
Sejak kembali ke Pakistan suami Aini bekerja sebagai pelayan di rumah bosnya. Gaji tidak lebih cukup sangat pas pasan namun iya tetap bersabar karena mau bagaimana lagi.
Seringnya iparnya datang ke rumahnya selalu bikin masalah. Bukan tidak mahu melayani mereka sebagai tamu tetapi yang untuk dimasak pun tidak ada sering kekurangan makanan. Kalau pun ada itu pun harus irit memakainya.
"Hari ini kamu buat apa untuk kami tanya iparnya?" tanya iparnya.
Sedangkan untuk anaknya pulang sekolah pun tidak ada makanan tersedia.
"Apa yang ku masak barang yang akan dimasak tidak ada, trus mau masak apa?" tanya Aini lagi.
"Kami ini kan tamu kau harus melayani." Bukannya prihatin malah menyudutkan terus.
"Ini mah tamu tak di undang, buat apa repot repot ngurusin kalian." Tamu tak sopan keluh Aini.
"Kurang ajar kau yah nggak punya adat," ucap ipar Aini. Sambil ngomel ngomel.
"Seharusnya kau mikir abang mu untuk aku dan anaknya saja nggak cukup makan, trus buat apa aku repot layanin kalian?" jawaab Aini. " kamu datang ke sini, bukan tamu. Ini sebelah rumah popo kamu. Artinya kamu datang ke rumah sendiri. Ngapain minta di layani segala, punya malu nggak?" tanya Aini.
Dengan kesel Aini berlalu. Lalu Aini pergi ke warung dekat rumah berhutang makanan untuk anaknya pulang nanti. Sesampai anaknya pulang dipanggil masuk ke kamar dan makan siang.
"Oh sedang makan rupanya,tadi katanya nggak ada yang di makan eh diam diam makan," cerocos ipar Aini.
"Apa kau masih ada otak? untuk anak aku terpaksa berhutang untuk kamu buat apa berhutang? Kamu datang tidak di undang lagian kenapa kau sering sering datang," Jawab Aini. Dasar muka tembok.
"Terserah aku kalau mau datang ini rumah abang ku."
"Susah menjelaskan sama orang bermuka tembok, memang rumah abang mu tetapi dia sudah menikah dan punya anak berarti dia punya tanggungan." Itu yang di banggakan punya abang. Kalau tidak punya baru rasa.Dalam hati Aini mengomel terus kalau iparnya datang.
"Ada apa ini ribut ribut?" tiba tiba suaminya datang tanpa sepengetahuan Aini mendengar semua percakapan mereka.
"Istri mu ini saya datang tidak di masak apa apa, tapi diam diam makan dengan anaknya," jawab saudarinya.
"Ini makanan ngutang bukan saya beli, kalau ngutang artinya di rumah nggak ada makanan bodoh," saking keselnya Aini sampai ngatain iparnya bodoh.
Mendengar semua itu suaminya cuma terdiam. Dia tau sebenarnya istrinya tidak salah namun karena adat dia tak bisa berbuat.
"Kita memang tidak cukup makan dan pakaian. Namun kamu sebagai suami seharusnya memahami kondisi kita bukannya kamu malah takut dengan adat," jawab Aini tegas.
********
Capek memang mengikuti keinginan mereka pening kepala. Bag sekolah anak anaknya sudah rusak mhu yang baru. Dan Aini tau suaminya memang tidak punya uang.
Pagi ini Aini mendapat telpon dari orang tak di kenal. Sebenarnya ia malas menjawab. Jadi dibiarkan saja telpon ber dering. Tanpa mempeduli kan hpnya bunyi. Aini sibuk kerja ngurus anak anak dan pekerjaan rumah lainnya.
Hari berganti terus berganti namun ke seharian tetap sama. Kalau iparnya tidak sering datang rasanya lega sekali. Tapi kalau sudah datang pasti pertengkaran terjadi.
Bukan Aini tak suka dia datang di sini kalau sodara datang harus di jamu tetapi lebih sering mereka datang sesuka hati. Orang bertamu pun ada aturan tetapi ini tidak mereka sesuka hati saja. Dan tentu ini yang menyusah kan. Jangan kan untuk menghidang kan tamu jamuan untuk makan sehari hari saja tidak cukup.
Kringgggg... Lagi lagi nomor yang sama menghubungi namun Aini masih enggan menjawab. Karena itu nomor tak di kenal. Lalu sms masuk dari nomor yang sama.
"Assalamualaikum maaf mengganggu saya dapat nomor anda dari seseorang dan dia merekomendasikan saya untuk menjadikan anda penterjemah untuk bisnis kami."
Pesan itu di bacanya namun lagi lagi dia tidak percaya.
"Maaf Buk mohon di balas sms kami?"
Masuk lagi sms selanjutnya. Antara ragu dan penasaran Aini mencoba membalas.
"Maaf anda dapat nomor saya dari mana dan penterjemah apa maksud anda?" balas Aini ragu ragu.
"Makasih sebelumnya Buk, sudah mahu membalas, begini kami mengada kan bisnis kerja sama dalam bidang pariwisata. Jadi kami butuh penterjemah dalam bahasa urdu," jawabnya lagi.
"Ta pi bagaimana bisa saya kerja? Saya nggak mungkin kerja di luar. Sudah pasti tidak di ijinkan," jawab Aini.
__ADS_1
"Iyaa saya sudah paham Buk, nanti anda cukup menjelas dengan watsapp saja. Karena kami nanti akan buat groupnya anda jadi admin penterjemah kalau ada yang butuh penjelasan, nah dengan begitu anda cukup kerja melalui hp dan tidak perlu keluar."
"Trus bagaimana syaratnya bekerja?" tanya Aini mulai tertarik. Mungkin ini jawaban doanya.
"Ibu punya ijazah nggak terakhir tamatan apa?"
"Punya terakhir tamatan SMA."
"Oh ya sudah.untuk formalitas saja nanti ibu kirim fotonya."
"Trus soal gaji bagaimana berapa saya dapat tiap bulan?" tanya Aini mulai paham.
"Nanti saya kirim brosur keterangan soal gaji dan nanti brosurnya ibuk pahami."
"baik lah." Aini seolah tidak percaya. Namun hatinya gembira. Yang penting ada uang masuk.
Antara percaya dengan tidak Aini sangat membutuhkan uang itu. Mungkin ini adalah jalan untuk masalahnya. Semoga lancar saja kerja ini gumam hatinya.
Dan semoga anak anaknya tidak kekurangan lagi. Mudah mudahan bisa terkumpul duit untuk pulang ke tanah air.
"Ami saya butuh duit mau beli buku."
"Buku apa sayang?" tanya Aini sambil memeluk anaknya.
"Adek juga ami pencil adek sudah pendek susah adek nulis," cerocos si kecil.
"Yah sudah nanti abang sama adek beli nanti ami kasih duit," jawab Aini lagi sambil tersenyum senang. Dalam hati dia ingin sekali memenuhi setiap ke inginan anak anaknya.
"Ami ada duit????" tanya anak anaknya .
"Ada sayang tapi tidak banyak," jawab Aini lagi.
"Saya berdoa semoga ami dapat kerja bantu papa cari uang," senyum polos anak bungsunya.
Aini memeluk anak anaknya. Mungkin ini jawaban dari doa selama ini mudah mudahan nanti kerja yang ditawar kan Aini bisa.
********
"Maaf Ini saya Aini yang semalam anda tawarkan pekerjaan," ucap Aini.
"Oh ya bagaimana Buk apa kah anda sudah pahami?"
"Yah sudah," jawab Aini.
"Serius Buk."
"Iya serius bahkan kalau bisa saya minta gaji pertama ini di awal karena saya butuh," jawab Aini terus terang.
"M.mhhh baik lah Buk, mungkin ibu bisa menerima gaji pertama di awal tetapi separo dulu dan separo lagi akhir bulan , bagaimana buk?"
"O.h terimakasih nggak apa apa," jawab Aini girang. Dalam hati bisa di bayangkan senyum anak anaknya. Apa keperluannya akan dibelikan.
"Ibu bisa kirim no account?
"Kirim ke account suami saya saja nanti saya kirim nomornya," jawab Aini.
"Baik lah, di tunggu."
Aini menemui suaminya . Dan mengatakan akan ada kiriman uang nanti bagi langsung ke dia. Dan minta nomor account.
"Sayang minta nomor account mu nanti ada kiriman uang dan kamu bagi langsung ke saya yah," jawab Aini.
"Uang dari mana?" tanya suami Aini penasaran.
__ADS_1
"Saya dapat tawaran kerja," jawab Aini datar.
"Sejak kapan?" tanya pria itu ragu.
"Baru saja dan mereka bayar gaji saya separo di awal separo lagi di akhir bulan, karena saya butuh. Untuk anak anak juga kasihan," jawab Aini.
"Baguslah. Tapi kenapa tidak minta ijin dulu. Bagaimana pergi kerja siapa yang jaga anak.," tanyanya lagi.
"Saya cuma kerja dari hp. Sebagai penterjemah," jawab Aini.
"Oh saya ingat kamu pergi ke luar. Trus siapa yang jaga anak kita?" tanya pria hitam manis itu. Sering suami Aini sesumbar mengatakan dirinya tidak kalah handsome dari shah rukh khan. Tentu saja Aini tertawa.
"Mereka tau saya tidak mungkin keluar rumah. Dan kerja cuma dengan hp," jawab Aini.
"Ma sha Allah tak percaya rasanya mendengar kamu bisa cari uang di sini," jawab suami Aini.
"Kalau sudah terima gaji baru percaya kan? " tanya Aini.
"Hahaha," tertawa suami Aini .
"Ya sudah ini sms sudah masuk duit gaji saya," ucap Aini gembira. "Bagi langsung ketangan saya," ucap Aini ber ulang ulang. Tak mau suami pura pura lupa. Kalau duit ada di hp suaminya.
******
Semoga hatimu sadar suamiku. Aku sekarang bisa mencari uang sekalipun masih mengurus rumah dan anak anak.
"Ini sudah kuambil uang di account," ucap suami Aini.
"Semua uang saya?" tanya Aini lagi.
"Iya. Ini semua tadi sesuai sms kamu," jawab suami Aini.
"Terimakasih," jawab Aini.
"Aini."
"Ya."
"Bisa saya pinjam," tanya suami Aini.
"Buat apa?" tanya Aini.
"Saya mau ke kampung ," jawab suami Aini.
"Kalau nggak ada uang jangan pergi," jawab Aini.
"Pinjam lah nanti saya pulang kan," jawab suaminya lagi.
"Saya bukan tidak mau minjam kan. Tapi saya tak percaya sama kamu. Kamu selama ini mana ada ngasih saya uang," tanya Aini lagi.
"Tapi saya perlu. Pergi kampung ngasih uang buat ayah saya," jawab suaminya lagi.
"Enak aja. Saya tidak mau. Ini uang cuma untuk keperluan anak saya dan saya," jawab Aini cuek.
"Tolong lah, adek saya tidak kerja ayah saya minjam uang, saya mana ada."
"Ya tinggal bilang ke ayah kamu, kalau kamu tidak punya. Kenapa harus nyusahin saya lagi. Kamu apa tidak malu minjam uang ke saya , sementara kamu sendiri tidak pernah ngasih uang. Dan ayah mu juga pelit," jawab Aini.
"Kalau tidak mau ya sudah."
"Lagi pula adek mu sudah besar. Kenapa tidak kerja. Malu lah kamu seharusnya sama saya. Bukan saya pelit. Tapi memang selama ini kalian pelit," jawab Aini.
Aku tidak mau uangku kau pakai untuk biaya keluargamu. Seharusnya kamu cukupkan biayaku dan anak anak.
__ADS_1