
Aini semalaman tidak bisa tidur. Pikirannya kalut sekali. Pekerjaannya memang sedikit membantu. Keuangan suaminya tidak stabil. Sejak pulang dari Dubai pun tetap sama. Kerja serabutan gaji tidak mencukupi.
"Ami baju seragam saya sudah rusak nih sudah jelek." Anak sulungnya melaporkan kalau baju seragamnya memang sudah harus di ganti.
"Nak kamu bilanglah sama papa mu."
"Iya suda ami, tapi papa bilang belum punya uang." Anaknya membuat Aini terenyuh.
Mendengar itu Aini tak kuasa menahan sedih. Kalau dia tidak bantu bagai mana anak nya bisa punya seragam baru. Diam diam Aini minta di kirim uang dari teman nya ke account suami nya.
"Ini ada kiriman uang cukuplah untuk membeli seragam anak anak,nanti kamu bawalah anak anak ke pasar." Aini menyerahkan beberapa lembar pecahan lima ribuan cukuplah untuk membeli perlengkapan sekolah anak anaknya.
"Uang dari mana ?" tanya suaminya.
"Gaji aku lah," jawab Aini.
"Ok baik lah," jawab suaminya. Dalam hati suaminya terus berfikir bagaimana Aini bisa punya uang sementara dia tidak memberi uang saku. Sejak saudarinya terus memfitnah istrinya sejak itu pula dia tidak memberi uang.
Suaminya membawa anak anaknya ke pasar membeli seragam sekolah. Betapa senang hati anak anak dapat seragam baru.
"Mbak besok potong aja uang gaji ku dengan yang di transfer tadi." Aini memberi tau teman kerja nya.
"Yah baik lah."
"Mbak sejauh ini bagai mana perkembangan di sana bukankah bulan lalu katanya nggak jadi berangkat?"
"Ini belum tau mbak gimana kelanjutan nya."
"Trus pekerjaan kita bagaimana? Apa terhenti juga?" tanya Aini.
"Untuk sementara iya nanti ku kabari lagi."
"Aduhhh padahal aku sangat membutuhkan pekerjaan itu," jawab Aini lirih. Kalau berhenti, dari mana nanti dia dapat uang lagi. Hatinya sedikit bimbang mendengar penjelasan temannya.
"Saya paham mbak mungkin peminat kurang atau memang ekonomi lagi lesu," terang temannya.
"Yah walaupun begitu aku bershukur juga ada simpanan, kalaupun tidak banyak. Tapi lumayanlah," jawab Aini lirih.
"Mungkin kami bulan depan akan pulang semua jadi kantor di sini akan di tutup," ujar kawannya lagi.
Tawaran pekerjaan yang sempat di jalani Aini ternyata tidak berjalan lama. Karena yang punya usaha mengalami kerugian peminat kurang. Mereka semua akhirnya pulang ke tanah air.
Yah mahu bagaimana lagi setidaknya Aini pernah berpenghasilan kalaupun cuma kerja melalui hp di rumah.
"Sayang bisa saya pinjam uang?" tanya suami nya.
"Buat apa?" jawab Aini penuh selidik.
"Saya butuh nanti saya pulang kan."
"Tadikan saya sudah ngasih uang untuk beli baju seragam anak mana ada uang saya lagi, " jawab Aini datar.
"Saya taunya kamu ada uang, pinjamkanlah," pinta suaminya lagi.
__ADS_1
"Bila kamu ngasih saya uang? Kalau kamu ngasih baru ada," sanggah Aini.
"Kamukan kerja online," jawab suaminya.
"Sekarang tidak lagi karena yang punya usaha tidak jalan." Aini tidak mahu lemah. Dia sudah bertekad uangnya cuma untuk keperluan anaknya. Urusan suami butuh uang seharusnya malu minjam sama istrinya. Selama ini justru suaminya tidak memberi uang saku.
"Oh," jawab suaminya lesu. Di pikirnya istrinya dengan senang hati akan minjamkan ternyata tidak. Dugaannya salah.
"Kamulah ber usaha cari kerja," jawab Aini. Ini kan semua tanggung jawab kamu.
"Yah saya tau tapi nasib saya tidak baik kerja tak ada gaji cukup," jawab suaminya.
"Trus apa lagi saya buat dulu kamu tidak mahu dengar ucapan saya," jawab Aini.
"Bisa tidak? Kamu jangan ungkit masa lalu lagi? Sekarang saya tidak sama lagi dengan dulu, kalau sekarang saya ada uang saya akan kasih ke tangan kamu," jawab suaminya panjang lebar.
Entahlah antara percaya dengan tidak Aini mendengar ucapan suaminya. Dulu sedikitpun suaminya tidak mahu mendengar ucapan istrinya soal apa pun termasuk keuangan . Sekarang suaminya merasa menyesal. Namun seperti ucapan suaminya kurang jujur terdengar. Seperti di paksakan supaya Aini luruh hatinya. Lagi lagi itu yang membuat Aini ragu. Sulit percaya karena bukan satu kali saja sikap suaminya begini.
Namun bagaimana caranya bisa membantu suaminya. Nanti kalau di bantu lagi malah semakin menyakitkan. Memang uang dari gaji kerja satu setengah tahun ada tersimpan dan itu Aini ber niat untuk mengurus semua dokument dia dan anak anak.
Dia ingin pulang tinggal di indonesia. Namun hatinya masih ada rasa tidak tega memisahkan anak anak dengan bapaknya.
Sulit rasanya membayangkan anaknya besar tanpa kasih sayang papanya. Yah mungkin saja di Indonesia dia memiliki semua namun sosok ayah untuk anaknya tidak akan mudah di cari ganti.
Namun kehidupan mereka di sini tidak ada perubahan. Malah susah untuk berusaha mau usaha apa saja. Belum lagi tekanan adat. Yang membuat muak justru tamu tak di undang sering datang sesuka hati. Bukannya justru prihatin malah menambah beban.
Di perhatikan nya suaminya akhir akhir ini sering ketus bicara. Bahkan cenderung kasar. Suaminya stress soal pekerjaan dan gaji tidak mencukupi. Bila di tanya jawabannya kasar. Bagaimana tidak pening semua tidak ada yang mau membantu.
Hari ini pun lagi lagi suaminya tidak bekerja. Tadi pagi pergi di suruh datang ternyata cuma bantu gratis tidak di kasih uang. Pulang ke rumah dengan muka muram.
"Saya pening soal kerja," jawab suaminya kesal. Karena memang sulit memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji buruh di sini.
"Sudah makan dululah," bujuk Aini. Bagaimanapun Aini tetap masih punya hati nurani.
"Dari mana makanan?" tanya suaminya.
"Saya yang beli," jawab Aini datar.
Suaminya makan dengan lahap. Namun Aini bisa rasakan kalau suaminya sebenarnya pikirannya sangat kalut. Dia tidak ingin menambah beban pikirannya.
"Sayang." Lalu suaminya berhenti menarik nafas dalam dalam.
"ya." Aini pun tertegun.
"Saya mahu bicara kamu dengar baik baik," ucap suaminya.
"Mmhh bicara lah," ujar Aini serius.
"Saya akan pergi lagi ke malaysia," jawab suaminya.
"Trus," jawab Aini.
"Bagaimanapun caranya saya akan coba lagi, cobalah kamu minta pinjaman sama temanmu kalau ada," jawab suaminya penuh harap.
__ADS_1
"Saya bukan tidak mengijinkan kamu pergi, tetapi selama ini kamu tidak mempercayakan uang kepada saya, kalau kamu nanti uang saya yang pegang silahkan kamu pergi biarkan saya yang ngambil sendiri dari bank," ucap Aini sedikit kesal. Karena memang suaminya selama ini bukan langsung ketangan Aini uang hasil kerjanya.
"Saya sekarang sudah tak percaya lagi sama keluarga saya, sekarang tidak ada yang mahu menolong saya , anak anak saya susah istri saya susah sekarang kalau saya pergi saya cuma mikir anak dan bini saja," jawab suaminya lirih.
"Kenapa tidak dari dulu kamu mikir , kalau sekarangpun kamu sadar kamu tidak punya apa apa," ujar Aini lagi.
"Sayang percaya la," jawab suaminya.
"Yang ada selama kita saling menyakiti, memang kita suami istri namun lebih banyak kita saling menyakiti, dan sayapun terkadang berpikir lebih baik kita berpisah saja," jawab Aini lantang.
"Apa kamu tidak pikir nasib anak anak kalau kita berpisah?" tanya suaminya heran dengan sikap Aini barusan.
"Yah nasib merekalah," jawab Aini datar.
"Trus kamu tak pikir sayakah?" tanya suaminya memelas.
"Kenapa saya harus pikirkan selama ini kamu juga tidak mikirkan saya, kita bersama seperti terpaksa bukan ingin dari hati, nah kamukan bisa mencari wanita lain bisa yang sesuai adat kamu, bisa memenuhi ke inginan keluarga kamu, biar sama sama adatnya dengan adek mu," jawab Aini lagi.
"Buat apa cari lagi saya ada anak dan cukup la kamu," jawab suaminya penuh cinta. Di pandangnya Aini yang masih kesal. Jujur memang dia yang salah.
"Hahaha sejak kapan kamu ada pikiran seperti ini?" memang Aini jadi ketawa mendengar ucapan suaminya.
Padahal dari sejak datang ke negara suami dia merasa suaminya terpaksa bersama dengannya karena anak anak. Dan sekarang justru mereka saling menyakiti dengan alasan adat selalu menyudutkan.
Aini kadang berpikir melepaskan suaminya mungkin yang terbaik. Tetapi pembicaraan barusan dengan suaminya Aini bisa menangkap penyesalan mendalam oleh suaminya. Mungkin kesempatan untuk bersama lagi harus diberikan.
Dan berharap suaminya benar benar terbuka pikirannya. Tidak seperti dulu lagi. Yang selalu menyudutkan Aini. Sekarang mungkin suaminya mulai menyadari kesalahannya selama ini.
"Baiklah akan saya ijinkan kamu pergi," jawab Aini.
"Tolong pinjam sama teman atau siapa saja," jawab suaminya.
"Saya tidak berani. Nanti jual sajalah apa yang bisa di jual," jawab Aini.
"Plz kali ini percayalah sayang," ucap suaminya dengan sendu. Karena bagaimanapun ini bukan hal yang mudah. Mencari pinjaman uang siapa yang percaya? Sulit .
"Yah kita lihat saja nanti ucapan mu, bisa di percaya atau tidak?" jawab Aini tegas.
"Anak kita nanti akan dewasa, mesti mau uang lebih. Biaya semakin mahal," terang suami Aini lagi.
Hari ini pun sama dengan sebelumnya. Perubahan berarti. Sudah di coba mencari pinjaman namun, tidak berhasil. Saudara satupun tidak bisa di andalkan giliran diri kita susah semua menjauh. Giliran mereka susah semua merapat.
Entahlah cuma tuhan yang tau. Dan berharap tuhan membantu meringankan kesulitan ini. Sudah di tanya semua teman mana tau ada yang mau bantu. Ternyata tidak ada. Semua beralasan sama.
Dan Aini tidak mau lagi mencoba. Biarlah kalau Allah yang buka jalan untuk ke sana maka pasti ada jalan.
"Ami.. Ada apa? Kenapa melamun?" tanya anaknya.
"Nggak ada sayang, kamu sudah buat PR ," tanya Aini lagi.
"Belum Ami. Buku catatanku habis mau beli baru, minta uang Ami," pinta anaknya.
"Baiklah ini ambil," jawab Aini sambil menyodorkan lembar ratusan.
__ADS_1
Bergegas anak sulungnya pergi ke kedai terdekat. Membeli buku catatan yang di inginkan. Dia paham ibunya sangat sedih akhir akhir ini. Namun sebagai anak dia belum begitu paham. Dan dia tidak ingin banyak tanya. Kasihan ibunya nanti semakin sedih hatinya.