Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Alasan 4


__ADS_3

Anak anak Pakistani dari kecil terbiasa akan adat istiadat. Adat bagian hidup mereka. Mulai dari kakek buyut sampai cicit cicit pantang untuk merubah adat tersebut.


Di negara kita adat itu beragam. Negara kita kepulauan. Jadi setiap provinsi adat berbeda. Bahkan dalam satu provinsi pun sesama suku beda kabupaten beda adat.


Lain hal di Pakistan. Ada 5 provinsi di negara ini. Namun seluruh adat mereka sama. Seperti pernikahan kematian. Dan dari agama apa pun yang di anut sama. Semisal jehez bagi wanita dan khataman ketika kematian.


"Alhamdulillah anak Ami sudah baikkan," ucap Aini sambil memeluk Akram. Pagi ini Akram sudah mandi dengan air hangat yang di sediakan ibunya.


"Terimakasih Ami jaan. Saya sangat beruntung punya ibu sebaik ami," ucap Akram sambil mencium tangan Aini. Wah.... Spontan Aini merasa tersanjung oleh perlakuan anaknya.


"Oh merijaan. Pyara bacha. Mera sezhada," ucap Aini membalas ungkapan Akram. Lalu di peluk di cium kening anaknya.


Merijaan artinya sayangku. Pyara bacha artinya anak yang bagus. Mera sezhada artinya pangeranku.


"Sekarang jangan terlalu sibuk dulu yah. Kamu masih harus menjaga kesehatan mu. Jangan buat ami kuatir lagi," ucap Aini sambil menarik hidung mancung Akram.


"Ami ji. Tadi saya lihat anti dan baba haji bertengkar. Marah marah gara gara mehek. Inza tidak ada di rumah dia pergi tuition," lapor Akram.


Sambil menatap Akram dalam dalam. Lalu di genggamnya tangan anak bujangnya sambil berkata, " Nak, kamu sendiri tau kalau ada yang ikut campur urusan kita, kita tidak suka kan? Trus kenapa kita ikut campur urusan orang lain?" ucap Aini sambil memandang ke dua bola mata Akram.


Akram tertunduk mendengar ucapan ibunya. "Maaf ami jaan. Saya salah," jawab Akram.


Aini tersenyum. " Tak apa sayang lain kali jangan di ulang," ucap Aini.


tok...tok....tok... Pintu di ketok seseorang.


"Assalamualaikum baji kia hal he?" tanya seorang wanita Pakistan. Baji artinya mbak. Jadi maksudnya apa kabar mbak.


"Waalaikumussalam thehk hen. Hanjhi kaho. Kia hua?" tanya Aini. Waalaikumussalam baik. Iya bicaralah. Ada apa?


"ye lo card shadi. Mujhe soo rupiah dede." ini undangan kawin. Bagi saya seratus rupe.


"paccas rupe rakhlo, our nehi he," jawab Aini. Ini lima puluh, tak ada lagi.


Sambil melihat kartu undangan perkawainan. Minggu depan dan Aini memberi tau suaminya.


*******


Kringgggg...Kringggg....Kringg...


"Ya sayang," jawab Furqan.


"Ada undangan perkawinan. Untuk minggu depan, dari caca Habib," ucap Aini.


"Oh ya tak apa kamu pergi sama anak anak," tukas Furqan.


"Tapi baju saya dan anak anak bagaimana? Kami cuma punya baju lama itu pun sudah sempit. Baju Akram juga. Yang Ali masih muat," ucap Aini.


"Kalau kamu bisa pergi beli sendiri, kalau tidak panggil Yasmin," jawab Furqan.


Dalam hati Aini pikir ngapain ngajak Yasmin. Mending pergi dengan Akram saja naik riksaw. Sepulang sekolah Akram dan Ali pergi ke pasar berbelanja.


Di pasar.


"Bhai fanshion wala kapre dekhao," ucap Aini. Artinya bang baju pesta perlihatkan.


"Acha api ye lo. ye kimat pan azar, our ye wala ce azar pan soo," ucap pedagang. Artinya ok mbak. Ini harganya lima ribu dan yang ini enam ribu lima ratus.


"Itna menggi mene nehi lena," jawab Aini. Artinya mahal sekali saya tidak mau.


"Phir kitne ap ne die? Konsa apne pasant?" jawab pedagang. Artinya trus berapa mau kamu kasih? Yang mana kamu suka.


"mujhe ye lena he, lakin sirf tin azar mene die. Agar razi ho phir thehk hen," jawab Aini. Artinya saya mau yang ini, tapi saya cuma mau bayar tiga ribu. Kalau kamu setuju .

__ADS_1


"Thehk," jawab pedagang. Artinya baik.


Setelah milih baju untuk anak anak, dan beli sepatu, pulang naik riksaw. "Akram bagaimana apakah kamu puas? Dengan baju pilihan mu tadi?" tanya Aini.


"Ya ami sangat puas. Tapi tadi popo Yasmin telpon. Katanya kenapa tidak ajak dia kepasar?" ucap Akram.


"Ngapain juga repot repot ngajak dia. Memang apa salahnya kita saja yang pergi?"ucap Aini.


Setiba di rumah ternyata memang Yasmin sudah ada. Rupanya dia yang bilang ke Furqan kalau seharusnya Aini pergi dengan dia belanja.


"Kenapa saya tidak di ajak tadi? Papa mu yang bilang kalau ajak saya," jawab Yasmin sewot.


"Kamu nggak perlu repot repot. Kita sendiri juga bisa kok," jawab Aini.


"Coba lihat yang kamu beli," ucap Yasmin. Sebenarnya Aini tidak mau memperlihatkan. Namun di paksa terus sama Yasmin.


Sambil membolak balik baju yang di beli Aini lalu, "Saya juga mau seperti ini, ini buat saya saja. Kamu beli lagi yang lain," ucap Yasmin iri.


"Aduh... Itu makanya saya tidak mau memperlihatkan sama kamu. Kamu itu tidak tahan nanti. Nah benar kan?" jawab Aini.


Sambil mengomel sendiri Yasmin pergi berlalu. Hai gumam Aini entah kapan ini akan berakhir. Bukannya tidak mau ngasih dia. Tapi dia setiap bulan beli baju.


"Kenapa ami? Ada apa popo mengomel terus?" tanya Akram.


"Biasa Nak. Popo mu kan selalu begitu tak tahan melihat ami mu beli apa pun. Dia bukannya tak punya baju, malah setiap bulan beli baju. Memang perempuan Pakistan itu hatinya pada iri semua," jawab Aini.


"Biarkan saja dia. Memang dia sendiri yang tidak bersukur. Kalau misal dia tidak pernah beli baju trus, sedang kan kita sering, nah baru lah kita belikan juga untuk dia. Ami saja jarang beli baju. Sering baju lama di pakai. Demi sekolah kami. Ami rela tidak beli baju," bela Akram.


Aini tersenyum mendengar ucapan anak bujangnya. Ternyata benar ucapan Furqan suaminya. Anak laki laki pasti akan membela ibunya. Kalau sang ibu benar benar menjaga anak laki lakinya. Apa lagi anak perempuan. Itu lah yang membuat adat sering di salah artikan.


Alasan yang bisa di terima. Jelas seorang ibu akan sangat bangga. Bila anak laki lakinya membela dia.


*******


"Saya juga mau beli baju baru. Untuk pesta nanti, semua baju saya baju lama. Saya malu pakai baju itu," ucap caci pada baba haji.


"Uang tak ada. Pakai saja yang lama. Itu pun masih bagus. Jarang di pakai," jawab baba haji.


Suara mereka bertengkar sampai ke rumah Aini. Karena memang mereka ngomong keras keras.


"Akram," panggil Aini.


"Iya ami," jawab Akram.


"Turun. Ngapain di atas. Cepat turun. Ami sudah bilang kamu jangan ke atas main. Nanti baba haji ribut lagi dengan kita," ucap Aini mengingatkan Akram.


Akram segera turun kalau tidak ibunya tentu marah besar. Dan tidak segan segan memukulnya.


"Iya Ami, ada apa? Tadi saya ada perlu di atas. Ayo sini ada perlu saya ceritakan," ucap Akram serius. Sambil menarik tangan ibunya ke dalam kamar. "Ami tadi saya lihat Inza sama cowok di atas rumah. Dia sembunyi sembunyi ber dua. Saya tadi ingat laki laki itu mau ambil merpati yang lepas. Di atas atap merpatikan banyak lepas," lapor Akram


"Kamu ini bicara apa? Bukan urusan kamu. Sudah kamu biarkan saja dia. Nanti kamu pula yang di salahkan baba haji dan anti. Jangan kamu ikut campur urusan Inza. Paham?" ucap Aini pada Akram. Aini semakin kuatir. Inza sekarang semakin berani. Bahkan diam diam nelpon cowok pakai hp orang. Nah Akram yang belum paham malah di manfaatkan laki laki yang suka sama Inza.


Kejadian malam yang tak terduga.


Inza malam ini ada rencana ketemuan dengan laki laki semalam. Yang Akram sudah bagi tau sama Aini. Tapi Aini tidak menyangka ternyata malam ini, ada hal yang mengerikan di rencanakan pasangan di mabuk cinta itu.


Diam diam laki laki itu naik ke atas atap rumah baba haji. Dan melihat Akram. Rupanya mereka sengaja mengatur siasat. Dengan menjebak Akram. "Akram," panggilnya. Akram tidak menoleh trus masuk kamar. Melihat itu laki laki itu nekat loncat dari atap ke dalam rumah baba haji.


"Hei kenapa kamu ke sini? Kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Inza.


"Jangan kuatir. Ini ubat tidur ok. Nanti malam kita bertemu," ucap laki laki itu terburu buru. Takut ketahuan. Disaat akan naik kembali ke atas atap dan lari, dia menyenggol vas bunga di tangga.


Prangggkk..... Suara vas bunga pecah.

__ADS_1


"Hei siapa itu? Tanya Akram. Tapi laki laki itu sudah lari terlebih dahulu. Akram sempat lihat. Persis sama dengan laki laki semalam yang ketemuan sama Inza. Dari atas Akram melihat Inza membersihkan vas bunga. Pecah berserakkan gara gara tersenggol laki laki tadi.


Baba haji memang malam kerja jadi satpam di hall. Jadi setiap malam cuma ada Anti, Inza dan Mehek. Nah kesempatan ini yang Inza lakukan. Dengan memberi obat tidur sama ibu angkat dan juga adek angkatnya.


"Akram. Siapa tadi? Apa yang pecah? Dan kamu kenapa masih naik ke atap?" tanya Aini.


"Ami ji. Laki laki itu datang lagi. Saya mau bilang sama baba haji. Biar baba haji yang nasehatin Inza," ucap Akram sok peduli.


"Aduh ini anak di bilangin nggak juga ngerti ngerti. Apa urusan kamu dengan mereka? Terserah apa yang di buat Inza. Kamu jangan ikut campur. Paham? Nanti malah kamu yang di salahkan," ucap Aini tak habis pikir dengan Akram anaknya. Sudah nyata selama ini baba haji mana percaya ucapan Aini atau Akram. Malah si Akram mau melaporkan urusan Inza.


Suasana sangat mendukung niat Inza. Hujan turun deras setelah isya. Sedangkan baba haji sudah pergi sesudah magrib.


Malam itu Aini dan anak anak sudah tidur. Hujan semakin deras. Aini menyuruh Akram cepat tidur karena besok mereka akan pergi berkunjung kerumah saudara.


"Mama ji ini chae minum dulu," ucap inza sambil menyodorkan chae yang sudah bercampur obat tidur.


"Mehek sedang apa?" tanya mama Inza.


"Dia sedang nonton. Saya akan menyuapkan Mehek bubur beras ini. Lalu menidurkan dia," ucap Inza penuh arti. Karena dia sudah tak sabar menunggu reaksi obat tidur segera bekerja.


Pelan mama Inza meminum chae yang sudah di campuri obat tidur. Dan Inza menyuapkan Mehek bubur beras, yang sama sama sudah di campuri obat tidur juga.


"Mehek. Ayo habiskan." Mehek gadis kecil yang lumpuh separo badan. makan minum buang air semua di lakukan Inza atau mamanya. Mehek menghabiskan semua bubur beras buatan Inza.


Prangkkkkk..... Tiba tiba bunyi cup chae terjatuh dan pecah. Inza tersenyum artinya sudah di habiskan semua.


Dengan santai ia berjalan. "Akhhh...," ucap Inza. Karena tidak menyangka mama angkatnya malah tergelak di lantai. "Aduh. Bagaimana ini. Kenapa bisa malah tertidur di lantai. Sudah lah badannya berat lagi," gumam Inza. Akhirnya di biarkan saja sama Inza mamanya tertidur di lantai. Sambil mengasih bantal di kepalanya.


Lalu inza melihat Mehek. Rupanya anak lumpuh itu juga sudah tertidur menelungkup. Karena memang mau terbangun atau tertidur, mehek selalu dalam posisi meringkuk. Tidak pernah meluruskan badan.


"Yess....usahaku berhasil," ucap Inza girang. Cepat cepat di hubungi kekasihnya. Yang ternyata masih ada hubungan saudara dengan ibu kandung Inza. Anak dari sepupu ibunya.


Laki laki itu masuk. Dan tentu niat mereka berjalan mulus. Karena hujan sangat deras. "Ayo masuk. Nanti kedinginan. Saya sudah siapkan chae hangat dan cemilan biskuit," ucap Inza mempersilahkan cowok itu.


Kringgg...... Kringgg.... Berkali kali hp berbunyi. Tapi tidak ada yang menjawab. Rupanya calling dari baba haji. Inza sibuk berbincang bincang dengan kekasihnya. Setelah memberikan hadiah berupa hp baru dan beberapa helai baju baru, juga beberapa lembar uang lima ribuan. Laki laki itu pergi. Berjanji akan menikahi Inza.


******


Pagi pagi terjadi kehebohan yang sungguh luar biasa. Ternyata mama Inza mengalami over dosis. Rupanya Inza terlalu banyak memasukkan obat tidur. Kontan saja semua bertanya tanya.


Kringgg....Kringggg...


Inza menghubungi kekasihnya meminta tolong. Karena kekasihnya masih ada hubungan keluarga jadi orang orang tak curiga.


"Mama... Kurang sehat cepat datang," pinta Inza. Dan kekasihnya datang bersama beberapa keluarga yang lain.


"Dia kenapa? Kok bisa terbaring di lantai?" tanya keluarga yang hadir.


"Pagi ini dia bangun mau ke kamar mandi dan terjatuh," ucap Inza bohong.


"Tunggu. Ini seperti obat tidur. Selama ini dia tidak ada masalah. Kenapa mengkonsumsi obat tidur? Dan dia seperti orang tidur?" tanya yang hadir heran.


"Sa saya, tidak tau," ucap Inza gugup.


"Bukankah ini punya Akram?" tanya seseorang. Dan refleks kekasih Inza nervouse dan mengatakan, " iya benar."


******


Furqan kaget dapat kabar dari Pakistan. Dan perasaan tidak enak segera dia menghubungi istrinya. Menanyakan kabar mereka.


"Sayang. Kamu tolong jaga Akram. Semalam kejadian heboh di rumah baba haji," lapor Furqan.


"Kamu tau kalau dulu saya tidak datang ke sini saya tentu bingung ngurus anak bujang saya. Ini juga "Alasan" saya bertahan.

__ADS_1


"Mana dia? Panggil dia cepat? Memang bikin gara gara saja, Aini mana Akram? Panggil dia," ucap baba haji.


__ADS_2