Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
kisah 4


__ADS_3

Nasib para Wni yang di Pakistan selalu ada suka duka. Setelah lama Aini tak tau kabar berita teman teman. Bahkan group Urdu Zuban cuma tinggal dua orang saja.


Hari ini Aini kembali menyelesaikan tugas group. "Assalamualaikum. Apa kabar?/ kia hal he? Apa semua baik baik saja?/ sab khariat he?" tanya Aini sewaktu membuka group.


"Waalaikumussalam. Kami baik baik saja! / hum sab thehk hn! , dan kamu bagaimana?/ our ap kese he?" ucap mereka barengan.


"Wah pada lancar yah ngomongnya. Semoga bermanfaat ya," ucap Aini.


"Mbak Aini. Aku lihat berita di tv Kamalia heboh sekali waktu itu! Ada apa yah?" tanya Mira.


"Hai... Jangan di tanya. Ngerii. Sampai sekarang pun, aku kalau ingat takut keluar," jawab Aini.


"Teman teman yang lain sudah pada berhenti yah!" tanya Mira.


"Iya. Mereka ada pada pulang. Terakhir telponan sama Aisha. Dia sudah pulang kembali ke tanah air," ucap Aini.


"Ah. Masak! Yang bener Mbak? Katanya sudah senang di sini. Suami baik mertua baik. Nggak ada yang suka ikut campur lagi. Kok sekarang pulang?" tanya Rina.


"Iya sih. Tapi yang sekarang justru suaminya yang mau pindah," jawab Aini.


"Wah kalau gitu asik dong," jawab Mira.


"Ini bulan terakhir yah kita di group. Minggu depan last materi. Dan saya harap ada manfaatnya," ucap Aini.


"Iya mbak. Sejak gabung lumayan bahasa Urdu ku. Nanti semoga mudah berkomunikasi dengan calon mertua," jawab Mira.


"Memang kapan rencana kawinnya mbak?" tanya Rina.


"Kalau nggak ada rintangan minggu depan saya sudah di Pakistan. Saya juga sudah boking tiket pesawat pulang pergi," jawab Mira.


"Oh.. Semoga lancar. Datang sendiri apa sama keluarga Mbak Mira?" tanya Rina


"Awalnya saya di suruh datang sendiri. Karena biaya saya calon suami yang tanggung semua. Tapi ayah sama kakak nggak ngijinin pergi sendiri. Dan akhirnya kami bertiga ikut. Tiket pergi calon suami yang bayar. Tiket pulang sendiri kami bayar," jawab Mira.


"Bagus kalau begitu semoga lancar," ucap Aini.


"Mubarakh ho/ selamat ya," ucap Rina.


"Khair mubarakh/ selamat kembali," jawab Mira.


"Meri taraf bi mubarakh ho/ dari saya juga selamat yah. Our doa ki liye hamesha khush raha karo/ dan doa untuk kamu selalu bahagia," ucap Aini.


"Sukria baji/terimakasih Mbak. Ap ne bhot madat kiye/ kamu banyak membantu," jawab Mira.


"Nanti kamu pulang tidak ke tanah air? Atau tinggal di sini?" tanya Rina.


"Belum tau Mbak. Maunya tinggal di tanah air saja.


"Kalau mau di tanah air dari awal awal kamu harus meyakinkan dia. Kalau tidak sama aja dengan kami. Nanti susah pulang," ucap Aini.


Satu persatu teman Aini banyak yang pulang. Bahkan tiga teman group Urdu Zuban juga telah pulang. "Ah kapan giliran ku," gumam Aini.


******


Pagi ini suasana tenang seolah tidak ada bencana. Namun banjir mulai terdengar di mana mana. Tak terkecuali daerah yang rawan bencana.


Kring... Kring...


"Asalamualaikum... Mbak! Apa kabar," tanya suara di seberang sana.


"Waalaikumussalam. Kabar baik, kamu bagaimana?" tanya Aini.


"Mbak sudah lihat berita? Terjadi banjir besar di wilayah swat dan sekitarnya. Hampir seluruh tergenang banjir. Banyak korban berjatuhan. Kasihan," jawab Rina.


"Loh kok kamu tau. Saya nggak begitu perhatian. Karena sejak kejadian baku tembak di tempat tinggal saya, saya sudah takut sendiri. Sekarang di sini semakin mengerikan," ucap Aini.


"Coba mbak lihat di tv beritanya sangat menyedihkan. Belum lama ini politik carut marut Imran Khan turun. Harga barang makanan naik. Sekarang bencana alam melanda. Hampir 60% wilayah Pakistan kena banjir. Bawang, gandum dan sayur sayuran lain serba mahal kedepannya," ucap Rina.


"Kok kamu tau," tanya Aini.

__ADS_1


"Yah tau Mbak. Suami saya punya teman di wilayah sana. Gudang penyimpanan gandum, dan barang makanan kering lainnya kena rendam. Sekarang rugi besar semua pengusaha itu. Tidak bisa di selamatkan. Belum lagi penculikan anak anak," ucap Rina.


"Kalau berita penculikkan yah di tempat kami masih aman. Cuma harga barang barang memang mahal. Entahlah di sini bagaimana kedepannya. Semoga saja cepat pulang ke tanah air," ucap Aini pasrah.


"Memang mbak mau pulang? Kapan?" tanya Rina.


"Yah kalau ada uang pulang. Ngapain juga di sini. Lebih baik di tanah air. Negara sendiri, musim di sana normal. Nggak terlalu extrem seperti di sini," ucap Aini.


"Ami.....! Saya lapar mau makan," ucap Ali. Tiba tiba Ali minta makan. Memang musim sejuk maunya makan terus.


"Ok Rina pamit dulu nih! Anakku minta makan lapar," ucap Aini.


"Baiklah silahkan Mbak. Lain kali kita sambung lagi," ucap Rina.


Tiba tiba... Di masjid ada pengumuman penculikkan anak anak. Dan di harap para orang tua menjaga anak anak mereka. Jangan biarkan bermain di luar.


"Huhuhuhu....anakku. Ke mana engkau nakkkk. Ibu kuatir Nak! Pulang Nak! Huhuhu...," Teriak histeris seorang wanita. Suara berisik gaduh ramai orang orang berkumpul di luar.


"Iya tadi dia pergi ke kedai. Dekat rumah saja. Dan sekarang tidak pulang. Ada yang melihat anak itu di bawa naik motor. Tapi anak itu tidak teriak," ucap seseorang.


"Oh mungkin di kasih obat bius. Jadi tidak berteriak. Sekarang jaga saja anak anak. Jangan main di luar atau ke kedai sendirian. Harus ada yang menemani," ucap yang lain.


Aini yang mengintip dari balik jendela semakin gelisah. Karena beberapa belakangan ini, selalu ada kejahatan terjadi. Entah apa yang memicu semua ini.


Yang jelas semakin susahnya ekonomi. Biaya semakin besar penghasilan berkurang, maka membuat orang orang melakukan apa pun demi uang.


Kring..... Kring.....


"Halo mbak Aini. Tolong Mbakkkkk! Anak ku di culik. Mbakkkk," ucap Meta di telpon.


Aini tertegun. "Mbak Meta.....! Yang sabar yah. Semoga anak mbak bisa di temukan," ucap Aini menenangkan.


"Iya Mbak kalau ada berita penemuan anak di tempat mbak, tolong pastikan dia. Ini foto anakku. Huhuhu.... Hiks..hiks....huhuhu..," isak Meta menahan tangis.


Aini semakin gelisah. Baru saja tadi temannya Rina mengabarkan penculikan anak. Dan Aini bilang di tempatnya aman, tiba tiba Meta menelpon anaknya hilang.


Kepala Aini semakin berdenyut pening. Memang Pakistan dalam masa politik yang kacau. Para pemimpin negri cuma asik berebut kursi dan saling menyalahkan. Bahkan kejadian beruntun di mulai dari atas.


Sementara kubu Imran Khan, selalu menyalahkan pemimpin yang baru atas musibah ini.


Tiba tiba ada yang datang ke rumah Aini. "Assalamualaikum. Maaf apa anda kenal anak ini? Dia bicara bahasa Indonesia! Dan mengatakan nama ibunya Meta," ucap tetangga sama Aini.


"Waalaikumussalam. Ya Allah ya Robb... Barusan ibunya menelpon saya," ucap Aini dengan mata berkaca kaca. "Ini tadi foto yang di kirim ibunya. Ketemu di mana? Ayo masuk dulu! Tolong hubungi polisi. Dan ibunya tadi juga menghubungi polisi. Katakan ketemu anaknya. Ada di Kamalia," ucap Aini.


"Anti kenal ibu saya. Hhuhuhuhu..... Ibuuuu... Saya mau pulang..... Mau ketemu ibu," isak anak itu. Namanya Muskan.


"Sini Nak! Coba ceritakan bagaimana kejadiannya?" tanya Aini.


"Saya pergi ke kedai tidak jauh dari rumah. Lalu ada anti anti manggil saya. Saya tidak kenal, tapi dia terus mendekat. Saya takut, dan mau lari. Tiba tiba saya di bekap dari belakang. Saya tidak bisa teriak. Di bawa saya naik mobil," ucap Muskan masih ketakutan.


"Trus bagaimana kamu bisa lolos dari mereka?" tanya Aini.


"Mobil berhenti. Karena jalan macet. Lalu saya berpikir mau kabur. Keluar dari mobil. Saya gigit kuat kuat tangan perempuan yang megang saya. Trus saya buka pintu trus lari. Rupanya orang orang curiga dan saya ketemu paman tadi yang mengantar saya ketemu Anti," isak Muskan.


"Ya sudah kamu jangan kuatir. Sekarang ibumu dalam perjalanan ke sini. Sekarang kamu makan dulu. Kamu sekarang aman. Ok," ucap Aini menenangkan Muskan.


Tidak lama datang orang tua Muskan menjemput Muskan di dampingi polisi.


"Di mana anakku," isak Meta. Tidak sabar.


"Ibu......," teriak Muskan. Sambil berlari memeluk ibunya. Meta juga terisak menahan tangis memeluk anak gadisnya.


"Sudah ayo masuk dulu," ucap Aini.


"Terimakasih Aini. Saya sudah ketakutan sekali. Dan saya bisa gila kehilangan Muskan. Karena saya tidak yakin kenapa bisa terjadi," ucap Meta sedih.


"Kami mengucapkan terimakasih pada Mbak. Sudah menemukan Muskan," ucap ayah Muskan sambil membelai putrinya.


"Berterimakasih pada pria ini. Tadi dia yang membawa Muskan ketemu saya. Karena Muskan bicara Bahasa Indonesia. Dan kebetulan ini Kamalia. Jadi pria itu ingat saya orang Indonesia," ucap Aini sambil menunjuk pria itu.

__ADS_1


"Makasih bang. Sudah menyelamatkan anak saya," ucap ayah Muskan.


"Tidak apa apa. Lain kali hati hati. Jangan biarkan anak anak keluar sendiri," ucap pria yang menyelamatkan Muskan tadi.


"Semua sudah jelas. Mulai sekarang bagi para masyarakat mohon kerja sama dengan pihak polisi, jika ada orang orang yang di curigai gerak geriknya. Memang sekarang penculikan anak sedang marak. Apa lagi kejadian banjir di swat. Banyak anak anak yang di culik. Dan di ambil organ tubuhnya," ucap polisi yang mengawal tadi.


"Baiklah. Kami pamit Aini. Kamu juga hati hati," ucap Meta.


"Mbak juga yah," balas Aini.


Mereka semua keluar membawa Muskan. Dan para tetangga mulai berkurang kerumunan. Polisipun pergi beserta iringan mobil keluarga Muskan.


Kringg.... Kring.... Telpon Aini berbunyi.


"Ya sayang," jawab Aini. Rupanya dari Furqan.


"Ada apa tadi? Aku dengar ada yang menyampaikan berita penculikkan?" tanya Furqan


"Siapa yang menyampaikan?" tanya Aini.


"Samer," ucap Furqan.


"Tapi tadi Samer tidak ketemu sama saya. Aneh itu orang. Memang datang ke sini tapi tidak bertanya apa apa dengan saya. Eh malah melapor ke kamu!" ucap Aini.


"Saya jadi kuatir dengan kamu dan anak anak. Sekarang di Pakistan banyak kejahatan. Apa apa susah. Orang orang tak ada mikir halal haram," ucap Furqan


"Kamu tau Meta? Itu hari pernah ketemu depan rumah. Nah anaknya yang di antar ke rumah saya. Anaknya di culik dan meloloskan diri. Ketemu sama jiran kita. Karena anaknya pakai Bahasa Indonesia, jadi sama tetangga tadi di antar ke saya," terang Aini.


"Oh. Kasihan. Sudah ketemu sama orang tuanya?" tanya Furqan.


"Sudah. Karena kebetulan juga si Meta sebelumnya telpon saya, mengatakan minta tolong kalau ada anak hilang di temukan. Dan dia kirim foto anaknya. Itu lah tadi saya kenal. Dan polisi dan tetangga juga percaya. Lalu tak lama datang si Meta sama suami," terang Aini.


"Oh sukurlah. Sekarang kamu jaga betul anak anak kita. Jangan biarkan main sendiri. Apa lagi pergi ke kedai," ucap Furqan.


Berita di kembalikan Muskan ke orang tuanya menghebohkan group Wni. Banyak yang prihatin karena punya juga anak anak yang masih kecil. Dan tidak sedikit mengucap selamat sudah di temukan.


******


"Kenapa bisa lepas?" bentak pria itu.


"Dia menggigit saya. Dan kebetulan mobil berhenti karena jalan macet," bela si wanita tak mau di salahkan.


"Kalau ini bocor dan tau kita pelakunya. Maka kau yang pertama kali ku tembak," ucap pria itu beringas.


"Dalam minggu ini harus dapat lima anak. Paham," bentak pria itu lagi.


"Yang di sekap sudah ada tiga anak. Kira kira umur 9, 8 dan 5 tahun. Nanti akan saya cari lagi," ucap wanita itu kesal.


Keadaan Kamalia seolah sudah biasa saja. Sekalipun berita penculikkan masih tersebar, namun anak anak tetap bermain di depan rumah. Seperti tidak takut takutnya. Tetapi Akram dan Ali memang tidak di ijinkan Aini main di luar. Dan anak anak itu nurut saja.


Akram diam diam menjalankan misi selanjutnya. Kode rahasia yang harus di kirim untuk mencairkan dana. Bantuan untuk korban banjir bandang.


Seperti main petak umpet, Akram harus hati hati. Kalau tidak nyawa ibu dan adeknya jadi taruhan. Kalaupun di serahkan kepada polisi sama saja bunuh diri. Jalan satu satunya tetap waspada dan secepatnya pergi dari Kamalia.


Ada pesan masuk.


Berikan kode rahasia. Dan kirim ke daerah bencana. Dengan beberapa titik berbeda.


Akram dengan teliti mengirim pesan tersebut. Yang tinggal tiga kali pengiriman lagi. Setelah habis dengan sendirinya laptop menjadi hilang data datanya.


Orang yang menitipkan laptop itu cuma bernasib naas saja malam itu. Dia seorang yang jenius.


Klik. Pesan sudah di terima dan uang sudah cair. Harap hapus pesan ini untuk keamanan pribadi.


Segera Akram menghapus. Di tempat di mana para pemuda yang di tahan tuan jamal sudah kehabisan akal. Bagaimana mencari jejak laptop. Tiba tiba tuan Jamal memberi perintah bebaskan saja mereka. Segera anak buah tuan jamal membebaskan.


Dan...


......

__ADS_1


Mereka di ikuti terus diam diam. Dor... Satu pemuda meninggal.


__ADS_2