
Pergaulan remaja Pakistan. Sungguh sangat berbeda dengan di tanah air. Aini teringat masa masa sekolah dulu. Di mana Aini termasuk gadis kuper. Pendiam dan tidak aktif di berbagai kegiatan sekolah.
Ini yang sekarang menghantui Aini. Karena Akram mulai memasuki masa puber. Anak laki laki tentu berbeda dengan perempuan. Sering Furqan mengingatkan. Tolong perhatikan Akram dia sudah mulai besar. Jangan biarkan dia sendirian, selalu panggil.
"Nak , bagaimana keadaan mu?" tanya Aini pada Akram. Sambil membelai wajah anaknya. Akram lebih banyak gen papanya. Sementara Ali lebih banyak gen mamanya. Kadang mereka tidak seperti saudara padahal satu ayah ibu.
"Mmhh sudah mulai baikan Ami. Sekarang saya mau cuti tuition. Saya belum kuat lama lama duduk," ucap Akram lemah.
"Apa kamu mau sesuatu. Biar Ami yang buatkan! Mmhh lihat ami. Ami sangat menyayangi mu," ucap Aini sambil memeluk Akram erat erat. Pikirannya berkecamuk. Ada rasa takut dan bimbang.
Kringgggg... Kringgg... Kringggg...
"Assalamualaikum, sayang bagaimana keadaan Akram?" tanya Furqan.
"Waalaikumusalam, masih lemah sayang. Pagi ini dia masih mencret. Perutnya mulas sekali. Saya sudah buatkan sop untuk sarapan. Semoga hari ini dia semakin membaik," jawab Aini.
"Kamu bagaimana? Dan Ali sedang apa dia? Saya mau kamu jaga mereka. Jangan biarkan mereka main di luar. Harus dalam pengawasan mu," ucap Furqan.
"Iya saya paham. Apa lagi sekarang Akram mulai puber. Dan ada ada saja tingkahnya yang aneh. Tapi saya tidak biarkan dia sendirian. Akan saya awasi terus," jawab Aini.
Teringat lagi semasa di tanah air. Anak anak tetangga yang seumuran Akram sekarang. Kerjanya cuma jalan jalan bawa motor trus bonceng cewek. Tidak peduli orang tua susah. Atau malah orang tua tidak peduli apa yang di lakukan anak anaknya. Di anggap wajar saja.
Dari Furqan lah Aini tau. Bahwa kadang adat memang menjaga dan terikat. Anak anak di sini tidak ada yang jalan jalan sesuka hati, apa lagi bonceng cewek. Sangat aneh dan tidak baik.
Dalam satu kondisi saat ini pikir Aini sangat bersukur tinggal di Pakistan. "Akram anak ku bangun. Ini mama bawakan sup. Makan dulu selagi hangat. Ayo bangun," ucap Aini sambil membelai kepala Akram dengan penuh kasih sayang.
"Iya Ami. Saya mau ke kamar mandi dulu. mau buang air kecil," ujar Akram. Trus bangun tertatih tatih. Aini membantu membimbing namun di larang Akram. "Nggak usah. Saya bisa sendiri," tukas Akram.
"Hati hati ya Nak," ucap Aini.
Tiba tiba cacu sebelah rumah datang. Menemui Aini. "Akram mana? Panggil dia. Saya mau tanya apa dia buat di atas rumah saya. Setiap jemuran kain di atas atap pasti ada yang hilang," ucap cacu kesal.
"Kenapa kamu menuduh dia. Rumah kami juga ada atasnya. Kadang kalau ada keperluan saya sendiri nyuruh Akram ke atas. Memang atas rumah kita tidak ada pembatas, bukan berarti dia pelakunya," jawab Aini.
Akram baru keluar dari kamar mandi. Dan cacu trus marah marah. "Hei semalam istri saya lihat kamu main di atas atap rumah kami. Dan ada baju yang hilang. Kamu yang sembunyikan ya? Ini bukan pertama kali kamu lakukan. Dulu juga baju inza kamu sembunyikan dan inza temui di bawah tumpukkan kayu," todong cacu bertubi tubi.
"Ngapain saya sembunyikan baju kalian. Apa guna nya untuk saya. Kalian tidak bisa menuduh sembarangan. Di sebelah rumah kalian juga ada anak anak nakal. Mereka sering main di atas tapi kalian tidak pernah curiga," sanggah Aini.
"Kapan kejadian baju Inza hilang? Dan kapan kejadian baju yang sekarang hilang?" tanya Aini curiga.
"Baju Inza waktu itu sudah lama kejadiannya. Waktu itu juga mereka sering suruh aku kerja nolong mereka. Trus mereka juga tidak sopan kurang ajar," jawab Akram kesal.
"Baju Inza kamu juga yang sembunyikan dan ketemu," jawab cacu lagi. Memang cacu ini punya sifat tidak lebih seperti istrinya. Mulutnya persis perempuan.
"Saya sudah bilang saya tidak sembunyikan . Kenapa masih nuduh saya?" elak Akram tidak terima di tuduh.
"Awas anak mu. Sekali lagi kalau ketahuan main di atas atap kami. Tidak akan saya lepaskan," jawab cacu sambil berlalu.
Setelah cacu pergi Aini mengintrogasi Akram. "Makan dulu sup ini. Lalu istirahat. Kamu tidak bohong kan?" tanya Aini curiga.
"Bohong apa?" tanya Akram.
__ADS_1
Selesai menikmati makanan Akram kembali istirahat. Aini memberi obat dari dokter. Aini membawa bekas piring kotor ke dapur. Dan mencuci nya. Dalam pikiran masih curiga dengan Akram.
Aini takut kalau memang Akram pelakunya bagaimana? Trus kalau memang ada yang melihat kejadian itu. Aduh... Aini mulai kuatir. Cepat cepat di temuinya Akram di kamar.
"Nak. Ami mau bicara. Tolong lihat muka ami. Apa benar dulu kamu sembunyi kan baju Inza? Kapan kejadian itu? Kenapa Ami tidak tau!" ucap Aini hati hati.
"Ami dia bohong," jawab Akram mengelak. Tapi wajah dan tatapan nya berdusta. Seperti menyembunyikan sesuatu.
"Lihat sini. Ami tau kamu bohong. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu. Jangan seperti ini. Ami berapa kali bilang jangan kamu main di atas atap rumah mereka. Sekarang jawab dengan jujur. Apa benar baju Inza kamu yang sembunyikan? Dan baju mereka yang sekarang?" tanya Aini curiga.
Bagaimana pun Akram kadang memang jahil. Bukan kali ini komplain dari cacu. Bahkan hari itu sempat juga caci yang komplain.
"Ami. Baju Inza waktu itu memang saya yang sembunyikan. Tapi itu sudah lama kejadian," jawab Akram.
"Kapan? Kita kan sudah lama tidak berhubungan dengan mereka. Jadi tepat nya kapan? kamu jangan bohong sama ami. Nanti kita gaduh besar dengan mereka. Lebih baik kamu jujur dengan ami," Aini mulai emosi. Karena memang dugaannya benar. Akram pernah menyembunyikan baju Inza. Dan sekarang mereka tetap menuduh Akram.
"Ami masih ingat? Dulu baba haji sering nyuruh saya. Dan saya juga sering bantu. Tapi anti dan Inza kadang sengaja ganggu saya. Inza selalu bikin masalah tapi tidak kena marah. Dan baba haji malah percaya Inza dan anti. Itu lah saya sakit hati balas sama Inza. Bajunya saya sembunyikan," jawab Akram.
Baba haji panggilan Akram sama cacu Furqan artinya kakek. Dan anti panggilan Akram ke istri baba haji yang seharusnya di panggil dadi.
"Tapi itu dulu sekarang kenapa kamu sembunyikan lagi?" tanya Aini.
"Yang sekarang saya tidak sembunyikan. Saya selalu ami larang main di atas. Sekalipun atas rumah kita," jawab Akram kesal.
"Ok. Dengar ami tidak mau tau. Apa pun alasannya. Mulai hari ini jangan pernah ami lihat kamu pergi ke atas rumah baba haji. Anti dan Inza memang tidak suka dengan kita. Trus ngapain juga kamu ke sana? Berapa kali ami juga bertengkar dengan mereka? Cuma gara gara kamu. Paham?" ucap Aini sedikit kesal. Karena memang Akram beberapa kali melanggar perintah Aini.
Kringggg.... Kringgg ...... Kringggg
Tidak ada jawaban. Aini mencoba berkali kali. Namun tetap tidak ada jawaban.
Kringg.... Kringggg...
Tetap tidak di jawab. Ah mungkin dia sibuk kerja gumam Aini.
*******
Pagi pagi sekali Aini menyapu halaman depan. Dan ternyata caci juga menyapu depan rumahnya. Selama ini hubungan Aini dan caci memang semakin buruk. Di tambah tuduhan baba haji kepada Akram.
"Lain kali kau jaga anak mu. Jangan suka hati main di rumah orang," ledek caci lagi. Masih ada kekesalan dalam hatinya kepada Aini. Gara gara Akram anaknya.
Aini cuek saja meneruskan kerjanya. Karena memang tidak mau melayani wanita paroh baya itu.
"Ami.... Bhai muntah lagi. Cepat sini," teriak Ali.
"Oh sakit rupanya, jangan jangan teguran itu dari atas," celoteh caci.
"Dengar baik baik. Teguran atau tidak bukan urusan kamu. Kalau kamu merasa orang baik, kamu lupa kalau juga menyusahkan anak saya. Kalau anak saya mengganggu kalian itu juga kalian yang jahat sama dia," jawab Aini sambil berlalu ke dalam. Setelah menyelesaikan menyapu halaman.
Uuaaghhhh.....Akram masih muntah lagi. "Ami," panggilnya lemah.
"Iya sayang. Kita pergi dokter saja. Nanti kamu tambah parah. Ayo bersihkan badan mu dulu," jawab Aini.
__ADS_1
"Ami nggak mau. Saya nggak kuat," elak Akram.
"Kamu jangan degil. Jangan buat ami susah. Nanti kamu tambah parah bagaimana? Papa mu tidak di sini. Siapa yang akan ngurus kamu nanti?" jawab Aini kesal.
"Ami buat teh manis hangat saja. Saya makan pakai biskuit," ucap Akram lagi.
"Makanya lain kali ikut ucapan ami. Kamu ini memang bandel. Nggak nurut. Kapan mau berakal lagi? Sudah besar diri mu. Badan mu saja sudah lebih tinggi dari ami mu," ucap Aini setengah kesal.
"Iya Ami, maaf sudah buat ami kesal. Saya akan patuh dan nurut ucapan ami. Sekarang buatkan teh hangat untuk saya. Dan beli juga biskuit," ujar Akram.
"Ali. Pergi beli biskuit ke kedai. Beli yang harga 30 rupe 3 bungkus. Nanti Ali juga mau kan?" tanya Aini.
"Tentu ami." sambil angkat telunjuk dengan jenaka. Di banding Akram, si Ali memang lebih manis dan penurut. "Bagi uang saya mau pergi, yang mulia," ucap Ali sambil membungkuk jenaka.
Aini tersenyum juga gara gara Ali. Memang anak yang bungsu suka bertingkah kaya kasatria kerajaan. "Ini uangnya kasatria muda," ucap Aini di sambut gelak tawa Ali. Hehehe.
*******
Kring.... Kring.....
"Assalamualaikum, sayang," ucap Furqan.
"Waalaikumussalam. Iya. Semalam kamu ke mana? Saya banyak kali call kamu. Mau bicarakan Akram," ucap Aini.
"Saya kurang sehat. Saya demam juga. Semalam lepas minum ubat saya tertidur. Kenapa dengan anak itu? Belum pulih lagi?" tanya Furqan.
"Masih kurang sehat juga. Pagi ini juga muntah lagi. Saya bawa ke dokter tidak mau. Cuma minta di buat kan teh manis hangat makan dengan biskuit," jawab Aini.
"Trus ," tanya Furqan.
"Begini. Semalam baba haji datang komplain Akram. Bukannya prihatin dengan anak kita, malah datang marah marah. Gila itu orang tua," ucap Aini.
"Kenapa? Memang itu baba haji sudah ikut bodoh ikut ucapan bini," jawab Furqan.
"Dia bilang Akram sembunyikan baju mereka. Kebetulan dulu, pernah. Saya tanya Akram. Iya katanya. Tapi itu dulu waktu kamu juga sering suruh Akram nolong mereka. Sudah lama kita tidak bicara sama mereka eh... Sekarang komplain lagi," jawab Aini kesal.
"Sayang. Apa saya bilang. Sekarang kamu harus kontrol Akram. Dia umur mau masuk 15 tahun. 1 tahun atau 2 tahun lagi baru kamu nanti senang. Sekarang memang masa masa dia berbuat degil bandel. Itu biasa. Makanya saya selalu bilang jaga anak kita jangan biar kan sendirian. Panggil dia kalau pun dalam kamar sendiri," ucap Furqan.
"Saya baru rasa sekarang punya anak cowok yang mulai puber. Ternyata susah susah gampang. Wah....kalau di negara saya sudah jalan jalan sama kawan kawan. Malam mingguan. Bahkan pacaran , juga merokok. Cuma itu yang buat saya bersukur di sini. Pengaruh kawan sebaya bisa di kontrol. Tapi kenakalan sendiri di buat buat juga sama dia," jawab Aini.
"Benarkan ucapan saya. Kalau kamu di negara kamu, tentu kamu akan jauh lebih susah kontrol dia," jawab Furqan enteng.
"Memang saya akui. Di sana tidak seketat di sini. Apa lagi anak cewek biasa saja keluyuran. Bahkan orang tua tidak mengapa anak nya pacaran," ucap Aini setuju.
"Ya sudah kamu dekat anak anak sekarang kamu jaga baik baik. Kalau dia tidak patuh pukul saja. Kamu ibunya. Tidak mengapa sekalipun dia sudah besar kena pukul," jawab Furqan.
"Tapi nanti dia semakin melawan," jawab Aini.
"Tidak akan melawan. Dari pada kamu biarkan saja kelakuannya. Saya dulu juga sama kalau ketahuan degil, ya kalla dulu memukul saya. Jadi saya ingat dan tak mau buat lagi. Kamu harus kontrol saja. Jangan di biarkan dia tidak patuh sama kamu. Dalam islam justru anak laki laki harus patuh pada ibunya. Trus apa yang kamu pikirkan lagi?" tanya Furqan.
"Baiklah harus lebih keras menjaga dia. Karena saya juga tidak mau, nanti dia malah tidak peduli dengan saya. Kalau sudah menikah cuma memperhatikan istri saja. Tidak mau tau keadaan ibunya," jawab Aini.
__ADS_1
"Sekarang kamu paham adat sini? Itu lah yang saya juga buat sama orang tua saya," jawab Furqan.
"Oh itu nggak sama yah. Kalau bakti kamu ke orang tua kandung apa kurang. Dari kecil dia tidak menjaga kamu. Tapi kamu menjaga semua adek adekmu. Kalau dengan kalla kamu sendiri tau kalla tidak ikhlas selama ini menjaga kamu. Sekarang urusan anak saja. Alasan yang ini baru bisa saya terima."