Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Pernikahan Sana dan Sammer.


__ADS_3

Aini di beri tau Furqan kalau hari ini Sana dan Samer akan kedatangan calon dari keluarga pihak wanita dan laki laki.


Karena Sana dan Samer yang beradek kakak, akan menikah dengan Sajjad dan tahrim.


Sana dan Samer menikah barengan. Sana menikah calon suami bukan dari kerabat. Tapi samer masih ada hubungan kerabat.


"Sayang nanti kita akan pergi ke kampung ke rumah orang tuaku. Karena kita akan menikahkan Sana dan Samer," ucap Furqan pada Aini.


"Tapi anak anak bagaimana? Siapa yang jaga? Saya tidak percaya popo kamu. Lebih baik tunggu anak pulang. Trus kita bawa sekalian," ucap Aini.


"Ok. Kamu siapkan dulu baju mereka. Begitu pulang kita langsung pergi. Nggak usah buat sarapan siang untuk mereka. Nanti kita makan di kampung saja," ucap Furqan.


"Baiklah saya tunggu anak anak dulu baru kita pergi. Saya persiapkan baju anak anak. Saya tidak punya baju baru. Baju itu pun sudah lama. Apa kamu tidak malu ," ucap Aini.


"Tak apa kita cuma di kampung saja. Tidak mengundang ramai orang orang.


*********


"Siapa calon wanitanya." Tanya seorang wanita paruh baya dari pihak laki laki.


"Ini dalam kamar. Silahkan lihat," jawab Aini sambil membuka pintu.


"Oh kamu bukan orang sini? Kamu orang china yah?" tanya wanita itu.


"Silahkan masuk lihat pengantin," jawab Aini segera mengelak jawaban wanita itu.


"Maaf siapa dia?" tanya wanita itu ke yang lain.


"Dia istri abang pengantin wanita," jawab mereka.


"Oh kok bisa yah bahasa kita?" tanyanya heran


"Ah sudahlah nggak usah di bahas. Keluarga ini dengan menantu pertama nggak cocok selalu ribut."


Setelah itu datang orang yang akan menikahkan kedua mempelai. Para saksi hadir. Dan selesai ijab qabul. Sampai juga ke saat yang di tunggu. Sana di bawa keluarga suaminya.


*********


Setelah menikah ternyata Sana tidak betah di tempat suaminya. Karena suaminya sendiri juga menumpang di rumah abangnya. Semua barang barang di rumah itu penuh sesak. Sehingga dua keluarga tinggal bersama sudah pasti sumpek.


Pertengkaran Sana dan mertua juga istri abang sajad, selalu terjadi. Dan sampailah Sana hamil.


"Bhai Furqan jemput saya," isak Sana di telpon.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Furqan.


"Saya tidak betah di sini. Saya sedang hamil. Dan mertua serta ipar selalu memusuhi saya," jawab Sana.


"Yah sudah nanti saya jemput. Kamu siap siap saja," ucap Furqan.


Furqan menelpon Samer. Namun samer tidak menjawab. Berkali kali di telpon akhirnya di angkat.


"Hallo. Saya telpon berkali kali kenapa tidak di angkat. Kalau emergency bagaimana?" tanya Furqan kesal.


"Yah bhai saya baru bangun. Ada apa?" tanya Samer malas malasan.


"Kamu jemput Sana dia sekarang susah. Ada masalah dengan keluarga suaminya. Sekarang dia lagi hamil. Tidak ada yang peduli. Cepat kamu jemput," perintah Furqan pada Samer.


"Saya tidak bisa. Hari ini saya pergi kerja. Sudah lama saya cuti. Nanti saya di pecat, bagaimana? Bhai Furqan saja yang jemput," elak Samer.


Sebenarnya Samer malas dia mana mau mengurusi adeknya. Samer cuma mikir istri saja. Kerjanya bersenang senang saja dengan istrinya.


*********


Terpaksa Furqan yang jemput. Tapi uang beli bensin tidak cukup.


"Aini pinjam uangmu, saya mau pergi jemput Sana. Takut nanti minyak tidak cukup," jawab Furqan.


"Apa? Kalau begitu jangan di jemput," jawab Aini ketus.


"Tolonglah. Dia hamil tidak ada yang jaga. Kasihan," jawab Furqan.


"Dia sudah menikah. Hamil karena ada suaminya, trus kenapa kamu yang repot?" tanya Aini kesal.


"Sudahlah kalau tidak mau," jawab Furqan lagi.


Furqan pergi menjemput Sana. Dan mengantarnya ke kampung. Tempat orang tua Furqan. Di sana ada Ayah Furqan , Samer dan istrinya.

__ADS_1


Begitu sampai Furqan melihat motor Samer masih ada. Tadi katanya pergi kerja.


"Assalamuakaikum," ucap Sana lemas.


"Waalaikumussalam," jawab orang dalam rumah. Semua berdiri menyambut Sana.


"Ada apa dengan kamu Sana? kenapa datang?" ucap Tahrim istri Samer dengan nada tidak suka.


"Dia kurang sehat. Makanya di bawa ke sini. Dia lagi hamil, di sana tidak ada yang jaga," ucap Furqan.


"Tapikan ada suaminya. Iparnya mertuanya," jawab Tahrim kesal.


"Kalau di sini apa salahnya?" tanya Furqan.


"Nggak salah. Tapi saya yang tidak tahan. Kalau begitu saya juga pergi ke rumah orang tua saya," ucap Tahrim mengancam.


"Terserah kamu," jawab Furqan.


"Samer kamu antar saya. Saya juga mau pergi ke rumah ibu saya," ucap Tahrim.


"Kenapa istrimu langsung mau pergi? Apa kalian dari tadi memang mau pergi? Atau gara gara saya di sini?" tanya Sana .


"Baguslah kamu di sini ada yang jaga ayahmu. Saya juga mau pergi tempat ibu saya," jawab Tahrim ketus.


"Sangat jelas alasan kamu pergi. Kamu tidak mau menjaga saya dan ayah saya. Sedangkan kamu tau saya kurang sehat. Jadi terpaksa saya ke sini," jawab Sana lagi.


"Kalau kamu sudah tau, trus apa masalah lagi? Biar saja saya pergi," ucap Tahrim. Dan bergegas mengambil pakaiannya beberapa potong. Trus pergi minta di antar Samer.


"Samer. Apa kau juga tidak peduli sama Sana dan ayah? Hanya gara gara ini istrimu tak tahan. Langsung pergi," ucap Furqan.


"Trus salah saya di mana? Kalau Sana datang ke sini, dan Tahrim pergi ke rumah ibunya. Masalahnya di mana?" tanya Samer membela diri. Sebenarnya dia tidak mau di repotkan oleh Sana.


"Bawalah Sana ke rumah kamu bhai Furqan. Di sana kalau ke rumah sakit dekat. Kalau di sini jauh. Di sana juga ada Aini istrimu yang akan menjaga Sana," ucap Samer beralasan.


"Kamu di sini saja. Aini sejak dulu tidak suka dengan kamu. Begitu juga kamu," ucap Furqan.


Furqan pamit pulang. Meninggalkan Sana di kampung. Karena Furqan sudah pergi akhirnya Tahrim batal hari ini pergi. Ayah Samer bilang besok antar Sana dan Ayahnya sekaligus ke rumah Furqan.


***********


"Amii ji, ada dada abu sama popo Sana dan Cacu Samer," teriak Ali.


"Waalaikumussalam," jawsb Aini heran.


"Kok kamu datang ke sini? Ada apa?" tanya Aini.


"Kenapa saya juga tidak boleh ke sini?" tanya Sana kesal.


"Kenapa? Tahrim tidak tahankan? Makanya Samer ngantar kamu ke sini," ucap Aini.


Memang kalian anggap aku tidak tau alasan kalian. Tidak lama datang Furqan


"Sana sudah makan? Kita mau ke dokter sekarang," ucap Furqan.


"Nggak usah. Kedatangan saya juga sudah bikin istrimu tidak suka," jawab Sana.


"Samer mana? Tadi masih di sini?" tanya Furqan.


"Dia sudah pergi bawa istrinya ke rumah mertuanya," jawab Sana mayun.


"Nah benarkan ? Tahrim tidak tahan?" sela Aini.


"Aini. Sebentar saja mereka di sini. Lepas berobat mereka pergi ke kampung," jawab Furqan


"Kamu jangan suruh saya buat ini itu. Karena dulu Sanapun juga tidak pernah bantu saya. Suaminya ada trus kenapa dia ke sini?" tanya Aini curiga.


"Kami tidak akan minta makan sama kamu. Jangan kuatir?" ucap Sana.


"Bagus. Karena yang mau kamu minta juga tidak ada. Sekarangpun yang mau di masak tidak ada," jawab Aini kesal.


Ternyata lagi lagi drama mereka buat. Setelah Sana sekarang ayahnya sakit. Dan samer senang senang di rumah mertua bersama istrinya. Tinggallah Aini di repotkan. Belum ngurus anak di tambah masak dan yang di masak juga serba kurang.


"Furqan . Sampai kapan begini? Kenapa kamu selalu mengalah. Kita aja yang dimakan tidak ada. Sekarang di tambah adek dan bapakmu. Sedangkan Samer lepas tangan. Inikan ayahmu yang salah. Seharusnya dia tegas sama Samer dan Tahrim. Ini malah memanfaatkan kita," protes Aini.


"Trus apa lagi saya buat," jawab Furqan serba salah.


"Terserah saya tidak mau tau. Ada popo kamu biar Sana dan ayahmu di situ. Popo kamukan saudari bapakmu juga," jawab Aini.

__ADS_1


"Baiklah . Saya paham. Kita susah. Tapi kamu tau kalau bukan kita yang bantu, samer dan Tahrim juga tak membantu.


"Itukan hasil didikan ayahmu. Ya dia rasakanlah. Sekarang masih nyusahkan. Pandai mengelak. Trus saya sama anak yang susah.


*******


Aini tidak habis pikir dengan sikap keluarga Pakistan. Satu sama lain saling menikam. Dan yang baik di manfaatkan, sementara yang tak mau bertanggung jawab malah menikmati hidup.


"Sampai kapan begini, Furqan? Saya tidak bisa terus begini. Dari dulu pertengkaran kita , hanya gara gara keluargamu sering datang bertamu. Kalau mereka susah, kenapa mereka tidak mencoba mencari jalan keluar sendiri? Sementara kita sendiripun susah. Kalau mereka tinggal di sini, apa semua gratis? Kita yang bayar makan minum. Belum lagi listrik gas," keluh Aini pada Furqan.


"Saya abangnya sudah pasti saya yang bertanggung jawab," jawab Furqan.


"Bhai. Sarapan tidak adakah? Kami lapar belum makan," ucap Sana.


"Aini masaklah sesuatu untuk mereka," ucap Furqan.


"Ini yang saya tidak mengerti dengan kamu. Dari tadi yang kita bahas justru masalah makan. Sekarang kamu suruh saya masak, apa yang mau di masak? Tadikan kamu sudah lihat di dapur tidak ada apa apa," jawab Aini kesal.


"Sana kami tidak punya apa apa. Saya sudah satu minggu tidak kerja. Saya harap kamu paham. Saya tidak mau nanti saya dan Aini bertengkar lagi," ucap Furqan.


"Trus kami mau makan apa bhai?" tanya Sana bingung.


"Kamu ada suami. Kenapa bingung? Kalian memang punya sifat suka menyusahkan Furqan. Apa kurang tanggung jawab Furqan. Dan Tahrim sendiri juga tidak mau menjaga kamu. Padahal dia belum punya anak. Dia malah sengaja ke rumah orang tuanya. Supaya bisa menghindar dari kamu. Saya ingin bertanya kenapa suami kamu tak menjagamu? Kamukan ada rumah?" jawab Aini.


"Saya terpaksa ke sini," bela Sana.


"Bukan terpaksa. Kamu memang tidak tahan di sana. Kalau sudah menikah masih suka pergi ke rumah abangmu, buat apa kamu menikah? Lebih baik kamu jangan di nikahkan," jawab Aini.


Capek terus terusan menghadapi adat mereka. Sekarang rencana Furqan ke luar negri belum juga jelas.


*********


"Ami saya mau makan nasi, sama telur goreng pakai sambal," ucap Akram.


"Ami, Ali juga mau," ucap si bungsu.


"Minta papamu beli beras dan telur. Baru ami buatkan!" ucap Aini.


"Papa mau makan nasi sama telur goreng. Minta uang beli beras dan telur," ucap Akram pada ayahnya.


"Nanti bagi juga popo dan dada yah. Jangan makan sendiri. Bagi bagi juga sama orang," ucap Sana lagi.


"Sayang papa nggak ada uang. Makan roti saja. Minta ami kalian yang buatkan," ucap Furqan.


"Sudah dengar kalian. Suamiku aja untuk makan anaknya tidak cukup," jawab Aini. Sambil menatap Sana dan ayah Furqan.


"Ami bilang minta sama papa," ucap Akram lagi.


"Sayang kamu ada uang? Belikanlah untuk anak anak.


"Ya untuk anak anak saya akan belikan. Tapi tidak untuk adek dan bapakmu. Terserah kamu mau mengatakan saya jahat. Saya tidak peduli," jawab Aini.


"Yah memang kamu beli untuk mereka saja. Sana dan Ayah saya bukan tanggung jawab kamu. Ok sayang mama kalian kasih uang, pergi beli beras makan yang kenyang,"ucap Furqan sambil membelai dan mencium kepala Akram dan Ali bergantian.


"Abu ji lihat si Aini. Dia tidak peduli sama kita. Sedikitpun tidak peduli," ucap Sana setengah berbisik.


"Apa yang kau bicarakan? Apa kamu tidak dengar tadi aku sendiri tidak ada uang. Aini ada uang dia kerja ada gaji. Itulah dia bisa beli beras." Ternyata Sana tidak tau kalau Furqan mendengar ucapannya.


"Tapi bhai kamikan tamu di sini," sanggah Sana.


"Masalah Aini dan anak anak kalian jangan ganggu. Saya juga kadang tidak mencukupi mereka . Samerpun Istrinya mana mau menerima kalian. Karena mereka juga susah. Semua orang susah. Sebaiknya kalau kamu mau di sini kamu diam sajalah," bentak Furqan.


"Bhai kamukan tau adat kita, trus kenapa salahkan saya," jawab Sana.


"Samer dan Tahrim memang dia tidak mikir. Tapi nanti bila punya anak baru mereka tau," jawab ayahnya.


"Nah benarkan, setiap orang cuma mikir anaknya senang. Kalau Sana ke sini. Yang susah saya. Nah kalau ke tempat Samer. istri Samer mana mau susah. Dan kalian tau, kalian tidak berani menyusahkan Tahrim. Karena sudah pasti keluarganya tidak terima. Dan kalian tau saya tidak punya keluarga di sini. Jadi kalian bisa semena mena," jawab Aini panjang lebar.


***********


"Furqan bangun sudah pagi ni," ucap Aini mencoba membangunkan Furqan.


Di raba kening suaminya terasa panas. Hatinya mulai kuatir. Ada apa semalam baik baik saja.


"Mmmmhh." Furqan masih memicing mata.


"Kamu demam sayang. Ada apa? Ayo kita ke dokter periksa keadaanmu," ucap Aini.

__ADS_1


"Nggak usah. Kamu sekarang senanglah. Sudah membuat saya malu. Ada adek saya dan bapak saya. Bukannya kamu melayani dengan baik. Malah bertengkar," ucap Furqan.


"Apaaaaa????? Ternyata kamu gara gara saya demam. Heran saya sama kamu. Kalau memang kau miskin tidak mampu seharusnya kamu sadar diri. Mereka bukan anak anak. Terserah kau lah. Saya semakin muak dengan sikap kamu. Kamu malu sama adek dan bapakmu. Tapi kamu tidak malu dengan saya. Adek mu itu ada laki. Kenapa juga ke sini. Kalau lakinya bertanggung jawab buat apa ke sini. Sekarang saya malah di salahkan."


__ADS_2