
Suasana berkabung di kediaman Jafar. Kematian Jafar mengagetkan semua orang. Saling berbisik satu sama lain.
Isak tangis terdengar di mana mana. Tahira tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Sementara ibu Jafar meratapi kematian Jafar. Bisma pingsan berkali kali. Suasana duka sangat mencengkam. Karena ke esokkan harinya Kasif akan di eksekusi hukuman mati.
"Jafarrrr... Jangan tinggalkan kami. Jafarrrrrr....," teriak Tahira. Tak kuasa menahan kesedihan.
"Papa....... Bangun papa..... Jangan tinggalkan kami. Papa....," teriak Rafi dan Huzel.
Para hadirin yang hadir saling berbisik satu sama lain."Jafar sebelum meninggal sudah di pecat tidak hormat," ucap tetangga saling berbisik.
"Iya, dia terlibat dalam skandal itu. Dia ingin mengambil uang yang jadi barang bukti. Seharusnya dia serahkan ke kepolisian. Nah, kejadian semalam membuka kedoknya tentu geng tersebut berusaha membalas," ucap seorang lagi.
"Hei. Jangan sembarangan bicara. Kamu tau dari mana? Nanti di dengar sama mereka ssttt," bisik yang lain.
Jenazah mulai di mandikan. Di iringi isak tangis keluarga. Dan para pengurus jenazah segera menyelesaikan tugas mereka. Di mandikan dan di kafankan.
Selesai jenazah terakhir bersama keluarga. Di beri kesempatan melihat wajah si mayit.
"Jangan tinggalkan saya hiks ....hiks... Huhuhu..... Tolong saya tidak bisa kehilangan kamu. Bagaimana anak anak kita. Jafar....," isak Tahira.
"Tahira... Sudahlah. Kamu harus terima taqdir ini. Jangan kamu sampai mengingkari. Apa yang terjadi sudah kehendak Illahi. Bangun Nak," ucap Ibu Tahira sambil memeluk Tahira.
"Ibu. Bagaimana kehidupan ku Bu? Aku tidak sanggup kehilangan dia? Ibu tolong aku Ibu!" ucap Tahira sesegukkan.
"Sudahlah Nak! Ini taqdir Allah yang tentukan. Kamu kuatlah demi anak anakmu," ucap Ibu kandung Tahira.
Tiba tiba tukang angkat jenazah datang. Dan meminta semua menepi. "Sudah. Semua tolong minggir. Jenazah akan di bawa ke kuburan. Tolong semua menepi," ucap beberapa orang.
"Anakku......Jafarrrrr...jangan tinggalkan ibu nakkk," teriak ibu Jafar. Kehilangan kesadaran, menangis sejadi jadinya.
"Sudahlah. Tabahkan hati mu. Kasihan menantu dan cucu mu. Kalau kamu bersikap seperti ini," ucap ayah Jafar.
"Bagaimana saya sanggup kehilangan dia. Anakku satu satunya," isak ibu Jafar.
Satu persatu pelayat mulai pulang. Dengan suasana yang mencengkam. Tidak ada yang berani bersuara. Karena masih trauma dengan peristiwa tempo hari.
******
Malam pertama keluarga kehilangan Jafar. Semua masih bersedih. Namun ibu Tahira mencoba mengajak anaknya pulang.
"Tahira. Dengar Nak. Ini kesempatan kita untuk membawa Rafi dan Huzel pergi. Ibu bukan ingin menjauhkan mereka dengan dada dadinya. Tapi kita tidak punya kesempatan lagi," ucap ibu Tahira.
Sejenak Tahira termenung. Lalu dia tersadar seketika. "Benar. Ini kesempatan kita untuk lepas dari keluarga Jafar. Ayo Bu! Kita pergi diam diam," ucap Tahira. Bergegas Tahira berkemas dan diam diam keluar dari rumah mertuanya. Karena kalau ketahuan pasti akan di hadang.
"Taxi. Tolong segera berangkat. Ibu nanti saya akan cari tempat jauh dari sini. Dan kita akan tinggal di sana," ujar Tahira.
"Nanti kamu atur saja. Kita bawa sejauh mungkin anak anak," ucap ibu Tahira.
"Kesempatan tidak akan datang lagi. Lebih baik sekarang kita lakukan," ucap Tahira mendendam atas perlakuan ibu Jafar selama ini.
Di kediaman Orang tua Jafar. "Mana cucu cucuku, Huzel... Rafi... Tahira juga tidak ada?" tanya ayah Jafar.
"Tadi mereka masih di sini. Beberapa minit yang lalu. Coba hubungin nomor hp Tahira," ucap ibu Jafar.
__ADS_1
Kring..... Kring..... Tut...tut..
Bunyi telpon masuk di hp Tahira. Namun sengaja dia matikan. Tahira sudah siap siap kabur bersama anak anak. Kalau tidak nasibnya tentu akan jauh lebih buruk nanti.
"Ayo...anak anak kita berangkat. Ibu ayo bawa ini saya akan mengunci pintu," ucap Tahira.
"Ayo anak anak masuk mobil. Nanti kita telat sampai di terminal. Kita harus buru buru," ucap ibu Tahira.
"Kita mau ke mana Nani?" tanya Rafi. Nani panggilan nenek dari pihak ibu.
"Sayang kita akan menjauh dari sini. Sekarang tempat ini sudah tidak aman lagi," ucap Nani ami Rafi.
"Ayo berangkat," ucap Tahira pada sopir.
Mereka melaju naik mobil menuju terminal. Tahira mengirim pesan singkat pada keluarga Jafar. Jangan pernah cari kami lagi.
Kontan saja keluarga Jafar yang baru di rundung kesedihan semakin gelisah. Berbagai dugaan mengarah kepada Tahira.
"Apa dia lakukan? Apa maksudnya? Apa dia membawa lari cucu kita?" tanya ibu Bisma gelisah.
"Entahlah. Saya suruh orang mencari tau keberadaan mereka," ucap Ayah mertua Tahira.
Keesokan harinya. Giliran Bisma yang terguncang. Kematian Kasif suaminya benar benar membuat Bisma terpukul. Tanpa pesangon dan pensiunan untuk anak istri Kasif.
Bisma sekarang cuma bergantung pada pensiunan ayahnya, yang seorang mantan polisi juga. Jenazah Kasif tidak di benarkan di perlihatkan kepada anggota keluarga.
Setelah di kebumikan suasana duka yang beruntun membuat mereka terguncang. Sedang Tahira hilang bak di telan bumi. Tiada kabar berita.
Aini selalu mengabarkan apa yang terjadi pada Furqan. Dan berharap Furqan segera menjemputnya beserta anak anak.
Hari ini masih suasana berkabung di keluarga Kala Furqan. Dan Aini menelpon Furqan mengatakan apa yang terjadi. " Sayang. Sungguh sangat mengerikan. Kejadian beberapa hari yang lalu saya sangat ketakutan. Tolonglah segera bawa kami ke sana!" pinta Aini.
"Di sini banyak tetangga yang di tangkap. Sebelah rumah kita, di depan dan yang di ujung jalan. Entah karena politik yang lagi memanas atau memang sekarang sudah tidak aman lagi, kalau kamu di sini time kejadian itu. Maka kamu sudah pasti di tangkap juga," ucap Aini ngeri. Membayangkan kalau Furqan ada di sini.
"Tahira ke mana dia? Apa ada kamu bicara sama dia?" tanya Furqan.
"Saya sejak kejadian malam itu. Tidak ke mana mana. Anak anak kebetulan libur satu bulan. Saya tidak tau kabar dia. Cuma saya dengar saja dia membawa lari anak anaknya," ucap Aini.
"Kasihan dia," ucap Furqan.
"Bagaimana mau kasihan. Itu nasib dia. Kalau dia di sini sudah pasti mertuanya akan mengambil anak anaknya. Sekarang dia memang mau kabur. Dari pada terus di sini. Sengsara di buat mertua. Kamu tau? Jafar di pecat sebelum kejadian malam itu. Nah dia terluka dan meninggal. Dia tidak meninggalkan pensiun," ucap Aini.
"Ah yang benar? Kok bisa?" tanya Furqan.
"Entahlah. Kabar yang beredar begitu!" ucap Aini.
"Sayang saya takut dengan pacar Inza. Kata orang dia juga terlibat. Nanti terbawa pula anak kita," ujar Aini cemas dan was was.
"Kamu dan anak anak biasa saja. Seperti dulu kamu tidak bicara banyak dengan mereka. Sekarang lebih baik langsung tak usah berhubungan. Saya akan cepat membawa kamu ke sini," ucap Furqan meyakinkan Aini.
*******
Sudah satu bulan kejadian mencengkam berlalu. Desas desus tuan Jamal semakin kejam.
Baru baru ini ada beberapa anak muda di jebaknya. Lalu mereka terpaksa mematuhi segala perintah tuan Jamal.
__ADS_1
"Saya melihat bersama pemuda itu tempo hari," ucap tuan Jamal. Pada beberapa anak muda yang sempat menemui Akram
"Aku tidak tau apa apa, lepaskan kami. Biarkan kami pulang," mohon pemuda satu lagi.
"Tidak bisa! Kamu harus mau melakukan ini. Kalau tidak keluargamu akan mendapat hukumannya," ucap tuan Jamal beringas.
"Jangan tuan saya mohon kasihanilah kami," ucap mereka.
"Tidak bisa! Besok kalian harus berangkat ke desa tempat persembunyian. Sebelum berangkat kalian silahkan beri alasan apapun pada keluarga kalian. Dan ingat jangan bawa bawa nama saya. Kalau kalian melanggar maka keluarga kalian akan membayar mahal," bentak tuan Jamal.
Para pemuda itu ketakutan. Mereka pulang menemui keluarganya masing masing. Ternyata ada satu pemuda yang mencoba memberitau keluarganya.
"Ibu saya akan pergi tolong lapor ke polisi. Saya." Tiba tiba Dor. Pemuda itu tergeletak tak bernyawa. Sebuah peluru bersarang tepat di keningnya. Rupanya mata mata tuan Jamal selalu mengawasi.
Para pemuda yang lain semakin ketakutan. Dia mencoba menenangkan diri namun tak dapat di pungkiri mereka ketakutan.
Keesokkan harinya para pemuda itu menghilang di kampung itu. Dan semakin bertambah huru hara ketakutan masyarakat setempat.
Sepertinya kampung mereka tiada henti di teror musibah beruntun. Kehilangan para pemuda tersebut tetapi tidak merisaukan keluarga mereka. Aneh.... Ya sangat aneh. Bagaimanapun tuan Jamal menyuruh mereka pergi menjadi pekerja kaki tangan komplotan mereka. Di kampung justru tuan Jamal memberikan kehidupan yang layak kepada keluarga mereka.
Tuan Jamal juga tidak akan segan segan untuk membunuh para pemuda itu. Kalau ketahuan menyalahi perintah. Kalau patuh maka mereka aman dan keluarga yang di tinggal juga aman.
"Kawan bagainana nasib kita ini? Apa kah akan selamanya begini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Entahlah. Kita sekarang patuh saja dulu. Bukankah yang mereka ingin kan keahlian kita di bidang teknologi. Cuma saya tidak tau siapa yang di titipi laptop itu," ucap yang lain.
"Apa mungkin dititipkan kepada orang di luar kampung kita. Saat kejadian dia yang di kejar terus masuk ke kampung dan meloncati atap rumah tetangga. Kejadian begitu cepat," ucap teman satu lagi.
Para pemuda ini adalah anak anak jenius. Tetapi mereka tidak pernah mengeyam bangku sekolah. Jadi kepintaran mereka dari keluarga yang berprofesi di bidang teknologi.
"Atau jangan jangan Akram," ucap yang lain berbisik. Takut tedengar
"Sssttt... Jangan keras keras. Kita bisa membunuh seseorang kalau salah bicara. Kalau memang Akram saya setuju. Dia pintar luar biasa. Sangat jenius. Kita jangan sampai menyebut namanya lagi. Ini berbahaya untuk semua. Bukan saja dia kita di sini akan langsung mereka bunuh. Untuk sementara lebih baik jangan kita bicara soal laptop," ucap yang lain.
Mereka angguk angguk setuju. Tiba tiba ada kode rahasia terhubung. "Sstt diam. Mari buka komputer. Ada pesan masuk. Dia meminta kode. Bagaimana ini? Bagaimana kita tau?" tanya pemuda itu pada kawannya.
"Opss... Kamu lupa. Ada di salah satu tawanan. Coba periksa lagi ke para tawanan," ujar yang lain.
Mereka bergegas mencari tau. Satu persatu di teliti para tawanan tuan Jamal seperti ketakutan. Tiba tiba salah seorang tawanan memberi kode. Dan yesss dapat.
"Sudah dapat. Ayo kirim ke mereka," ucap pemuda yang lain.
******
Di kediaman Aini. Rupanya Akram yang meminta kode tersebut. Yess dapat. Satu kali tekan terbebas puluhan orang di desa di mana di situ para pemuda itu di tahan tuan Jamal.
"Ok. Sekarang saatnya. Bismillah. Klik, cepat sending," gumam Akram. Sukses.
Akram sudah mengirim bantuan ke beberapa tempat sekaligus. Tiba tiba ada kode masuk di komputer tuan Jamal. "Cepat... ." Tuan Jamal berlari secepat kilat menemui para pemuda tadi. "Cepat cari," ucap tuan Jamal.
"Ya tuan. Ini sedang saya proses. Ternyata di beberapa tempat berbeda. tidak ada satupun di Kamalia. Artinya mereka di luar Kamalia.
"Bagi kode Bank tempat dia transfer uang saya," ucap tuan Jamal kesal.
"Sebentar. Klik."
__ADS_1
Semua heran karena tempat transfer bukan Bank. Melainkan pasar tradisional. Untuk mengelabui mereka di buat Bank.
Di tempat Lain Akram tersenyum puas. Karena berhasil mengelabui mereka. "Mmmhh awal yang bagus," ucap Akram.