
Sudah lama Aini tidak telponan dengan teman teman yang dulu saling curhat dengannya. Sekarang dia mencoba menghubungi satu persatu.
Tut tut....
Panggilan terputus tidak tersambung. Di coba nomor lain.
Tut tut...
Sama juga. Ah pada kemana nih orang orang gumamnya. Tiba tiba ada telpon masuk dari temannya yang lain. Memang sih yang ini jarang telpon namun dulu juga saling cerita.
"Assalamualaikum mbak apa kabar ? Maaf mengganggu," jawab suara di seberang sana sopan.
"Waalaikumussalam ah nggak kok memang aku lagi megang hp, apa kabar diri mu?" tanya Aini lagi.
"Aku sedih mbak akhir akhir ini selalu bertengkar dengan suami, ada aja kesalahanku. Sementara aku juga sibuk ngurus anakku," ucapnya lirih.
"Kenapa? Kalau kamu tidak salah kenapa suamimu marah marah?" tanya Aini.
"Biasa lah mbak iparku sama mertua yang selalu komporin suami, ada aja yang salah di mata mereka, inilah itulah dan aku harus kerjakan semua pekerjaan di rumah. Padahal ipar ada mertua ada. Sedangkan aku sendiri juga punya anak kecil. Tetapi suami malah percaya aja omongan ibu sama saudarinya," curhat wanita itu lagi.
"Trus? Apa kamu tidak mencoba melawan. Kalau diam saja ya mereka leluasa," jawab Aini kesal.
"Yah aku capek mbak coba bayangkan aku sudah kerjakan semua pekerjaanku,dan aku juga ngurus anak anakku masak aku juga ngurus mertua dan ipar yang baru melahirkan? Semua aku yang di suruh. Kadang anakku juga nangis. Mereka tidak mencoba membujuk. Tapi di liatin saja. Lain kalau aku sedang meluk anakku trus anaknya di kasih ke aku suruh pegang," apa nggak capek aku.
"Yah bilang lah sama suami kamu. Masak iya istri sudah kewalahan tapi diam saja," jawab Aini.
"Suami bilang tolong sajalah, apa salahnya nolong. Mereka saudara kasihan," itu jawabnya bikin sebel.
"Apa nggak mikir capeknya bagaimana pula suami, nggak peduli kesusahan istri. Kalau begitu kamu lawan saja. Jangan mau di suruh apa pun. Yang penting urus anakmu saja. Mereka mau apa terserah janji kamu jaga anakmu," jawab Aini kesal. Benci dengar cerita penindasan dan yang tertindas tidak mau melawan. Kalau begitu jangan curhat sama orang. "Kamu yah jangan mahu di jadikan babu merekakan punya tanggung jawab masing masing masak iya semua di limpahkan sama kamu," jawab Aini.
"Itu lah mbak aku makin kurus aja mbak bukan kurang makan , pikiranku terganggu mbak, ingin pulang saja. Daripada begini terus. Aku sudah bilang pulangkan saja aku. Namun suami nggak mau malah ngancam mau bakar pasporku," jawab teman Aini sedih.
"Yah kamu harus lawan dong, jawab jangan diam aja ya wajar mereka perlakukan kamu seenaknya aja. Aku sudah bilang kamu belajar bahasa sini. Kalau kamu bicara aja tidak bisa mereka paham, yang ada salah paham terus. Mungkin juga maksud mereka lain, dan pendapatmu lain akhirnya salah kaprah. Menurut aku masalah kita di sini kebanyakan bahasa tidak paham," jawab Aini panjang lebar.
"Mbak susah memahaminya, aku nggak ngerti bahasanya jadi aku sering di ketawain," jawabnya lagi.
"Yah wajar saja. Percuma kalau kamu curhat pun. Bagaimana orang ngasih saran kamu aja nggak ngerti apa apa," jawab Aini ketus.
"Stress saya suami nggak peduli malah bilang saya aja yang terlalu buat masalah. Saya nangis malam malam. Suami paling cuek saja."
"Di mana mana suami Pakistani itu sama, mana peduli mereka dengan perasaan istrinya tetapi kalau perasaan ibunya saudarinya nah, nggak tahan mereka. Langsung komplain marah. Sekalipun ibu dan saudarinya salah. Tetap di bela. Akhirnya istri makan hati. Tertekan persaan. Malah suami nggak peduli. Kasihan," jawab Aini.
"Aku dari pagi bangun ngurus anakku. Trus nyapu ngepel. Itu semua mulai dari pintu masuk sampai dapur. Mereka semua time itu masih tidur. Itu pun marah marah pagi pagi berisik, katanya. Orang masih tidur."
"Aku yang dengar sesak jadinya jalan satu satunya kamu jawab, bilang aja saya cuma ngurus anak saya, kalian uruslah anak kalian, mereka beranak mau ngurus nggak mau. suka nyuruh nyuruh. Dan tak mau di suruh. Kalau begitu kita juga mau nyuruh mereka , gampangkan?" jawab Aini.
"Mbak sebentar yah mbak nanti kutelpon lagi, nih anakku sudah tidur aku di panggil nih sama iparku," pamit teman Aini.
Lalu telpon terputus kasihan itu temennya Aini bahasa nggak ngerti mau melawan pun susah.
Hehehe kalau Aini sudah habis itu ipar ama mertua di kata katai beranak aja mau ngurus nggak mau, kalau kalian anggap aku babu gaji dong hehe.
Aini memang teman curhat yang asik . Di antara teman teman yang merasa Aini sangat bisa di percaya bahkan ngasih jalan keluar kalau pun terbilang extrem.
Pernah juga Aini alami.
"Aini sini," teriak ipar Aini.
__ADS_1
"Apa? Tidak lihat saya sibuk? Panggil orang suka suka," bentak Aini.
"Kok kamu bicara begitu? Tolong ini pegang sebentar." Sambil nyodorkan anaknya ke Aini.
"Hei saya sibuk! Ngapain saya harus pegang. Urus sendirilah," jawab Aini.
"Tadi kamu saya lihat duduk nonton saja, sibuk apaan?" bentak iparnya.
"Itu baru saja saya istirahat," jawab Aini.
"Kamu saya lapor sama suami kamu nanti, baru rasa," ancam iparnya.
"Laporkan saja. Saya sekalian robek mulut kamu di depan abangmu," Aini semakin melawan.
"Ada apa ini? Ribut ribut kerja kalian," tegur suami Aini. Tanpa sadar suami Aini datang. Dan mendengar Aini dan iparnya bertengkar.
"Istrimu ini. Nggak sopan sopan. Minta tolongpun susah," protes ipar Aini.
"Oh..jadi kalau sopan itu jadi babu kau. Baru sopan namanya. Orang kalau sopan itu jangan nyusahin orang. Datang ke sini ngatur ngatur. Tak punya malu," bentak Aini kasar. Terserah di bilang nggak sopan. Nggak masalah. Dari pada di suruh ini itu. Lawan saja.
*********
Ya iya lah,masak iya mau jadi keset kaki trus ini orang orang anggap kita itu babu, di mata mereka bahkan barang barang kita pun seenaknya di ambil.
Coba kalau punya mereka oh bisa marah besar. Tiba tiba call masuk di lihatnya ternyata dari temannya yang lain.
"Apa kabar mbak?" suara khas yang Aini kenal.
"Baik aku biasa sibuk ngurus anak anak dan rumah kerja nggak habis habis," balas Aini.
"Rumah siapa mbak?" tanya Aini balik.
"Loh kan di umumkan di group mbak , nggak baca yah?" tanya wanita itu heran juga. Di ingatnya Aini sudah tau.
"Oh...kagak aku jarang baca sms group aku malas aja, nggak bermutu. Cuma pamer pameran. Aku ada ini itu keluarga ku bla...bla.... Suamiku punya bla....bla... Intinya di group wstsapp itu cerita nggak berkualitas. Lebih baik nggak di baca," jawab Aini.
"Sama mbak saya juga. Sesama wni aja kadang suka sindir sindiran, misal kalau ada yang susah gitu yah malah di sindir bukannya di suport gitu," jawab teman Aini.
"Itu lah mbak, aku yah nggak mau nimbrung di group yang ada bikin pening. Mending kalau dapat duit ini mah yang ada, nggak jumpa juga,baca sms bikin sakit hati, aku pernah koment lalu langsung di tegur. Sejak itu aku malas," jawab Aini.
"Mbak aku waktu itu bilang di group, kalau suami aku belikan aku emas tapi sudah di jual time ipar ku kawin , yah ku bilang aja memang aku sekarang nggak pakai emas, eh malah diledekin rame rame salah yah ngomong gitu," tanya teman Aini heran. Dengan sesama Wni kok begitu.
"Ya salah menurut mereka makanya di ledekin," jawab Aini.
"Mbak aku jujur yah memang suami aku nggak ngasih lebih ke aku, tapi dia sama anak anak sangat perhatian, pendidikan anak anak suami sangat ketat, jadi aku mikir buat apa tention soal emas baju yang pentingkan masih makan," jawab wanita itu.
"Bener kamu,sekarang temen temen yang bikin sakit kepala sudah kasih panadol aja mereka , yang penting sekarang kamu fokus aja sama anak anak dan suami, soal mertua dan ipar yah kamu pandai pandailah dan kamu bilang mau pulang. Yah sudah kalau suami kamu setuju kalian simpan simpan duit,nggak usah cerita dengan orang yang bikin tention diam diam aja trus sudah sampai di Indonesia," jawab Aini ngasih saran.
"Iya mbak suami aku juga bilang katanya kita mau pindah cuma nunggu warisan ini di bagi bagi trus kita pindah, bapak mertua masih hidup dan harta gono gini mau di bagi selagi beliau hidup, minta doanya saja mbak. Semoga cepat selesai. Suamiku sudah bosan di sini. Dia orang sini pun nggak sanggup apa lagi kita?" jawab wanita itu pasrah.
"Bagus itu nanti kamupun harus bersiap siap juga kalau pulang, di tanah air suami kamu belum tentu punya pekerjaan. Nah kamu harus pikirkan baik baik, disini kamu tention gara gara ipar dan mertua. Sementara di tanah air tention gara gara kerja apa? Belum lagi kalau suamimu di godain wanita sana , kamu sendirikan ngerti perempuan kita bagaimana? bukannya saya menjelekkan orang kita tapi banyak yang genit dan centil. Hati hati," nasehat Aini lagi.
"Iya mbak aku ngerti ,aku ada tanah di sana tapi rumah belum. Di bangun nanti kalau kami pulang. Saya akan coba berniaga kambing kerbau ayam itik, aku sudah bilang ke suami kita jadi petani saja, saya suka biar petani bersama suami," jawab teman Aini penuh semangat.
"Semoga suksesnya maaf nih aku pamit dulu," potong Aini.
"Baik mbak jaga diri baik baik."
__ADS_1
********
Ternyata dari tadi sudah banyak cal masuk dari teman yang duluan cerita sama Aini.
"Iya maaf nih tadi ada telpon sama temen juga," jawab aini.
"Oh nggak apa apa mbak aku butuh pendapat ini mbak tolong bantu mbak," tanya teman yang pertama nelpon tadi.
"Apa itu?" tanya Aini serius.
"Begini tadi aku cerita dengan mbak trus pamit. Sebentar nidurin anakku di kamar. Trus pintu kamar aku tutup. Karena aku mau istirahat eh tiba tiba pintu di gedor keras aku buka, ternyata iparku nyuruh aku jaga anaknya dia mau pergi , yah ku jawab aku mau istirahat aku capek. eh malah dia bentak aku marah marah bilang ke ibunya, tau mbak ibu mertua aku juga marah marah, yah kubilang anakmu urus sendirilah emang kalian pernah ngurus anakku, jadi ribut tadi mbak," curhat teman Aini.
"Jawab aja ngapain takut ntar kalau suami kamu marah jawab juga begitu," jawab Aini.
"Iya mbak. Sudah muak aku. Lebih baik aku pulang saja. Ngapain juga di sini," ucap teman Aini.
"Tapi kamu bilang uang nggak ada. Suami kamu mana ada uang," tanya Aini.
"Memang mbak suamiku nggak punya uang. Tapi aku ada uang di indonesia. Aku sudah bilang kakakku untuk kirim. Nanti uang sudah sampai aku diam diam urus semua," jawabnya lagi.
"Wah bagus itu. Jangan tau suamimu uang kamu yang simpan," jawab Aini ikut senang.
"Aku pasport mau sambung POC masih hidup. Sementara anak anakku lahir di sini. Tinggal buat NICOP saja. Mbak minta doanya saja semoga lancar," pinta temannya itu.
"Amiin. Semoga kamu di lancarkan urusannya. Dan jangan lupa saya di sini. Kalau sudah sampai kirim kirim saja kabarmu. Biar saya tenang juga nggak bertanya tanya terus," jawab Aini haru. Tak terasa rindu pulang juga di alamin Aini. Setiap ada teman berencana pulang.
***********
"Ami ji, kapan kita pulang kembali ke Indonesia? Saya mau pindah saja," jawab anak sulung Aini. Dalam hati Aini juga sedih mau pulang. Dan untuk kembali lagi tidak mungkin rasanya.
"Ami juga mau sayang. Di sana musimnya normal sepanjang tahun. Tidak terlalu dingin atau panas. Makananpun sangat bervariasi. Buah buahan banyak yang enak. Semoga kita tercapai untuk pulang," jawab Aini lirih. Sedih bingung.
Kringgggggg......
"Assalamualaikum," jawab Aini.
"Waalaikumussalam. Apa kabar Nak? Ibu kangen kamu. Sudah lama tidak telpon?" tanya suara di seberang sana.
"Ibuuuu... Aku juga kangen. Kok nomor lain? Suara ibu kenapa?" tanya Aini. Ternyata ibunya yang nelpon.
"Ibu demam kena selsema. Tapi sudah baikan, tinggal suara saja yang belum pulih. Kamu dan anak anak bagaimana?" tanya ibu Aini.
"Baik baik ibu. Barusan saja si sulung bilang mau pindah saja ke Indonesia. Lalu ibu telpon," jawab Aini.
"Iya mungkin ibu juga kangen jadi cucu cucu ibu merasa juga," jawab Ibunya haru.
"Ibu adek bagaimana? Apa suaminya tinggal di rumah kita? Bagaimana anak anaknya?" tanya Aini menanyakan keadaan adeknya.
"Yah biasa saja. Anak anaknya sekolah. Dan suaminya jarang pulang. Cuma ngirim uang. Itu pun tidak seberapa," jawab ibunya.
"Yang penting ibu di sana cukup makan," jawab Aini.
"Yah cukuplah. Cuma ibu kangen kamu. Kapan kamu pulang?" tanya ibunya sedih.
"Ibu berdoa saja. Semoga kita bertemu lagi."
Terobati juga kangen dengan ibunya. Aini sudah lama tidak melihat ibunya. Kalau di telpon video call sering. Berharap Aini juga pulang. Dan membawa serta merta anak anaknya. Dan tidak mau kembali.
__ADS_1