ber punya saja. Padahal sewaktu menikah dulu dua truk barang yang di bawa nya ke rumah suami nya. Eh setiap datang ke rumah Aini mesti selalu beli lagi.
Memang sih kayu itu persediaan musim dingin. Tapi kalau tiba tiba gas habis mau nggak mau ya terpaksa masak dengan kayu.
Dinegara ini soal listrik memang sangat sensitif. Jauh merantau ke luar negri malah masak pakai kayujuga. Yah maklum suami nya bukan orang kaya. Hidup pas pasan patut di shukuri juga rumah atas nama suami.
Coba kalau rumah ini atas nama bapak mertuanya wah runyam urusannya. Ada teman sesama wni juga pandal yang memperbaiki rumah suami nya setelah selesai malah di usir keluar dengan alasan anak anak mu sudah besar pergi lah.
Salah suami nya juga sih kenapa tidak beli tanah atas nama sendiri. Pernah suatu kali teman nya itu curhat sama Aini.ñ.
mbak aku bertengkar lagi dengan ipar ku, anak ku di pukul nya gara gara membuka kulkas dan mengambil makanan".
"trus suami kamu bilang apa?".
"nggak ada di suruh diam saja".
"suami ku dulu yang memperbaiki rumah ini beli in kulkas ngasih emas untuk ipar ku awal awal aku datang semua baik, setelah duit habis dan kami nggak ada makanan mereka malah nggak peduli".
Dalam hati Aini merasa ber shukur nasib nya tidak seburuk teman nya ini. Teman nya sekarang kamar pun tak punya dapur kamar mandi pun tak punya. Masih mending Aini rumah sendiri kamar tidur ada tiga ruang tamu kamar mandi dapur semua terpisah ruangan nya.
Hidup itu akan jauh lebih bershukur kalau kita melihat kepada orang yang di bawah kita nasib.nya. Kalau melihat yang lai dengan orang yang di atas kita yang ada rasa iri karena mereka punya kita tidak.
"Mbak aku akan pulang ke Indonesia."
"Oh ya kapan?" rasa tak percaya kalau temannya itu bilang mau pulang. Padahal setau Aini untuk makan saja susah.
"Tinggal nunggu visa suami kalau sudah keluar visa baru kita beli tiket."
"Oh baguslah semoga semua lancar."
Itu beberapa bulan yang lalu temannya itu bilang mau pulang. Eh sampai sekarang nggak pulang pulang.
"Katanya kamu mau pulang kok nggak jadi?" tanya Aini sama temannya yang tempo hari bilang mau pulang.
"Itu masalah tiket kami di tipu," jawab temannya.
"Loh kok bisa tertipu?" tanya Aini.
"Entahlah pada hal paspor sudah siap," jawabnya.
"Yah mungkin belum saatnya."
__ADS_1
Padahal yang buat bingung kok bisa di tipu tiket kalau beli online pun sekarang bisa. Ah jangan jangan memang tidak ada niat pulang. Hehe dalam hati Aini ketawa geli.
"Kamu bilang di tipu tiket, Kamu beli di mana?" tanya Aini.
"Sama teman belinya tapi kantornya di Indonesia," jawabnya lagi.
"Trus uangnya hilang?"
"nggak hilang duitnya dibelikan barang barang isi rumah," jawab teman Aini.
"Loh kalau memang niat mau pulang buat apa beli barang barang, nanti kalau mau jual pun juga nggak akan mahal jadi barang secon."
Itu ucapan temannya tempo hari. Katanya dia mhu pulang bahkan sampai sekarang nggak jadi pulang. Dan malah keluar dari rumah mertuanya. Sekarang sewa rumah sendiri. Memang lebih bebas mau ngatur rumah sendiri. Tetapi rumah ngontrak setiap bulan harus bayar belum lagi biaya listrik dan makan sehari hari.
Aini bukannya tidak menshukuri apa yang dia punya sekarang. Hidup itu melihat ke bawah baru terasa shukur. Kalau melihat ke atas memang tidak akan pernah bershukur.
Di dalam group watsapp teman teman bukan saling mensuport malah saling menikam juga saling sindir menyindir dan saling pamer. Itu Aini nggak suka buat apa eksis di group yang cerita nya justru buat kepala stress.
Mbak apa kabar lama tak sms aku sekarang sibuk jualan ngumpulin recehan buat bantu suami urusan visa untuk suami*** Aini membaca pesan masuk dari teman nya yang sudah pulang ke indonesia.
Kringgggg.....
"Hallo."
"Ya halo apa kabar mbak?"
"Baik baik saja alhamdulillah, kamu bagaimana?" tanya Aini lagi.
"Aku sehat mbak masih jualan nih alhamdullillah lumayan bantu kumpul duit buat calling visa," wah hebat kamu.
"Semangaaat ya aku suka pejuang cinta hehehe."
"Makasih mbak."
"Sekarang lagi ngapain?"
"Ini mahu bungkus keripik bayam sudah selesai goreng tinggal di packing aja lagi."
"Maa sha Allah pinter ya jualan."
"Aku sudah biasa dari dulu mbak kerja cari uang sebelum nikah sekarang demi calling visa untuk suami aku akan berusaha lagi lebih keras malu aku minta bantuan sama adekku dan bapakku," jawab teman Aini lirih.
"Iya bener mbak aku faham."
"Keluarga ku selalu nanyain kok suami kamu belum datang kapan datang?"
"Huhuhu mbak aku pening ini kalau nggak pakai uang tunjuk sudah datang suami ku",tangis teman Aini.
"Yah mbak aku ngerti mbak yang sabar semua masalahnya cuma duit kalau suami berduit mungkin lain ceritanya."
"Iya mbak aku cinta sekali sama suami ku makanya aku tidak bisa melupakannya," jawab wanita itu sedih.
"Kamu yang kuat sabar saya paham nggak mudah ngumpulin uang sebanyak itu dalam waktu dekat."
"Iya mbak aku nggak mau suamiku nggak punya harga diri di depan keluargaku, adek adek ku semua pegawai negri bapakku punya kebun luas kalau mereka tau suamiku nggak berduit yang ada nanti mereka nggak menghormati suamiku,"jawab wanita itu penuh haru.
"Iya bener juga yah."
"Apa lagi kalau aku minta tolong untuk duit calling visa wah bisa bahaya mbak bisa marah besar keluarga ku buat apa menikah sama bule kere",huhuhu tangis teman Aini terisak isak.
"Aduhhh bener bener puyeng yah tapi ini adalah pilihan. Mbak kalau mbak mau mbak bisa dengan mudah meninggalkan nya, dan mencari pengganti, tetapi tidak semudah itu apa lagi mbak yang tau suami mbak seperti apa orangnya, kalau dia baik cuma masalahnya dia miskin, di sisi lain keluarga mbak orang berada jelas jelas nanti hubungan mbak di tentang bapak," jawab Aini panjang lebar.
"iIu lah mbak aku mati matian menutupi keadaan sebenarnya," jawab teman Aini lirih. Ini demi suami.
"Pokoknya mbak semangat aja usaha dan berdoa saja minta sama Allah akan dikabulkan kepada siapa lagi harus memohon pertolongan kalau bukan kepada Allah."
"Iya mbak aku selalu berdoa supaya suami ku bisa segera datang ahhh pening mbak apa lagi sudah lama tidak tidur dengan suami aku cenat cenut ini."
"Hahaha ya iya lah."
"Hahaha habis suami belum datang lagi."
'Hahaha sabar yah nanti kalau sudah datang hajar sepuluh ronde."
"Hahaha."
"Nggak bilang ke suami mbak apa nggak kasihan dengan istrinya?" tanya Aini.
"Haha diapun sama, juga cenat cenut."
"Hahaha ."
Begitulah Aini dengan temannya yang sudah pulang ke indonesia sampai sekarang masih telponan. Aini juga sering di mintai nasehat kalaupun usia beda dua tahun namun temannya itu termasuk wanita mandiri. Di indonesia saja punya rumah sendiri semasa belum menikah dia perempuan pekerja. Sekalipun orang tuanya mampu dari segi materi.
Sekarang dia lagi ber juang untuk suaminya mengumpulkan uang. Padahal keluarga suaminya malah tidak ada yang bantuin. Mereka mana peduli dengan suaminya yang ada keluarganya malah minta uang biaya rumah. Padahal adek adek suaminya bukan anak anak lagi sudah besar besar.
__ADS_1
Namun adat sini lagi lagi memanjakan yang kecil dan menyusahkan yang tua. Itu tak jauh berbeda antara suami Aini dan temannya kebiasaan orang sini. Yang sulit berubah. Adat yang biasa memanjakan yang kecil nasib buruk kalau banyak adek.