Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Kisah 7


__ADS_3

"Lepas kan ibu saya," bentak Busra. Sambil berusaha membantu ibunya dari cengkraman kaki tangan Kazem.


"Kalian akan mendekam di penjara. Sampai saya tau rencana busuk kalian," paham bentak Kazem kasar.


Melihat kejadian itu. Asnen mengirim sms sama Inza minta tolong datang. Dengan alasan teman supaya bisa mengajak Busra ke pasar. Untuk membeli acara perlengkapan pernikahan.


"Bawa mereka cepat," bentak Kazem.


Tiba tiba penjaga gerbang datang melapor kalau ada wanita muda mencari Busra. "Tuan ada yang mencari Busra bibi," ucap penjaga itu pelan .


Kazem memandang curiga pada Busra. "Oh.. Silahkan suruh masuk. Kita lihat mau apa ke sini" perintah Kazem sangar.


"Baik tuan," jawab si penjaga gerbang sopan. Dan bergegas menuju gerbang jagaannya. "Anda sedang di tunggu Busra bibi. Silahkan terus masuk." Tanpa curiga Inza terus masuk.


"Apa kabar Kak Busra? Apa anda ada waktu. Tolong antar saya ke pasar. Saya ada keperluan," pinta Inza polos. Karena memang Inza tidak tau apa apa.


Busra melirik Kazem. Trus ia berkata " kenapa tidak. Saya akan siap siap dulu. Silahkan kamu tunggu saya di sini," tunjuk Busra ke sebuah kursi. Sambil melirik ibunya memberi isyarat. Dan ibunya mengangguk.


"Baik lah Kak," jawab Inza.


Dalam hati Busra bersukur dengan kedatangan Inza. Begitu Busra berlalu di depan Asnen dia tersenyum penuh arti. Karena dia tau Asnen yang menyuruh.


"Baik lah saya sudah selesai ayo kita berangkat," ucap Busra bibi.


"Baik lah," jawab Inza.


"Saya akan pergi ke pasar. Apa ada yang mau kamu titip," ucap Busra kepada Kazem. Kazem menatap Busra dengan tatapan sangar. "Ok. Baiklah kalau tidak ada saya akan pergi. Tanpa perlu ijin dari kamu," ucap Busra penuh kebencian.


Mereka keluar melalui gerbang naik mobil Busra. Busra mengendarai sendiri.


"Inza kalau boleh tau. Apa kamu kenal baik Akram," pancing Busra.


"Kenal kenapa?" tanya Inza balik. Sambil menatap Busra aneh kok tiba tiba nanya Akram. Apa hubungannya dengan Busra.


"Ah tidak. Saya lihat anak itu rajin sekali. Setiap hari ambil air minum dekat filter rumah saya," alasan Busra.


"Oh. Dia anak sepupu saya. Abang Furqan. Tinggal sebelah rumah saya. Dan ibunya orang asing. Dia anak yang nakal. Selalu mengganggu kami," ucap Inza setengah berbohong.


"Tapi orang orang bilang dia anak yang jenius," pancing Busra.


"Kalau soal itu saya tidak terlalu yakin. Karena hubungan kami tidak baik. Dan saya jarang bicara dengan mereka. Tapi ada apa kak Busra menanyakan dia. Apa ada masalah?" tanya Inza curiga.


"Ah tidak. Semalam saya ingin langsung bertanya waktu ketemu dia. Tapi saya tidak sempat," elak Busra mencoba menutupi.


"Kalau Kak Busra ingin tau banyak tentang dia, datang saja ke rumah ku," jawab Inza tiba tiba.


"Mmhh good idea. Nanti sepulang dari pasar kita ke rumah mu ok," jawab Busra.


Lalu dua wanita itu berkelana di pasar. Membeli keperluan perkawinan. Dengan berbagai pernak pernik yang sebenarnya justru tidak di butuhkan.


"Ok sudah cukup ini semua. Kita langsung pulang saja. Kak Yasmin! Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Inza sambil memeluk Yasmin.


"Iya kabar saya baik. Kamu bagaimana?" tanya Yasmin.


"Oh ya kenal kan. Ini Yasmin kakak kandung abang Furqan. Kak Yasmin kenalkan ini teman saya Busra bibi. Dia orang kaya loh," bisik Inza ke telinga Yasmin. Busra tersenyum mendengar ucapan Inza. Dan melihat kepada Yasmin.


"Saya Yasmin. Sepupu Inza," ucap Yasmin.


''Saya Busra anak mendiang tuan Jamal," ucap Busra promosi. Karena dia tau wanita seperti Yasmin mudah di perdaya. " Oh ya bagaimana kalau kita mampir sebentar. Saya mau membeli sesuatu," pancing Busra. Kesempatan ini tidak di lepaskan oleh Busra. Untuk mengenal Akram lebih jauh.


"Oh boleh," jawab mereka serempak.


Busra membeli beberapa potong kain yang harga mahal. Sengaja di beli untuk Yasmin dan Inza. Sebagai pemulus niatnya masuk ke dalam kehidupan keluarga Akram.


"Ini untuk kalian. Anggap sebagai hadiah dari aku," ucap Busra tersenyum menang. Tentu saja ke dua wanita itu tidak bisa menolak. Apa lagi kain yang di beli Busra harga mahal dan tentu kualitas bagus.


"Ah yang benar. Kamu baik sekali. Terimakasih," ucap Yasmin tak henti henti melototi pemberian Busra.


"Terimakasih ya Kak," ucap Inza.


"Sudah. Jangan sungkan sungkan kalau ada yang mau di beli lagi bilang saja. Biar saya yang bayar," jawab Busra.


"Tentu tentu.. Saya akan hubungi kamu," ucap Yasmin tanpa malu. Dalam hati dia senang sekali belum pernah ada orang sebaik ini kepadanya. Tentu saja dia mau menerima.

__ADS_1


Lalu mereka pulang bertiga naik mobil Busra. Selama dalam perjalanan pulang mereka tertawa gembira. Dalam hati Busra sebenarnya tidak terlalu menyukai mereka. Namun demi siasat menyelidiki Akram dia terpaksa.


"Oh ya Yasmin. Bagaimana hubungan mu dengan Akram?" pancing Busra.


"Biasa saja? Memang ada apa?" tanya Yasmin heran. Kenapa tiba tiba Busra bertanya Akram keponakannya. Kalau pun hubungan nya dengan Aini tidak baik baik saja. Tetapi Akram adalah anak abangnya.


"Dia anak yang berbeda, tidak seperti kebanyakan anak anak di kampung ini. Pintar intelijent," jawab Busra.


"Oh... Ya dia termasuk anak jenius. Tapi sedikit keras kepala. Sejak kapan kamu kenal Akram?" tanya Yasmin heran. Tapi dalam hati justru dia mendapat idea untuk mengenalkan Busra dengan Akram.


"Saya ingin kenal dia. Bisa kamu kenalkan?" tanya Busra serius.


"Kenapa tidak? Nanti kita sampai kamu mampir lah ke rumah popo ku," ucap Yasmin senang.


Busra mendekat kan kepala sambil berbisik. "Kenalkan aku dengan keponakan mu maka aku akan bagi hadiah kepadamu," ucap Busra.


"Baiklah," angguk Yasmin senang dan heran. Karena seolah ada kesempatan yang tidak mungkin di sia siakan nya.


Mobil sampai di Kamalia. Dengan kecepatan sedang karena Busra memang ingin berlama lama untuk bercerita dengan Yasmin.


"Ayo mampir dulu," ucap Yasmin.


"Baik lah," ucap Busra. Sambil turun dari mobil mengikuti Yasmin masuk ke dalam. Inza juga turun dan masuk ke rumahnya. Sebelumnya dia pamit sama Busra.


"Kak terimakasih atas semua hadiahnya," ucap Inza.


"Sama sama," ucap Busra berlalu.


Yasmin masuk kebetulan Aini ada di dapur. Karena rumah popo Yasmin memang sebelah rumah Aini.


Lalu Yasmin mengajaka Busra masuk. Dan memberi minuman pada tamunya. Sedang Aini tidak curiga apa apa dengan kedatangan Busra.


Tidak lama Akram masuk. Lalu Yasmin memanggilnya. "Akram sini," panggil Yasmin.


"Apa kabar popo?" tanya Akram.


"Baik. Kenal kan ini teman saya Busra," ucap Yasmin.


"Saya Busra. Senang berkenalan dengan mu. Kelas berapa?" tanya Busra penuh selidik.


"Saya kelas 8," jawab Akram.


"Masha Allah," ucap Busra.


"Oh ya saya pamit dulu. Ada kerjaan," jawab Akram. Tiba tiba Akram merasa ada sesuatu yang aneh dengan Busra. Seperti curiga. Wah gawat ini. Kalau sudah sampai dia mulai mencurigai aku batin Akram.


"Silah kan," ucap Busra masih mencoba untuk tidak ceroboh.


Sejenak Akram pergi ke dapur. Dan pura pura buang sampah. "Ami ji saya mau buang sampah ini. Sudah penuh ini," ucap Akram pada ibunya.


"Baik lah hati hati, oh ada popo mu. Apa kabar Yasmin? Ini siapa?" tanya Aini sambil menyalami tamu.


"Saya baik. Ini Busra teman saya," ucap Yasmin.


"Aini. Istri abang Yasmin," ucap Aini.


"Busra. Teman Yasmin," jawab Busra. Sambil tersenyum. "Yang tadi anak mu yah? Dia sangat pintar dan sopan," lanjut Busra.


"Masha Allah. Iya sudah besar. Kamu sudah kenal," tanya Aini.


"Yah tadi," jawab Busra. Sambil memandangi Aini dari atas ke bawah. Dengan maksud menyelidiki. Kira kira Aini orang seperti apa? Dan Furqan seperti apa? Banyak yang ingin di ketahui Busra bibi.


"Ami saya berangkat dulu," ucap Akram pamit.


"Cepat pulang ya. Jangan ke mana mana langsung pulang," ucap Aini.


"Baik ami," jawab Akram. Awass nanti kalau tidak ku buang akan sulit. Harus segera buang. Kalau tidak bajingan bajingan itu akan menghabisi keluarga ku sekarang juga. Sebelum mereka sempat tau lebih baik aku yang buang duluan. Kalian ingat aku bodoh. Memang dasar penjahat.


Akram pergi membuang sampah sekalian laptop itu. Dan sedikit memberi isyarat kalau hr ini akan ada pengiriman yang ke 4. Sudah tentu kaki tangan Kazem sudah bergerak. Cepat cepat di selesaikan misinya.


******


"Tuan ada pengiriman cepat ke tempat tujuan," lapor kaki tangan tuan Kazem.

__ADS_1


"Cepat bergerak. Kenapa kita ke colongan lagi," teriak Kazem geram.


"Tapi sekarang tidak ada kaitannya dengan Busra bibi. Karena para pemulung yang di dapati sekitar tempat itu. Tidak di perkantoran atau bank," ucap kaki tangan Kazem.


"Bukan masalah di mana tempatnya. Selama ini kita juga terkecoh baik pasar, kantor dan lain lain. Sekarang fokus cari kode itu," ucap Kazem geram.


Mereka bergerak cepat. Menyusuri arah yang di maksud tetapi alangkah kaget semua. Ternyata tidak ada satu sampah pun di situ. Rupanya sedang ada pembersihan besar besaran di tempat itu. Tepat setelah Akram membuang laptop itu.


Busra mendapat sms dari Asnen. Kalau Kazem sudah bergerak. "Maaf Yasmin saya harus pulang. Ada kerjaan," pamit Busra. Di depan gerbang Akram berpapasan dengan Busra tersenyum penuh arti.


"Lima puluh," ucap Akram. Sambil menatap Busra.


Deg..... Busra terkejut. Dan benar dugaannya. Akram sudah membuang laptop itu.


"Jadi- ," ucap Busra. Sambil menatap tajam Akram. Benar benar licin anak ini pikir Busra.


"Kenapa?" tanya Akram. Langsung bertanya pada Busra.


Tanpa menjawab Busra langsung pulang. Dalam perjalanan pulang Asnen mengabarkan kalau Kazem sudah menembaki beberapa pemulung sampah.


Ah... Kenapa aku lemah tadi. Seharusnya langsung ku rampas saja pikir Busra.


Di tempat Kazem. Selalu mencari tau keberadaan laptop itu. Sementara Busra sudah sampai di rumah sebelum masuk di persimpangan dia terkejut. Ada seorang pemulung melempar box ke dalam mobil. Kebetulan pintu jendela terbuka. Mobil jalan pelan jadi mudah untuk melempar.


"Hei. Siapa kamu?" teriak Busra. Pemulung tadi sudah lari menjauh. Dengan penasaran Busra membuka isi box.


Deg... Jantungnya berdebar keras. ternyata itu yang di cari nya selama ini. Cepat cepat di bawanya masuk dan memeriksa.


"Ah aku jadi tidak mengerti. Justru sekarang datang sendiri. Bahaya ini kalau Kazem tau," bisik Busra. Busra mencoba memeriksa semua account. Dan mengarah atas nama ayahnya. Yayasan tuan Jamal.


Semakin bingung Busra di buatnya. Setiap kode terkirim itu atas nama Ayahnya. Tetapi di sisi lain justru ayahnya menghilangkan banyak nyawa. Demi laptop ini.


"Apa maksud pemilik laptop ini. Kalau semua sudah teroganisir kenapa harus membuat laptop seperti penting. Bagaimana mungkin tidak tercium sama sekali," gumam Busra heran.


Dor... Dor..... Beberapa tembakan dari seseorang yang kecewa. Seorang Kazem. Dia menembak pistolnya berkali kali.


Busra keluar tersenyum. " Bagaimana? Sudah dapat hasil buruan mu?" ejek Busra dari teras rumah.


Kazem mengarah pistol ke Busra. Tapi Busra tidak takut. "Kau pasti mati di tangan ku. tapi nanti. Kematian mu terlalu mudah untukku," ejek Kazem.


"Sekarang tidak ada gunanya laptop itu. Karena sudah terorganisir. Sekalipun ketemu kamu tetap tidak akan bisa mengubah kodenya. Lebih baik lupakan saja," ucap Busra.


"Eit. Tunggu dulu, dari ucapan mu sepertinya kamu tau keberadaan laptop itu?" ucap Kazem curiga.


"Terserah apa yang kamu tuduhkan," ucap Busra. Karena sebelumnya Busra sudah meletakkan laptop tersebut bersama beberapa laptop di ruang kantor. Berjejer laptop di situ.


"Periksa kamar Busra bibi. Cepatt..." perintah Kazem semakin geram.


Semua bergerak menusuri seluruh ruangan termasuk kamar Busra. " Tuan tidak ada yang aneh di temukan," lapor kaki tangan Kazem.


"Tidak mungkin. Cari lagi pasti ada," teriak Kazem sangar. Sambil masuk ke dalam dan memeriksa sendiri. Tiba tiba dia melihat ada yang aneh di kantor. Yang tidak biasanya laptop sebanyak itu di situ. " Tunggu. Siapa yang menambah laptop ini," tanya Kazem.


"Saya," jawab Busra. Sambil masuk ke ruang kantor.


"Apa maksudnya," tanya Kazem. Sambil menodong pistol ke kepala Busra. " Hei wanita murahan. Untuk apa kamu berbuat seperti itu? Apa kamu mau semua foto foto mu di sebar ke sini," ejek Kazem sinis.


"Di sini salah satu laptop yang kita cari. Karena sudah terprogram dengan baik, jadi semua laptop bisa di programnya. Hilang satu copy sepuluh," ucap Busra.


"Bagaimana kamu tau," jawab Kazem penasaran.


"Sama seperti hal nya kamu memberi karyawan yang jujur. Tentu ada penilaian," terang Busra.


Tiba tiba Kazem mengambil Pistol yang ada di meja. Sambil menodong ke arah Busra. " Cepat tunjukkan yang mana satu laptop itu atau tidak kau akan segera mati," ucap Kazem


"Aku tidak takut ancaman mu. Sekali lagi kamu menyiksa aku maka aku akan menghabisi kamu juga," ucap Busra berlalu.


Kadang aku berpikir justru sebaiknya ada di tangan Akram saja. Dari pada di tangan Kazem.


"Hei kamu tidak bisa mengelak lagi. Harus bagi tau sekarang juga. Sambil menarik tangan Busra.


"Lepas saya. Jangan paksa saya berbuat lebih," ucap Busra.


Dor... Tiba tiba Kazem tertembak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2