Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Kenapa milih Pakistani


__ADS_3

Hai ladies mbak mbak atau yang lagi sibuk nih nyari jodoh pria Pakistan. Ada baiknya kalian terus ikuti cerita ini. Di sini saya sebagai penulis tidak ingin mendiskriminasi pihak manapun. Dan alur cerita itu murni nasehat saja. Secara keseluruhan penulis ingin membentangkan kehidupan sesungguhnya di Pakistan. Tidak melulu adat yang berat sebelah.


Ada sisi posistif yang ingin penulis ceritakan. Yang mana semua tertuang dan terrealisasi dalam kehidupan sehari hari. Kalau pemirsa ingin tau seperti apa hidup di pakistan , rugi kalau tidak membaca sampai tuntas. Dari awal penulis memang sudah menjelaskan sedikit banyak kenyataan di sini. Namun episode kali ini akan penulis bentangkan kenapa dan mengapa bisa terjadi.


Seperti ipar yang berkuasa. Mertua yang memperlakukan buruk para menantu. Dan suami yang lebih condong membela hak saudari di banding istri. Sekalipun sudah menikah. Shock culture yang di alami oleh para wanita indonesia yang menikah dengan pria Pakistan.


Sebenarnya hidup di Pakistan wanita amat di manja. Di sini para wanita sangat tabu untuk keluar sendiri. Kalau ada keperluan maka anggota laki laki yang pergi belanja. Untuk istilah ngerumpi ke rumah tetangga itu tabu. Untuk pergi ke pasar sendiri jangan coba coba. Apa lagi bawa motor bisa di pelototin orang sekampung. Eit tunggu dulu di sini. Baik di kota mau pun di desa tidak ada perempuan yang tidak menutup aurat. Ayo ini adalah poin positif ok. Baik kaya mau pun miskin nggak ada yang pakai bikini.


Ladies mbak mbak ibu ibu ayo ngumpul ngumpul ngerumpi dulu. Ini nih yang harus di contoh. Para wanita Pakistan menutup auratnya.


"Di sini tidak ada perempuan yang memakai baju seksi. Semua di sini memakai slwar dupata gamiz. Panjang dupata itu dua meter. Dan kalau ada tamu lelaki masuk bertamu maka para wanita harus memakai dupata tersebut," terang Aini . Karena hari ini di group ada pertanyaan tentang wanita Pakistan.


"Oh ya mbak katanya perempuan harus membawa jehez. Jehez itu apa yah?" tanya peserta yang lain.


"Jehez itu barang bawaan si mempelai wanita. Berupa isi rumah tergantung keluarga apa yang di kasih," jawab Aini.


"Mbak kenapa perempuan Pakistan kok suka ikut campur urusan rumah tangga abangnya. Dan mertua juga ikut campur urusan rumah tangga anak laki lakinya. Ada teman juga bilang mau apa apa minta ijin dulu sama mertua," tanya peserta satu lagi.


"Sebenarnya di bilang ikut campur tidak juga yah. Ada teman malah mertuanya tidak pernah mengatur dia. Dan tentu saya tidak pungkiri ada yang di atur juga. Di sini para wanita geraknya di batasi. Oleh sebab itu apa pun harus persetujuan mertua atau nenek mereka," jawab Aini.


Sepertinya group semakin seru. Semakin banyak pertanyaan yang masuk. Dan yang lebih seru malah ada yang langsung minat ikut promo tour ke Pakistan.


Maaf mbak mbak semua. Untuk sementara pertanyaan saya stop dulu karena sudah lebih dari kuato yang di sediakan. Untuk memaksimalkan jawaban maka group saya kunci.


*******


"Mbak Ratna ada yang tidak biasa di group hari ini. Tumben banyak mbak mbak yang nimbrung. Ada apa yah?" tanya Aini penasaran. Seperti biasa Aini berdiskusi setelah pekerjaan selesai. Dan itu melalui watsapp juga.


"Entahlah mbak! Saya tadi tidak terlalu fokus sama pertanyaan mereka. Yah mungkin mereka tertarik dengan budaya Pakistan," jawab Ratna santai.


"Ah...kayaknya tertarik pria Pakistan," jawab Aini.


"Hahaha, barangkali. Mana tau sambil menyelam minum air," jawab Ratna.


"Hahaha, saya rasa juga begitu, tapi saya tetap fokus di kerja saja. Saya tidak bisa melayani kalau ada yang minta jasa cari jodoh. Kalau mereka bertanya soal promo dan bagaimana adat di sini boleh saja. Tidak masalah," jawab Aini.


"Mbak Aini sebenarnya saya sudah lama ingin curhat sama mbak. Tapi saya masih belum yakin. Kadang saya ingin putus saja," ucap Ratna terus terang sama Aini.


"Ayo.... Curhat mengenai apa? Jangan bilang kalau mengenai pria Pakistan? Jangan jangan ada gebetan nih mbak Ratna!" ucap Aini curiga.


"Saya sudah menikah mbak dengan pria Pakistan. Sekarang lagi hamil yang ke empat kali. Semoga yang ini baik baik saja," jawab Ratna penuh harap.


" Maa shaa Allah. Anak yang ke empat. Mubarakh ho mbak Ratna," ucap Aini.


Mubarakh ho kalau kita ingin mengucapkan selamat pada seseorang. Jawabannya khair mubarakh.


"Khair mubarakh. Aku belum punya anak mbak. Tiga kali hamil dua kali keguguran dan yang satu meninggal saat dalam kandungan. Semoga yang ini selamat lahir dan sampai besar," jawab Ratna penuh harap.

__ADS_1


"Oh maaf . Saya salah paham. Ya semoga kehamilan kali ini selamat sampai besar. Maaf ni mhu tanya apa masalah kehamilan dulu?" tanya Aini.


"Mbak sendiri tau Pakistan seperti apa. Dan waktu aku awal awal tinggal di sana, aku selalu di perlakukan tidak wajar. Di bentak di suruh ini itu. Dan suamiku juga kerja nggak menentu. Kebetulan aja itu habis melahirkan anakku meninggal di dalam perut, aku dapat kerja ini. Nah aku rencana kan saja pulang tau tau hamil lagi," jawab Ratna panjang lebar.


"Oh" jawab Aini bulat. Kasihan ternyata dia juga korban adat. "Tapi kok bisa mbak kenal suami. Seharusnya mbak tau juga wataqnya bagaimana?" cecar Aini dengan beberapa pertanyaan.


"Mbak kenal dulu waktu tour ke Singapore. Dan kembali pulang ke tanah air. Tetapi dia gigih sekali mengejar aku. Dan akunya luluh juga. Akhirnya kami menikah di Pakistan," jawab Ratna meyakinkan Aini.


"Pertanyaan saya kenapa mbak mau ke Pakistan?" tanya Aini bak seorang detektif. Mencari info yang tersembunyi pada seseorang.


"Ceritanya panjang Mbak! Kalau di ceritakan nggak cukup sehari. Dan kita nyambi pula ," jawab Ratna jenaka.


"Yah kalau panjang buat episode aja. Nanti di teruskan sampai bab akhir. Ingat harus kelar biar dapat gaji. Hehehe," jawab Aini tertawa geli. Habis sudah mulai membingungkan ini orang. Mau cerita aja nggak to the point.


"Mbak. Aku di indonesia sudah punya calon. Teman dari kecil. Tetanggaku di kampung. Jadi waktu pergi tour ke singapore pas waktu pulang, ternyata dia tertangkap basah sama janda. Dan orang orang kampung, juga keluarga, dan teman teman dekat melarang aku bertemu dia," ujar Ratna sambil menghela nafas dalam dalam.


"Trus. bagaimana kelanjutannya?" tanya Aini.


"Dan begitu aku tau aku shock berat. Karena perkawinan kami cuma jarak seminggu lagi. Semua sudah di persiapkan. Cuma undangan yang belum. Jadi suamiku ini memang setiap hari telpon bahkan berkali kali. Aku dalam keadaan stres berat. Jadi aku tak memperdulikannya. Rupanya keluargaku malah nyuruh dia datang. Tepat tiga hari sejak keluargaku nyuruh datang, benaran datang dia. Aku mau nolak ya nggak mungkin. Begitu ceritanya sampai ke Pakistan," jawab Ratna panjang lebar.


"Dan sekarang apa masalahnya?" tanya Aini masih ingin tau.


"Nah begitu aku ke Pakistan ternyata aku baru tau suamiku orang biasa saja. Bahkan emasku kujual demi mencukupi biaya ku di sana. Cerita mantan ku dia sudah menikah dengan janda itu. Sedangkan aku terdampar di negri antah barantah ini. Perlakuan keluarga suami sangat buruk. Itu yang membuat aku tiga kali hamil tidak berhasil punya anak," curhat Ratna sedih.


"Miris sekali. Bagaimana dengan suami? Apa dia tidak berusaha apapun untuk pernikahan kalian?" tanya Aini.


"Tadi mbak bilang mau pisah saja. Itu maksudnya apa? Aku kok merasa aneh sama suami kamu, seperti enggan bertanggung jawab," ujar Aini.


"Mbak aku juga nggak habis pikir. Suami aku pemalas sekali sejak pulang ke negaranya. Bahkan selama aku tinggal di rumah mertua. Beliau sering menyalahkan aku. Bahasa mereka sering mengatakan // mera beta tumhari wajase barbad hogia// ya aku mula mula tidak paham. Tapi lama lama aku ngerti. Katanya gara gara aku hidup anaknya hancur," ucap Ratna sedih.


"Itu mah wajar. Kamu di salahkan. Tapi ya nggak wajar kalau suami kamu masa bodoh saja. Setidaknya dia berusaha kek. Jangan cuek aja," jawab Aini protes.


"Mbak suami saya mau nikah dengan tunangannya, itu yang membuat saya mau pisah saja," ucap Ratna. Mengaget kan Aini.


"Apa??????? Menikah????? Dengan tunangannya?????


"Iya Mbak. Dan saya sering melihat perempuan itu bicara ama suami. Baik di telpon atau secara langsung. Saya tertekan selama di sana. Berpengaruh pada janin saya. Saya juga lihat sms suami kalau ternyata dia masih mencintai wanita itu. Ini lah yang membuat aku kuat untuk berpisah," terang Ratna panjang lebar.


"Trus apa suami kamu tau kalau kamu hamil," tanya Aini curiga.


"Tidak. Karena saya tau hamil begitu sudah pulang ke tanah air. Dan saya juga tidak mengatakan pada suami. Karena saya ingat suami akan kembali pada tunangannya, aku harus bagaimana Mbak," tanya Ratna pada Aini ter isak menahan tangis.


"Yah kamu jangan nangis. Aku ikutan sedih dengarnya. Tapi kalau kamu mau nasehat saya rasa kamu sendiri pun tau mana yang terbaik buat kamu. Pertanyaan saya tolong di jawab, apakah kamu mencintai suami kamu? Karena menurut cerita kamu mantan tunangan mu juga berselingkuh," ucap Aini .


"Kalau mau jujur, saya mencintai dia. Apa lagi sekarang saya hamil sudah yang ke empat," jawab Ratna sedih.


Ratna berhenti beberapa saat. Karena banyak beban yang ingin di kuranginya. Dan tentu ingin menangkan batinnya. "Mbak aku pamit dulu. Aku mau lanjut lagi nih kerja masih berantakan. Mungkin aku akan berhenti kerja di group ini," ujar Ratna.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu sudah punya cadangan pekejaan lain?" tanya Aini penasaran. Memang sih dengar dengar gaji Ratna tidak seberapa. Namanya jadi pekerja yang untung besar tentu bos. Anak buah tidak.


"Aku punya ternak bebek. Lumayan hasilnya. Nanti sambil menjaga anakku. Lagi pula orang tuaku sudah bercerai dan menikah lagi. Aku tinggal di rumah kakek. Rumah itu peninggalan kakek. Dan orang tua ku sudah punya rumah masing masing," jawab Ratna.


"Trus siapa yang jaga kamu nanti melahirkan?" tanya Aini.


"Ada ponakan, yang masih smp, sma mereka juga bantu bantu mengurus bebek ku. Mereka anak yatim," jawab Ratna.


"Ok deh kapan kapan kita sambung lagi," lanjut Aini.


********


Wajah tampan hidung mancung badan tinggi atletis. Siapa yang tidak tergoda dengan tatapan tajam sang pria Pakistan. Apa lagi kalau sesama muslim dan sopan.


Pria pakistan itu royal dengan keluarga. Dan sangat menghormati ibu. Dan menjaga saudarinya. Wanita bagi mereka adalah kehormatan.


Pantang bagi mereka menodai kehormatan wanita lain. Termasuk tetangga dan wanita di kampung mereka. Karena wanita di sini juga tidak bebas.


"Ada yang bertanya kenapa adat begitu di junjung." Yah adat itu mengatur supaya peraturan tidak berubah. Tata krama tidak berubah.


Kalau kamu menikah dengan pria Pakistan, sudah pasti kamu nanti juga di hargai dan di perlakukan terhormat. Nah timbul masalah iri dengki antara ipar dan istri abang. Antara mertua dan menantu. Mereka sama sama wanita. Yang merasa tersaingi. Jadi hal yang wajar.


Seperti kejadian Aini beli baju. Dan Yasmin pun ingin. Karena memang selama ini Furqan memanjakan Yasmin. Begitu menikah sifat Yasmin tidak berubah kepada Furqan, karena di tempat mertuanya dia tidak mendapatkan apa yang di dapatkan bersama keluarga.


Kringg........


"Mbak Aini apa kabar? Aku sudah sampai di Pakistan lagi," jawab Aisha teman yang dulu nangis nangis juga curhat masalahnya.


"Ya Ampun. Kapan? Kok kamu bale lagi? Saya ingat kamu tidak akan pernah kembali lagi," jawab Aini heran.


"Habis bagaimana lagi. Aku masih cinta suami aku Mbak! Dan aku sudah punya anak anak. Kasihan anak anak ku kalau harus berpisah dengan bapaknya," jawab Aisha.


"Hahaha. Jujur saja kenapa mbak. Nggak tahan itu dirimu. Namanya anak anak seiring waktu akan biasa. Cuma diri mu yang sulit melupakan dia," tukas Aini lagi.


"Mbak benar deh. Aku sebenarnya yang tak tahan. Dan aku milih bale lagi," jawab Aisha.


"Iya deh. Tapi aku ingin tau alasan kamu untuk bertahan. Padhal kamu sudah pulang. Dan bawa anak anak. Kok bisa bisanya balik lagi. Dulu ngomong mikir lagi kalau balek. Dan perlakuan ipar juga mertua yang bikin stres?" tanya Aini panjang lebar.


"Alasannya. Suami ku tipe setia. Tidak merokok. Tidak main perempuan. Dan pasti sayang sama anak anak. Jarang loh aku ketemu tipe pria sesederhana itu di tanah air. Yang paling aku nggak tahan sama mantan yang dulu karena suka main perempuan. Yah dulu aku nggak ada anak. Sekarang dengan suami ini aku ada anak. Malah anak anak lebih dekat dengan bapaknya. Tidak segan segan ngurusin anak anak. Mandiin, ceboin, nidurin ngajak main. Kalau wajah yah jelas kalah jauh suami yang dulu. Hehehe," jawab Aisha.


"Aduh.... Iya deh. Sekarang kamunya yang harus hati hati. Demi anak anak kamu harus kuat. Dan kamu belajarlah bahasa sini," jawab Aini.


"Mbak aku mau belajar sama mbak bahasa sini," jawab Aisha.


"Bayar," jawab Aini.


"Berapa?" tanya Aisha.

__ADS_1


"Kamu cari anggota paling dikit lima orang. Maka akan saya buat group melalui watsapp saja. Seribu rupe perbulan. Bayar di awal bulan. Bagaimana setuju? Kalau setuju hubungin aku nanti," jawab Aini lagi.


__ADS_2