
"Ayo lah," bujuk Furqan. Sambil bangkit dan menarik tangan Aini.
"Apa apaan ini, lepas tangan saya," bentak Aini.
Bukannya di lepas justru malah di tarik ke dada Furqan dan membiarkan dada mereka bersatu. Gemuruh dada ke duanya membuat irama sahdu ada kerinduan di sana. Namun pertengkaran membuat ego masing masing menahannya untuk di curahkan.
"Lepas,"ucap Aini berontak.
"Nggak mau," jawab Furqan sambil. terus mencoba menguasai hati istrinya.
"Dasar kamu. Baru tiga hari yang lalu kamu nyuruh saya pulang, sekarang kamu sudah minta di layani. Kalau memang saya tidak baik. Kenapa sekarang minta jatah?" ucap Aini sangar. Memang dia tidak mau melayani Furqan. Dia sekuat tenaga akan menolak. Karena hatinya sudah benci sama suaminya.
"Ayolah! Mari sini!" bujuk Furqan. Sambil terus mencoba meluluhkan hati Aini. Aini tetap berontak. Furqan bangkit dan mengunci pintu. Supaya Aini tidak bisa keluar.
"Saya mau tidur sama anak anak. Jangan paksa saya. Kalau tidak saya tidak akan segan segan menghantam kamu," gertak Aini. Habis capek juga setiap bertengkar nyuruh istri pulang ke negaranya. Tiga hari kemudian sudah minta jatah lagi. Selalu begitu. Plin plan tidak bisa di percaya. Kalau takut istri pergi kenapa suka suka ngusir pulang. Ini semua juga gara gara keluarga Furqan. Kalau bukan Yasmin ya Sana. Kalau tidak ya ayahnya atau Samer. Mereka si parasit hidup.
"Sudahlah! Kalau saya sayang sama kamu kenapa saya tak boleh marah sama kamu?" jawab Furqan ngotot kalau dia tidak salah. Aini yang harus nurut.
"Enak aja. Saya lebih baik pulang. Ngapain saya di sini. Kalau saya masih di sini, bukan berarti saya masih mau melayani kamu. Sudah kamu pergi saja sama adek mu. Aku tak mau," jawab Aini.
Akhirnya Furqan terdiam dan mengalah. Dia duduk menekur ke lantai. Aini langsung buka pintu. Dan pergi ke kamar anak anak.
Mmhh bagaimana rasanya. Saya juga capek begini terus. Kalau bukan karena anak anak sudah dari dulu saya pergi meninggalkan dirimu. Saya juga mau bebas dalam artian saya tidak mau terus di atur. Biarkan saya mengatur hidup saya sendiri. Capek dengan urusan adat kalian. Gumam Aini. Entah sampai kapan ini berlanjut. Semakin hari semakin sulit. Dan kapan memiliki kehidupan yang benar benar nyata. Seperti sekarang hidup seperti boneka. Tergantung sipemilik. Mau di apakan saja harus nurut. Haruskah aku mati dalam tidak bertindak. Capek. Yah cuma itu yang tepat mewakili derita selama ini.
**********
Terbilang angan angan dulu. Menikah mempunyai anak anak. Setiap hari mengurusi mereka dan juga suami tercinta. Sekarang seolah sulit bertahan. Apa lagi dengan kondisi adat yang mengikat kuat.
Jangankan untuk sekadar pergi membeli kebutuhan , di dalam rumah saja tidak punya hak kuasa. Karena semua milik adat. Yah milik mereka, adat yang di buat buat.
Sampai detik ini semakin runyam pikiran Aini. Lebih baik menjauh sejauh mungkin. Apa harus berpisah jalan satu satunya.
Secarik kertas dengan tulisan "Aku ingin pulang" tergelak di atas meja. Furqan melihat dan membacanya. Dia tau ini tulisan dan kata kata Aini.
Sambil meremas kepalanya yang terasa berdenyut. Karena banyak pikiran. Dan juga keinginannya yang tidak tuntas. Hasrat ingin bermain bermesra dan bergelut dengan istri tidak kecapaian. Ya wajar kepala pening.
"Oh sudah di baca! Paham kata katanya. Atau saya perlu menjelaskan. Biar kamu lebih mengerti. Dan anak anak akan saya bawa. Tolong urus semuanya. Setelah itu kamu tidak akan pernah lagi susah gara gara kami. Kamu bisa bahagia di sini. Keluarga mu semua ada di sini. Anggap saja kami tidak pernah ada," ucap Aini. Sambil tetap menyapu rumah tapi suaranya sangat dingin. Sedingin musim di bulan januari. Dan segera dia selesaikan pekerjaannya. Sekalipun Furqan tetap mencoba menggodanya. Namun kali ini sepertinya Furqan akan kalah.
__ADS_1
"Apa kita tidak bisa bicara baik baik. Kenapa harus pulang bawa anak anak. Apa salah saya. Ini rumah, saya buat untuk anak anak. Kenapa sekarang harus di tinggalkan. Cobalah pikirkan sekali lagi," pinta Furqan lagi. Berharap Aini berubah pikiran. Di cobanya mendekat ke Aini untuk memeluk dari depan. Refleks Aini mundur dan berkata.
"Berhenti! Jangan coba coba kamu memulai lagi. Saya tidak mau hamil lagi. Cukup sudah punya anak dua dengan kamu. Dan saya tau kamu tidak akan pernah berubah. Hubungan kita tersangkut anak saja. Dan saya memang tidak akan pernah menjadi menantu, ipar dan istri yang baik untuk keluarga kamu dan dirimu. Paham," jawab Aini kasar. Tanpa peduli sikap Furqan yang sudah lembut kayak lelembut. Itu memang kebiasaan suaminya. Begitu ada masalah apa lagi menyangkut ipar ujung ujung yang di salahkan Aini. Dan nyuruh Aini pergi ke negaranya, Tetapi belum sampai tiga hari sudah minta jatah lagi. Ini yang buat Aini sebagai istri seperti di permainkan.
Sepertinya Furqan mulai kalah perang urat saraf. Furqan sudah merasa Aini memang tidak ingin berbaikan lagi. Aini sudah kuat tekadnya untuk pulang. Yah pulang ke negaranya.
Tiba tiba ada telpon. "Maaf apa ini dengan tuan Furqan. Saya dari KBRI mau menyatakan kalau dokument sudah selesai. Dan apa harus di kirim atau kalau bisa anda yang jemput. Karena kami ada perlu dengan istri dan anak anak anda. Satu kali harus melapor dulu," ucap suara di seberang sana.
Sejenak Furqan tertegun. "Iya saya sendiri. Nanti saya akan bagi tau. Kita akan datang tapi saya harus ijin cuti dulu. Karena anak anak sedang ujian. Kalau bisa selepas ujian kami pergi," jawab Furqan. Dalam hati berkecamuk pertanyaan Furqan. Dari mana uang untuk buat dokument. Dan kenapa Aini tidak memberi tau dirinya. Memang selama ini Aini selalu bilang akan pulang. Tetapi Furqan tidak menyangka akan benar benar pulang. Furqan mulai gelisah dan sudah terbayang olehnya. Kelak anak anak dan istri akan jauh dari dirinya.
*********
"Sayang! Masak apa?" tanya Furqan lembut. Sambil mencoba genit sama istrrinya.
"Apa sayang sayang? Sayang sudah masuk ke laut. Kamu lihat sendiri apa saya masak. Masih tanya tanya. Maksud kamu apa sih? Jangan bertele tele. Saya sudah capek dengan kamu. Lagian kamu memang tidak bisa di percaya lagi," ucap Aini ketus. Sambil terus memasak. Dan mengiris bawang untuk menumis. Tiba tiba Furqan memegang pinggangnya. Refleks Aini berbalik sambil menodongkan pisau. "Hei jangan macam macam. Berani kamu lakukan sekali lagi maka pisau ini akan ku cucukkan ke perut mu," hardik Aini. Sepertinya Aini benar benar ingin berpisah dengan Furqan.
"Hah??? Furqan kaget. Dan mundur ke belakang. Dia salah tingkah jadinya. Maksud hati tadi ingin membujuk malah di todong pisau dapur. Gawat ini pikirnya. Harus cepat cepat di atasi ini kalau tidak bisa bahaya. Dan Furqan masih mengira dia bisa meluluhkan hati Aini. Ternyata dia salah besar. Bertahun tahun tidak pernah pulang ke tanah air ,di tambah drama keluarga Furqan. Sudah tidak ada kata mundur lagi bagi Aini. Cuma satu kata pulang atau tertekan seumur hidup.
"Saya sudah tidak mempan lagi dengan bujuk rayu mu. Sekarang saya cuma nunggu dokument saya. Lepas itu saya akan pulang bawa anak anak. Kamu bebas saya juga. Dan soal anak anak mereka laki laki. Tidak masalah," ujar Aini lagi.
"Itu bukan urusan kamu. Begitu kita berpisah buat apa saling memikirkan. Kamu bebas saya bebas," jawab Aini tak mau kalah. Tiba tiba kening Aini berkerut sambil menatap Furqan.
"Aaapa? Kenapa melihat saya begitu?" tanya Furqan gugup. Seperti di curigai oleh polisi. Dan tertangkap basah.
"Mhh...," gumam Aini. Sambil terus menatap Furqan dalam dalam. " Kenapa tidak bagi tau saya, kalau sudah sampai?" tanya Aini curiga. Sambil terus mendesak Furqan. "Saya menunggu nunggu kabar dari KBRI. Dan kamu sengaja tidak memberi tau saya? Kenapa?" tanya Aini.
"Kabar apa? Saya tidak paham maksud kamu ?" jawab Furqan mengelak.
"Jangan berbohong. Nanti akan ketahuan juga kalau sudah sampai. Kalau kamu tidak bagi tau nanti kamu saya laporkan ke kbri," gertak Aini.
"Yah memang sudah sampai," jawab Furqan enteng. Sambil berlalu dari hadapan Aini. Spontan saja Aini terkejut dan mengejar Furqan.
"Kenapa tidak bagi tau saya? Kapan sampai?" tanya Aini bertubi tubi. Sambil menahan tangan Furqan. Spontan Furqan memegang pipi Aini dan berkata.
"Semalam. Tapi saya memang tidak ingin memberi tau kamu. Karena kamu akan lari membawa anak anak saya. Trus bagaimana hidup saya nanti. Tanpa kalian, buat apa saya bangun rumah ini. Kalau hanya di tempati orang lain. Saya yang bekerja keras selama ini. Kenapa saya harus kehilangan semua," ucap Furqan sambil duduk di kursi dan bersandar. Menatap langit. Pandangannya jauh. Entah apa yang terlintas di benaknya. Namun Aini cuma mau tau alasannya mengapa dia sengaja diam?
***********
__ADS_1
Pagi yang indah. Kicauan burung menambah sahdu pagi ini. Di tambah sinar mentari pagi hari yang cerah. Aini bangun memang semalam dia kurang tidur. Karena perasaannya gelisah terus. Baru melewati tengah malam tertidur. Kebetulan pagi ini dia tidak sholat. Karena datang bulan.
Di sana di kamar depan ternyata sudah kosong. Rupanya Furqan sudah berangkat pagi pagi sekali. Sambil berjalan menuju kamar mandi, sejenak Aini melongok kepala ke kanan kiri. Aneh...gumamnya.
"Anak anak ayo bangun. Cuci muka tangan kalian. Ingat jangan lupa gosok gigi," perintah Aini kepada anak anaknya. Sama mereka tidak bergeming. Memang hari ini cuti sekolah. Sudah mau musim dingin jadi sekolah meliburkan murid murid. Sebelum nanti di mulai ujian kenaikan kelas. Awal tahun akan jadi penentuan. Apakah naik kelas atau tinggal kelas."Ayo bangun. Akram Ali ayo cepat! Kenapa kalian malas sekali. Jangan mentang mentang cuti kalian jadi begini. Bangun," hardik Aini lagi.
"Mmhhh ya ami, kenapa tidak biarkan kami tidur lagi. Lagian sekarang cuti. Mau ngapain pagi pagi ini," jawab Akram. Sedang Ali malah semakin menarik selimut.
"Ok kalau begitu. Jangan menyesal yah. Kalau ami yang habiskan indomie kalian. Semalam ami beli untuk masing masing. Dingin dingin begini enak sekali makan indomie rebus," ucap Aini sambil berlalu. Spontan saja anak anak Aini bangun.
"Bhai bhai cepat bangun. Nanti tidak dapat jatah. Bangun kamu tidak bangun bagian mu biar saya yang makan," ucap Ali sambil bergegas menuju kamar mandi. Setelah cuci muka gosok gigi dengan perlengkapan musim dingin, dia menuju dapur.
"Mhhh tidak tahan rupanya mendengar indomie. Abangmu mana? Bagian dia kita makan saja," ujar Aini sambil mencium Ali.
"Setuju Ami," ucap Ali jenaka. Karena membayangkan makan indomie double. Tiba tiba Akram masuk. Sambil buru buru.
"Hei... bikin kaget saja. Kenapa tidak di teruskan tidurnya," ujar Aini lagi. Sambil membagi bagi porsi indomie. Setelah di bagi rata dan di taburi bawang goreng. Tidak lupa telor ceplok semakin lengkap dengan sambal dan kecap manis. Mhhhhhh ujar mereka nikmatnya.
"Bhai saya mau yang ini. Tolong bagi sini. Saya mau makan pakai kecap manis," ucap Ali sambil membawa kecap ke hadapannya.
"Ini hati hati panas, buka tutup kecap dulu baru di tuang," ucap Akram. Setelah melihat Ali tidak bisa menuangkan kecap. Rupanya tutup botol belum di buka spontan ia ketawa.
"Hahaha. Saya ingat sudah buka. Tapi kok nggak keluar juga," ucap Ali geli sendiri. Mereka menikmati dengan lahap. Memang rasa indomie tiada duanya. Karena indomie memiliki rasa yang khas. Sementara mie Pakistan jauh di bawah mie indomie rasanya.
"Mmmmmhhhh wanginya aroma indomie," ucap Furqan baru datang. Sambil membelai kepala anak anaknya. Dan meminta bagiannya di buatkan juga."Sayang buat saya mana?" tanya Furqan pada Aini.
"Indomie ada sayang tak ada," jawab Aini masih ketus. Dan membuatkan bagian Furqan. Sebuah indomie special. Dan tentu Furqan sendiri memang menyukainya. Dulu sewaktu di malaysia makan kesukaannya. Karena di sana banyak ragam mie. Ada mie goreng sedap memang nikmat. Setelah Aini buat kan dan memberi pada Furqan. Furqan berkata."Jadi ingat malaysia. Saya akan pergi nanti. Jadi hari hari kalian semua bisa makan indomie puas puas," ucap Furqan serius.
"Iya papa. Wah asik kalau begitu saya bawa mie ke sekolah setiap hari," ucap Ali senang.
"Apa maksud kamu?" tanya Aini heran. Sangat tidak biasa Furqan bicara begitu. Tapi bagaimana pun Aini berdoa semoga memang segera pergi lagi.
"Dari pada kamu yang pergi meninggal kan saya, lebih baik saya yang pergi," ucap Furqan lagi. Sambil menikmati kuah mie dengan lahap.
"Saya tidak percaya. Tapi kalau benar saya sangat senang. Bagaimana pun dari pada dekat dekat serba kurang, lebih baik jauhan tapi berkecukupan," jawab Aini.
"Iya saya memang akan pergi. Ini nanti selepas makan saya akan pergi nanya tiket penerbangan. Kamu berdoalah semoga berjalan lancar.
__ADS_1