
"Ingat saya sudah bilang sama kalian. Saya tidak mau ibu saya tau," ucap Akram.
"Yang penting kamu tepatin janji mu. Kita masih di batas wajar. Dan saya tidak mau kita berurusan dengan pihak berwajib. Saya juga tidak mau orang tua saya tau," jawab pemuda itu.
"Makanya kamu yang harus hati hati. Kita tidak mau rahasia ini terbongkar karena , bisa membahayakan keluarga terdekat kita. Saya cuma memberi arahan tanpa ikut pertemuan. Paham?" hardik Akram.
Ternyata Akram terlibat secara tidak langsung dengan tuan tanah yang kejam. Dia tidak segan segan menyuruh orang menghabisi nyawa musuh. Sebenarnya dari luar dia seperti orang biasa saja. Namun penuh kode rahasia.
Tuan tanah yang memiliki bisnis hitam. Yang menjadi pengusaha sekaligus pengatur adat. Dan sudah banyak korban berjatuhan. Akram cuma kebetulan menolong seorang pemuda, yang terlibat dalam bisnis gelap dengan tuan jamal.
"Saya mohon masih ada yang di tawan di pedesaan. Tolong bantu lepaskan mereka," mohon pemuda itu pada Akram.
"Kamu jangan gila. Saya tidak mau terlibat langsung. Kalau kamu mematuhi syarat saya. Maka saya akan bantu. Kalau tidak? Jangan harap ," bentak Akram.
Mereka melepas Akram. Dan Akram segera pulang. Tiba di rumah Aini segera menghampiri anaknya. "Akram apa yang terjadi. Kenapa mereka membawa kamu?" tanya Aini curiga.
"Ami, tidak apa apa. Mereka cuma mau aku ikut gabung dengan mereka tapi aku malas. Ami tau sendiri aku tidak biasa bermain bersama mereka," ucap Akram beralasan.
Laptop
Dor... Dor...
Terjadi kejar kejaran di kampung tempat Aini tinggal. Beberapa hari ini memang polisi selalu berpatroli.
Dor... Dor...
"Kejar... Tangkap dia jangan sampai lolos," teriak pimpinan kelompok itu.
Terjadi kejar kejaran dan suara tembakan yang mengerikan. Aini ketakutan seperti dalam suasana perang. Dikepung musuh.
Tiba tiba brukkk..
Bunyi benda jatuh sangat kuat. Tapi Aini tidak berani keluar. Di peluk erat si Ali dan badannya menggigil ketakutan
"Akhhhh." Diam atau ku tembak kepala mu. Ujar seorang pria bersorban menutupi kepala dan muka. Dia menyergap Akram. Kontan anak remaja itu ketakutan.
"Ssttt tolong diam. Saya tidak akan menyakiti mu. Begitu kamu terima laptop ini saya akan pergi. Plzz jangan serahkan ini kepada polisi," ucap pria itu pada Akram.
"Ini apa?" tanya Akram.
"Nanti kamu akan paham. Saya akan bagi semua paswod kepada mu! Tolong kamu jangan serahkan kepada polisi," ucap pria itu. Dan berlari ke atap atas setelah mengganti bag berisi laptop dengan uang kertas jutaan dolar.
Tiba tiba pria itu berbalik sambil menyerahkan tas kecil. "Ini semua akan membantu mu. Ada beberapa paswod yang akan kamu terima," ujarnya. Lalu melompat lagi ke atas atap.
Akram termenung. Dan bingung. "Akram," panggil Aini. Cepat cepat di sembunyikan Akram laptop dan tas kecil pemberian pria tadi di atas kulkas dapur.
"Iya Ami. Tadi saya di dapur," ucap Akram.
"Cepat ke sini! Jangan keluar, masuk ke dalam," ucap Aini ketakutan.
Benar saja suara tembakan semakin keras.
Dor... Dor... Dor....
Berkali kali terdengar baku tembak. Ibu dan dua anak itu saling berpelukkan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ami ada ini? Kenapa orang orang saling tembak?" tanya Akram.
"Ami juga tidak tau. Kita jangan keluar dulu. Takut salah sasaran. Lebih baik di kamar saja," ucap Aini masih gemetaran saking takutnya.
"Itu dia tangkap. Jangan lepaskan. Kepung,"perintah bos mereka. Tiba tiba suara mobil polisi datang memekak telinga. Suara sirine meraung raung. Dan tiba tiba.
"Tahan tembakan! Kalian sudah di kepung. Letakkan senjata! Ini perintah," ucap letnan polisi.
Pemuda yang tadi menyerahkan laptop merasa lega. Polisi sudah datang. Dan tiba tiba dengan tenang dia keluar sambil angkat tangan tanda menyerah.
"Saya tidak bersenjata," ucapnya maju beberapa langkah. Satu ...... Dua... Tiga.... Empat.... Lima.....pas hitungan ke lima, Dor... Satu tembakan tepat mengenai kepala belakang pria itu.
__ADS_1
Kontan saja polisi bertindak cepat. Dan terjadi baku tembak yang luar biasa. Suasana sangat mencekam. Tak seorang pun tetangga yang berani keluar. Sementara Aini dan anak anak menangis ketakutan teringat Furqan. Entah apa yang akan terjadi.
******
Akhir tahun yang mencekam. Tepatnya di kota Kamalia. Berkali kali terjadi pembunuhan. Yang masih hangat kejadian tiga bulan lalu. Polisi menembaki mobil pribadi yang menewaskan sepasang suami istri. Padahal dalam mobil ada dua anak gadis yang masih kecil kecil.
Ternyata polisi salah informasi. Dan sepasang suami istri meninggal sia sia. Namun kali ini satu kampung banyak korban berjatuhan.
"Cepat. Di sini ada mayat. Di sana ada lima orang. Cepat bawa tandu ke sini," perintah kapten polisi yang bertugas semalam.
Warga masyarakat yang ingin tau mengerumuni para mayat yang bergeletak di lantai. Akram juga keluar. Walaupun sudah di larang Aini.
Tiba tiba deg jantung Akram seakan mau copot. "Bukankah ini pria semalam yang- ."
Akram berlari ke dalam rumah. Ketakutan dan mencari barang pemberian pria itu. Setelah mengingat ingat dia tersadar kalau menyimpan benda itu di atas kulkas.
"Akram. Ke mana kamu Nak?" panggil Aini.
"Iya Ami. Tadi saya ke dapur minum," ucap Akram berbohong. Padahal dia menyembunyikan laptop dan tas kecil itu.
Kesibukan luar biasa di depan rumah Aini. Berpuluh puluh mobil polisi dan ambulan berbaris. Banyak mayat berjejer, sungguh mengerikan. Dan beberapa pemuda di tangkap.
"Semalam ada tidak yang menemui pria ini?" tanya polisi kepada beberapa warga. Salah seorang polisi berbisik dan menunjuk rumah Aini. Karena tadi Akram berlari ke dalam. "Coba kamu datangi rumah ini," ucap salah seorang polisi yang lain.
Tok.... Tok... "Permisi, kami dari kepolisian harap buka pintu!" ucap mereka.
Dari dalam rumah Akram sudah Curiga. Segera berlari masuk menyembunyikan barang titipan semalam. Dan berselimut dalam kamar.
"Kenapa Nak?" tanya Aini.
"Saya demam," ucap Akram sambil menggigil.
"Ada apa? Kenapa kamu gemetaran? Demam mu tinggi Nak! Ayo kita ke dokter," ucap Aini.
"Ami ada polisi di luar. Saya tadi keluar lihat mayat banyak. Saya ketakutan trus lari ke dalam," ucap Akram.
"Maaf kami dari ke polisian mau memeriksa ke dalam!" ucap mereka.
"Atas dasar apa anda memeriksa?" tanya Aini.
"Biarkan kami melaksanakan tugas," ucap mereka lagi.
Tiba tiba mereka menuju kamar Akram. "Mereka siapa?" tanya petugas itu.
"Anak anakku. Mereka demam di tambah kejadian semalam mereka sangat ketakutan," jawab Aini.
"Oh.. Maaf kami telah mengganggu," ucap mereka trus keluar. Mereka saling berbisik. "Ah nggak mungkin dia yang di temui salah satu komplotan itu. Masih bocah ingusan," ucap letnan mereka.
"Apakah anda sudah selesai? Silahkan keluar karena kami akan istirahat. Kami kurang sehat," ucap Aini. Tiba tiba brukkk...... Aini terjatuh. Pingsan! Karena memang saking ketakutan semalam di tambah dalam keadaan sakit.
"Nyonya? Anda tidak apa apa? Nyonya bangun!" teriak salah seorang polisi.
*******
Aini terbangun setelah mencoba mengingat ingat apa yang terjadi. "Aduh kepala ku sakit," gumam Aini. Mana anak anak ku? Akram..... Ali.... Di mana kalian?" teriak Aini lemah.
Tiba tiba pintu di buka rupanya seorang pria tampan memakai baju gamis ala Pakistan. Dan di belakang pemuda itu berjalan beriringan Akram dan Ali.
"Ami jaan, bagaimana keadaan Ami?" tanya Akram dan Ali berbarengan.
"Ami masih lemah sayang. Si siapa dia?" tanya Aini ragu ragu.
"Oh ini paman polisi yang semalam menolong kita Ami," jawab Akram.
"Maaf saya semalam bertugas, menyuruh anak buah saya memeriksa rumah nyonya. Dan saya tiba tiba nyonya pingsan. Saya memerintahkan anak buah memanggil dokter. Sekalian mengobati anak anak nyonya," ucap polisi itu.
Tak lama datang dokter yang memeriksa. "Apa kabar nyonya? Bagaimana kondisi anda? Biar saya periksa dulu," ucap dokter itu.
__ADS_1
"Masih lemah dokter. Kalau bisa infus ini tolong di buka," pinta Aini.
"Mmhhh... Baiklah. Tekanan darah normal. Mungkin anda terlalu letih. Harus banyak istirahat. Jangan lupa vitamin dan obat di minum, ok saya pamit dulu," jawab dokter itu. Lalu sang dokter memberi kode kepada polisi itu untuk keluar.
"Baiklah nyonya saya juga pamit. Semua biaya berobat anda tidak usah bayar. Kami yang bertugas semalam bertanggung jawab. Ok anak anak jaga ibu kalian," jawab polisi itu buru buru.
Di luar terjadi percakapan serius antara dokter dan polisi. Semacam percakapan rahasia.
"Bagaimana Dokter? Apa ada anda menemukan sesuatu yang kita cari?" tanya polisi itu.
"Kalau nyonya itu saya rasa tidak mungkin. Tapi..... bisa jadi anak sulungnya," ucap dokter serius.
"Apa mungkin dokter. Saya semalam ketika nyonya itu pingsan, sudah memerintahkan anak buah saya menggeledah rumahnya. Dan hasilnya nihil," jawab polisi itu.
"Yah saya juga beranggapan saja," jawab dokter itu.
Di balik jendela kamar Akram memeriksa dua pria itu apa sudah keluar. Dan begitu mereka melangkah di gerbang Akram bergegas menutup pintu.
Akram memperhatikan ibunya. Dalam hati dia tidak ingin siapapun tau. Apa pun itu dia akan mencoba mengetahui. Apa isi dalam laptop itu.
Dalam baku tembak semalam ternyata suami Bisma ikut terlibat skandal. Dia di pecat dan di jatuhi hukuman mati. Tentu saja kehebohan di keluarga kala terjadi.
"Tidaaaaaaaaakkkk.... Tidak mungkin. Jangan hukum dia. Abu ji ami ji tolong suami saya. Selamatkan dia!" isak tangis Bisma tak terbendung.
"huhuhu...... Ya Allah tolonglah kami. Kasihanilah kami. Selamatkan dia," tangis Ibu Bisma. Sambil memukul mukul badan histeris Bisma seperti orang kesetanan. Tidak bisa terima kenyataan.
"Jafar bagaimana? Apa sudah baikan?" tanya ayah Bisma kepada Tahira.
Sambil menangis menggelengkan kepala. "Hiks....hik hik huhuhu...Abu ji.. Sa saya tidak tau. Semalam semua sangat mengerikan. Dan Jafar ikut tertembak. Saya di larang menemuinya, huhuhu..hiks....hiks," tangis Tahira.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada kita? Kenapa musibah ini beruntun?" teriak ibu Bisma.
Suami Bisma kaki tangan komplotan itu. Sedangkan Jafar terlibat langsung aksi pembunuhan di desa. Di mana dia ingin menggelapkan uang hasil dari komplotan itu. Yang seharusnya dia serahkan kepada kepolisian.
Nasib Kasif tidak bisa di tolong lagi, karena pengadilan menjatuhkan hukuman mati. Sementara Jafar di pecat secara tidak hormat.
Bisma sejak kejadian itu mengalami gangguan jiwa. Karena tidak bisa terima kenyataan. Sementara Tahira pasrah dengan keadaan Jafar. Ber sukur Tahira punya pekerjaan dari dulu. Jadi dia bisa lepas dengan mertuanya.
"Ami saya mau pulang dulu. Mengambil beberapa helai baju Jafar. Nanti saya akan ke rumah sakit di mana Jafar di rawat," ucap Tahira sedih.
"Pergilah kabari saya cepat," ucap mertua Tahira.
Dengan membawa serta merta Rafi dan Huzel, Tahira pergi naik riksaw."Rafi untuk sementara kita jangan pergi dulu ke rumah dada dadi, karena di sana belum aman," ucap Tahira sambil memeluk anak anaknya. Dan tetap berusaha tegar.
"Mama ji. Papa kenapa? Saya takut mama! Kalau papa tidak selamat. Seperti uncle Kasif," tanya Rafi.
"Jangan takut sayang kita serahkan sama Allah. Semoga Papa kalian cepat pulih," jawab Tahira menenangkan Rafi.
Setelah sampai di rumah mereka. Cepat cepat Tahira turun dan membayar riksaw. Sambil menggandeng anak anaknya masuk.
"Ayo Nak. Kita ganti baju dulu lalu sarapan," ucap Tahira.
"Baiklah mama," ucap mereka serempak.
Mereka tiga beranak menikmati makanan yang terhidang. Namun Tahira tidak bernafsu makan. Memikirkan nasib Jafar.
Kring.. Kring... Telpon berbunyi.
"Apa ini dengan nyonya Tahira?" tanya suara di seberang.
"Iya saya sendiri! Ini siapa?" tanya Tahira. Perasaannya tidak enak.
"Kami dari rumah sakit. Harap anda segera datang karena suami anda sudah meninggal," ucap petugas itu.
Apa???????? Tiiiidaaaaakkkk???" isak Tahira.
"Mamaaaa... Ada apa mamaaa?" tanya Rafi.
__ADS_1
"Papa kalian sudah meninggal," isak Tahira sambil memeluk anak anaknya. Mereka bertiga menangis pilu.