
Kalla Furqan punya sifat suka bicara "Gali" dalam bahasa Urdu artinya, bahasa kasar. Semisal anak anjjjjj, menantu anjjjjjj, atau bahasa kotor lainnya. Semisal "dasar menantu asing anjjjjjj dan anjjjjj ibumu.
Ini tidak lain adalah bentuk ketidak sukaannya pada yang lain. Semisal dia ingin menguasai sesuatu tetapi malah tidak dipatuhi.
Sering datang ke rumah Aini. Dan sering mengatur atur popo Furqan. Yang rumahnya di sebelah rumah Aini.
"Bhena kenapa kamu tidak larang Furqan buat saluran air ini? Nanti di sini mengganggu jalan. Ini kan bukan tanah dia. Buatlah di atas tanah sendiri," ucap kalla Furqan kesal. Bhena artinya saudari dalam bahasa Urdu.
"Saya sudah larang tapi dia tidak dengar," jawab popo Furqan.
"Suruh orang pindahkan semua bata ini. Jangan biarkan dia buat. Kalau mau buat silahkan di atas tanah miliknya sendiri," ungkap kalla Furqan dengan kasar.
Aini yang melihat semua bata dibongkar kontan saja tidak terima. "Kenapa kamu bongkar bata bata ini? Nanti semua jadi pecah," larang Aini.
"Ini bukan tanah suami kamu! Kalau mau buat saluran air buat saja di atas tanah milikmu sendiri," jawab kalla Furqan.
"Kamu siapa? Melarang semua ini! Memang ini rumah kamu apa? Jangan mentang mentang kamu orang tua suka suka mencampuri urusan rumah sini," jawab Aini tak kalah gusar.
"Kurang ajar kau menantu asing anjjjj, anjjjj ibu kau ," ucap perempuan tua itu semakin menjadi jadi, menunjukkan kebenciannya pada Furqan dan Aini.
"Mulut mu itu kotor sekali, orang tua tidak tau diri kalau saya anjjj trus Furqan juga sama, nah kalau Furqan juga anjjjj kamu sendiri juga anjjjj, dasar tak tau malu. Heran saya kamu orang tua bukannya sadar malah semakin menjadi jadi," jawab Aini dalam bahasa Urdu yang lancar.
Kontan saja kalla Furqan semakin panas hatinya. Dalam hatinya begitu dia mengata ngatai Aini, dia ingat Aini akan diam saja. Ternyata Aini semakin melawan. Bahkan membalikkan kata katanya.
"Awas saja! Kalau kalian buat lagi saluran air di sini saya akan panggil orang untuk bongkar lagi," tantang kalla Furqan.
"Bukan ini tanah kamu. Kamu mana ada hak di sini. Cuma kamu iri dan tak tahan melihat Furqan bisa berjaya. Punya rumah sendiri," jawab Aini lagi.
"Kalian tak kan kuijin kan, untuk membuat apa pun di sini," balas kalla tak kalah sengit.
"Saya juga berhak di sini. Saya tidak mau Furqan sesuka hati di sini. Tanah ini milik popo Furqan. Mengapa Furqan yang berkuasa?" jawab kalla lagi.
"Bagaimana kamu ingkari di dokument sudah tertulis nama Furqan. Oh... Iya lupa. Anakmu tidak mau menikah dengan Yasmin saudari Furqan. Karena hak tanah bagian Yasmin di berikan kepada Furqan. Oleh sebab itu kamu jadi iri. Hahaha dasar tak tau malu tak tau diri. Kalau anakmu yang mengingkari perintahmu tidak apa apa. Sementara kalau Furqan ingin mengambil haknya. Lalu kamu tidak suka bahkan berusaha mengganggu terus," jawab Aini panjang lebar.
Sebenarnya kalla itu cuma iri. Dia mau menguasai tanah milik Yasmin. Tapi karena Jafar tidak setuju menikah dengan Yasmi. Pupus sudah harapan menguasai tanah tersebut.
Sejak Yasmin menikah dan segala urusan hak waris dari suami popo, itu semua uang Furqan yang membayar di pengadilan. Setelah selesai Yasmin dapat separo sebagai anak adopsi. Dan Yasmin memberikan haknya pada Furqan.
Itulah yang membuat kalla semakin tidak suka dengan Furqan. Di tambah Furqan datang ke Pakistan membawa istri dan anaknya.
Semakin menjadi jadi kebencian kalla. Bahkan perlakuan antara Rafi dan Akram. Sesalah salah Rafi kalla tetap diam. Sementara sedikit saja kesalahan Akram maka kalla langsung tidak tahan.
"Hei...jangan main di sini. Main dalam rumahmu saja," cegah Rafi pada Akram. Sambil mengambil batu mau melempar.
Akram membelokkan sepedanya ke arah lain. Dan setelah puas main Akram pulang. Ternyata Rafi dengan dadanya duduk duduk di bawah pohon di depan rumah Aini. Dada dalam bahasa Urdu artinya kakek. Dengan sombong Rafi berkali kali melempar batu lewat jendela kamar Aini.
"Amiiiiiii......," teriak Akram. Bergegas Aini keluar.
"Ya Allah kenapa?"
"Saya masuk kedalam huhuhu Rafi lempar kepala saya dengan batu," tangis Akram sambil memegang kepalanya yang bercucuran darah.
"Hei kamu kenapa membiarkan cucumu main batu," ucap Aini gusar pada kakek Rafi.
"Anak anak biasa bandel, kenapa salahkan saya. Bukan saya yang lempar," sanggah kakeknya Rafi.
"Oh...anak anak. Kau bicara begitu karena yang lempar cucumu. Coba kalau anakku yang lempar kepala cucumu. Trus pasti sudah kau pukul anakku," jawab Aini gusar.
"Obati anakku, bawa dia ke dokter. Panggil Jafar suruh dia mengobati anakku.," bentak Aini.
"Cuma luka kecil di bawa ke dokter," jawab dadi Rafi tanpa persaaan. Padahal kalau keadaan di balik. Sudah pasti dia tidak terima perlakuan anak orang.
"Iya karena kamu tidak punya perasaan. Coba kalau itu cucumu anakku yang melukai kamu sudah pasti ribut besar," jawab Aini.
"Anakmu juga kadang mengganggu cucuku," balas kalla Furqan lagi. Dengan tanpa rasa bersalah.
"Apa kamu masih punya malu? Ini kejadian di rumah saya. Anak saya mau masuk ke dalam rumah lalu cucumu lempar kepala anak saya dengan batu, apa masih waras otakmu?" bentak Aini.
Memang begitu sifat Kalla Furqan. Kalau menyangkut anak dan cucunya maka dia tak mau disalahkan. Tetapi kalau anak orang yang jahat sama cucunya, sekalipun cucunya yang salah duluan, maka dia tetap tidak terima.
Rata rata perempuan Pakistan punya sifat seperti kalla Furqan. Kalau anak dan cucunya bebas melakukan apa saja. Termasuk di rumah Aini. Memang cucunya datang tidak ada sopannya sama sekali. Bahkan juga bilang anjjjj sama dia.
__ADS_1
Rafi datang pintu dibanting keras. Semua ada di situ. Kalla, popo dan Bisma. Tiba tiba Rafi marah marah sambil nunjuk nunjuk ke dadinya.
"anjjjj kenapa dibuang mainan saya," sambil mukul punggung dadinya.
Melihat itu kontan saja Bisma marah. "Kurang ajar. Ibuku kau bilang anjjj. Ibumu yang anjjj," balas Bisma lagi.
"Mana mainan saya? Kalian kenapa buang? Anjjjj mak kalian."
Sambil trus berlari keluar Rafi melempar baskom untuk mencuci baju. Praaaaakk baskom pecah.
"Ini lihat anak Tahira, ndak ada otak sama dengan Tahira. Tak punya malu," ujar Bisma.
Hahahaha dalam hati Aini ketawa sendiri. Memang benar Kalla Furqan sering mengata ngatai orang dengan kata kata anjjjj. Sekarang justru cucunya sendiri yang mengata ngatai dia anjjjj. Tapi yah sekali lagi itu cucunya. Dia tidak marah. Coba kalau anak Aini bisa ngamuk dia.
********
Rafi memiliki adek laki laki. Dan sering mukul adeknya. Rafi lebih suka main dengan anak anak tetangga dari pada dengan adeknya.
Kadang adeknya dicakar mukanya. Abang adek itu kalau ada maunya selalu buat neneknya susah. Kadang neneknya sendiri jadi pelampiasan kemarahannya.
"Huzel," teriak Rafi. Dari luar rumah.
Huzel tidak mau dengar. Pura pura nonton tv. Tiba tiba dari arah belakang Rafi mendorong Huzel sampai tersungkur. Kena hidung Huzel ke pinggir meja. Huzel menjerit kesakitan.
"aaaaaaaaaa....," tangis Huzel bergema ke seluruh rumah.
"Ada apa ," tanya dadinya tergopoh gopoh.
"Dadiiiii Rafi tadi dorong saya huhuhu sakiiiittt ," tangis Huzel kesakitan.
"Rafiiìii....., pulaaaanggg, awas kau nanti kurang ajar lihat apa yang di perbuat pada adeknya," gerutu mertua Tahira.
"Dadiii...huhuhu sakiiiitt," Huzel berusaha menahan sakit. Darah berserakkan di lantai.
Dengan segera dadinya membawa Huzel ke rumah sakit. Takut darahnya semakin banyak keluar.
"Telpon Jafar," ucap dadi Rafi pada suaminya.
"Biarkan saja wanita itu, anaknya semakin kurang ajar. Dia tidak mengajari dengan baik ke dua cucuku," jawab mertua Tahira. Selama ini justru mertua Tahira yang mengontrol cucu mereka. Sekarang anak anak Tahira menjadi semakin susah di atur malah Tahira disalahkan.
Kriiiiinngggg..
"Hallo abu ji," jawab Jafar.
"Jafar , Huzel sekarang di rumah sakit. Tadi bertengkar dengan Rafi. Di dorong Rafi lalu kena hidungnya terbentur meja," jawab abu Jafar. Abu dalam bahsa urdu artinya Ayah.
"Baiklah saya segera meluncur ke sana," jawab Jafar.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Jafar memberi tau Tahira. Kalau anak mereka kecelakaan. Tentu saja Tahira kaget sedih dan segera menuju rumah sakit.
Tiba di ruang inap di mana Huzel di rawat."Ami, Abu kenapa bisa terjadi?" tanya Jafar. Sambil memeluk anaknya.
"Biasa Rafi bertengkar dengan Huzel. Tadi Rafi panggil Huzel, dan Huzel tidak mau dengar. Dan dorong dari belakang Huzel sama Rafi. Kena tepi meja hidung Huzel," terang dada Rafi.
"Dada jaan....Rafi jahaaaattt huhuhu," tangis Huzel.
"Sayang cucuku, nanti kita beri pelajaran Rafi yah! Sekarang kamu istirahat dulu," jawab kakeknya yang di panggil dada.
"Istrimu mana? Kenapa tidak datang?" tanya ibu Jafar.
"Saya sudah bagi tau dia tentang Huzel. Dia dalam perjalanan ke sini," jawab Jafar.
Tiba tiba Tahira mengirim sms kalau dia tidak bisa datang. Mungkin besok atau lusa.
"Dari siapa ?" tanya ibunya.
"Dari Tahira," jawab Jafar.
"Apa katanya?" tanya ibunya lagi.
"Dia tidak bisa datang sekarang. Mungkin besok atau lusa," jawab Jafar.
__ADS_1
"Ibu macam apa itu. Anaknya terluka bahkan tidak segera datang. Lebih mementingkan pekerjaan di banding anaknya. Setelah itu kalau saya minta uang sebagai upah menjaga anaknya dia malah pelit. Apa saya salah kalau minta uang. Ini kan demi anak anaknya juga," ucap ibu Jafar gusar.
"Ibu tenanglah nanti saya akan bicarakan dengan dia, setiap bulan harus ada uang untuk ibu dari dia. Bukan sebagai gaji tapi pegangan ibu kalau kalau emergency," jawab Jafar .
Tidak lama dokter datang memeriksa keadaan Huzel. Dan akhirnya di ijinkan pulang.
"Ayo sayang kita pulang," ucap Jafar dengan penuh kasih sayang.
"Papa kenapa mama tidak datang? Mama tidak peduli yah dengan saya?" tanya Huzel.
"Sayang kamu tau kan, kalau mama kerja?" jawab Jafar sedih.
"Biarkan saja ibumu, ada dadi yang selalu setia di dekat mu," jawab ibu jafar penuh fitnah. Meracuni otak cucunya. Memang selama ini permainan ibu Jafar. Tahira jauh dengan anak anak. Sementara kalau anak anak berbuat salah Tahira yang di salahkan.
********
Dua hari kemudian Tahira datang melihat anaknya. Membawa buah buahan serta beberapa paket biskuit kesukaan anak anaknya.
"Assalamualaikum," ucap Tahira.
"Waalaikumussalam. Mamaaaa," ucap Rafi berlari memeluk mamanya.
"Ami , Abu apa kabar? Maaf saya baru datang. Pekerjaan membuat saya menunda membesuk anak saya," Alasan Tahira.
"Setidaknya kamu fikirkan juga anakmu," jawab ibu Jafar.
"Selama ini kamu cuma sibuk bekerja. Mana kamu punya waktu untuk menjaga anak anak. Sekarang Rafi semakin bandel. Malah sering memukul adeknya. Juga berkata kasar," ucap Jafar.
"Saya tidak mengerti, apa maksudmu?" tanya Tahira.
"Jangan pura pura bodoh. Anak anak kamu yang jaga seharusnya. Dan kamu sibuk kerja di luar terus. Bila kamu ada bersama mereka?" tanya Jafar.
"Apa kamu lupa? Sebelum kita menikah saya tidak akan berhenti dari pekerjaan saya, dan kenapa sekarang kamu jadikan alasan pekerjaan saya?" tanya Tahira.
"Kalau memang begitu kamu juga kasih uang untuk menjaga anak anakmu," uacap Jafar. Yang di sambut senyuman oleh ibu jafar. Tahira melihat ke arah mertuanya sudah paham maksudnya. Ujung ujungnya kalau Tahira tidak penuhi maka tentu akan lebih buruk.
"Baiklah saya akan beri setiap bulan,"jawb Tahira.
"Api saya juga mau baju baru," ucap Bisma. Api dalam bahasa urdu artinya kakak.
"Kenapa saya harus bagi kamu baju?" tanya Tahira. Heran dengan sikap keluarga suaminya. Bukankah dari awal dia tidak mau anaknya mertua yang jaga. Sekarang malah membuat Tahira serba susah.
"Saya kan ikut juga menjaga Rafi Huzel," jawab Bisma.
"Saya tidak bisa," jawab Tahira ketus.
"Dasar pelit, tak apa nantikan kamu kasih uang juga ke ibu. Saya minta bagian saya sama ibu," jawab Bisma cuek.
Ingin rasanya Tahira membawa lari anak anaknya. Tapi keadaan membuatnya terpaksa mengalah. Dari pada menolak terus lebih baik turuti saja. Tapi yang menjengkelkan kalau anak anak terluka atau tidak sopan malah Tahira yang di salahkan.
"Popo minta ini, kalau tidak saya patahkan pen kamu," ucap Rafi.
"Hei jangan, kurang ajar," Jawab Bisma kasar. Tangannya melayangkan pukulan ke punggung Rafi.
"Anak anjjjj" ucap Rafi pada Bisma. Kontan saja Bisma kesal.
"Ibumu yang Anjjjj," jawab Bisma. Sambil terus mengomel dan menjelek jelekkan Tahira. Mengatakan ponakannya tidak di ajar sama ibunya.
"Apa lagi ribut ribut?" tanya Tahira. Karena dia mendengar ucapan Bisma.
"Ini anakmu kurang ajar, mau
matahkan pen saya trus ngatain saya Anjjjj," jawab Bisma.
"Itukan didikan kalian juga. Kalian yang sering bicara seperti itu. Trus kenapa sekarang menyalahkan saya," jawab Tahira kesal.
"Tapi kamu ibunya, kamu ajarin dia yang sopan," bantah Bisma.
"Dengar saya tau semua. Tapi kamu belum rasa punya anak. Nanti kamu punya anak sendiri, baru kamu rasa. Jangan mentang mentang anak saya trus semua salah saya. Bukankah anak anak saya bersama keluargamu. Kata kata kotor itu juga dari keluargamu," jawab Tahira lagi.
Kontan saja Bisma semakin gusar dan mengomel terus.
__ADS_1