
Sikap suaminya yang ikut acuh tak acuh bila Aini mengadu membuat kondisi badannya menurun. Kurus sekali. Namun Aini masih berusaha menyelamatkan hidupnya tak mahu kalah diri dan mengambil jalan pintas.
Tidak sekali dua kali Aini seolah ingin mati saja. Tertekan jiwa dan perasaannya tiada yang mahu mendengar keluh kesahnya. Apa lagi teman teman. Yang ada malah semakin menertawakan.
"Aini kamu kok kurus kali," tanya tetangganya.
"Maklum aku punya anak dan anak ku aktif, jadi aku olah raga terus," ucap Aini bohong.
"Ah nggak juga banyak kok orang yang memiliki anak kecil mereka gemuk gemuk," sanggah tetangga itu lagi kurang percaya.
"Yah setiap orangkan beda beda." Sambil tetap berusaha menutupi.
"Ainiiiiii," teriak iparnya.
"Iya ada apa?" tanya Aini lagi.
"Ngapain kamu di luar?" bentak iparnya.
"Lah emang tidak boleh?" jawab Aini ketus.
"Di sini nggak boleh perempuan keluar sembarangan."
"Siapa yang keluar aku di depan rumah aja kok, dan aku tadi cuma mau menyapu tiba tiba aja ada tetangga yang nyamperin," jawab Aini.
Itu memang alasan mereka saja. Memang perempuan di sini nggak wajar kalau keluar tanpa ada keperluan tetapi nggak mungkin jugakan setiap apa yang di lakukan ijin dulu sama mereka.
Seperti kejadian pagi ini Aini sudah bilang tolong belikan chawal karena dia tidak bisa makan roti terus terusan. Yang ada mereka ngomel ngomel nggak bole makan chawal terus.
"Perut perut aku, kenapa nggak boleh?" jawab Aini.
"Tapi kalau makan chawal terus terusan nanti sakit," jawab Iparnya.
"Makanan pokok kami itu nasi atau chawal bahasa kalian, sama halnya dengan kalian makanan pokok roti."
"Pokoknya tidak boleh," jawab iparnya mengada ngada.
"Ada apa ini?" Tiba tiba suaminya datang.
"Sayang saya mau makan nasi eh malah dia ngomel ngomel."
"Tak apa nanti saya beli kan."
"Saya kan sudah bilang. Istri mu jangan di turuti terus kemahuannya," ucapan tidak senang dari iparnya.
"Apa urusan mu larang saya, kalau memang gara gara makan nasi trus saya sakit baru kalian larang, saya justru sakit gara gara tidak makan nasi."
Heran betul dengan sikap mereka. Pernah waktu itu Aini kena selsema wajarkan namanya musim berganti dan mereka menyalahkan Aini yang terus terusan makan nasi.
"Kamu di bilangin nggak ngerti juga, sudah di larang makan nasi terus terusan tetapi tidak mahu dengar," bentak iparnya waktu itu.
Aini cuma diam saja. Jawab pun percuma tetap nggak bisa membantah. Namun jauh di lubuk hati yang bikin sesak adalah sikap suaminya. Sudahlah Aini juga mengurus anak mereka tetapi caci sebelah rumah selalu nyuruh ini itu.
Sebenar nya Aini sudah beberapa kali komplain dengan suaminya namun lagi lagi alasan mereka lebih tua menjadi penyebabnya. Bukan masalah tua atau muda mereka seharusnya nyadar diri dong Aini juga punya anak.
"Aini kamu di panggil caci tu,datang lah."
"Ngapain aku ke sana?"
"Tadi dia bilang minta tolong bantu kerja dia."
"Gaji pembantu la."
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Trus apa saya harus loncat loncat kegirangan?"
__ADS_1
"Dia kan cuma mau minta tolong kamu tolonglah sebentar saja," jawab suami Aini lagi.
"Aku bukan babu dia. Heran saya sama kamu ,kamu sendiri lihat pekerjaan rumah sendiri saya kerjakan, saya tidak minta carikan pembantu. Kenapa saya harus bantu dia?"
"Iya setidaknya kamu ikhlas."
"Enak saja kamu bilang ikhlas saya repot ngurus anak anak kapan kau suruh dia membantu, eh untuk dia kamu malah nyuruh nyuruh saya apa kamu masih waras nggak? Seharusnya kamu marahl.ah istri mu di suruh suruh ini malah ikut nyuruh. Suruh dia kerjakan sendiri."
"Aini kamu di panggil caci," tak lama cacu pula yang datang.
Dongkol kali Aini takut di anggap kurang ajar. Apa lagi cacinya memang punya sifat suka sekali menyusahkan Aini. Di tambah memang dia tau kalau menyusahkan Aini maka tidak akan ada yang bela karena Aini nggak punya saudara di sini.
Waktu itu Aini sibuk sekali ngurus anaknya namun lagi lagi caci memanggilnya. Entah bagaimana caranya bisa membantah. Biasanya yang menyusah kan orang yang tinggal serumah semisal mertua dan ipar ipar.
"Aini nanti datang lagi ke rumah. Bantu saya kerja," ucap caci dengan memaksa.
"Tapi saya sibuk juga. Saya tidak bisa," jawab Aini lagi.
"Sibuk apa? Saya lihat kamu tidur tidur saja," jawab caci lagi tak mau tau. Pokoknya Aini harus mau .
Ingin menjerit rasanya suamiku kau di mana hatimu. Kenapa kau biarkan aku tertekan. Bukan baju dan perhiasan atau pekerjaan rumah yang buat aku stress tapi sikap caci mu itu sungguh buat aku ter tekan.
Di satu sisi aku mengurus anak ku di sisi lain istri cacu mu menjadikan aku babu tak bergaji. Benci marah Aini tak kuasa melawan. Suami lagi lagi menganggap itu wajar. Tolong menolong itu biasa. Tapi bukan itu yang jadi masalah rumah tangga masing masing urus sendirilah pekerjaannya. Kenapa harus Aini yang di suruh bantu bantu.
Tertekan depresi oleh sikap suami dan keluarga nya. Pertengkaran sering terjadi. Bahkan komunikasi dengan suaminya sangat buruk. Tidak ada canda tawa cuma manis depan keluarganya dan membiarkan dia dalam kesedihan.
Bingung marah geram tak tau lagi apa yang akan di kata kan. Anaknya pun terbawa imbas. Antara dia dan anaknya sudah seperti orang asing karena sudah tidak saling memahami bahasa.
Sejauh ini ingin rasanya wanita itu meluahkan nya. Membongkar pelaku drama munafik. Jijik sejijiknya melihat mereka. Yah kepada suaminya semuanya baik baik saja tetapi ber banding terbalik pada anak dan dirinya.
Hidupnya seperti terdakwa yang di hukum. Atas nama orang asing mudah bagi mereka memutar balikkan fakta.
"Hei anak bandel dari tadi ku panggil nggak dengar nggak patuh pada orang tua," hardik cacu suaminya pada anak Aini.
"Ada apa lagi dengannya," tanya Aini heran. Selalu anaknya di permasalahkan.
"Tapi kan bisa jadi dia memang tidak dengar trus kenapa marah marah." Semakin lama Aini semakin muak dengan sikap cacu suami.
"Anak mu memang tidak ada sopan santun kau ajarin anak mu," ucap cacu senaknya.
"Kamu yang lebih tua seharusnya bijak sana kalau manggilnya di bentak teriak siapa yang mahu dengar? Dia kan anak anak mestilah dia asik main, suka nyalahkan orang saja," jawab Aini kesal dan muak.
"Kau yang tidak ngajarin anak mu dengan benar," jawab cacu seperti kanak kanak .
"Kamu sudah tua bisanya ngatur ngatur saja." Kesal sekali dibuat cacu suami nya ini.
"Oh kau sekarang melawan urus anak mu sendiri."
"Mestilah saya urus anak saya sendiri."
Dengan menggerutu cacu suaminya ngomel ngomel. Ternyata dilapor kan ke suaminya dan sudah pasti Aini di salahkan suka bertengkar. Ke esok kan paginya seperti biasa anaknya pagi cacu itu yang ngantar sekolah karena barengan dengan anak adobsin.ya yang sulung. Tapi pagi ini dia nggak mahu ngantar.
Pada hal Aini sudah berapa kali bilang sama suaminya antar aja sendiri anak kita. Biarlah masing masing di antar bapak masing masing.
Namun justru suami Aini marah sama istrinya. Kalau anaknya di jemput cacunya selama dalam perjalanan cacunya ngomel ngomel trus sama anak Aini jadi wajar anaknya sama cacu suaminya nggak patuh.
"In.i semua gara gara kamu sekarang saya tambah susah gara gara kamu bertengkar sama cacu saya," ucap suami Aini menyudutkan Aini.
"Kenapa kamu nyalah kan saya, dia lah yang seharusnya paham dia orang tua," bela Aini tak mau kalah.
"Kalau kamu tau dia orang tua trus kenapa kamu lawan kamu sabar lah," bentak suami Aini.
"Heran betul saya sama kamu , apa yang di buat caci, kamu biar saja. Ikut saja apa yang di suruh cacu kamu, ikut saja aku ini istri kamu dia anak mu kamu mau kita jadi babu," jawab Aini semakin kesal dan muak.
"Ah sudah lah kamu memang tidak paham juga kalau kamu mahu ikut saya trus kenapa kamu tidak patuh saja, kenapa cari gara gara," jawab suaminya.
__ADS_1
"Apa tidak salah kamu. Saya sudah tinggalkan negara saya dan saya tidak punya saudara di sini bukannya kamu bela saya tetapi kamu ikut mengijin kan orang semena mena dengan saya dan anak saya," jawab Aini. Sepertinya bukan salah siapa siapa. Ini murni suaminya tidak membela dia sama sekali. Jadi wajar keluarganya semena mena. Pada dirinya dan anaknya.
"Saya bagi belajar anak saya adat sini. Kamu kalau suka atau tidak kamu diam sajalah, bagaimana dia paham hidup di di sini," jawab suaminya.
"Yah kamu mau saya buat apa yang kamu mau, sementara apa yang saya mau kamu tidak mau tau," jawab Aini lagi.
Lagi dan lagi begitu saja. Cacu dan caci suaminya semakin menjadi jadi jahat sama Aini dan anaknya. Sering mukul kepala anak Aini bagian belakang. Kadang Aini cuma bisa ber doa ya Allah teganya mereka sama saya dan anak saya.
Setiap cacu mukul anaknya wanita itu cuma pasrah dan berdoa Ya Allah pulangkan kembali kelakuan kejam mereka ke anaknya. Saking tak kuasa Aini sering berdoa seperti itu.
"Ini dia kenapa caci?" Aini melihat anak cacinya seperti bayi abnormal.
"Entahlah dia sering begitu , dia sering kejang kejang sendiri matanya terbalik," jawab caci lagi.
"Sudah periksa ke dokter?" tanya Aini.
"Sudah," jawab caci.
"Trus dokter apa bilang ?" tanya Aini.
"Kata dokter otak belakang dan badan sebelah kiri lumpuh."
Deg ....... Jantung Aini bedesir mendengar ucapan cacinya. Dan seperti di ingat kan akan ucapan yang sering dia lontar kan setiap kali cacunya memukul kepala belakang anaknya. Sekarang anak cacu lumpuh.
Betapa sering suami istri ini melakukannya pada anak nya. Kadang mereka sengaja membodohi anaknya. Lalu anaknya merasa di tipu semakin nakal pada cacu caci eh justru caci dan cacu malah menyalah kan Aini.
Pagi ini lagi lagi suaminya bilang ke dirinya kalau kamu tolonglah caci kasihan anaknya minta di urut.
"Kamu tolong lah dia kasihan anaknya," ucap suaminya.
"Kalau kamu kasihan kamu lah tolong", jawab Aini.
Dalam hati wanita itu menggerutu aku sendiri punya anak kecil eh suka suka nyuruh aku. kalau aku memang ada waktu mending aku ber solek kesal Aini.
Yah gimana anaknya nggak kena lumpuh belakang kepalanya. Aini sering melihat cacinya memperlaku kan anaknya sendiri tidak wajar.
Bayangkan saja anak bayinya kalau ngendong tangannya di tarik sebelah. Lalu suka menggoyang goyang kepala maju mundur memang anak jadi ketawa tetapi itu bahaya untuk anak bayi.
Dan anak sulungnya juga memperlaku kan adeknya kasar. Menurut mereka itu wajar saja. Tetapi untuk bayi umur segitu sangat bahaya.
"Caci anak bayi nggak boleh di gitukan. Bahaya untuk otaknya," terang Aini waktu itu.
"Kamu mengada ngada. Anakku tak kan aku celakakan," jawab caci tak suka.
"Saya cuma ingatkan . Memang anakmu. Tapi kalau tidak mau dengar ya sudah. Apa peduli saya," jawab Aini.
Caci punya sifat tak peduli ucapan orang. Menurutnya apa yang di pikirkan nya itu yang benar. Sekalipun menyangkut anaknya.
Hari hari berlalu ternyata anak bungsu cacunya benar lumpuh tidak sembuh. Dia tidak bisa makan sendiri seperti menyuap makanan ke mulut memegang makanan. Bahkan minum pun dia tidak bisa menelan dengan baik.
"Kenapa belum bisa jalan anak caci? Umurnya sudah lebih dua tahun," tanya suami Aini heran.
"Mana saya tau. Tanya ibunya lah dia yang menjaga anaknya," jawab Aini.
Aini pernah beberapa kali melihat cacinya menyuruh orang datang untuk mengurut anaknya. Bahkan di kasih duit. Tapi lagi lagi cacinya meminta Aini yang buat. Karena dulu pernah Aini yang urut. Mereka lihat anaknya senang tidak sakit sakit badannya. Sejak itu sengaja nyuruh Aini terus terusan . Malas Aini ngapain anan sendiri juga punya. Buat apa ngurut anak orang.
Pernah juga anak cacinya jatuh.Mereka panggil Aini. Bukan masalah nggak mau menolong sekarang mereka punya anak kandung sendiri. Baru mereka rasakan sendiri bagaimana rasanya.
Susahnya menjaga anak. Itu anaknya perempuan cacat pula. Sementara dulu mereka selalu ribut ribut soal anak Aini. Apa apa aja salah di mata mereka.
Bahkan waktu Aini nggak ngasih anaknya di gendong oleh caci suaminya. Malah benci sama Aini. Nah sekarang terbukti dengan anaknya sendiri perempuan itu juga kasar. Masak iya ibunya tidak bisa mengurut anaknya sendiri.
Aini bukan tidak mau menolong tapi masak iya Aini di bikin repot sama mereka. Anak anak mereka urus sendiri lah. Deg.... Berdesir darah Aini terngiang ucapan cacu suaminya dulu. Yang mengatakan "anak mu urus sendiri lah."
Ya Allah bukan tidak kasihan melihat anak mereka tetapi Aini juga sibuk dengan anaknya. Namun Aini tidak melihat usaha cacinya untuk membuat anaknya bisa normal. Cacinya justru lebih mementingkan baju kasihan anaknya.
__ADS_1
"Wah banyaknya jahit baju? Untuk siapa ini?" tanya Aini.
"Ini untuk si kecil," jawab cacinya dengan bangga. Memamerkan baju anak anaknya