Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Nasib Tahira


__ADS_3

Setelah kabar kehamilannya terdengar oleh mertuanya. Mertuanya mengatur siasat. Bagaimana caranya agar nanti Tahira bisa melahirkan di rumah mertuanya. Namun di sisi lain Tahira bersikeras untuk bertahan di tempat kerjanya.


Ibu Tahira yang mendampingi putrinya dari awal sangat sedih dan tertekan. Sementara Jafar mulai terhasut oleh ibunya. Dia mulai mengatur rencana sesuai permintaan ibunya.


"Ibu, saya mau kerja dulu, ibu jaga diri baik baik," pamit Tahira ke ibunya. Tahira bisa memahami kegundahan ibunya. Tekanan adat sulit untuk bernegosiasi. Namun kalau dia tidak berusaha mencari uang sendiri sama sulitnya bertahan. Lebih baik dia tetap bekerja apa pun resikonya.


Di tempat ke diaman keluarga Jafar. Ibunya terus terusan mendesak Jafar. Menyuruh istrinya melahirkan di sini. Nanti mereka bisa menjaga anaknya. Karena Tahira tidak mungkin menjaga anaknya sambil kerja.


"Jafar jangan sampai kali ini kamu menolak perintah ibu," jawab ibunya pada Jafar.


"Iya bu, saya tau nanti Tahira juga tidak akan membawa anaknya serta merta kerja. Itu tidak mungkin. Jalan satu satunya, yah harus di bawa ke sini. Setuju atau tidak Tahira harus ikut perintah saya. Demi anaknya dan pekerjaannya," terang Jafar pada ibunya.


"Bhai kamu terlalu memanjakan istrimu," sela Bisma.


"Begitu melahirkan kalau dia tidak mahu bawa anak ke sini. Maka kita jemput sekaliwn bawa truck untuk bawa barang barangnya," ucap ibu Jafar.


********


"Bagaimana keadaanmu? Apa kah baik baik saja?", Jafar menelpon istrinya.


"Yah baik," jawab Tahira datar. Seperti menyembunyikan kegundahannya. Dia tidak ingin Jafar tau. Kalaupun tau yang ada nanti bertengkar lagi.


"Ibu saya mau anak kita beliau yang jaga, saya harap kali ini kamu jangan menolak," terang Jafar. Sekalipun Jafar tau istrinya tidak setuju. Namun dia tidak peduli.


"Ada ibu saya di sini. Saya mau ibu saya yang menjaga anak kita. Lagi pula kalau ke rumah orang tua mu tentu jauh. Kalau anak di sini , saya pulang langsung bisa melihatnya," sanggah Tahira.


Dengan nada emosi Jafar mulai kasar ucapannya."Apa kamu tidak paham juga? Selama ini saya sudah melawan ibu saya demi kamu! Apa sekarang kamu tidak mau mengalah untuk kali ini?" bentak Jafar dengan keras. Sampai suaranya terdengar ke kamar belakang. Di mana di situ ada ibu Tahira yang diam diam mendengar percakapan mereka.


Wanita tua itu menitiskan air mata sedih. Dia tidak bisa membantu anak nya kali ini. Kalau tetap menginginkan kebaikan untuk anak dan cucunya lebih baik dia mengijinkan Tahira melahirkan di rumah mertuanya.


"Di sini ada ibu saya apa bedanya," jawab Tahira tak mau kalah. Ibi tahira segera beranjak menghampiri kedua pasangan itu.


"Nak, ikuti saja kemauan suamimu. Sekarang kamu sudah menikah. Tidak baik menurutkan ego masing masing. Coba lah mengerti," dengan bijak seorang ibu menasehati anaknya. Kalau pun dia faham ke depannya sama saja. Tetap juga keluarga Jafar menyusahkam putrinya.


"Tapi bu, ibu kan tau sendiri mereka seperti apa? Bagaimana mungkin saya bisa hidup bersama?" tanya Taira sedih.


"Ini demi kebaikan mu dan anakmu. Nanti kamu juga akan bekerja. Sebaiknya kamu pikirkan matang matang. Mereka juga keluarga anakmu," penjelasan ibunya panjang lebar. Berharap Tahira menyetujui keputusan suaminya. Sekalipun itu permintaan ibu mertuanya.


"Lihat saja nanti, anakkan belum lahir. Apa yang terjadi kedepan kita tidak tau," jawab Tahira pasrah. Bagaimanapun ada benarnya juga. Namun Tahira masih berharap anaknya tinggal dekatnya.


Jafar yang dari tadi mendengar ucapan anak dan ibu ini cuma tersenyum mayun. Dia tidak punya pilihan lagi kali ini. Keputusan ibunya kalau tidak di penuhi, maka akan memperburuk ke adaan kelak. Yang mana ke putusan nya menikahi Tahira banyak masalah di buatnya. Untuk kali ini dia akan menuruti ke inginan ibunya.


********


"Dokter bagaimana kandungan ku, apa baik baik saja? Saya harap tidak ada yang perlu di khawatirkan." Tahira pergi seorang diri periksa kondisi kehamilannya. Suaminya memang bertugas jauh dari tempatnya.


"Baik, kondisinya baik. Dan di harap dalam minggu ini akan melahirkan," jawab dokter.


"Apa saya bisa melahirkan normal? Tanya Tahira ragu ragu.


"Tergantung nanti kondisi kesehatan mu, sepertinya darah tinggi mu kambuh. Dan itu sangat berbahaya bagi kamu dan anakmu," terang dokter.


"Saya berharap bisa melahirkan normal," pinta Tahira.


Seminggu kemudian Tahira mulai merasakan mulas mau melahirkan. Cepat cepat dia dan ibunya yang selalu setia mendampingi anaknya, ke rumah sakit.


Setelah sebelumnya sempat mengabari suaminya.Kalau sekarang dia sudah di rumah sakit. Dan Jafar segera mengabari ibunya. Mereka ber siap siap pergi ke tempat Tahira.


Dengan membawa serta merta truck yang akan membawa barang barang jehez milik Tahira. Semua sudah di rencanakan dengan baik oleh mertuanya. Tidak mahu untuk kesekian kalinya menantunya ini menguasai anaknya. Bagaimanapun Jafar harus tinggal bersama ibunya. Begitu juga cucu pertamanya.


Tidak peduli persaan Tahira. Yang penting cucu beserta jehez sudah berada di rumahnya.


"Bagaimana keadaan Tahira Dok? Apa sudah boleh pulang," tanya Jafar.


"Maaf anda siapa? Tanya Dokter.


"Saya suaminya," jawab Jafar.


"Oh baiklah , mari ikut saya," dengan suara hati hati dokter bicara. Karena memang ada sesuatu yang serius harus di bicarakan masalah Tahira.


"Baik."


Jafar mengikuti dokter masuk ke ruangan nya. Setelah di persilahkan masuk dan di suruh duduk dokter mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Begini kondisi istrimu masih perlu perawatan intensif karena ada beberapa masalah pasca operasi. Semalam kami terpaksa mengoperasi dia karena tidak mungkin melahirkan normal. Untuk sementara Bayinya sudah di ijinkan pulang."


Tentu saja ini jalan yang mulus sesuai rencana Jafar dan ibunya. Tanpa basa basi lagi Jafar pamit. "Baik Dok, terimakasih ," jawab Jafar.


"Dokter bilang apa? Apa sudah boleh pulang?" tanya ibu Jafar. Penuh harap.


"Ibu sesuai rencana kita. Bayi sudah boleh pulang sementara ibunya masih harus di rawat," jawab Jafar.


"Yah sudah ayo cepat cepat kita bawa bayimu dan bawa sekalian barang barang istrimu. Kalau dia tidak mau datang ke rumahku biar saja dia di sini. Ada ibunya yang merawat," jawab ibunya.


"Apa kalian sebaiknya tidak tunggu dulu kondisi Tahira pulih? Baru kalian pergi bawa anaknya," ujar ibu Tahira.


"Kami tidak mau berlama lama lagi. Biarlah nanti Tahira menyusul lagian ada kamu ibunya di sini. Cucu kami akan kami bawa hari ini. Termasuk jehez yang kalian tunda tunda," jawab besan nya ketus pada ibu Tahira.


Ibu Tahira tidak bisa berbuat banyak. Demi membantu anaknya. Bagaimana pun mau tidak mau kali ini Tahira harus patuh. Dan itu sudah seharusnya.


********


Seminggu kemudian Tahira sudah di ijinkan pulang. Dia sangat sedih dengan apa yang terjadi . Namun dia tidak punya kuasa untuk menolak.


Di cobanya menghubungi suaminya. Ternyata sibuk terus. Kerinduan pada anak yang baru di lahirkan nya, membuat badannya semakin kurus.


Beginilah adat Pakistan. Tidak bisa di toleransi. Bagaimana pum adat tetaplah adat yang harus di patuhi. Sewaktu awal menikah dulu Tahira mencoba menolak tinggal di rumah mertuanya. Sekarang justru anaknya di bawa oleh mertuanya.


Mau tidak mau dia terpaksa bolak balik tempat kerja dan rumah mertua. Jarak memakan banyak waktu.


"Jafar bisa jemput aku? Aku sudah bisa pulang. Aku dapat cuti melahirkan, untuk sementara aku bisa jaga anak dulu," jawab tahira di telpon .


"Baiklah," hari ini saya datang.


Setelah mengosongkan rumah yang di sewa. Akhirnya Jafar datang juga. Menjemput Tahira. Ibu Tahira sekalian pulang ke rumahnya. Karena tidak mungkin ikut serta dengan anaknya ke rumah mantu laki laki. Di sini ikut tinggal di rumah anak menantunya.


Adat Pakistan sangat tabu ibu dari pihak wanita ikut tinggal di rumah anaknya. Sekalipun dia cuma punya satu satunya perempuan.


"Ibu ikutlah bersamaku," pinta Tahira pada ibunya.


"Tidak Nak, ibu tidak mungkin ikut kamu. Sebaiknya ibu pulang saja ke rumah ibu. Jaga dirimu baik baik," pinta ibunya lirih. Sayu ke dua bola mata ibunya melepas sosok anaknya. Entah kenapa ada rasa tidak enak hati, ragu, galau dan bimbang. Namun apa daya dia tidak mungkin membiarkan anaknya ikut bersamanya.


"Waalaikumussakam," serempak jawab mereka.


"Lihat siapa yang datang." Bisma menggendong ponakkannya menghampiri Tahira.


"Anakku sayang." Tahira memeluk hangat anaknya. Di beri nama Rafi. Anak laki pertama pasangan muda itu. Cucu pertama dari keluarga suaminya.


"Bagaimana keadaan mu, Tahira?" tanya mertuanya.


"Sudah mulai membaik Bu," jawab Tahira.


"Ya sudah makan dulu, lalu istirahatlah," jawab mertuanya.


"Baiklah," jawab Tahira datar.


"Bisma tolong sediakan makanan untuk Tahira," perintah ibunya.


"Baik Bu," jawab Bisma. Segera dia ke dapur menyediakan makanan untuk Tahira dan Jafar. "Bhai silahkan makan dulu, ayo istrimu ajak sekali," saran Bisma.


"Tahira ayo makan dulu," ajak Jafar.


"Baiklah." Segera bergegas mencuci tangan dan duduk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


"Bagaimana makanannya? Makanlah yang banyak, supaya cepat sembuh," ujar mertuanya.


Sambil menggendong bayi kecil itu mertuanya menina bobokan cucunya. Di perhatikannya pasangan suami istri itu. Ada rasa tidak suka. Namun dia tetap menunjukkan sikap wajar.


"Di mana barang barang ku? Kenapa semua di tarok di sini?" tanya Tahira.


"Trus mau di tarok di mana?" tanya Bisma.


"Kenapa tidak dalam kamar kami?" jawab Tahira.


"Buat apa? Nantikan kamu juga pergi lagi kerja . Jadi lebih baik barang semua di luar sini. Kita bisa gunakan kamar dan juga barang barang. Buat apa kalau tidak di manfaatkan," ketus Bisma.


Tahira tidak bisa berkutik. Karena keadaannya memang terpaksa. Percuma berdebat lagi. Yang penting sekarang anaknya ada yang jaga.

__ADS_1


"Tahira untuk sementara kita tidur di sini. Di dalam sudah tidak muat," terang Jafar.


"Nggak apa apa, bawa sini anakku. Aku mau gendong dia," ucap Tahira.


Di dalam kamar terdengar bisik bisik. Mertua ipar tante Jafar. Tidak tau bicara apa yang pasti Tahira memang merasa ada yang aneh. Dengan sikap keluarga suaminya.


******


Sebulan sudah Tahira di rumah mertuanya. Pagi ini Tahira akan berangkat kerja.


"Sudah bangun? Mau pergi kerja? Jangan lupa kasih uang beli susu Rafi," cerocos mertuanya.


"Kenapa saya harus kasih?" tanya Tahira.


"Ya harus. Dia juga butuh biaya," jawab mertuanya.


"Tapikan ini tanggung jawab Jafar," jawab Tahira.


"Kalau begitu rafi tanggung jawab kamu menjaganya," jawab mertuanya ketus. Karena menurutnya Tahira selalu berusaha mengelak setiap peraturan yang di buatnya.


Dalam hati Tahira menggerutu lebih baik kami tinggal dengam ibuku. Aku yang bayar semua. Buat apa kami di sini. Susu anakpun di minta sama saya. Bukan saya yang mau tinggal di sini.


"Kamu dengar tidak?" tanya mertuanya.


"Baiklah ambil saja setiap hari dengan tukang susu keliling. Nanti saya bayar bulan bulan," jawab Tahira.


Setiap hari susu murni yang masih fres sekalu datang. Orang orang di sini selalu mengkonsumsi susu segar dari kerbau atau sapi.


Begitu juga anak anak. Lebih baik minum susu segar dari pada susu yang di kemas. Karena susu kemasan itu sudah pakai pengawet. Sementara susu murni itu langsung dari sumbernya.


"Saya pamit dulu," kata Tahira berlalu.


"Dan jangan lupa setiap bulan kamu juga ngasih uang untuk upah menjaga anakmu," ucap Bisma tersenyum. Karena Bisma juga yang akan ikut andil menjaga ponakannya.


Tahira menoleh tidak suka. Tapi dia tetap sabar. Yang penting dia bisa bekerja.


*****


"Mana susu untuk Rafi?" tanya Tahira.


"Sudah habis," jawab Bisma santai.


"Tapi saya sudah bilang setiap hari untuk Rafi khusus beli, dan saya yang bayar," jawab Tahira heran.


"Memang , tapi hari ini saya juga mau bikin chae jadi saya minum," jawab Bisma tanpa dosa.


"Kok kamu bisa begitu? Kamu kan tau anak saya lebih membutuhkan dari pada kamu?" bentak Tahira.


"Apaan ini ribut ribut?" tiba tiba mertuanya datang.


"Susu untuk Rafi di minum Bisma," jawab Tahira.


"Apa benar Bisma?" tanya ibunya.


"Ibu sendiri tau untuk kita mana cukup. Makanya tadi saya buat chae pakai susu untuk Rafi," jawab Bisma santai.


"Yah sudah. Besok kita tambah dua kilo lagi biar semua tercukupi," jawab mertuanya.


"Ya bagus ami," jawab Bisma masak kita nggak cukup minum.


"Saya cuma bayar yang untuk anak saya saja," jawab Tahira.


"Tidak bisa! Kamu yang bayar semua," potong mertuanya.


"Kenapa saya harus bayar. Saya cuma untuk Rafi saja," jawab Tahira tidak mau kalah.


"Kenapa kamu tidak mau, yang mengurus anakmu siapa? Kenapa kamu pelit ? Kamu harus mau?" jawab mertuanya tidak kalah sengit.


Tahira sadar dia tidak akan menang. Namun dia tidak bisa terima semua. Masak kebutuhan semua harus dia yang bayar. Dulu dia tidak mau di sini. Kemauan mertuanya. Sekarang dia di haruskan bayar susu.


"Jafar kenapa saya harus bayar susu untuk keluarga mu? Dulu kamu dan ibumu yang mau saya dan Rafi di sini. Kalau begitu lebih baik saya di tempat ibu saya," kata Tahira.


"Apa salah kamu bayar? Anakmu kan mereka yang jaga?" jawab Jafar. Tahira cuma diam dengan kesal mendengar ucapan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2