Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Tahun ketiga


__ADS_3

Sudah memasuki tahun ketiga dinegara antah berantah ini. Yah memang tepat negri ini di juluki antah berantah. Karena semua serba terbalik dan semua serba aneh bin ajaib. Contoh saja mereka tau kalau Aini orang asing tetapi justru mereka mendiskriminasikan. Sebagai anak tertua dan menantu tertua tentu anaknya jadi penerus generasi keluarga ini. Namun apa yang terjadi adat merekalah yang justru membuat sikap dan keputusan yang di ambil berat sebelah.


Misal abang tertua bertanggung jawab. Semua termasuk urusan adek adek. Nah yang bungsu nggak bertanggung jawab malah yang bungsu atau adek yang lain dapat perlakuan istimewa. Beralasan adat mereka tidak segan segan memutar balikkan fakta. Misal istri abang beli baju sekalipun adek saudari sudah menikah sebagai abang yang baik harus belikan juga adeknya. Nah kalau tidak cemberut. Lalu pertanyaan kalau abang nggak berduit sementara adek yang sudah di nikahkan ada suami apa masih perlu adat ngasih baju. Nah di sini lah letak ketidak adilan itu di injak injak.


"Bhai ini baju siapa?" tanya adek suami nya.


"Ini baju Aini, jawab suami Aini." Melihat itu adek suaminya cemberut.


"Bhai cuma untuk bini mu aja kenapa aku nggak dibelikan, mhhh iya lah cuma mikirkan bini saja tidak mahu ingat saudari," ujar adeknya.


Mendengar itu Aini jadi muak. Padahal baru semalam iparnya beli baju dua stel dan sepatu dua pasang. Tapi begitu melihat punya Aini masih lagi cemburu.


Dan herannya suaminya merasa bersalah karena cuma membelikan istrinya. Lalu hari ini suaminya pergi bersama iparnya. Aini tidak tanya kemana pergi.


Lalu setelah pulang dari bepergian Aini melihat iparnya membawa kantong plastik bermerek. Yah tanpa di jelas kan pun Aini tau kalau itu plastik dari toko baju. Ia melihat iparnya senyum senang sekali. Dan melihat ke Aini. Aini nggak ngerti maksudnya apa.


Pagi hari seperti biasa Aini kerja rutin ibu rumah tangga. Menyiapkan makanan dan beres beres sementara iparnya masih tidur. Aini nggak bangunkan dia biarkan saja.


"Sayang gula habis nih, beli lah?" ucap Aini pada suaminya.


"Cepat sekali habis, kalau makai gula hemat hemat lah," jawab suaminya.


"Kamu ini bagaimana sih yah wajar habis kita berapa orang di sini?" jawab Aini.


"Tapi saya tak ada uang lagi," jawab suaminya lagi.


"Trus apa harus saya yang cari uang," ucap Aini kesal.


"Bukan begitu semalam adek saya minta baju jadi saya lupa beli," jawab Suaminya tanpa malu.


"Ya Allah...cuma untuk belikan baju dia kamu sampai lupa kebutuhan kita," Ujar Aini heran dan tak percaya.


"Kamu kok ngomong gitu sih? Dia kan adek saya dia ada hak juga sama saya." Tanpa rasa bersalah suaminya tetap bela saudari sendiri.


"Bukan pasal hak atau adek, seharusnya kalian mikir apa perlu lagi dia kau kasih baju pada hal baru dua hari yang lalu suaminya belikan dua layan baju, dan dua pasang sepatu, eh sekarang melihat kamu belikan saya baju dia pun ingin pula."


"Sudahlah kenapa kau jadi marah marah."


"Trus kenapa dia belum pergi dari sini? Dia sudah menikah trus kenapa kau masih bertanggung jawab?"


"Berapa kali saya bilang! Urusan saya dan adek saya kamu jangan ikut campur ini adat kami."


"Kau sangat keterlaluan kalau posisi saya adalah adekmu memang kamu tahan?"


Dengan kesal Aini pergi. Itu bukan satu kali saja iparnya begini. Nah begitu sudah dapat yang di mahu iparnya baru pergi kerumah suaminya.


Sedih pilu cuma itu yang di rasa wanita beranak dua itu. Sejak datang ke sini satu kali pun keluarga suaminya nggak pernah beradat kepadanya tetapi dia dipaksa harus beradat kepada mereka.


Artinya apa yang jadi hak wanita itu mereka bisa semena mena sedangkan apa yang jadi hak menurut mereka sesuai adat, mereka tidak segan segan mendiskriminasi dengan alasan adat dan mereka berhak. Sementara kalau di keluarga ipar suaminya dia juga di perlakukan sama.


Artinya adat mereka sesama mereka juga saling menzholimi. Cuma sekarang Aini blum bisa bicara lancar dalam bahasa sini. Coba kalau dia lancar bicara dengan bahasa mereka tinggal jawab saja.


Ya Allah begitu beratnya terasa hidup di negri antah berantah ini. Nah yang lebih sering kalau iparnya sakit malah datang kesini lalu semua kumpul. Yah maksud biaya semua suami Aini. Mereka tinggal senang senangkan ada abang yang ngurus.


"Bhai saya sakit tolong jemput," pinta ipar Aini pada suaminya.


"Sakit apa?" tanya abangnya.


"Bhai saya demam saya saya... Sakit bhai." Tangisan adeknya membuat suami Aini nggak tega.

__ADS_1


"Kenapa sayang siapa yang telpon?"


"Adek saya dia demam," jawab suaminya.


"Trus kenapa suaminya tidak mengantar dia?"


"Saya yang akan jemput dia suaminya sibuk"


"Oh.."


Dengan kesal wanita itu meninggalkan suaminya. Yah memang begitulah. Kalau sakit datang nyusahin trus pulang kembali. Namanya orang sudah bersuami itu tanggung jawab suaminya lah. Eh mentang mentang ada saudara malah bertingkah. Malah semakin menyusahkan.


"Aini mana adek ku pergi?" tanya suami Aini.


"Mana ku tahu dia tak bilang kemana pergi," jawab Aini lagi.


"Coba cari," perintah suaminya lagi.


"Apa kau masih waras dia katanya sakit tapi pergi keluar, apa itu bukan pura pura namanya?" jawab Aini kesal.


"Kenapa kau bicara seperti itu."


"Saya bicara sesuai kenyataan, dia katanya sakit tapi jalan jalan sana sini."


Dengan sebel Aini mencoba menahan geram. Bukan tidak suka atau tiadak mahu iparnya datang tapi dia kan bukan anak kecil dan dia sudah bersuami. Disini perempuan tabu kalau suka kelayapan. Eh kalau adek suami nggak apa apa alasannya dia sakit mau berobat.


Sebenarnya sikap adek suami karena didikan popo juga dia di adobsi oleh poponya yang tinggal sebelah rumah Aini. Dari kecil popo sangat memanjakan nya. Bayangkan sudah berumah tangga pun masih di layani seperti anak kecil apa pun pekerjaannya popo yang lakukan. Misal mahu mandi di sediain semua bahkan baju disetrikakan trus di masage. Iya sayang, tapi untuk dia setelah menikah itu tidak baik. Makanya ia begitu menikah tidak betah di rumah suaminya.


Sekarang pun sama itu sudah nyata nyata kedatangan karena dia pun tertekan oleh adat keluarga suaminya. Dia diharuskan melakukan pekerjaan rumah semua. Sementara ipar yang lain santai santai ya wajar dia stress. Jadi pelampiasannya dia lakukan ke Aini.


Aini nggak masalah ipar trus saja datang dalam sebulan bisa tiga atau empat kali. Tapi masalahnya Aini juga punya anak anak nggak akan Aini bisa membantu.


"aduuuuhhhh popo sakit."


"Kurang ajar tak pernah diajari sopan santun sama ibu mu". Sambil mukul mukul anak Aini.


"A.duuuuuhhhhh sakiiitttt amiiiii,jerit anak Aini."


"Hei kenapa kau pukul dia?"


"Anak mu kurang ajar kenapa kamu tidak mengajari sopan santun."


"Ami saya tak ada kurang ajar popo nyuruh saya pergi belanja tadi di jalan ada anak anak menggangu saya trus saya pulang, saya tak jadi beli barang trus itu anak datang komplain sama popo dan popo marah marah."


Dengan bahasa yang bisa dikit di pahami Aini. Dia tau sebenarnya anaknya tidak akan menjahati orang kecuali di ganggu.


Betapa Aini sulit membela anaknya sendiri. Betapa semakin ingin Aini bisa segera lancar bahasa sini. Agar bisa menjawab ucapan yang suka membolak balikkan fakta.


Namun suaminya yang diharap bisa mengerti malah menyalahkan Aini yang terlalu berlebihan soal anak.


"Coba kamu yang bilang ke mereka. Kalau anak ku di suruh trus ada yang ganggu anak kita seharusnya mereka bantu bukannya malah ikut menyalah kan," ucap Aini waktu itu pada suaminya.


"Kaulah yang ngajarin anak mu, kamu ibunya. Seharusnya dia nurut ucapan kamu," jawab suaminya lagi tanpa peduli kegelisahan Aini.


"Inji rumah mu keluarga mu bahasa kamu eh malah kamu salahkan saya, dulu saya di larang bicara dalam bahasa saya sekarang anak saya suda lupa bahasa saya sementara saya tidak lancar bahasa sini."


"Siapa yang larang kamu bicaralah pkai bahasa kamu," bantah suaminya.


"Kamu memang sama dengan mereka suka membolak balikkan fakta dulu betapa sering saya bilang ke kamu eh..malah kamu anggap remeh," bela Aini lagi tak mau kalah.

__ADS_1


"Yang dulu sudahlah sekarang fikirkan. Kalau terus ingat dulu tak akan berubah. Paham?"


"Iya kamu enak tinggal bilang sudahlah lalu saya sama anak sudah jadi korban," jawab Aini semakin kesal.


"Siapa yang pukul kamu? Siapa yang pukul anak kamu?"


"Apa???? Heran saya sama kamu sudah jelas jelas saya sama anak kamu di jahatin sama keluarga kamu eh malah bukannya sadar."


Hari ini memang terasa sakit melihat prilaku keluarga suaminya ipar ipar dan cacu serta caci seperti sengaja membuat Aini semakin tertekan. Dan itu semua kalau Aini lancar bahasa sini langsung jawab aja ke mereka.


Dan mereka kalau di jawab pasti malu. Cuma masalahnya Aini sangat tertekan semua di pendam sendiri. Akhirnya badannya kurus kering. Sempat dia mengirim foto pada ibunya. Dan ibunya langsung mengangis.


Tanpa dijelaskan pun ibunya tau kalau Aini tertekan. Namun apa daya itu pilihan Aini. Dan Aini tetap meyakin kan kalau semua akan baik baik saja. Sekalipun Aini sendiri juga tidak yakin akan ucapannya.


Demi anak anaknya Aini memilih bertahan dari pada menyerah kalah pada nasib. Bahkan saking tertekannya Aini sering terbangun tengah malam. Di tambah mengurus bayinya.


Bahkan kesedihan yang di alaminya tidak membuat air matanya jatuh. Tidak pernah dia menangis apa lagi meratap ratap. Makan kurang, baju kurang, namun lagi lagi dia di hadapkan kepada adat kebiasaan di negara ini. Sebenarnya adat nggak jadi masalah bagi Aini. Tetapi di paksa harus ber adat kemereka sementara mereka sedikit pun tidak pernah.


"Aini kamu harus paham adat kami," ucap suaminya waktu itu."Di sini memang harus ikut adat, baru bisa hidup baik," terang suaminya berkali kali.


Ini adat kami ini negara kami kami ada keluarga sedangkan kau tidak punya siapa siapa kamu orang asing. Nah sering itu bicara seperti itu kalau di lapor kan suaminya yang ada suaminya bilang mereka cuma bicara biasa saja. Pada hal itu sebenarnya mereka sengaja membuat Aini tertekan.


Memang ini negara mereka tetapi suratan taqdir yang membawa Aini ke sini. Kalau dia tidak jadi istri suaminya ngapain juga datang ke negara suaminya. Di sini sebenarnya perempuannya terkungkung. Jadi pola pikirnya kampungan semua. Banyak yang tidak sekolah bahkan laki laki pun jarang yang sekolah tinggi.


Di antara adek adek suaminya cuma Anak Aini yang disekolahkan di sekolah standad yang lain bahkan ada tidak sekolah. Di tambah anak yang lain perempuan. Jadi pemikiran mereka buat apa menyekolah kan anak perempuan nanti juga kerja ngurus rumah.


Bukan masalah ngurus rumah cara berpikir mereka terbilang kolot kampungan. Dan saling iri satu sama lain. Lebih lebih pada keluarga abang. Sampai sampai baju dan makanan mereka pun iri.


Jadi kalau menikah dengan anak tertua mereka memang selalu begitu. Kalau anak yang lebih muda malah di perlakukan sebaliknya.


Coba kalau orang tua mendidik dengan cara berat sama di pikul ringan sama di jinjing. Tak kan kehidupan anak anak mereka susah.


Ini tidak malah orang tua yang menjerumus kan anak anak nya kejurang perselisihan. Orang tua lebih membeban kan yang tua. Sekalipun yang tua juga punya tanggungan. Kalau berduit siapa aja nggak masalah. Ini sudahlah miskin malah membanggakan adat.


"Hari ini kita pergi khatam ke rumah saudari saya. Ibu mertuanya meninggal," ucap suami Aini.


"Kapan meninggalnya?"


"Dua hari yang lalu."


"Kamu bawa apa ini? Seperti bungkusan baju?" tanya Aini.


"Iya ini untuk hadiah buat saudariku. Karena dia lagi sedih. Adat kami harus memberi baju sepasang. Nanti kamu yang serahkan."


"Apa ? Jadi artinya dia sedih? Mertua meninggal?" Adat apaan ini.


Bahkan yang seharusnya tanggung jawab suaminya eh malah tetap jadi tanggung jawab abangnya. Wajar kan setelah pada menikah nanti anak anak mereka juga akan memperlakukan hal yang sama .


Jadi orang tua yang mendidik salah. Nah Aini ini yang membuatnya muak. Kita orang indonesia terbiasa mandiri bahkan begitu menikah orang tua tidak punya tanggungan lagi ke anak perempuann. Apa lagi abangnya. Trus kalau begitu apa suami mereka tidak punya malu.


Sudah di kasih barang isi rumah begitu ada masalah masih mengganggu abangnya. Tidak bisa mengatasi masalah sendiri. Wajar adat mereka dengan sesamapun saling menikam. Dengan alasan adat yang di buat buat.


Ada juga saudara laki laki nggak peduli saudarinya di tindas oleh keluarganya. Tetapi dia mandiri tidak manja.


"Tetangga kita malah abangnya tidak peduli pada saudarinya," ucap Aini pada suaminya waktu itu.


"Siapa?" tanya suami Aini.


"Yang tinggal di belakang rumah kita. Tapi justru dia mandiri. Anak anaknya malah punya pekerjaan mapan. Dua anak gadisnya bisu. Namun menikah hidup normal. Ini saudarimu terlalu di manja," jawab Aini.

__ADS_1


__ADS_2