
Kejeniusan Akram tidak ada yang mengetahuinya. Termasuk Aini. Untuk saat ini lebih aman Akram hidup seperti anak bandel yang selalu bertengkar dengan adeknya Ali.
Dari luar Akram seperti anak remaja umumnya. Dia pandai menyembunyikan kejadian sesungguhnya. Akram sangat teliti. Bahkan untuk urusan dengan siapun.
"Akram.... Ke mana kamu?" teriak Aini.
Yah seperti biasa Akram selalu membandel sama ibunya. Namun kali ini bukan sifat dia. Tetapi justru untuk mengelabui orang orang. Termasuk mata mata tuan Jamal.
"Hai mau ke mana? Hati hati bawa motor," ucap pria separoh baya.
Akram ada keperluan ke luar. " Baik uncle. Makasih."
"Bhai ikut..." ucap Ali.
"Sayang turun. Jangan ikut dengan abangmu. Biar dia cepat pulang," ucap Aini melarang Ali ikut.
"Mhhh tak mau. Saya mau ikut," ucap Ali semakim merengek.
Melihat itu pria yang tadi menyapa Akram tidak curiga dengan Akram. Dia untuk sementara menjadi mata mata di kampung itu. Mencari sosok anak jenius yang di titipi laptop.
Akram tersenyum simpul. Karena dia sudah paham gerak gerik pria tadi. " Ayo Ali. Ikut bhai nggak. Kita jalan jalan di sini saja," ucap Akram.
"Akram sudah bawa masuk Ali," teriak Aini.
"Iya Ami ji. Ayo kita masuk. Ami sudah manggil. Cepat cepat," ucap Akram sambil berlari lari kecil mengajak Ali masuk. Sebelum masuk Akram melihat dua orang pria menunjuk nunjuk ke arah rumah pemuda yang tertembak tempo hari.
"Ami. Kami masuk minta makan," ucap Ali jenaka.
"Sttt diam mari sini cepat," ucap Aini pada anak anaknya. Mereka mendengar suara rintihan dari rumah baba haji. "Akram ayo kita lihat dari atas atap," ucap Aini lagi.
"Ayo tapi pelan pelan. Jangan sampai mereka tau kita lagi menguntit mereka," ucap Akram.
Mereka sembunyi sembunyi melihat dari atas. Deg....astaghfirullah. Ternyata Inza memukul Mehek. Dan berkali kali memukul kepala belakang Mehek.
"Ya Allah lihat apa yang dia perbuat," ucap Aini.
"Ami kasihan sekali Mehek. Sementara anti dan baba haji tidak mau tau. Kalau anak mereka justru sering di siksa oleh Inza.
"Sudah kita nggak usah ikut campur nanti kita yang repot. Cepat turun," ucap Aini.
__ADS_1
Aini tidak tau kalau Akram tadi sempat mengambil video. Inza dengan jelas menyiksa Mehek.
Aini turun ke bawah di ikuti Akram. Tapi Akram sudah punya rencana sendiri. Dia ingin mengirim video tersebut ke pihak berwajib. Namun dia batalkan. Dia memilih mengirim langsung sama baba haji.
"Inza...," panggil baba haji.
"Iya papa. Ada Apa?" tanya Inza.
"Tolong suapkan Mehek," ucap baba haji.
Dalam hati Inza kesal dan menggerutu. Dia sudah muak dengan tugas mengasuh Mehek. Dia ingin bebas dan memiliki keluarga sendiri.
Setelah baba haji pergi. Inza menyodorkan penuh penuh sendok berisi makanan ke mulut Mehek. Spontan saja Mehek mengap mengap kesulitan bernafas. Sepintas baba haji menoleh, rupanya baba haji ingin menguji Inza. Ternyata benar, video yang di kirim Akram membuat bukti nyata kejahatan Inza. Baba haji terdiam dan terduduk lunglai. Selama ini istrinya selalu menyalahkan Aini dan Akram. Namun kali ini justru dia lihat sendiri dengab bukti bukti. Tiba tiba bruk...baba haji terjatuh pingsan.
"Papa.., mama cepat ke sini. Papa pingsan," teriak Inza.
"Kenapa bisa pingsan? Ayo panggil tetangga minta tolong," ucap istri baba haji.
"Mama biar saya panggil Asnen saja. Dia ada di rumah sekarang," ucap Inza.
"Cepat," perintah mama Inza.
"Asnen tolong ke rumah. Baba haji pingsan. Dia terjatuh," ucap Inza senang melihat Asnen ada di rumah.
"Ayo cepat," ucap Asnen.
Mereka segera mengangkat tubuh tua itu. Dan memanggil ambulan. Aini melihat dari atas atap bersama Akram. Karena memang mereka sudah lama bermusuhan.
Ternyata baba haji mengalami stroke. Dokter menyarankan rawat inap. Inza sedih begitu juga istri baba haji.
"Suami ku. Kenapa ini bisa terjadi? Dokter berapa lama dia akan pulih kembali?" tanya istri baba haji.
"Kita lihat saja nanti. Kami akan pastikan pasien tidak memiliki penyakit lain," ucap dokter.
Istri baba haji sangat sedih. Dan untuk sementara dia meminta Inza pulang dengan Asnen. Karena Mehek di rumah sendirian.
"Inza. Kamu pulanglah dulu. Jaga Mehek. Biar mama di sini dulu," ucap mama Inza.
"Baik mama," ucap Inza senang. Sekarang kesempatan bersama terbuka lebar bersama Asnen.
__ADS_1
******
Sebulan sudah berlalu. Baba haji masih belum pulih bahkan dia seperti bayi besar. Apa apa harus di layani.
Sementara Inza malah semakin leluasa bersama Asnen. Baba haji melihat dalam diam. Namun tidak bisa berbuat banyak. Bahkan baba haji melihat depan mata sendiri Inza memukul Mehek. Lagi lagi baba haji pasrah.
"Ami ji. Sini," ucap Akram.
"Apa?" tanya Aini.
"Lihat baba haji. Sekarang dia semakin tertekan. Bahkan tidak bisa berbuat sesuatupun," ucap Akram berbisik. Mereka ibu dan anak mengintip dari atas atap.
"Ssst.. Sudah turun. Biarkan saja. Memang ini yang seharusnya terjadi. Kalaupun kita bantu sekarang tetap tidak berguna. Malah kita yang di salah kan," ucap Aini.
Kring..... Kring... Telpon berbunyi.
"Assalamualaikum. Iya sayang apa kabar?" tanya Aini.
"Waalaikumussalam. Baik kamu dan anak anak bagaimana?" tanya Furqan.
"Alhamdulillah baik. Sayang kamu bagaimana?" tanya Aini.
"Saya baik baik saja. Kamu uang tolong di hemat jangan boros. Kalau mau cepat nanti ke sini. Paham?" ucap Furqan.
"Ya saya paham. Sayang kamu sudah tau kabar baba haji. Sekarang beliau semakin parah. Dan semua dia lihat apa apa saja yang di perbuat Inza. Tapi dia sendiri sudah tidak bisa bergerak. Dan Asnen sekarang bebas di rumah baba haji," ucap Aini.
"Sayang biarkan saja mereka. Kamu harus hati hati jangan biarkan Asnen berteman dengan Akram," ucap Furqan.
"Ya saya paham," ucap Aini.
*****
Malam di mana hampir tragedi berdarah kembali. Bagaimana tidak? Ternyata Asnen ketua salah satu geng komplotan tuan Jamal.
Akram secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Asnen. Dan tentu tujuan mereka masih sama mencari laptop itu. Kalau di serahkan atau ketemu kita tetap akan menghabisi orang tersebut. Begitu kata kata yang di dengar Akram.
Deg... Jantung Akram berdebar keras. Dia buru buru turun. Nafasnya ngos ngosan.
"Akram kamu kenapa? Jangan buat ami takut Nak?" tanya Aini.
__ADS_1
"Ami kita harus segera pergi dari sini. Saya sudah bosan di sini," ucap Akram berbohong. Memang lebih baik harus pergi.