Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Bisma kecewa.


__ADS_3

Rafi cucu pertama anak laki laki keluarga kalla Furqan, anak pertama dari Jafar . Sementara Akram cucu pertama dari ayah Furqan. Sementara Bisma juga punya anak laki laki bernama Abyan.


Dulu Bisma sering sekali memperalat Huzel atau Rafi untuk mengganggu anak anak Aini.


Sekarang justru Rafi dan Huzel tidak mau bermain dengan anak Bisma. Rafi dan Huzel bermain bebas sesuka hati dengan anak anak tetangga. Sementara Bisma sering meminta Rafi mengajak Abyan bermain. Tapi Rafi menolak.


Seperti hari ini. "Rafi. Ajak Abyan bermain juga," ucap Bisma pada Rafi. karena tidak dipedulikan Bisma marah. " Rafi kamu dengar tidak? Ajak Abyan main bersama," bentak Bisma pada Rafi.


"Hahh.. jangan ganggu saya. Suruh dia main sendiri," bentak Rafi balik. Padahal dulu Bisma sayang sekali dengan Rafi. Kalau Rafi jahat sama Akram malah Bisma membela Rafi. Sekarang Bisma jadi sangat kesal dengan sikap Rafi tidak mau mengajak anaknya bermain.


"Rafi. Dulu saya sangat sayang padamu. Sekarang untuk mengajak anak saya bermain kamu tidak mau," ucap Bisma.


"Hahh.. Anak anjjjj," Rafi trus berlari. Dia merasa kalau main dengan Abyan buat susah. Abyan selalu menyusahkannya.


"Kurang ajar. Tahira yang anjjj. Percuma saya sayang sama kamu dari kecil sekarang kamu dikit pun tidak sayang anak saya," ucap Bisma kesal.


"Suruh dia main sendiri. Ngapain ganggu saya main. Dia buat susah saya saja," bentak Rafi pada Bisma.


"Saya dulu sayang sama kamu. Dari kecil sekarang kamu main dengan anak sayapun tidak mau. Kurang ajar kamu. Sama dengan ibumu kurang ajar," jawab Bisma semakin kasar.


"Weeeee....anjjjj," jawab Rafi dari kejauhan.


"Ami ji. Lihat kurang ajar sekali Rafi sama saya. Kurang apa saya sayang sama dia dulu. Sekarang main dengan Abyan pun dia tidak mau. Percuma sayang sama dia dulu," Bisma komplain sama ibunya.


"Dia memang tak mau trus apa lagi. Biar saja dia. Abyan main di sini saja," jawab Ibu Bisma. Karena dia memang sudah tau kalau Rafi tidak pernah mau main dengan Abyan


Rafi pulang ke rumah. Terus menuju dapur mau minum."Hei cuci tangan dulu," bentak Bisma.


"Popo minta," ucap Rafi. Karena dia lihat Bisma makan sesuatu.


"Kamu kurang ajar. Jahat. Pergi sana. Saya tidak mau ngasih kamu," usir Bisma pada Rafi.


"Tak apa weeeee weeee weeee," cibir Rafi sambil berlari. Dilihatnya ayah Bisma dadanya. "Dada abu minta uang," ucap Rafi.


"Abu ji jangan di beri. Ini anak kurang ajar, tak ada otak ," ucap Bisma.


"Apa urusan mu? Diam saja. Dada abu sayang sama saya. Weee weee," cibir Rafi.


"Kurang ajar," jawab Bisma sambil melayangkan tangan mau mukul Rafi.


Rafi mengelak. Dan melempar vas bunga yang ada di atas meja. Prangg..


"Rafi," hardik Bisma lagi. Rafi lari keluar. Sudah dapat uang dari dada abunya.


"Abu ji lihat kurang ajar sekarang Rafi. Lama lama semakin tidak sopan. Tadi juga saya minta main sama Abyan dia tidak mau. Malah ngatain saya anjjjj," jawab Bisma.


"Rafi," panggil dadanya.


"Iya dada abu?" jawab Rafi.


"Mana kembalian uang tadi?" tanya dada Abunya.


"Dada abu, saya beli yang besar biskuit. Jadi semua uang habis," jawab Rafi santai.


********


Akram dan Ali bermain di depan rumah. Lalu Abyan datang. Dia ingin sekali merasakan main bersama abang , seperti Ali.


Akram dan Ali main pedang pedangan. Kadang Akram menggendong Ali. Dan Ali senang sekali. Abyan selalu memperhatikan.


"Abyan, ngapain di situ. Mari sini ,"panggil Bisma.


"Ya ami," jawab Abyan menghampiri ibunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu lihat mereka, biar saja mereka," ucap Bisma.


"Ami. Ali saya lihat senang sekali main dengan abangnya. Kenapa Rafi tidak mau main dengan saya? Ami sendiri bilang kalau Rafi juga abang saya," tanya Abyan pada Bisma.


"Abyan sayang. Akram dan Ali saudara kandung. Kalau Rafi sama kamu bukan. Dia anak abang saya. Dulu ami sebelum kamu ada, sangat sayang sama Rafi. Itulah makanya Ami bilang Rafi juga abang kamu," jawab Bisma sedih.


Betapa sayang dulu Bisma sama Rafi tetapi sekarang lihat. Betapa jahat Rafi pada Abyan. Sementara Akram dan Ali dulu sering di perlakukan tidak adil. Sejahat jahat Rafi dan Huzel tetap di bela Bisma. Sekarang Bisma sangat kecewa dengan sikap Rafi.


"Bajhi Tahira. Dulu saya sangat sayang sama Rafi ,namun sekarang saya sangat kecewa. Rafi untuk bermain saja tidak mau dengan Abyan. Malah bicara gali sama saya. Ngatain saya anjjjj. Sama anak saya juga ibu saya juga. Di bilang Rafi kami ini semua anjjjj. Kenapa dia begitu?" tanya Bisma pada istri Jafar ibu Rafi.


"Kamu lupa yah. Selama ini Rafi kalian yang jaga. Jadi kalau dia sekarang jadi tidak sopan, apa salah saya?" tanya Tahira balik.


"Kamu yang melahirkannya itu tanggung jawab kamu. Dia kurang ajar bicara gali. Bahkan sama ibu saya," jawab Bisma kesal.


"Nah bagaimana rasanya sekarang? Bukankah ibumu sering juga bicara gali? Trus kenapa saya disalahkan? Kamu terimalah ini bagian sifat keluarga kamu," jawab Tahira tak mau kalah.


"Kamu memang tak tau terimakasih. Kalau bukan kami yang menjaga anakmu, memang kamu bisa sambil kerja?" balas Bisma.


"Apa kalian lupa? Dulu aku mana mau anakku kalian yang jaga? Ada ibu saya, bahkan ibumu selalu memaksa kehendak kepada kami, sekarang anak anak saya hasil didikan kalian, kenapa saya yang disalahkan?" bentak Tahira.


"Ada apa ini? Kenapa marah sama Bisma? Memang benar sekarang Rafi kurang ajar. Tidak sopan sama kami. Padahal kami kurang apa sayang sama dia. Dan kamu juga tidak tau terimakasih," ucap mertua Tahira membela Bisma. Dan menyalahkan Tahira.


Sekarang rasakan kalian. Dulu saya tidak mau anak saya kalian jaga. Ada ibu saya, tetapi kalian terus memaksa kehendak.


Pertengkaran demi pertengkaran karena Bisma tidak bisa terima. Akhirnya Rafi dan Huzel dibawa Tahira ke rumah yang dibangun sendiri. Tentu saja Jafar tidak terima.


"Rafi dan Huzel ke mana? Kenapa tidak ada di sini?" tanya Jafar pada ibunya.


"Istrimu membawa mereka ke rumah nya," jawab Bisma.


"Kenapa siapa yang jaga di sana? Yang jemput pulang sekolah siapa?" tanya Jafar lagi.


"Urusan dia lah. Siapa yang antar jemput anaknya. Di sini anaknya di jaga. Tetapi kurang ajar. Sama anak saya tidak mau main. Bahkan bicara gali. Trus Tahira bukannya menasehati anaknya. Malah menyalahkan kita semua," jawab Bisma tak mau di salahkan.


"Tapi kamu berdua berterimakasih seharusnya. Bukan malah menyalahkan kami. Apa pantas anak anakmu balas kasih sayang kami dengan cara seperti itu?" jawab Bisma kesal.


"Jafar. Istrimu yang bertanggung jawab seharusnya. Kalau dia jaga anaknya? Memang dia bisa kerja? Cobalah kamu pikir juga," jawab ibu Jafar geram.


"Tak apa besok saya jemput lagi cucu cucu saya. Saya tidak mau jauh dari mereka," ucap ayah Bisma. Karena memang pengaruh mereka juga Rafi jadi seperti ini.


********


Sudah hampir satu bulan Rafi dan Huzel di rumah ibunya. Dada dan dadinya sangat kesal, karena Tahira selalu mencari cari alasan. Supaya anak anaknya tidak di ambil kembali.


Pulang sekolah ternyata dada Rafi sudah menunggu di gerbang sekolah. Seperti perintah Tahira pada pihak sekolah, tidak mengijinkan siapapun menjemput anak anaknya, selain orang yang di percaya dan di tugaskan oleh Tahira untuk menjemput mereka.


"Saya menjemput cucu saya. Rafi dan Huzel," ucap dada Rafi.


"Maaf Pak. Ibu mereka berpesan tidak mengijinkan siapapun kecuali yang di tugaskan untuk menjemput," jawab penjaga sekolah.


"Saya biasa menjemputnya. Sekarang mana mereka berdua?" tanya dada Rafi kesal.


"Mereka baru saja naik riksaw. itu yang baru jalan," tunjuk penjaga sekolah itu lagi.


Bergegas dipacu motor oleh dada Rafi.


"Stop. Saya mau ambil cucu cucu saya," bentak laki laki tua itu dengan kasar.


"Maaf tidak bisa. Ibu mereka menyuruh saya. Anda tidak bisa memaksa," ucap sopir riksaw.


"Jangan larang saya. Atau tidak saya akan pukul kamu," jawab Ayah Jafar kakek Rafi. Sambil menarik kedua tangan Huzel dan Rafi, untuk turun dari riksaw.


"Jangan lakukan ini," hadang sopir riksaw. Satu pukulan mentah tepat mengenai rahang sang sopir. "ahhhhkkk," teriaknya. Dan tersungkur. "Anda akan saya laporkan pada ibu mereka. Dan saya akan minta ganti rugi sama dia, karena anda memukul saya," jawab sopir itu dengan kesal.

__ADS_1


Buat apa harus kena tinju cuma gara gara menjadi orang suruhan Tahira. Sopir itu berniat minta ganti rugi. Kalau tidak sudah pasti dia tidak akan terima. Kesal saya. Rugi ini macam gumam pria itu. Menahan sakit di rahangnya.


sopir riksaw pergi ke rumah Tahira. Sesampai di sana sopir itu minta ganti rugi."Maaf saya tidak akan menjemput anakmu lagi. Dan saya minta ganti rugi. Karena saya ditinju oleh kakek Rafi. Kalau anda tidak membayar ganti rugi maka saya akan lapor anda pada seseorang yang nanti akan menyusahkan anda. Lebih baik sekarang anda bagi uang ganti rugi," jawab pria itu kesal.


"Baiklah. Ini ambil," jawab Tahira. Sambil mengeluarkan uang lebaran tiga ribuan tiga helai.


"Apa ini. Saya tidak mau. Kamu harus bayar sepuluh lembar uang tiga ribuan, saya tidak terima segini," jawab pria itu kesal.


"Ya sudah. Ini saya tambah tiga lembar lagi. Kalau anda tidak mau ya terserah. Mau lapor siapapun terserah. Lagi pula bukan saya yang mukul kamu. Sukur kamu sudah saya kasih enam ribu. Untuk riksaw apa sampai sehari bersih dapat segitu? Dapat bersih dua ribupun susah.


"Baiklah saya terima," jawabnya dengan kesal sekali.


**********


Tahira datang ke rumah mertuanya. Sampai di sana mereka bertengkar hebat. Jafar memukul Tahira. Dan anak anak yang melihat ketakutan.


"Kenapa kalian bawa anak anak saya," tanya Tahira kesal.


"Dia cucu cucu saya. Kenapa saya tidak boleh menjemputnya," balas kakek Rafi.


"Kalian yang selalu menyalahkan anak saya dan saya. Dan sekarang saya bawa. Lalu kenapa kalian jemput lagi," jawab Tahira.


"Dasar perempuan tak tau diri anjjj," ucap Jafar pada Tahira sambil memukul.


"Aaahhhkk," teriak Tahira.


"Papa, jangaann," teriak Rafi melihat ibunya di pukul.


"Pukul lagi sampai kau puas," balas Tahira .


Jafar menarik tangan Tahira."Keluar dari sini. Kalau masih ingin melihat anak anakmu. Kalau tidak maka saya akan bawa anakmu pergi jauh. Dan kamu juga tidak akan melihatnya lagi. Paham?" bentak Furqan


"Furqan beraninya kamu memperlakukan aku seperti ini," teriak Tahira.


"Lebih dari ini pun aku bisa, kalau kamu masih berusaha menjauhkan anak anakku dengan keluargaku. Paham?" bentak Jafar sambil mendorong Tahira.


Dengan mata sembab karena menangis sakit hati dan marah. Tahira keluar rumah. Tanpa peduli anaknya lagi.


"Mama ji," tangis anak anak Tahira.


"Masuk ke dalam," hardik Jafar pada anak anak itu. Ke dua bocah itu menangis. Dan mertua Tahira tersenyum senang.


"Sudah sayang. Sini sama dadi. Biar saja ibumu pergi. Masih ada dadi di sini," ucap dadi anak anak itu. Dalam hati dia sangat puas melihat kejadian tadi. Memang dia ingin seperti ini dari dulu.


"Ami ji. Sekarang jangan biarkan anak anak di bawa ibunya. Lebih baik mereka di sini saja. Perempuan itu sudah gila. Memang sudah tidak bisa di nasehatin. Kalau dia bekerja siapa yang menjaga anak anak. Cuma tinggal satu orang di sana," ucap Jafar.


Miris nasib Tahira. Begitulah dari dulu. Ada ada saja yang membuat pertengkaran. Padahal dari awal sudah di wanti wanti oleh Tahira biar dia yang menjaga anaknya. Ada ibunya. Aku tidak akan maafkan kalian jerit Tahira. Tunggu saja pembalasanku.


Tahira wanita terpelajar. Dia menamatkan sekolah sampai ke university. Dan tentu bukan hal yang mudah bagi Tahira, menjalani hidup sebagai wanita karir dan menikah. Tekanan adat yang tak bisa di hindari. Bahkan sampai sekarang.


**********


"Aduh maaf nggak sengaja, kamu?" tanya Aini. Aini nggak tau ternyata Tahira sudah di belakangnya.


"Iya saya. Maaf mengagetkan mu, saya ke sini mau lihat anak saya. Bisa kamu tolong saya?" pinta Tahira.


Sejenak Aini tertegun. "Kenapa kamu tidak sendiri lihat? Kamu sendiri tau keluarga mertuamu dengan saya selalu jahat. Maaf saya tidak bisa," jawab Aini.


Tahira menghela nafas kecewa. Namun dia tak bisa berbuat apa apa. "Ya saya paham. Tapi saya sangat ingin bertemu anak saya. Saya tidak mau nanti mereka tau," jawab Tahira ketakutan.


Dengan perasaan hampa Tahira pulang. Sebenarnya bukan dia tak mau langsung ke sana menemui. Dia cuma tak ingin bertengkar lagi. Bagaimanapun dia cuma bisa bersabar.


Di dalam rumah orang tua Jafar sedang kumpul kumpul semua. Sedang bicarakan merenovasi rumah lama mereka.

__ADS_1


"Ami, abu kita nanti bongkar rumah ini. Dan kita buat baru lagi. Ini sudah sangat lama. Nanti kita pergi mencari desain rumah. Kita musyawarah mana yang di suka. Lalu kita kira berapa biayanya.


__ADS_2