Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
kisah 9


__ADS_3

"Hei siapa di luar? Diam diam mendengar pembicaraan kami? Keluar!" teriak Sana.


Setelah di periksa tidak ada siapa pun. Justru ada sepotong kayu seukuran 50 kg terjatuh tepat di depan pintu.


"Aneh! Kayu ini kok bisa jatuh ke sini? Padahal kan berat. Pasti ada orang tadi di sini.


Akram bersembunyi di balik pintu. Tanpa sengaja tadi menjatuhkan blok kayu. Ternyata kalian sekarang berencana menyusahkan ami saya. Tak percaya saya begitu tega diri kalian.


*******


Akram duduk termenung. Dia berpikir keras, bagaimana caranya untuk melindungi ibunya.


"Akram. Kenapa Nak? Tidak seperti biasanya kamu! Ada apa? Apa yang mengganggu pemikiran mu Nak?" tanya Aini.


"Ami. Ami adalah ibu yang terbaik di dunia. Apa pun yang terjadi saya tidak rela abu jaan menikah lagi. Popo Sana dan Yasmin, mereka buat rencana mencari jodoh Pakistani, untuk abu jaan," ucap Akram sambil menghela nafas dalam dalam.


Aini memperhatikan Akram dengan seksama. Di belainya anak bujang itu. Yang sudah mulai memahami keadaan ibunya. "Dari mana kamu tau?" tanya Aini.


"Saya dengar sendiri ke dua popo buat rencana. Dan itu dengan perempuan yang selama ini selalu menguntit kita. Dia ingin tau tentang aku, sekarang malah ingin tau tentang abu jaan. Dan saya perhatikan ke dua popo sangat antusias menjodohkan dia dengan abu jaan," ucap Akram sedih.


"Trus. Apa rencanamu. Kita akan bagaimana?" tanya Aini.


"Ami. Kita pulang saja ke Indonesia. Saya juga tidak mau di sini lagi. Di sana kita mulai hidup baru. Ami di negara sendiri tentu lebih nyaman. Saya perhatikan keluarga abu jaan selalu menyudutkan Ami. Saya tidak suka," jawab Akram.


"Justru itu yang mereka mau. Kita pulang dan nanti mereka dengan mudah menjodohkan papa mu," ucap Aini lirih.


"Ami. Jangan takut. Kalau pun ayah menikah lagi maka saya tetap akan di Indonesia bersama Ami. Biarlah abu jaan di sini. Kalau dia ingat kita ok. Kalau tidak lebih baik kita di sana. Di sini kita seperti orang asing saja. Padahal family abu jaan ada," jawab Akram.


******


Pagi yang cerah acara pernikahan Inza dan Asnen. Aini tidak datang ke pernikahan Inza. Tetapi Yasmin dan Sana datang.


"Kenapa Aini tidak datang?" tanya Busra.


"Entahlah. Mereka sepertinya mau pergi ke islamabad. Ada urusan ke emigressen. Semoga mereka memutuskan untuk pulang. Jadi gampang urusan menjodohkan kamu dengan Furqan," jawab Yasmin.


Hari ini Aini dan anak anaknya pergi ke KBRI. Untuk urusan pulang ke tanah air. Selidik punya selidik ternyata Furqan malah tidak curiga dengan saudarinya. Furqan percaya saja kalau Yasmin sangat menjaga anak istrinya. Tetapi justru sekarang ingin menjodohkan dia.


"Ami. Ayo kita berangkat. Semoga nanti kita cepat selesai. Dan bisa pulang," ucap Akram.


"Ayo. Bawa ini biar ami periksa dulu surat surat," ucap Aini.


Lalu ibu dan dua orang anak itu berangkat menuju Islamabad. Naik bus kelas vip. Biar nyaman dan terjamin dalam perjalanan.


"Ami. Apa ami tau? Kenapa Busra bibi ingin kenal saya?" tanya Akram.


"Mana Ami tau!" jawab Aini.


"Masih ingat Ami kejadian baku tembak itu hari. Seorang pria menitipkan laptop berisi kode pada saya. Untuk di transfer setiap berkala. Sebenarnya tanpa saya transfer pun itu sudah terkoneksi. Harta itu milik keluarga Busra bibi. Yang di dapat dengan cara haram. Membunuh bahkan merampok. Tapi itu pekerjaan ayahnya. Terakhir mereka mencoba mencari di rumah kita. Dan saya sudah buang laptop itu," jawab Akram.


Aini terperangah tak percaya dengan yang di ucapkan Akram barusan. "Akram kamu tau yang kamu katakan ini berbahaya? Mereka bisa membunuh kita," ucap Aini.


"Ami. Buat apa takut. Sekarang rumah mereka sudah di bom orang. Sekarang tinggal Busra saja lagi. Dan itu yang popo mahu di nikahkan sama abu jaan saya," dengus Akram kesal.


"Tapi Nak! Kamu tau ini sangat berbahaya. Dan Apa yang akan terjadi pada kita nanti? Kalau seandainya mereka tau?" ucap Aini kuatir.


"Sudahlah. Ami kita pulang saja. Mulai hidup baru di negara Ami," jawab Akram tegas.


"Baiklah kita pulang saja," ucap Aini.


Bus melaju kencang melewati jalan tol bebas hambatan. Aini dan anak anak akan pulang. Dan tidak mungkin kembali lagi. Bagaimana kelak dengan Furqan. Akh... Pikir Aini lebih baik pulang dulu. Baru setelah itu di pikirkan.


*******

__ADS_1


Sejak Aini dan anak anak pergi ternyata, Yasmin dan Sana mengadakan resam adat mencari jodoh. Dan tentu semua tanpa sepengetahuan Furqan yang di inginkan Yasmin satu saja, Aini harus pergi.


Berkumpullah saudara saudari Furqan di rumah Aini. Yang kebetulan di acara pernikahan Inza.


"Yasmin kita besok coba menemui ibu Busra. Kita bicarakan semua. Selagi Aini tidak di sini. Urusan abang Furqan biar nanti saja," ucap Sana bersemangat. Karena dia sudah membayangkan kalau Busra jadi menikah dengan Furqan hidupnya juga berubah. Itu janji Busra tempo itu.


"Iya. Besok saya dan Samer pergi. Dan membicarakan semua. Biar bagaimanapun lebih baik punya ipar orang kita, dari pada orang asing. Lebih mengerti adat kita," balas Yasmin.


" Benar sekali. Selama Aini menikah dengan Furqan satupun dia tidak membawa jehez. Entah bagaimana itu perempuan! Seharusnya punya malu. Kita orang Pakistan menikah harus bawa jehez. Kalau dia orang asing, seharusnya lebih banyak jeheznya. Ini cuma badan saja di bawa," cibir Sana.


"Sana. Itu benar adat kita tidak bisa di lupakan. Jalan satu satunya kita harus buat Furqan menikah lagi. Kita atur saja nanti. Saya percaya Furqan ajan kembali ke Pakistan. Sementara istrinya biar kembali ke negaranya," ucap Yasmin yakin.


Kring.... Kring...


Hp berdering telpon dari Busra. "Iya Busra, ada apa? Kami di rumah Aini," jawab Yasmin.


"Kalau begitu saya ke sana," ucap Busra.


"Oh.. Ayo sini. Saya tunggu," jawab Yasmin. Sambil menutup hp. Lalu di tatapnya Sana. Sambil senyum senyum.


"Kenapa? Kok kamu senyum senyum begitu?" tanya Sana.


Ada kejutan untuk kita. Lihat saja saya percaya dia membawa sesuatu. Dan ingin kita segera menerimanya sebagai ipar.


Tidak lama datang Busra. Sambil membawa banyak kantong belanjaan. Lalu masuk ke dalam rumah Aini. Yang memang sudah di nanti oleh Yasmin dan Sana.


"Apa kabar? Wah banyaknya belanjaan ini! Untuk siapa ini semua?" tanya Sana gembira.


"Saya baik. Ini semua untuk kalian berdua. Semoga suka," jawab Busra enteng. Sambil menyodorkan semua barang yang di tentengnya.


Kontan saja saudari saudari Furqan jadi kalap. Melihat semua hadiah pemberian Busra.


"Aduh. Kamu baik sekali. Beruntung sekali kalau kamu jadi ipar saya. Saya akan usahakan kamu segera menikah dengan abang saya," ucap Sana yakin.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Busra.


******


Alat penyadap yang sengaja di pasang Akram di rumahnya menjadi bukti. Kalau bahwasanya family Furqan ingin memisahkan suami istri itu.


"Tega kalian pada ibuku. Aku akan kabulkan keinginan kalian. Kami akan pergi selamanya. Jangan kuatir, silahkan kalian tempati rumah itu. Bagaimana pun itu hak atas nama ayah saya. Dan itu nanti milik saya. Saya akan jual," gumam Akram dalam hati.


Kring... Kring.....


Hp Aini berdering berkali kali. Saking kantuknya Aini tak kuasa menjawab panggilan telpon.


"Ya. Ini siapa?" tanya Akram. Rupanya Akram yang menjawab. Kasihan ibunya kecapekkan.


"Nak? Ini ayah hp ayah tidak ada paket. Belum pergi beli lagi," jawab Furqan.


"Ayah. Apa kabar? Ayah sehat di sana?" tanya Akram.


"Iya Nak. Kamu dan Ali juga ibumu bagaimana?" tanya Furqan.


"Kami baik baik saja Ayah. Jangan kuatir saya yang menjaga mereka," ucap Akram.


"Ayah bangga padamu Nak. Kamu sudah bisa menjaga mereka," jawab Furqan.


"Pasti ayah kenapa tidak? Mereka keluarga kita. Ibu dan adek ku selain itu aku tidak punya," ucap Akram lirih.


"Kenapa Nak? Sepertinya ada masalah! Ceritalah dengan ayah. Mana tau bisa bantu," jawab Furqan meyakinkan Akram.


"Maaf saya bukan tidak mau bercerita. Lebih baik nanti Ayah sendiri yang tau. Ok. Pamit dulu. Sudah sampai di terminal," potong Akram.

__ADS_1


"Baiklah Nak! Hati hati. Jaga ibu dan adekmu," pesan Furqan pada Akram.


"Tentu ayah. Ayah juga jaga diri baik baik," jawab Akram.


Lalu telpon di tutup. Bus memasuki area terminal. Dan mulai menurunkan penumpang. Satu persatu penumpang turun. Sambil menjinjing bag mereka.


Tiba tiba Aini tersentak dari tidur. " Loh sudah sampai?" tanya Aini.


"Baru saja Ami. Tunggu sebentar. Biar berkemas dulu. Dan orang orang masih antre turun. Periksa barang barang lagi. Nanti ada yang kelupaan," jawab Akram.


"Ali bangun Nak! Kita sudah sampai. Cepat turun," ucap Aini pada Ali.


Lalu giliran mereka turun. Dan menyusuri jalan trotoar menyebrang. Menuju bus yang akan mengantar ke KBRI.


Setelah beberapa jam selesai sudah urusan mereka. Memperbaiki segala dokument. Terakhir mereka pulang. Segera menuju terminal. Tanpa istirahat, langsung cari bus menuju Kamalia.


Capek badan tidak terkira. Tetapi semangat tetap ada. Perjalanan panjang ke tanah air sudah terbayang semua.


"Sukurlah Nak! Sudah selesai semua urusan. Semoga nanti kita cepat pergi ke Indonesia. Kita pulang dan menetap di sana saja. Ibu pun sudah tidak ingin di sini lagi. Kehidupan yang monoton. Tidak bisa berusaha selalu ada gangguan. Bahkan dari keluarga sendiri. Bukan dari orang lain," keluh Aini.


"Iya Ami. Saya pun demikian. Tidak mau lama lama di sini lagi. Lebih baik kita pergi dari sini. Biarlah rumah ini terserah siapa yang mahu tinggal. Nanti kalau harga rumah mahal baru kita jual," ucap Akram yakin.


Akram mendesah nafas. Membuang kegalauannya, sambil menatap jendela. " Kenapa Nak? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari Ami?" tanya Aini.


Sambil menggeleng kepala Akram mengelak muka. Lalu Aini menarik dagu Akram dan menatap mata anaknya. "Semuanya Ami tau. Kamu jangan banyak pikiran. Memang mereka sampai sekarang pun tidak bisa menerima ibu sebagai istri papa mu. Dan oleh karena itu mereka berusaha mencarikan istri baru untuk ayahmu," ucap Aini.


"Tapi Ami! Kenapa mereka begitu?" tanya Akram.


"Semua orang hilang iman, akal apa bila sudah di kuasai hawa nafsu. Jadi keluarga ayahmu yang menang sekarang nafsu serakahnya. Sedang akalnya kalah. Jadi mereka membenarkan perbuatan mereka sendiri. Tanpa peduli menyusahkan orang lain," jawab Aini.


''Kenapa Ami tidak bercerita dengan saya? Saya ingat Ami tidak tau. Dan saya berusaha menyembunyikan dari Ami," jawab Akram.


"Sudahlah. Yang penting kita tinggal selangkah lagi mau pulang," jawab Aini.


Ibu dan anak itu larut dalam pikiran masing masing. Mau sebaik apapun tetap keluarga Furqan tidak berubah.


*******


"Setuju," jawab ibu Busra.


"Apa? Begitu cepat anda suka?" tanya Yasmin tak percaya.


"Iya. Kalau bisa sekarang saya kirim jehez perlengkapan rumah untuk Busra. Yah selagi istri Furgan tidak ada. Kalau dia ada susah nanti," ucap ibu Busra yakin.


"Tapi apa tidak terburu buru. Furqan sendiri juga belum tau," jawab Yasmin.


"Bagaimana dia bisa menolak. Di rumah mereka juga barang isi rumah tidak banyak," jawab ibu Busra.


"Baik lah setuju. Kalau bisa bawa hari ini. penuhkan rumah dengan barang barang Busra," jawab Yasmin.


Semua sibuk di rumah Aini menepikan semua barang barang lama Aini. Di ganti dengan barang baru milik Busra. Sementara Yasmin dan Sana sangat senang melihat barang Busra. Semua serba mahal. Dan banyak nilainya. Blum lagi uang tunai. Untuk semua adek adek Furqan.


Mereka sibuk dan tentu bahagia. Dengan tanpa malu malu memasukkan barang wanita itu. Padahal belum ada persetujuan dengan Furqan sendiri.


Aini dan anak anak sampai di terminal kamalia. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Begitu sampai dan cepat cepat menyetop riksaw. Mereka sudah kecapek an.


"Yasmin, Aini sudah sampai," teriak Sana. Di lihatnya riksaw yang membawa Aini dan anak anaknya berhenti di depan rumah.


Begitu Aini masuk ia tertegun. Belum hilang rasa kagetnya seolah ia salah masuk rumah. "Barang barang siapa ini semua?" tanya Aini.


"Barang calon istri Furqan. Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Sana.


"Oh.. Ternyata kalian sudah carikan istri baru untuk abang kalian. Ya sudah saya tidak peduli. Saya mau istirahat," jawab Aini cuek.

__ADS_1


Sana dan Yasmin melongo tak percaya dengan reaksi Aini. "Aneh. Kok dia tidak marah?" tanya Sana pada Yasmin. Yasmin sendiri pun sama heran. Justru itu bagus.


__ADS_2