Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Bisma hamil.


__ADS_3

Sepandai pandai tupai melompat sekali kali jatuh juga. Mungkin ini pepatah yang tepat untuk Bisma.


Karena sering bertemu ,dan sudah pasti bermesraan layak suami istri, akhirnya Bisma hamil. Ternyata benar dugaan Aini. Sewaktu kejadian tempo hari Bisma muntah muntah selepas bertengkar dengan Aini.


"Bisma, kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?" tanya ibu Bisma.


"Nggak! Aku baik baik saja," jawab Bisma berbohong. Padahal dia memang sedang tidak enak badan.


"Sudah makan dulu," jawab ibunya lagi.


"Popo mau makan ini?" tanya Huzel sambil menyodorkan buah jambu biji. " Rasanya kecut agak pahit aku nggak suka," ucap Huzel.


"Bagi sini," dengan sigap Bisma mengambil dan makan. " Kalau masih ada lagi, bagi popo yah! Popo suka," jawab Bisma lagi.


Ibunya heran melihat Bisma sejak kapan suka jambu kecut, pahit pula. Tiba tiba Bisma muntah lagi. Sambil berlari ke kamar mandi.


"Bisma kamu kenapa? Saya curiga jangan jangan kamu hamil? Ayo ngaku?" bentak ibu Bisma.


"Nggak aku nggak kenapa napa! Aku cuma masuk angin demam biasa," elak Bisma berbohong. Karena memang dia sudah telat datang bulan.


Tak lama Tahira datang bersama Jafar.


"Assalamualaikum, apa kabar Buk, Bisma? Apa kamu baik baik saja? Sepertinya kamu kurang sehat?" tanya Tahira. Jafar yang dari tadi mendengar ikut curiga. Karena di lihat kondisi Bisma pucat.


"Nggak saya....saya." Tiba tiba Bisma pingsan.


"Bismaaa," teriak Ibunya. Cepat cepat di bawa ke rumah sakit.


*********


Bisma terbaring lemah. Setelah sadarkan diri, dia dapati tangannya ada infus. Tiada seorangpun yang hadir. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Oh apa jangan jangan aku hamil batin Bisma seorang diri.


Pintu terbuka, seorang dokter masuk memeriksa kondisi Bisma.


"Dok saya kenapa? Dan ke mana keluarga saya?" tanya Bisma.


"Anda baru saja di aborsi, janin anda baru berumur satu bulan. Ibu anda meminta janin di buang. Selebihnya tanya langsung sama keluarga anda," jawab dokter itu lagi.


"Apaaaa?" tanya Bisma tak percaya. Dia menangis sedih. Sudah pasti keluarganya akan marah besar.


Di telpon Kasif. Memberi tau keadaannya. Dan tentang kehamilannya. "Saya baru saja aborsi, sebelum saya tau saya benar benar hamil. Pagi ini saya muntah muntah dan pingsan. Setelah sadar saya baru tau sudah di rumah sakit. Dan dokter yang memberi tau saya."


Dengan seksama dan sangat terkejut Kasif shock. Namun apa lagi yang bisa dibuat. Keluarga Bisma belum juga merestui hubungan mereka.


"Sekarang kamu di mana?" tanya Kasif.


"Saya masih di hospital," jawab Bisma lemah.


"Yah sudah kamu istirahat dulu. Nanti saya akan coba menemui kamu," jawab Kasif.


Di rumah keluarga Bisma. Terjadi keributan besar. Saling menyalahkan


ibunya menyalahkan suami dan anaknya. Sementara ayah dan abang Bisma membela diri, menyatakan kalau ibu merestui mereka ,maka ini tidak akan terjadi.


"Kalian tidak mengontrol dia. Kenapa dia bisa terus terusan bertemu laki laki itu," jawab ibu Bisma kesal.


"Ami ji, coba lah mengerti. Buat apa lagi ibu menolak hubungan mereka. Restui saja mereka. Dari pada keadaan bertambah rumit," jawab Jafar membela diri. Dan mencoba memberi pengertian pada ibunya, namun ibunya masih keras kepala.


"Saya tidak bisa menerima dia," jawab Ibunya.


"Kamu jangan membuat hidup anakmu semakin susah. Biarkan saja mereka berdua bersatu. Mereka saling mencintai. Lagi pula Furqan sudah punya istri dan anak. Apa kamu mau hidup putrimu terus terusan begini?" tanya suaminya tak habis pikir.


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Furqan. Tetapi saya tidak bisa menerima Kasif. Karena dia masih ada hubungan dengan kamu," jawab ibu Bisma. Karena dia tetap tidak terima gara gara kasif masih ada hubungan kekerabatan dengan ayah Bisma.


Sedang dulu keluarga ayah Bisma,juga memperlakukan ibu Bisma tidak baik. Jadi sekarang malah Bisma dan kasif menikah dan bercerai.


"Kenapa Ami tidak coba menatap kedepan. Kalau kasif benar masih ada hubungan dengan abu kami, tetapi Kasif mencintai Bisma," sahut Jafar tak habis pikir jalan pikiran ibunya.


"Sudahlah, jangan terus menyudutkan saya. Kamu pergi lihat adekmu ke rumah sakit. Tidak ada seorang pun di sana," jawab ibu Jafar.


"Yah sudah. Saya dan Tahira yang pergi. Nanti saya antar Tahira dan saya terus pergi kerja. Hari ini Tahira cuti," jawab Jafar.

__ADS_1


**********


Tahira dan Jafar pergi menuju rumah sakit. Tempat di mana Bisma di rawat. Sambil membawa makanan untuk sarapan.


"Ok Tahira kamu masuk ke dalam saya terus pergi, saya sudah lambat. Nanti atasan saya marah. Jaga dia," ucap Jafar pada istrinya.


"Ok baiklah. Kamu hati hati," jawab Tahira lagi. Sekalipun Bisma sering menyusahkannya namun kali ini Tahira terpaksa menjaganya.


Tahira membuka pintu. "Assalamuaikum, boleh saya masuk?" tanya Tahira.


"Waalaikumussalam, masuk aja kak Tahira. Saya sendiri kok. Masuklah," pinta Bisma senang dengan kehadiran Tahira.


"Ini saya bawa sarapan untukmu," ucap Tahira. Sambil memperhatikan Bisma.


"Ibu mana kak? Kenapa ibu tidak datang? Apa ibu marah sama saya?" tanya Bisma.


"Jangan di pikir makan dulu, nanti kamu sakit lagi," ucap Tahira mengelak jawaban. Dibuka bungkusan dari rumah. Yang sudah disiapkan untuk Bisma.


"Saya tidak mau makan," elak Bisma sedih. Air matanya mulai meleleh. Dia tau ibunya marah besar. Dan tidak akan merestui mereka.


"Kalau kamu masih ingin bersama kekasihmu, kamu harus sehat. Kalau kamu sakit dan meninggal, yang ada kekasihmu mencari pengganti dirimu. Paham?" ucap Tahira setengah memberi nasehat. Bagaimana juga Tahira masih ada perasaan kasihan. Namun bukan berarti dia membuat Bisma lemah. Harus kuat menghadapi cobaan. Bukankah ini yang ia mau? Kuat dong! Batin Tahira.


kringgg....


"Hallo," jawab Bisma.


"Iya. Boleh saya datang? Apa ada keluargamu di situ?" tanya Kasif memastikan keadaan aman.


"Kamu datang saja. Cuma ada istri abangku. Ibuku dan yang lain tidak mau datang," ucap Bisma kesal sedih pilu. Menyesali apa yang terjadi.


"Baiklah," ucap Kasif.


*******


Kasif membeli buah buahan segar untul dibawa ke tempat Bisma.


"Bhai bungkus sekilo setiap buah ini. Dan pilih yang segar. Jangan yang rusak di campur," ucap Kasif pada penjual.


Setelah merasa cukup Kasif meluncur menuju tempat Bisma di rawat.


"Bisma. Kenapa kamu membantah ibumu? Apa kamu tidak memikirkan akibatnya? Setidaknya kamu jangan ceroboh seperti ini." Tahira mencoba memberi nasehat. Dan berharap Bisma sadar.


"Kak. Bhai Jafar juga memilih melawan ibu. Dia tidak mau menikah dengan Yasmin. Sementara saya juga tidak mau menikah dengan Furqan. Antara saya dan Jafar sama. Kami sama sama menolak keinginan ibu. Lagi pula cinta tidak bisa di paksa. Ibu harus mengalah sekarang. Kakak lihat Furqan sudah menikah, punya anak dan tinggal di rumah pemberian Yasmin. Sekarang kenapa ibu tidak menerima Kasif? Biarlah kami bersama," jawab Bisma tak mau mengalah.


"Betapa sering kamu melawan ibumu," ucap Tahira kesal.


"Apa kakak lupa? Jafar juga sering melawan ibu gara gara kakak," bantah Bisma lagi.


"Tapi kamu jangan ceroboh seperti ini," bela Tahira.


"Saya pasti akan lakukan. Furqan sudah punya anak. Kakak juga. Trus kenapa saya tidak bole hamil? Sudah sering saya memohon pada ibu. Untuk mengikhlaskan hubungan kami. Namun ibu bersikeras tidak mau. Kalau saya tau sebelum di aborsi, saya memilih melahirkan anak itu," jawb Bisma lagi.


"Kamu memang keras kepala yah terserah kamu. Di nasehatin tidak berguna," jawab Tahira kesal sambil meninggalkan Bisma. Dan keluar dari kamar rawat inap.


Begitu pintu di buka. "Kamu? Kenapa datang ke sini? Nanti kalau keluarga Bisma tau bagaimana?" tanya Tahira tidak suka.


"Biar saja dia masuk. Saya yang nyuruh dia datang. Lagi pula keluarga saya tidak ada di sini," jawab Bisma kesal.


"Yah sudah terserah kalian. Saya tidak mau tau," ucap Tahira sambil berlalu.


Sambil meletakkan barang bawaannya kasif menghampiri Bisma.


"Bagaimana kondisimu sekarang? Apa kata dokter? Kapan diijinkan pulang?" tanya kasif lagi.


"Hari ini. tadi dokter datang memeriksa," jawab Bisma.


"Bagaimana nanti pulang? Apa kamu sudah siap kena marah? Atau kamu akan melupakan saya? Ikut ucapan ibumu?" tanya Kasif lagi.


"Apa kamu mau saya menikah dengan orang lain? Dan melupakan kamu? Kalau begitu kamu yang tidak ingin kita bersama," ucap Bisma ketus. " Saya sudah melangkah sejauh ini. Dan saya tetap ingin kita bersama. Kalau kamu menyerah, maka sebaiknya kamu jangan datang," ucap Bisma kecewa.


"Kapan saya bilang tidak mau bersama? Saya cuma bingung apa lagi kita buat? Kenapa ibumu masih menolak kita?" tanya Jafar.

__ADS_1


"Ibu kecewa , karena saya menolak Furqan. Tetapi Furqan sudah punya anak istri. Meskipun hubungan ibu dan Furqan juga istrinya tidak baik, namun ibu masih membantah hubungan kita," jawab Bisma tak habis pikir.


"Apa Furqan tau," tanya Kasif.


"Tau atau tidak, tidak ada bedanya. Tetapkan saya milih kamu. Dan Furqan sudah punya anak istri. Yang buat aku kesal istri Furqan kurang ajar. Anak anaknya juga. Namun ibu saya masih juga belum merestui kita," jawab Bisma kesal.


"Sekarang apa rencana mu? Setelah pulang ke rumah orang tuamu?" tanya Kasif bimbang dan ragu.


"Ya sama seperti dulu. Saya akan tetap minta ibu merestui kita," jawab Bisma lirih sedikit berharap.


"Sekarang saya pamit dulu. Saya mau tugas lagi. Kabarin saya selanjutnya," pamit Kasif.


"Baiklah. Bagi saya uang. Saya tentu mau berobat juga nanti," ucap Bisma.


"Baiklah. Ini pegang." Sambil menyodorkan uang lima ribuan beberapa helai.


Kasif keluar kamar rawat inap tempat Bisma di rawat. Sekarang Tahira yang dari tadi menunggu masuk ke dalam.


"Bagaimana? Sudah selesai bicara? Sekarang kita pulang. mobil sewa sudah menunggu di luar," ucap Tahira pada Bisma.


"Baiklah. Saya berkemas sebentar. Tolong masukkan barang barang saya ke bag. Saya mau ke kamar mandi dulu," jawab Bisma.


Tahira segera mengemas semua. Karena hari ini terakhir cuti kerjanya. Dia besok akan pergi lagi. Cuma ini kesempatan membantu Bisma.


"Sudah siap? Ayo duduk di kursi roda ini?" perintah Tahira.


Sambil mendorong kursi menuju jemputan. Lalu mobil meluncur pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan mereka cuma diam saja. Karena memang Tahira dan Bisma juga kurang akur. Memang begitu kebanyakan sifat orang orang Pakistan.


**********


Sebulan sudah Bisma pulang dari rumah sakit. Dan selama itu juga ibunya tidak banyak bicara.


Bisma selalu mencoba membujuk ibunya. Namun ibunya tetap membatu hatinya. Akhirnya ayah Bisma bicara.


"Kenapa kamu masih bersikeras? Ini anakmu sendiri. Sampai kapan kamu begini. Coba lah memahami mereka. Biar kita juga bisa hidup tenang?" ucap ayah Bisma .


"Kalau memang mereka ingin baikkan, kenapa Kasif tidak datang menemui kita?" tanya ibu Bisma. "Saya tidak mau datang menemui keluarganya. Kalau dia ingin bersama Bisma suruh dia datang," ucap ibu Bisma.


"Sebagai orang tua kita yang datang menemui keluarganya. Dan bicarakan baik baik," bantah ayah Bisma.


"Bisma. Kamu suruh Kasif datang. Berjumpa keluarga mu. Saya mau tau dia apa bisa menerima syarat saya ajukan," ucap Ibu Bisma kesal. Karena tidak mungkin terus terusan melarang Bisma. Lagi pula Furqan sudah bekeluarga. Lebih baik menerima Kasif sebagai menantunya.


"Nanti saya hubungi dia," ucap Bisma setengah tak percaya. Sebab ibunya yang suruh.


Kasif yang mendengar berita dari Bisma sangat senang. Akhirnya ibu Bisma merestui. Tapi dia semakin ragu , apa pendapat keluarganya sendiri.


"Ibu, Ayah saya akan bersama kembali dengan Bisma. Mohon ibu dan ayah ijinkan," ucap Kasif pada orang tuanya.


"Buat apa? Kalau kamu yang bersikeras terserah?" tapi saya tidak mau ke sana.


"Tapi Bu. Cobalah mengerti," pinta Kasif pada ibunya.


"kenapa? Kamu juga tau ibunya tidak bisa menerima kamu? Kamu saja yang bodoh," jawab ibu Kasif.


Antara ibu kasif dan ibu Bisma memang ada permusuhan lama. Itu juga sebab musabab hubungan Bisma Kasif tidak berjalan mulus. Namun kedua pasangan itu sudah nekat. Apapun yang terjadi mereka tetap bersama.


"Ibu buatkan juga saya jehez. Saya dulu ibu tidak bagi apapun. Sekarang beri saya barang barang. Saya dan Kasif tinggal di rumah dinas tempat Kasif bertugas," terang Bisma pada ibunya.


"Baik. Apa yang kamu mau? Nanti kita beli. Sebaiknya kamu dan Kasif pastikan dulu tempat kalian menetap. Nanti kalau kamu sering sering datang ke sini. Trus barang barang hilang," ucap ibu Bisma kawatir.


Betapa bahagia Bisma dan Kasif. Akhirnya hubungan mereka di restui. Tentu Bisma membawa jehez. Semua isi rumah sebagai barang pemberian orang tua wanita.


Aini tau Bisma sudah kembali terang terangan dengan Kasif. Sejak ibu Bisma merestui. Sering Kasif datang kesini. Bahkan ke tempat popo sebelah rumah Aini.


Namun begitu sikap Bisma terhadap Aini tidak berubah. Masih suka jahatin. Bahkan memperdaya huzel. Dan Huzel semakin leluasa.


Hari ini Huzel datang bersama Bisma.


"Popo Akram marah sama saya. Tadi saya mau masuk di larang," ucap Huzel berbohong.


"Akram kenapa kamu larang Huzel ke sini? Ini bukan rumah kamu," ucap Bisma.

__ADS_1


" Bohong! Saya tidak melarang dia. Saya cuma bilang bagi jalan saya mau masuk," ucap Akram membela diri. Sambil masuk ke dalam rumah.


__ADS_2