
"Kenapa sayang? Kok suara baba haji nyari nyari Akram," tanya Furqan.
"Sebentar nanti saya cal kamu," ucap Aini.
Dengan kedatangan orang beramai ramai memasuki rumah Aini. Mencari Akram.
"Panggil dia. Cepat saya pasti akan manggil polisi. Dia sudah keterlaluan. Mengajari yang tidak tidak sama keluarga saya," bentak baba haji. Seperti kehilangan akal waras.
"Ada apa ini ribut ribut," tanya Aini.
"Mana Akram? Panggil dia! Kalau tidak saya akan panggil polisi," hardik baba haji lagi.
"Apa yang terjadi? Kenapa panggil polisi? Apa yang di perbuat anak saya? Kalian tidak bisa menuduh sembarangan," hadang Aini.
"Ini topi Akram kan? Semalam istri saya dan anak saya over dosis. Tak mungkin Inza yang beli obat tidur. Tetapi Akram yang belikan," tuduh baba haji.
"Atas dasar apa kamu nuduh anak saya? Ada bukti?" tanya Aini.
"Ini punya Akram," jawab baba haji.
Aini sebentar teringat kalau topi Akram di pakai. "Akram sini sebentar! Keluar lah tak mengapa, jangan takut," ucap Aini sambil ngetuk pintu kamar Akram.
Pintu terbuka."Iya ami ada apa?" tanya Akram dan di kepala Akram pakai topi yang sama.
"Lihat sendiri. Anak saya apa mungkin punya dua topi yang sama?" tanya Aini.
Mereka semua terdiam malu. Lebih lebih baba haji. Karena mudah terhasut menuduh tanpa berpikir dulu.
"Dan kalian kenapa bisa nuduh anak saya? Seharusnya kalian tanya Inza lah! Kan, dia yang ngasih," ucap Aini kesal.
"Tapi dia yang selalu cari gara gara dengan Inza dan kami. Kalau bukan dia tak mungkin Inza sendiri yang beli. Pasti ada orang yang belikan!" ucap mereka menahan muka.
"Kenapa kalian tidak tanya langsung sama Inza? Bodoh sekali suka suka menuduh orang, sekarang terbukti orang tidak bersalah, bukannya minta maaf. Ok saya yang akan lapor polisi," jawab Aini.
"Heh...apa apan kamu panggil polisi. Mau buat malu keluarga saya," bentak baba haji.
"Kalau kalian tau malu seharusnya kalian tidak menuduh sembarangan, dasar orang Pakistan. Muka tembok semua," gerutu Aini.
Sejak kejadian itu istri baba haji semakin salah paham. Kalau ingat kejadian itu seharusnya dia malu. Bukan salah paham sama Aini.
"Bagaimana keadaan istri saya," tanya baba haji pada saudarinya.
" Mulai membaik. Tapi obat itu sangat keras. Dalam satu minggu akan masih ada efeknya," jawab tetangga yang kebetulan dokter. Setelah di periksa dokter.
"Makasih dokter," ucap baba haji. Sambil mengantar dokter ke pintu. "Inza sini cepat! Coba perhatikan Mehek. Sepertinya dia buang air besar," perintah baba haji.
"Iya papa ji. Saya datang," jawab Inza. Dengan tergopoh gopoh menghampiri Mehek. Dalam hati Inza kesal. Karena Mehek tidak ubah bayi baru lahir. Tapi umur sudah enam tahun. Ihh beratnya gerutu Inza.
Setelah kejadian memalukan itu. Istri baba haji tetap menutupi kejadian sebenarnya. Sekalipun dia yang jadi korban oleh anak adopsinya. Bukan saja dia tetapi anak kandungnya juga.
"Ingat biarkan Akram yang kita salahkan. Bagaimana pun Inza anak kita. Nanti apa kata orang orang. Saya akan terus menyalahkan Akram dan Aini. Karena kalau tidak kita akan malu besar," usik istri baba haji.
"Kamu yang terlalu memanjakan Inza. Akhirnya dia semakin tak bisa di kontrol. Sekarang memang kita bisa salahkan Akram, tapi kalau nanti Inza lakukan lagi. Bagaimana? Sekarang Aini pasti sangat mengontrol anaknya," sanggah baba haji kesal.
Karena bagaimanapun sebenarnya baba haji tau kalau bukan Akram pelakunya. Namun demi menutupi malu dia rela menyalahkan Akram.
****
"Mbak.... "
"Siapa yah," tanya Aini. Secara tidak sengaja bertemu wni di depan rumahnya.
"Kenalkan! Aku Meta. Sebenarnya aku tadi nggak sengaja lewat sini. Dan aku di bilangin ama suami kok kayaknya orang Indonesia?" terang Meta.
"Oh salam kenal! Saya Aini. Ayo mampir dulu," ucap Aini basa basi.
"Nggak usah Mbak! Lain kali aja. Aku bole minta nomor watsapp. Nanti aku telpon," tanya Meta lagi.
"Oh ya sebentar," ucap Aini. Sambil masuk ke dalam dan menyodorkan kertas.
"Makasih ya! Ini ada oleh oleh dari saya kebetulan saya baru datang dari Indonesia." ucap Meta sambil menyodorkan sekantong plastik Mie Sedap dan beberapa paket product Indonesia lagi.
"Aduh makasih banyak udah di kasih oleh oleh. Dan mbak nya nggak mau mampir," ucap Aini nggak enak hati.
__ADS_1
"Nggak apa apa. Kami buru buru soalnya, sampai ketemu lagi," jawab Meta.
Aini melambaikan tangan pada Meta. Dan masih tertegun tidak percaya. Dari tadi rupanya istri baba haji memperhatikan Aini dengan tatapan tidak suka. Entahlah apa pun itu menyangkut Aini memang perempuan itu tidak suka. Tapi ingin tau juga ada apa??
"Ami ji," ucap Akram menepuk bahu Aini.
Kontan Aini kaget. "Aduh Nak. Kamu ngagetin aja. Kalau mama jantungan bagaimana?" tanya Aini.
"Ah nggak mungkin. Aku memiliki mama yang sangat kuat. Nggak gendut. Nggak penyakitan cuma bawel. Hehehe," ucap Akram terkekeh sendiri.
"Ini anak benar deh. Suka ngeledek," jawab Aini.
"Ngomong ngomong. Ini dapat dari mana ami ji? Wawwwww.... Mie Sedap! Ayo kita santap," ucap Akram berbinar binar.
Ibu dan anak itu masuk bergandengan tangan. Tidak luput dari pantauan istri baba haji. Matanya sangat tajam melihat ibu dan anak itu. Dan mulutnya seperti mengucapkan sesuatu.
"Ya sudah kamu buat sendiri! Buatkan juga untuk Ali. Ingat satu bungkus perorang," perintah Aini.
"Baik Ami ji. Sayang Ami," ucap Akram sambil mencium mamanya.
Hari ini sudah minggu ke tiga Aini buat group Urdu Zuban. Dan sekarang Aini sudah siapkan beberapa pertanyaan. Aini membuat panggilan group.
Kring.....kring....kring...
Dewi masuk. Lia menunggu. Rina masuk. Mira masuk. Aisha masuk.
"Assalamualaikum semua? Apa kabar. Sebelum kita lanjut pelajaran kita. Tolong ulangi yang lama dulu yah. Siapa yang mau mulai duluan," ucap Aini.
"Mbak aku," ucap Dewi.
"Baiklah. Sekarang kita langsung percakapan aja yah! Ok. Saya tanya kamu jawab. "Ap ka kia nam he\= nama kamu siapa?" tanya Aini.
"Mera nam Dewi\=nama saya dewi," jawab Dewi.
"Ap kaha rehti ho\= kamu tinggal dimana. Our Ap ka sohor kitne bhai bhen?" tanya Aini.
"Mein Sumandri rehti ho\= saya tinggal di Sumandri. Our mera sor ik bhai ik bhena\= suami saya punya 1 abang dan 1 saudari perempuan," jawab Dewi lancar.
"Sahbaz\= bagus. Kamu sekarang lumayan lancar yah," jawab Aini. Ayo siapa lagi.
"Ayo mulai. Khana khalia?\= sudah makan belum," tanya Aini.
"Mene khali a he\= saya sudah makan! Our ap nasta karlia? \= dan kamu sudah sarapan? Kia khaya he\=makan apa?" tanya Lia balik.
"bhot khub\=sangat bagus. Ap bi mujhe soal kia he\=kamu juga bertanya balik sama saya. Hanjhi mene bi khalia he\=iya saya juga sudah makan. Mene roti prata khana he\= saya makan roti prata," jawab Aini.
"Our ap ka bache kider he\= anak mu di mana? Kia school gai he?\= apa dia pergi sekolah?" tanya Lia lagi.
" ji han. Wo dono school me he\= iya dua dua di sekolah," jawab Aini.
"Ap ne sohor kesse pasant?\= kamu bagaimana bisa suka suami?" tanya Lia sambil senyum senyum.
"Hahaha. Pertanyaan disensor. Tapi ngomong ngomong Urdu mbak cepat kali lancar. Salut deh," ucap Aini.
"Iya mbak aku ngapalin terus. Di ledek ku biarin aja. Ngomong apapun ku jawab mau salah atau benar. Yang penting suami mendukung. Mbak bagaimana di sini? Sudah lama yah?" tanya Lia.
"Iya memang sudah lama. Dan aku belum pernah pulang. Dan kamu sendiri bagaimana?" tanya Aini.
"Mera dil lagi a yaha\= hati saya sudah suka di sini, our me bhot khush ho\= dan saya sangat bahagia," ucap Lia.
"Acha ye bat he\= oh ya begitu rupanya," jawab Aini.
"ji han\= ya begitulah," jawab Lia.
"Ayo yang lain mana suaranya. Mira, Aisha, Rina. Mana suara kalian," tanya Aini.
"Hum yaha," jawab mereka serempak.
"Mbak bicara cinta aja sekarang. Mujhe pyar karti ho\= saya suka kamu. Hehehe," ucap Rina.
"Aku lagi sebel Mbak," celoteh Aisha.
"Kenapa ," tanya Aini.
__ADS_1
"Capek aku mbak. Di suruh ini itu terus. Aku juga punya anak anak. Dan mertuaku nggak ada yang gangguin. Eh malah gangguin aku," curhat Aisha.
"Lah kita kan sudah sepakat nih waktu itu lima alasan, kenapa milih Pakistani. Terus sekarang nggak ada cerita sedih. Dengan kita memahami bahasa mereka seharusnya kita bisa mengatasi sendiri masalah itu. Nggak perlu di ceritain lagi," jawab Aini tegas.
"Ya bagaimana Mbak. Sudah ku minta suami suruh jelaskan ke mertua masih juga bikin puyeng," ucap Aisha.
"Trus sekarang kamu mau apa. Saya nggak punya banyak waktu. Sudah dua jam kita online. Mau lanjut kerja rutin lagi. Anak anak mau pulang juga. Bikin sarapan," jawab Aini.
"Mbak aku pulang," jawab Aisha.
"Apa??????? Mau pulang?????? Hahahaha," Aini ketawa ngakak.
"Loh kok ketawa sih. Aku lagi sedih. Masak di ledekin," jawab Aisha sewot.
"Hahaha... Bagaimana nggak ketawa aku. Dulu kamu sudah pulang. Dan akhirnya balik lagi ke sini. Dulu kamu sudah bawa anak anakmu. Dan alasan kamu kembali ke Pakistan, karena suami kamu sangat perhatian. Dengan alasan kasihan sama anak anak, trus sekarang bilang mau pulang? Capek deh dengarnya Aisha," jawab Aini.
"Iya Aisha kamu ini ada ada aja. Kita juga sama kok. Sama sama ada masalah. Makanya kita belajar bahasa sini. Biar kita bisa mengatasi masalah sendiri. Jangan main pulang melulu. Kecuali suami kamu banyak duit. Dan di ijinkan ya silahkan," jawab Mira.
Cuma Mira yang belum menikah. Dan lagi pedekate dengan cowok Pakistan. Dengan bergabung di group Urdu Zuban secara tidak langsung bisa memahami adat Pakistan.
"Nah Mira. Bagaimana? Giliran kamu nih," jawab Aini.
"mujhe cahiye mera manggeter Indonesia rehta hu\= saya mau tunangan saya tinggal di Indonesia. Our me Pakistan nehi jana\=dan saya tidak mau pergi ke Pakistan, hehehe," ucap Mira.
"bhot kubh\=sangat bagus. Lumayan nih Mira bahasa Urdunya lancar. Padahal belum pernah ke Pakistan. Kapan rencana nikahnya?" tanya Aini.
"Masih dalam rencana Mbak. Saya kan ada beberapa toko punya orang tua. Nanti buka resto suruh jualan itu tunangan. Mudah mudahan sesuai rencana. Ngomong ngomong bahasa Urdu ku sudah lumayan kata tunangan ku. Aku sempat bicara dengan calon mertua. Dia paham," ucap Mira semangat.
"Bagus deh. Saya cuma buka group tiga bulan saja. Nggak mau lama lama. Kalau ada yang mau berhenti dalam satu bulan atau dua bulan silahkan. Saya nggak maksa," ucap Aini.
"Baik mbak," jawab yang lain serempak.
*******
"Assalamuakaikum Ami ji! Coba lihat apa saya bawa?" ujar Akram. Tak lama Akram dan Ali pulang.
"Waalaikumussalam. Apa ini Nak? Coba lihat! Ma sha Allah. Betapa senang hati Ami mu Nak! Ali bagaimana?" tanya Aini.
Akram dapat beasiswa pelajar berprestasi. Sementara Ali juara tiga di kelas. " Ok sebentar. Ami mau ambil foto kalian. Kirim sama papa ok," ucap Aini.
Klik...klik...
Beberapa kali ambil foto. Dan sending sama suami ke malaysia.
Kring... Kring...
Benar saja. Langsung di telpon sama Furqan."Ya sayang. Anak anak dapat prestasi bagus ya," jawab Furqan.
"Iya baru tadi. Alhamdulillah. Padahal baru beberapa hari ini kita di uji. Akram di fitnah baba haji dan family. Sekarang Allah bagi kita kabar gembira. Dengan bukti beasiswa. Tapi itu hari Akram bilang ada perusahaan yang menerima siswa berprestasi di luar negara. Saya harap di Malaysia," ucap Aini.
"Sayang sekarang kamu paham. Anak kita cuma kita yang tau. Orang lain mana peduli. Sekalipun baba haji tau Akram tidak salah tetap dia akan bela Inza. Nah kalau saya sudah tau anak saya tidak salah kenapa saya harus terima perlakuan mereka. Kamu sabar saja," ucap Furqan panjang lebar.
"Ya saya paham. Kamu adalah figur ayah yang sangat baik. Dan alasan saya bertahan juga itu. Tidak mudah mencari pengganti. Dan sosok ayah baru tidak akan sama dengan yang lama. Dalam hal ini saya jujur alasan saya sampai detik ini bertahan kamu adalah ayah yang baik. Makasih yah," ucap Aini.
"Coba kamu lihat baba haji punya pensiun anak kandung cacat. Dan anak adopsi di sekolahkan tinggi tinggi. baba haji kerja siang malam. Cuma ngasih makan empat perut saja. Itu pun istri baba haji masih cerewet," jawab Furqan.
"Wah.. Kalau begitu kamu harus bersukur punya istri seperti saya," ucap Aini.
"Kenapa tidak, saya oleh karena itu juga bertahan, kita orang hidup sederhana yang penting anak anak sukses," jawab Furqan.
Aini tersenyum manis. Dalam hati dia semakin yakin akan masa depan keluarganya.
Tok...... Tok.....
Pintu di buka. "Siapa," tanya Aini.
"Bisa panggilkan Akram," tanya pria itu.
"Kamu siapa?" tanya Aini.
Tiba tiba beberapa pemuda masuk. Dan langsung menemui Akram. "Hei apa apaan ini? Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Aini.
"Ami ji. Jangan kuatir. Saya akan kembali. Sebentar saya ikut mereka," ucap Akram.
__ADS_1
"Akram ada apa? Ami jadi kuatir. Kenapa kamu?" tanya Aini.