Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Pembalasan Tahira.


__ADS_3

Tahira dengan sabar menanti masa yang tepat untuk membalas. Dan kembali menjemput anak anaknya. Seperti biasa sepulang kerja Tahira sudah biasa sendiri di rumahnya tanpa kehadiran anak anaknya. Namun kali ini dia terkejut karna tiba tiba Jafar datang membawa serta merta anak anak mereka.


"Assalamualaikum," ucap mereka serempak. Sambil membuka pintu dan terus masuk kedalam.


Tahira terkejut tapi melihat anak anaknya dia tersenyum. "Waalaikumusalam," jawab Tahira sambil memeluk anak anaknya.


"Apa kabar Tahira?" tanya Jafar.


"Baik. Kok tumben kamu bawa anak anak ke sini? Ada apa?" tanya Tahira.


"Sudah lama tidak bertemu kamu. Jadi mereka kangen," jawab Jafar lagi.


"Saya tidak lama lama. Anak anak biar di sini dulu," pamit Jafar. Karena memang ibu Jafar sendiri yang menyuruh mengantar anak anak.


"Kamu serius? Nanti ibumu ayahmu , marah!" ucap Tahira.


"Ibu sendiri yang menyuruh saya mengantar anak anak," jawab Jafar.


"Aneh kok bisa? Memang ada apa?" tanya Tahira curiga.


"Kalau kamu tidak mau, yah sudah kamu antar kembali anak anak pada dada dadi mereka," jawab Jafar.


Sambil pamit kepada anak anaknya. " Rafi ,Huzel kamu jangan main keluar. Main dalam rumah saja," pesan Jafar pada mereka.


"Mmm papa di sini tidak asik. Di rumah dada dadi asik. Banyak teman saya bebas main ke luar. Nanti suruh dada abu jemput saya," pinta Rafi.


"Baiklah," jawab Jafar.


Ternyata sudah hampir satu minggu anak anak di rumah ibu mereka. Ya seperti sudah di duga mereka bosan . Dan Tahira juga tidak bisa pulang cepat dari kerjanya.


"Mama ji kami bosan di sini. Antar saya ke rumah dada dadi. Di sana saya banyak teman. Dan saya bebas bermain di luar," ucap Rafi pada Tahira.


Memang ini yang di mau Jafar. Karena dia tau anak anak pasti bosan sendiri di rumah ibunya. karena sudah terbiasa di rumah dada dadi mereka. Di perumahan tempat Tahira ibu mereka sepi anak anak. Kalau di tempat dada abu mereka masih ramai anak anak bermain di luar.


"Kalau mau pulang ke sana suruh dada abu kamu yang jemput," jawab ibu mereka.


"Mama ji. Sekarang. Saya mau pergi ke sana," jawab anak anak serempak.


Tahira bingung apa yang harus di lakukan. Sudah di coba membujuk anak anak dengan hal hal yang menyenangkan. Namun tidak berhasil. Hati anak anak memang lebih dekat dengan Dada dadi mereka. Karena memang di sayang dari kecil.


Rafi diam diam mencoba menelpon Dada abunya, minta di jemput.


"Hallo, dada abu saya mau pulang," ucap Rafi.


"Bukankah sekarang kamu sudah pulang," jawab dada abu mereka lagi.


"Dada abu. Kami mau pulang ke tempat dada. Di sini bosan. Di sana saya bebas. Dada, jemputlah," pinta Rafi.


"Dada tidak bisa. Suruh mama kalian yang antar," jawab dada mereka.


"Rafi. Siapa yang kamu telpon?" tanya Tahira.


Dengan ragu ragu Rafi menjawab. "Dada abu. Saya minta di jemput. Tapi dia tidak mau. Di suruh ami yang antar," jawab Rafi sambil menunduk.


Tahira paham. Anak anaknya kalaupun serba cukup tinggal bersamanya. Namun hati mereka lebih suka tinggal bersama kakek neneknya. "Baiklah mama akan antar kalian," jawab Tahira.


"Benar mama? Oh terimakasih mama," jawab mereka serempak. Sambil memeluk ibu mereka.


Walaupun dalam hati Tahira sedih, namun demi anak anaknya dia rela. Karena memang dari kecil mereka terbiasa bersama kakek nenek.


"Ayo ganti baju. Kita siap siap menuju rumah dada dadi," ucap Tahira lagi.


Sambil berlari anak anaknya segera mandi dan ganti baju. Karena mereka akan kembali ke rumah kakek nenek. Mereka semangat sekali karena di sana mereka bisa main sepuasnya.


"Mama ji. Kami sudah siap berangkat. Ayo kita pergi," ucap anak anak Tahira serempak.


"Wah rapi sekali anak anakku. Ayo kita pergi," jawab Tahira.


Mereka segera ke luar. Setelah sebelumnya memeriksa keadaan rumahnya.


**********


Sesampai di tempat tujuan. Rafi dan Huzel berlari masuk ke dalam rumah menemui dada dan dadi mereka.


"Dada, dadi kami datang," teriak mereka lagi.


"Assalamualaikum, apa kabar abu ji, ami ji," ucap Tahira sambil menyalami kedua orang tua jafar.


"Waalaikumussalam, kami baik baik saja. Kamu bagaimana? Masuklah dulu.Bisma tolong sediakan makanan," ucap ibu Bisma.


"Apa kabar kak Tahira?" ucap Bisma menyalami Tahira sekadar basa basi.

__ADS_1


"Baik. Kamu dan anak bagaimana?" tanya Tahira lagi.


"Baik alhamdulillah," jawab Bisma.


"Kamu hamil lagi ya? Badan kamu gemuk sekali!" tanya Tahira.


"Iya sudah jalan tujuh bulan," jawab Bisma.


"Sudah nanti di lanjutkan. Biar makan dulu mereka," cegah ibu Bisma. Sambil membimbing cucu cucunya ke meja makan.


"Bagaimana selama di rumah sana? Apa kalian tidak rindu sama kami?" tanya dadi Rafi.


"Mmhh sudah tentu kami rindu. Itu sebabnya kami minta mama yang ngantar," jawab Rafi.


Sambil tersenyum penuh arti dadi Rafi membelai kepala cucunya. "Sekarang kalian sudah kembali. Yah sudah baik baik saja di sini, banyak teman anak tetangga kalian tidak akan bosan."


*********


Ada udang di balik batu. Wajar saja keluarga Jafar mengatur rencana supaya Rafi dan Huzel sendiri yang minta di antar.


Tahira bukannya tidak tau, namun dia tetap bersikap wajar. Seperti malam ini percakapan keluarga mengenai rumah yang akan di perbaiki.


"Bajhi Tahira coba lihat. Ini semua desain rumah. Nanti akan ada kamar masing masing. Saya , bhai Jafar dan anak anak. Ami dan abu juga. Nah kira kira kamu suka yang mana?" tanya Bisma.


"Terserah kamu. Ini kan rumah orang tuamu. Jadi saya ikut saja pilihan mu," jawab Tahira santai.


"Eh...tidak bisa. Kamu juga harus pilih. Karena untuk kamu dan anak anak juga ada kamar masing masing," jawab Bisma setengah memaksa.


"Yah sudah sini kulihat. Mungkin yang ini lebih menarik. Atau yang ini. Pilihan saya antara ini dan ini. Menurut kamu bagaimana?" tanya Tahira.


"Yah bagus tadi kita juga ingin yang ini. Yang kamu pilih. Tapi kita sudah kira kira biaya. Dan mahal. Kalau kamu suka yang ini, kita juga suka. Tapi nanti bagian kamar yang kamu pilih , biaya kamu yang kasih," jawab Bisma.


Tahira terkejut mendengar ucapan Bisma. "Oh kenapa begitu? Pilihan kamu saja lah. Terserah mau di buat kamar untuk kami atau tidak. Kami tak peduli. Lagi pula saya sudah punya rumah sendiri," jawab Tahira seperti di bohongi.


Ternyata ini yang kalian mau. Sengaja mengatur siasat agar anak anak memaksa pulang. Lalu setelah pulang malah saya di haruskan ikut bantu merenovasi rumah. Ok saya tidak akan bantu sepersenpun. Pensiunan ayah Jafar ada. Kenapa minta saya? Dulu saya buat rumah sendiri biaya sendiri. Gumam tahira .


"Iyalah kamu ikut bantu. Itukan kamar kamu juga. Nanti anak anak di situ tidur," jawab mertua Tahira.


"Anak anak terserah. Mau di sini apa di sana bersama saya. Kalau untuk biaya buat kamar kami, sebaiknya untuk kami tidak usah di buatkan. Karena saya juga jarang tinggal di sini. Ini kan rumah orang tua jafar. Jadi saya tidak mau ikut campur," jawab Tahira tegas. Karena memang sudah di siasati oleh mereka.


"Kenapa begitu?" tanya Bisma.


"Yah begitu," jawab Tahira.


"Bukan tidak mau. Saya sudah punya rumah sendiri. Lalu buat apa saya buat kamar di sini. Kalau kamu mau ambillah buat kamu untuk anakmu. Kamu kan belum punya rumah. Suamimu masih di rumah dinas. Lebih baik kamu saja yang buat di situ," jawab Tahira lagi.


"Ok terserah kamu. Kalau tidak mau," jawab Bisma.


************


Rumah mulai di bangun. Sudah 70%. Namun biaya masih kurang. Kontan saja ibu mertua Tahira menghasut anaknya. Minta duit sama Tahira.


"Jafar. Coba kamu minta sama Tahira dua lakh. Ini masih banyak kurang. dia juga ada hak di sini. Dia harus bantu," ucap ibu Jafar.


"Nanti saya bilang," jawab Jafar.


Setelah pulang kerja. Setiap hari Tahira sengaja tidak ke rumah tuanya. dan sudah berlanjut satu bulan. Tahira cuma berjumpa anak anaknya di sekolah. Dia tetap menyempatkan diri bertemu di sekolah anak anaknya.


"Tahira kamu di mana?" Jafar menelpon Tahira.


"Saya masih ada pekerjaan," jawab Tahira.


"Nanti pulang langsung ke rumah ibu saya. Ini penting ," jawab Jafar.


"Ada apa? Saya masih banyak kerjaan. Nanti pulang telat. Saya capek langsung ke rumah saya saja. Mau istirahat," ucap Tahira menghindar.


"Pokoknya nanti saya jemput. Saya tunggu di tempat kerja," jawab Jafar setengah memaksa.


Ternyata benar. Sudah sampai waktu isya Tahira baru kelar pekerjaannya. Dan Jafar sudah menunggu di luar pintu gerbang.


"Kamu?" tanya Tahira heran.


"Iya, ayo cepat naik. Sudah malam," ucap Jafar sambil menghidupkan motor.


Terpaksa Tahira ikut. Dan motor melaju kencang. Udara terasa dingin karena musim dingin akan di mulai.


"Assalamualaikum," ucap Jafar.


"Waalaikumussalam," jawab orang orang dalam rumah.


"Anak anak mana?" tanya Jafar.

__ADS_1


"Belum pulang tuition," jawab Ibu Jafar.


"Ayo makan dulu. Sudah di siap kan Bisma," ucap ibu Jafar.


Mereka makan malam dan berbincang bincang. Kadang tertawa dan serius. Sampailah Jafar bicara tentang uang dua lakh sama Tahira.


"Tahira. Bisa kamu bantu dua lakh?" tanya Jafar.


"Buat apa?" tanya Tahira.


"Uang kurang untuk rumah," jawab Jafar.


"Maaf saya tidak ada uang. Saya baru saja membeli ac baru. Nanti motor air mau di perbaiki pula. Jadi saya tidak ada uang," jawab Tahira.


"Juallah gelang yang kamu pakai ini. Lebih dari cukup dua lakh," jawab Jafar.


"Oh tidak bisa. Ini pemberian kakak saya. Dan saya tidak mau menjualnya. Nanti kakak saya marah sama saya," jawab Tahira.


"Kenapa kamu selalu banyak alasan? Ini kan kamar buat kita juga. Untuk kamu dan anak anak," bentak Jafar. Karena Tahira memang tidak ingin membantu.


"Kalau begitu jangan dibuatkan. Saya ada rumah sendiri. Saya juga jarang di sini. Anak anak terserah mereka saja. nggak usah repot repot buat kamar untuk kami. Ini rumah orang tua kamu. Saya tidak mau ikut campur. Ok saya mau pamit," jawab Tahira bersiap bangun dan pergi.


"Ok. Kalau tidak bisa dengan kata kata maka." Jafar menarik tangan Tahira merampas gelang di tangannya.


"Apa apaan ini, lepaskan tangan saya," sambil mengelak.


"Bagi sini," bentak Jafar seperti orang kalap.


"Saya tidak akan bagi," jawab Tahira. Plak satu tamparan keras melayang di pipi Tahira. Spontan Tahira terjatuh mundur.


"Bagi tidak. Kamu ini di bilangin baik baik tidak paham," jawab Jafar.


"Kau...tega aku tidak akan bagi. Dan aku lebih baik tidak punya kamar di sini. Aku pulang ke rumahku ini rumah kalian," jawab Tahira.


"Mama ji kami ikut," ucap Anak anaknya.


"Nggak usah sayang. Kalian besok sekolah pagi pagi. Dada abu kalian yang antar. Mama besok datang lagi. Jangan kuatir," jawab Tahira.


**********


Tahira puas dia senang ,karena bisa membuat mertua dan suami beserta ipar bungkam. Dan sekalipun di tampar Jafar gara gara tidak mau minjamkan uang. Namun dia tetap datang mengunjungi anak anaknya sepulang kerja. Kadang anak anak ikut kadang tinggal.


Rasakan kalian sekarang. Dulu kalian selalu menyusahkan saya. Kenapa sekarang minta bantu buat kamar. Lebih baik jangan di buat untuk saya. Saya bukannya menetap di situ.


Bisma melahirkan bayi perempuan. Maka semakin sibuk ibu mertua Tahira. Uang banyak keluar. Dan Tahira yang di harapkan tidak membantu. Namun kelahiran putri Bisma Tahira beri hadiah.


"Selamat yah buat kamu Bisma," ucap Tahira sama Bisma sewaktu mengunjungi Bisma.


"Terimakasih bajhi Tahira," jawab Bisma.


"Ini untuk putrimu," ucap Tahira sambil menyodorkan kotak kecil.


"Apa ini," tanya Bisma.


"Buka saja," jawab Tahira.


Bisma tersenyum ternyata di dalam kotak sebuah cincin untuk putrinya. Bisma diam saja. Kalaupun hubungan mereka buruk. Namun dia tidak menolak pemberian Tahira.


"Kapan pulang ke rumah," tanya Tahira.


"Mungkin hari ini," jawab Bisma.


Sesampai di rumah. Bisma istirahat. Dan yang bertugas merawat putrinya ibu dan juga orang tua angkat Yasmin. Kadang Bisma datang juga ke rumah di sebelah rumah Aini. Abyan semakin sedih. Di samping Rafi tidak mau main denganya. Dia berharap bisa main dengan Akram dan Ali.


Seperti kejadian hari ini semua berkumpul di sebelah rumah Aini. "Ami ji saya mau main di luar. Ali main dengan abangnya saya juga mau main," rengek Abyan anak laki laki Bisma.


"Pergilah!" ucap Bisma.


"Huzel bhai ikut. Ayo main sepeda," ucap Abyan.


Sementara Ali sedang asik mengayuh sepeda sana sini. Abyan mencoba menghentikan dan tiba tiba Abyan terjatuh.


"Ami ji huhuhu," tangis Abyan.


"Kenapa nangis? Siapa yang buat kamu terjatuh?" tanya Bisma.


Lalu Huzel datang. " Popo ji. Ali yang dorong tadi," ucap Huzel bohong.


"Kenapa main dengan dia. Dia musuh kita. Kamu kenapa tidak paham," jawab Bisma.


Ali masuk menenteng sepeda. "Hei sini kamu. Kenapa kamu dorong anak saya," bentak Bisma.

__ADS_1


"Ali sini,bilang sama mama. Bagaimana kejadiannya tadi," tanya Aini.


"Mama dia yang menghadang saya. Saya sedang naik sepeda. Trus jatuh sendiri," jawab Ali membela diri.


__ADS_2