
Sejak anaknya kecil sampai sekarang. Tahira sering mendapat kekerasan oleh suaminya. Baik pukulan tamparan bahkan cacian. Namun perempuan itu tetap mencoba sabar.
Bersukur saja dia ada kerja. Semakin lama perlakuan keluarga suaminya semakin kejam. Pernah suatu kali Tahira tidak mau bayar uang untuk keperluan keluarga suaminya, lalu suaminya melayangkan pukulan ke mukanya.
Itu wanita asli sini. Wanita terpelajar. Juga mengalami tekanan adat. Lebih parah lagi rupanya mertuanya malah meminta gajinya. Ya jelas Tahira menolak.
Namun anak mereka sangat di sayang. Mertuanya sangat menyayangi cucu semata wayang.
"Dadi jaan, mau makan biskuit," ucap Rafi pada neneknya. Dadi dalam bahasa urdu artinya nenek dari pihak bapak. Atau ibu dari bapak di sebut Dadi. Jaan itu artinya sayang. Jadi dadi jaan artinya nenek sayang.
"Mau biskuit cucuku," jawab Dadi Rafi sambil memeluk bocah batita tersebut.
"Tahira minta uang," ucap Dadi Rafi pada ibunya Rafi.
"Buat apa Ami?" tanya Tahira.
"Rafi mau biskuit;" jawab mertua Tahira.
"Oh anakku mau biskuit. Sini mama belikan. Ayo ikut mama," ajak Tahira.
"Nggak mau sama mama," jawab Rafi ketus. Sambil berlari memeluk Dadinya.
"Kenapa tidak mau sama mama?" tanya Tahira heran.
"Sudahlah kasih saja uangnya," jawab mertuanya.
Sambil merogoh dompet dan mengeluarkan uang pecahan seratus Tahira menyerahkan pada mertuanya.
Di akui Tahira anaknya lebih dekat ke ibu mertuanya. Wajar saja karena hari hari ibu mertuanya lah yang menjaga anaknya. Tahira sibuk bekerja begitu pula suaminya. Mereka jarang bertemu dengan anak semata wayangnya.
Itu lah sebabnya Rafi tidak peduli dengan keberadaan orang tuanya. Dan memang itu juga yang di mau oleh mertuanya. Cucunya jauh dari ibunya sendiri. Dengan begitu mudah untuk mertuanya mengatur hidup anak dan cucunya. Sedangkan menantu terpaksa ikut.
"Jafar, ibumu berusaha menjauhkan aku dan anakku," lapor Tahira pada suaminya.
"Kenapa bicara begitu? Suka atau tidak mereka dadi dan pota, kamu tidak berhak melarang hubungan baik mereka," jelas Jafar.
"Tapi saya ibunya," jawab Tahira.
"Jangan cari gara gara lagi, lebih baik kau diam saja. Nanti ku pukul dirimu baru rasa," jawab Jafar kasar.
"Pukullah kalau berani," tantang Tahira.
Plaaakk satu tamparan keras mendarat ke pipi Tahira. Kontan saja Tahira membalas dengan mendorong suaminya. Jafar terjatuh kebelakang akibat dorongan tiba tiba istrinya.
"Hei ada apa ini? Mengapa berkelahi," lerai mertuanya.
"Ini perempuan tidak tau diri, dia malah tidak suka kalau anaknya ibu yang jaga. Selama ini kalau bukan ibu yang jaga siapa?" bentak Jafar pada istrinya.
"Saya dulu ingin anak saya bersama saya , kalian yang mahu Rafi di sini," jawab Tahira lancang.
"Kau seharusnya bersukur, bukan kah kamu bekerja ? Dan anakmu terjaga," jawab Jafar lagi.
"Saya akan membawa anak saya bersama saya," jawab Tahira.
"Coba kau ambil, keluar sambil bawa Rafi maka kau akan ku pukul habis habisan. Dasar perempuan tak tau diri. Pergi dari sini," usir Jafar pada istrinya.
Sambil berkemas seadanya. Tahira keluar rumah dengan menangis. Tidak di pedulikannya lagi anaknya. Rafi yang tidak mengerti apa apa menatap kosong kepergian ibunya.
Soal kasih sayang memang mertuanya sangat menyayangi cucunya. Tetapi justru gara gara itu Rafi menjadi jauh dari ibunya. Mertuanya puas melihat kejadian pagi ini. Menantunya sudah lama ia ingin Jafar memukul Tahira.
"Sudahlah Jafar. Biarkan saja dia pergi. Bukannya bersukur anaknya di jaga malah semakin bertingkah," ucap ibunya Jafar.
"Ami ji , Rafi jangan biarkan di bawa sama Tahira. Lebih baik dia di sini bersama ami dan yang lain. Apa yang bisa di lakukan perempuan itu tanpa ami? Saya tidak akan membiarkan anak saya di bawa ke rumah orang tua Tahira. Cukup sudah saya mengalah," jawab Jafar.
Memang Jafar sekarang lebih menuruti ibunya. Apalagi soal anaknya. Bisma juga sangat protektif pada Rafi. Sangat menyayangi Rafi. Tujuan cuma satu biar Rafi jauh dari ibunya.
Tahira jarang pulang ke rumah mertuanya di samping sibuk bekerja dia malas untuk berhadapan dengan keluarga suaminya.
Memilih diam dan menghindar. Sambil merenovasi rumah yang tinggal di bangun. Tanah yang di beli dengan hasil penjualan perhiasannya dulu.
******
Tahira sendiri yang orang asli Pakistan juga mengalami nasib yang buruk. Di tekan adat. Di paksa patuh pada peraturan yang di buat buat.
Dalam kesehariannya Tahira lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja dan di rumahnya. Memang rumah itu baru di bangun. Belum siap huni. Semua biaya pembuatan rumahnya dari gajinya sendiri. Tidak ada uang suaminya sedikitpun. Karena mertuanya tidak setuju. Lebih baik memperbaiki rumah orang tua Jafar dari pada membantu keuangan rumah Tahira.
"Jafar bisa tidak kamu tolong tambah tiga lakh lagi?" tanya Tahira waktu itu.
__ADS_1
"Saya tidak mau. Ibu saya tidak setuju," jawab Jafar.
"Tapi, ini kan rumah kita berdua! Kita yang punya, di sana ada adekmu dan juga orang tuamu. Apa nanti kita akan bersama terus dalam keterbatasan," jawab Tahira lagi.
"Terserah kamu. Yang jelas saya tidak akan membantu. Selama ini saya sudah membantah ibu saya. Sekarang saya tidak mau menyakiti ibu saya lagi. Suka atau tidak terserah kamu. Kita memang suami istri. Tetapi kamu juga tau pekerjaan mu memberatkan aku dan anakku," jawab Jafar panjang lebar.
"Bukankah sebelum menikah kamu juga tau saya bekerja? Kenapa sekarang kamu permasalahkan?" tanya Tahira pada Jafar.
"Tetapi kamu juga tidak mau mengerti perasaan ibu saya, apa salahnya kamu sedikit menyenangi beliau? Ok kamu benar! Kamu dulu mau anak kita ibumu yang jaga. Tapi apa kamu lupa dengan adat kita?" jawab Jafar panjang lebar.
"Bagaimana saya bisa menyenangi ibumu kalau dia sendiri tidak punya rasa sukur. Apapun mau lebih. Bapakmu ada gaji, itupun menurut ibumu kurang. Kamu ada gaji beliau masih minta dengan saya," jawab Tahira.
"Kenapa bicara begitu tentang ibuku?" tanya Jafar.
"Saya bicara kenyataan. Dan saya tidak bisa memenuhi semua permintaan ibumu," jawab Tahira kesal.
Hari hari yang jadi pertengkaran Tahira Jafar adalah uang. Ibu Jafar selalu menuntut uang baik pada Jafar ataupun Tahira. Bahkan Bisma juga sering minta uang. Padahal Bisma sendiri juga bekerja.
Alasan mereka minta uang karena Rafi mereka yang jaga. Sebenarnya bukan masalah bagi Tahira memberi uang. Namun dia sendiri sedang membangun rumahnya. Sedangkan uang untuk biaya rumah suaminya sendiri tidak mau membantu. Dengan alasan dia juga mau memperbaiki rumah yang di tempati orang tuanya.
*******
"Tahira." Ada suara yang memanggilnya. Di lihat kiri kanan tidak ada siapapun. Ketika akan melanjutkan langkah kakinya Tahira di hadang seseorang.
"Haiiii...," teriaknya kaget. Tahira hampir saja menabrak orang itu.
"Hahahaha." Malah orang itu tertawa terkekeh kekeh.
"Dasar," umpat Tahira.
"Jangan marah," canda temannya.
"Mau apa?" tanya Tahira.
"Dengar baik baik semalam akukan pergi ambil dudh. Di rumah mertuamu. Sebenarnya dudh itu jual lagi oleh mertuamu. Sudah lama dia jual lagi dudh yang hari hari di ambil sama tukang dudh keliling," ucap teman Tahira panjang lebar.
"Maksud kamu, dudh yang biasa saya bayar itu ternyata di jual lagi sama mertua saya?" tanya Tahira.
"Memang," jawab wanita itu.
"Kok tega sekali dia menipu saya," gumam Tahira.
"Justru saya berterimakasih padamu, sudah kasih tau sama saya," jawab Tahira pasrah.
*******
Tahira wanita Pakistan yang juga mengalami adat yang kejam. Sedangkan Aini justru mendapat perlakuan manis di mulut pahit di hati.
Antara Tahira dan Aini tidak ada permusuhan sama sekali. Namun perlakuan ibu Jafar kepada anak Tahira berbeda kepada anak Aini.
Wajar saja, karena Aini istri Furqan anak adopsi. Sementara Tahira istri anak kandungnya.
Begitu juga Bisma. Anak dari Jafar dia perlakukan istimewa. Sementara anak Furqan sering jadi perlampiasan kekesalan.
"Aini apa kabar? Apa kamu baik baik saja?" tanya Tahira.
"Entahlah ," jawab Aini mengambang.
"Kenapa?"
"Mertuamu dan iparmu selalu menyusahkan saya. Sering datang ke sini dan membuat anak saya tidak bebas bermain. Kalau tidak suka dengan kami kenapa menyusahkan hidup kami?" curhat Aini.
"Diakan mertuamu juga," tukas Tahira.
"Bohong, dia sendiri yang bilang kalau Furqan tak ada hubungan dengannya," jawab Aini.
Sebenarnya hubungan Aini Tahira memburuk tidak lebih karena perlakuan mertua kepada anak Tahira dan anak Aini.
Kalau Tahira justru tidak peduli kalau memang anaknya yang di manfaatkan oleh mertuanya. Yang dia tau anaknya terjaga dengan baik.
*******
"Dadi mainan saya diambil Akram," rengek Rafi pada neneknya.
"Mainan apa?" tanya neneknya.
"Itu di tangan Akram, minta dadi, ambilkan," rengek Rafi lagi.
__ADS_1
"Akrammmmm," teriak Dadi Rafi.
Akram berlari kedalam rumah sembunyi. Melihat itu Aini mencoba cari tau ada apa gerangan.
"Akram sayang, ada apa Nak? Coba cerita dengan ami," bujuk Aini pada anaknya.
"Ami ini punya saya , itu si Rafi suka suka minta. Saya tak mau bagi. Dia juga pelit kalau punya mainan," jawab Akram.
"Aini mana Akram?" tanya mertua Tahira.
"Kenapa?"tanya Aini.
"Dia mengambil mainan Rafi cucuku, suruh dia kembalikan," jawab dadi Rafi kesal.
"Rafi , Akram bilang itu mainan dia! Kenapa kamu mau minta?" tanya Aini.
"Tapi saya suka," rengek Rafi semakin menjadi jadi.
"Itu artinya benar bukan punya kamu! Ya wajarlah Akram tak mau bagi sama kamu. Mainan kamu kalau di pinjam Akram kamu juga tidak suka, kan?" tanya Aini.
Mendengar percakapan Aini dan Rafi bukannya malu mertua Tahira, malah semakin memaksa supaya Akram memberikan pada Rafi.
"Akrammm keluar," teriak dadi Rafi.
"Nggak mau," teriak Akram dari dalam rumah.
"Awas kau yah kalau kulihat di luar nanti! Anak menantu asing kurang ajar," ucap mertua Tahira melotot ke arah Aini,
Panas hati Aini di buatnya. " Anakmu yang manja punya orang mau di minta juga, punya sendiri tak mau orang lain pinjam, dasar tak tau malu," jawab Aini pada mertua Tahira.
"Hei apa kau bilang? Coba ucap sekali lagi," jawab mertua tahira.
"Cucumu yang manja punya orang di minta juga," jawab Aini.
"Akram lebih besar dari Rafi. Kenapa tidak bole minta punya dia?" jawab dadi Rafi.
"Hahaha sudah tak tau malu di tambah tak tau diri. Orang tuanya Rafi kaya kenapa anaknya jadi seperti ini. Mainan anak orang pun mau di minta," jawab Aini.
Dengan menggerutu mertua Tahira pergi keluar dari rumah Aini. Dalam hati dia mengomel trus.
Aini sekarang tidak mau diam lagi. Apa lagi soal Akram. Semua selalu jahat sama Akram. Apa lagi menyangkut Rafi.
Mertua Tahira yang tidak lain adalah kalla Furqan. Kalla Furqan memang benci dengan Aini. Lebih lebih Furqan sekarang sudah punya rumah sendiri. Dulu dia dari kecil menumpang di rumah kallanya.
"Anakmu tolong di ajarin, jangan jahat sama cucuku," ucap dadi Rafi.
"Kenapa lagi anakku, kamu juga tau cucumu salah. Malah menyalahkan anak orang.
"Awas anakmu nanti, sekali lagi kalau mencoba menyakiti cucuku akan ku suruh balas," jawab dadi Rafi.
Hari ini lagi lagi Rafi dan Akram berkelahi. Wajar namanya anak anak. Namun dadi Rafi tidak terima kalau Rafi tersakiti. Sekalipun Rafi yang salah duluan.
"Akram , hari ini ada apa lagi? Kenapa kamu tidak mendengar ucapan ami?" ucap Aini pada Akram.
"Ami kenapa tidak boleh saya main. Rafi bebas main. Saya juga mau main ," jawab Akram.
"Tapi kamu bisa main dengan Ali, kenapa harus main dengan dia? Kamu tau sendiri Rafi keluarga punya sifat. Dia mana mau terima kalau anaknya di salahkan," jawab Aini.
"Kenapa Rafi dan keluarganya dengan kita jahat Ami?" tanya Akram.
"Karena kamu bukan cucunya. Papamu bukan anaknya dan sudah pasti mamamu bukan menantunya," paham jawab Aini panjang lebar.
Aini cuma mau anaknya lebih baik main berdua saja abang adik. Dengan anak anak orang tidak perlu.
"Kenapa saya tidak boleh main sama anak anak yang lain?" tanya Akram sama ibunya berkali kali.
"Anakku Akram , berapa kali kamu selalu bertengkar dengan anak anak di luar sana? Dan berapa kali ami mendapat laporan? Dengan anak anak yang lain kalau bertengkar orang tua mereka tidak akan terima! Sementara kalau kamu dan adikmu bertengkar orang tua kalian tidak mungkin bertengkar, kan? Karena kalian saudara kandung," ucap Aini panjang lebar.
"Tapi Ami dengan Ali tidak asik main," jawab Akram lagi.
"Kalau begitu kenapa tidak di buat asik? Pokoknya Ami tidak suka kamu main dengan anak orang. Titik. Paham?" jawab Aini lagi.
Betapa sering komplain orang orang kepada Aini masalah Akram. Kadang memang Akram yang jahil. Namun kadang orang orang yang sengaja menjahilin Akram. Dan yang disalahkan Akram.
Sementara suami Aini menganggap dirinya berlebihan menanggapi masalah anak anak. Anak laki laki memang lebih sering bikin orang tua pusing. Maka lebih baik anak anaknya bermain di rumah saja.
Perlakuan keras Aini pada anak anaknya, dengan tidak mengijinkan main di luar bahkan jadi bahan ejekkan bagi Rafi.
__ADS_1
"Kalian tidak boleh keluar yeyeye.....," ledek Rafi pada Akram sambil ketawa. Betapa senang Rafi meledek anak anak Aini.