Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Tahun kedua


__ADS_3

Aini merasa kandungannya semakin besar dan dia semakin kepayahan. Menyesuaikan diri di negara ini. Setelah pindah ke tanah milik suaminya dia hidup sangat kekurangan karena memang belum siap. Namun Aini memilih bertahan. Sekalipun begitu kalau mahu ke kamar mandi dia masih numpang ke rumah cacu suaminya. Namun dia pun tau kalau istri cacunya tidak suka. Pernah suatu kali anaknya mahu ke wc lalu istri cacunya marah nggak boleh menggunakan wc miliknya.


"Hei kau jangan gunakan wc sini," hardik cacinya sambil mengusir bocah itu.


Gara gara di hardik sambil menahan perut anaknya meringis lari ke tempat ibunya.


"Kenapa sayang?" tanya Aini pada anaknya.


"Mau ke wc ami tapi nggak boleh sama yang punya," jawab bocah itu menahan perut.


"Ya udah kamu di parit ini aja." Ada parit depan rumah aliran air limbah. Aini nyuruh anaknya bab di situ.


Sebenarnya Aini tau kalau menumpang itu nggak enak memang benar kadang anaknya degil tetapi kalau bukan karena suaminya dia juga nggak akan mau numpang.


Kamar mandi yang di gunakan belum siap karena suami Aini memang berencana memperbaiki rumah. Namun kalau nyuruh nyuruh cacu ama caci tu bukan nya sopan pelan ngomong main bentak saja ke anak Aini.


"Aduuuuhhhhhh sakiiiittt." Aini bergegas keluar melihat apa yang terjadi karena dia mendengar jeritan anaknya.


"Ada apa ini kenapa pukul anak ku?" tanya Aini sambil memeluk anaknya.


"Dia tadi di panggil nggak dengar, lepas itu di suruh belanja malah nggak bener, apa yang di suruh beli bukan itu yang di beli."


Aini cuma mengurut dada melihat sikap mereka yang sebenarnya kesalahan anaknya tidak sebanding pukulan yang di terima. Bahkan mereka mukul kepala bagian belakang.


"Aduhhh sakittt ami tolong."


Aini cuma bisa nangis melihatnya karena dia selalu di tekan oleh keluarga suaminya bahkan tidak bisa melindungi anaknya untuk membelapun tidak bisa. Kalau Aini ngomong sudah pasti Aini di bilang tidak sopan padahal anaknya baru umur tujuh 5 tahun masih anak anak yang tidak tau apa apa.


Aini serba takut bingung karena suaminya lebih percaya ucapan keluarganya sebenarnya keluarga suaminya kalau ngomong ke suami Aini bilang baik baik saja tetapi kalau perlakuan ke Aini dan anaknya mereka jahat. Bahkan mereka sering mengejek anak Aini dengan mengatakan ibu mu orang asing kamu pun juga.


"Jangan bilang apapun ke suaminya. Nanti kita disalahkan. Kamu harus kontrol dia terus." Caci terus memfitnah Aini pada suaminya sendiri.


Nah baik di rumah bahkan di sekolah atau tempat less sering menerima perlakuan diskriminasi nah kalau di laporkan ke saudara suaminya atau cacu dan caci yang ada mereka ketawa. Seolah mereka malah setuju dengan perlakuan orang orang ke pada anaknya.


Yang lebih menyiksa suami Aini malah menganggap Aini terlalu berlebihan soal anak. Akhirnya hari hari Aini lebih sering menerima penghinaan semena mena baik dari keluarga suami atau tetangga yang punya anak menjahati anaknya. Keluarga suami yang seharusnya melindungi mereka karena suaminya di luar negara malah seolah menyetujui kalau ada orang yang jahat sama anak Aini.


Kejadian pagi ini pun sama dengan sebelum nya.


"Anti anak anti mukul saya ," ucap anak orang melapor ke Aini. Yang sebelumnya anaknya lari kedalam rumah mengunci diri di kamar.


"Nak keluar dulu, jangan sembunyi kalau kamu tidak salah keluar."


"Anti itu karena dia salah makanya sembunyi nggak mahu keluar."


"Hei kamu diam ya saya tau anak saya nggak mungkin mukul kamu. Kalau kamu juga nggak salah,lebih baik kau pergi keluar, sana pulang kerumah orang tua mu kalau kamu memang nggak bisa berteman baik jangan kau panggil dia, untuk main bersama tadi kau yang panggil minta ijin sama saya sekarang kau pula ngadu ke saya pulang sana!"


Anak itu pulang ngomel ngomel. Memang begitu kebiasaan anak anak sini. Tadi dia yang ngajak main eh sekarang dia yang laporin. Sudahlah Aini nggak paham mhu ngomong eh keluarga suaminya balik marah marah sama Aini dan anaknya.


"Kamu, anak mu kenapa nggak di ajarin, sama orang lain bertengkar terus." Caci sengaja memojokkan Aini.


"Anak anak main itu wajar kadang bertengkar."


Aini membela anaknya . Eh malah keluarga suaminya semakin ngomel ngomel. Masalahnya sekarang Aini nggak ngomong pakai bahasa sini dengan lancar jadi ucapan Aini yang ada mereka semakin ketawa. Gimana nggak stress mereka dulu melarang Aini bicara bahasa indonesia sekarang Aini tidak bisa ngajarin anak nya karena anaknya tidak bisa bahasa ibunya.


Tahun berlalu Aini melahirkan normal. Memang dia tidak mahu di operasi. Dia takut tetapi dokter sini kalau swasta malah sengaja nakut nakuti biar operasi saja. Alasannya macam macam anaknya gede airnya banyak bla..bla... Intinya harus di operasi.


Aini takut sekali suami nggak ada keluarga nggak ada. Namun Aini bersikeras melahirkan normal.

__ADS_1


"Maaf Dok. Saya tidak mau operasi. Biarkan saya melahirkan normal," jawab Aini ketika di tanya dokter.


"Tapi ini beresiko?" ucap dokter.


Setelah masuk ruangan bersalin. Dan mulai merasa mulas. Dalam kesakitan yang sungguh luar biasa Aini bisa mendengar dokter itu menggerutu katanya ini sama saja dengan operasi karena luka sobeknya besar.


Perih mendengar ucapan dokter seolah dokter tidak punya perasaan untuk menolong orang. Yang ada duit saja. Namun Aini tak berdaya. Setelah selesai dibersihkan mereka pulang.


Ternyata benar dokter itu tidak menjahit luka sobek melahirkan dengan benar. Aini susah bangun duduk sangat susah karena perutnya terasa turun.


"Cup cup sayang jangan menangis ada ami." Di gendong anaknya sambil tertatih tatih.


Sekalipun ada ipar mereka cuma santai saja. Tetapi kepada suaminya di bilang sangat menjaga. Malam malam sering kelaparan dan anaknya sering kedinginan karena tidak mempunyai baju yang lengkap di musim dingin.


"Saya mau beli baju untuk anak saya," bisa kamu antar saya. Tanya Aini pada iparnya.


"Nanti abang saya marah ngapain beli beli."


"Apa kamu tidak lihat anak saya nggak ada baju? Dia butuh."


Yang ada bukan prihatin malah iparnya ketawa karena Aini bicara nggak benar alias omongannya terdengar lucu. Jadi semakin menjadi jadi keluarga suaminya. Cuma alasan di buat buat agar Aini diam saja.


"Sayang kenapa kamu tidak suruh adek mu belikan baju untuk anak kita, kalau saya tidak boleh pergi suruhlah dia."


"Biar nanti saya yang belikan."


"Apa???? Kau yang belikan trus kapan di pakai anak ku kau di luar sana."


Ternyata itu permainan iparnya sengaja di bilang lain ke suaminya. Padahal sebenarnya baju anaknya memang tidak ada. Sekadar membelikan pun iparnya bertingkah. Lagi lagi Aini tidak bisa berbuat apa pun untuk anak anaknya.


Di saat anak keduanya mulai bisa berjalan ternyata caci suaminya hamil padahal dia sudah berumur dan mengadopsi anak saudaranya perempuan. Lalu sekarang dia hamil.


"Bagi sini bale anak saya," ucap Aini.


"Tak apa biar saya gendong," cegah caci lagi.


"Nggak usah kalau kalian duduk di sofa sementara musim dingin kalian biarkan anak saya di lantai."


"Ini lihat istri ponakan mu, anak nggak boleh kalau kita gendong," teriak cacinya pada suaminya.


"Kenapa kamu tak bole anak mu kami gendong? Kami ini siapa dia? Apa tidak ada hak untuk menggendong dia?" tanya cacu bertubi tubi.


"Kalau kalian gendong sementara mau di taroh di lantai lebih baik nggak usah di gendong," jawab Aini lagi dengan tegas.


"Ohh saya laporkan ke suami kamu nanti."


"Silahkan, ini hp saya laporkan telponlah," tantang Aini lagi.


Sejak itu cacu ama caci suaminya nggak teguran dengan dia. Sampailah umur anaknya bisa jalan. Karena cacinya mulai hamil. Dan istilahnya mau membuat Aini terpaksa balas budi. Sementara Aini tidak begitu suka anaknya di ambil dan di gendong karena mesti badan anaknya sakit sakit lepas di gendong oleh mereka.


"Sayang kenapa tadi cacu marah marah?" tanya suami Aini di telpon.


"Begini caci ngambil anak kita, trus mereka semua duduk di sofa. Sementara anak kita di lantai padahal dia nelungkup aja belum, jadi ku mintalah. Marah marah bini cacu kamu bilangin nggak boleh anaknya di gendong," jawab Aini panjang lebar.


"Yah saya percaya kamu kamu yang tau anak kita kamu jaga saja."


"Lagian kamu tau kalau caci itu gendong anak di balik balikkan. Trus kepala di buat angguk angguk itu kan bahaya, memang anak ketawa tapi itu sangat fatal untuk kepalan ya," jawab Aini lagi.

__ADS_1


"Iya kamu jaga saja tak usah bagi dia gendong, saya pun tau itu perempuan sifat bagaimana," jawab suami Aini.


"Tapi cacu kamu malah ikut ikutan bising."


"Dia memang begitu sudah jadi bodoh gara gara bininya biar saja."


"Ya sudah kita tau mana yang baik untuk anak kita itu hari pun juga pasal mata berair, biasanya anak bayi wajar mata berair namun cacu ama caci mu terus aja bising suruh periksa cuma gara gara dia bising terus sampai sudah tiga dokter semua bilang itu wajar apa nggak gila itu orang tua suka ngatur ngatur pada hal mereka salah."


Setelah kejadian itu cacu ama cacinya nggak pernah lagi gendong anak Aini sampailah cacinya hamil barulah pura pura gendong anaknya. Maksudnya nggak lebih baik malah supaya Aini jadi makan budi nanti Aini di suruh suruh ini itu seperti babu.


Singkat cerita akhirnya cacinya melahir kan. Melahirkan anak melalui operasi.


"Cacu bagaimana keadaan caci dan bayinya? Apa sudah boleh pulang?" tanya Aini.


"Belum masih di rawat, kalau mau ikut ayo sekalian."


Tangisan bayi tengah malam sering terdengar. Sejak kelahiran anak cacu. Dan yang lebih menjengkelkan caci malah semakin bertingkah. Suami Aini ternyata menyuruh Aini bantu bantu. Maksudnya apa di suruh menolong pekerjaan caci karena baru saja melahirkan sementara Aini juga punya anak bayi. Pintar sekali sandiwara mereka. Dan Aini tak habis pikir kok suaminya sampai tega pada hal mereka juga ada anak.


"Sayang kamu yang suruh saya bantu mereka? Sayakan ada anak juga?" tanya Aini.


"Tak apalah bantu dia kasihan."


Pertengkaran dan pertengkaran gara gara sikap suami. Tidak mengerti istripun susah. K.alau Aini juga ikut bantu bantu trus pekerjaan rumah ngurus anak siapa.


Itu lah yang buat Aini semakin sakit hati bukan tidak mahu ikut ucapan suami tetapi fikir jugalah anak bini. Masa iya diakan ada keluarga yang bisa di mintai tolong. Trus kenapa harus jadikan Aini babu.


Dikit dikit panggil Aini suruh gendong anaknya. Saking keselnya Aini akhirnya bertengkar juga. Sampai dibilangnya dulu anak mu sering kami gendong sekarang kamu nggak mau gendong anak saya.


Gila kalian dari dulu aku sudah tau niat kalian. Lagi lagi Aini juga yang salah di mata suami kalau sudah terjadi pertengkaran. Suami Aini tetap nyuruh Aini bantu bantu. Maksud mereka Aini kalau di panggil datang bantuin. Bagai mana mahu menjelaskan sementara suami sendiri seperti setuju dengan perlakuan mereka.


begitulah trus berlanjut sampai suami Aini kembali dari luar. Setelah kembali lebih dahsyat lagi perlakuan cacu caci dan suaminya.


Begini sejak kepulangan suaminya rupanya suami Aini lebih percaya ucapan cacu dan caci apa nggak semakin stress Aini di buat oleh suaminya.


Suatu hari cacinya manggil Aini. Tapi nggak mau datang trus datang anak sulungnya datang, Aini kasih alasan dan setelah itu datang cacunya tetap nggak di gubris Aini eh..ternyata suaminya nyuruh datang.


"Kenapa kamu tak datang di panggil?"


"Saya tau kenapa dia suruh datang ,untuk ngurut anaknya."


"Kamu datanglah sebentar."


"Kamu masih waras nggak sih , nanti setelah itu malah mereka seperti jadi kan aku pembantu."


"Mereka bilang kalau kamu yang ngurut anaknya badannya senang tapi kalau caci yang buat anaknya sakit sakit itu kata cacu."


"Lah itu bukan urusan saya, itu anaknya sendiri seharusnya dia lah yang lebih faham."


"Sudahlah kamu pergi saja," ucap suaminya.


"Nggak mahu rasain aja sekarang sudah ada anak baru rasa. Dulu dia apa buat dengan anak ku kamu pun tau."


"Tapi anaknya apa salah?" tanya suaminya.


"Heran saya sama kamu masalah ini pun kamu tetap nyalahkan saya," ucap Aini lagi.


"Yah kalau kamu tak mau tak payalah," jawab suaminya .

__ADS_1


"Memang saya tak mau," jawab Aini ketus.


Kesel sebel nggak tau lagi apa yang lagi yang mahu dikatakan. Yang lebih menyesakkan suami yang seharusnya membela eh malah menyalahkan. Ini lah yang membuat Aini dan anaknya jadi tempramen karena semua selalu semena mena.


__ADS_2