
"Ahkkk..," teriak Busra. Melihat kejadian di depan matanya. Ketika Kazem berusaha ingin menembaknya tanpa sengaja justru Kazem menembak diri sendiri. Setelah sebelumnya kakinya terpleset kaki meja.
"Tuan, ada apa. Busra bibi. Tuan tu tuan...," ucap anak buah Kazem gugup.
"Kenapa?" tanya Busra.
"Sudah meninggal," ucap pria itu.
"Nah sekarang dengar semua. Kejadian yang menimpa Kazem ada lah akhir dari tempat ini. Karena sewaktu waktu pemerintah akan menyita semua tempat ini. Sebaiknya kalian berhenti sekarang. Saya akan memberi gaji kalian," ucap Busra.
Suasana di kediaman Busra bibi sangat tidak bisa di prediksi. Sekarang yang tersisa cuma apa yang sudah pernah di ambil Busra. Harta kekayaan ayahnya akan di sita oleh pemerintah.
Semua orang sibuk mengurusi jenazah Kazem. Dan beberapa orang juga sudah mulai mengemasi barang barang. Mereka akan meninggalkan rumah besar itu.
Busra bibi sesuai janji memberi gaji semua pelayan. Dan mereka menerima tanpa banyak komentar. Uang tunjangan rata rata lebih dari cukup untuk sebulan makan. Setelah semua selesai. Tinggallah Busra bersama ibunya.
"Ibu kita juga akan keluar dari sini. Kita tidak akan tenang di sini. Kita cari tempat lain. Untuk sementara saya sudah menyiapkan tempat kita. malam ini juga kita akan keluar. Ambil barang seperlunya saja," ucap Busra tenang.
"Nak! Semua seolah sudah di atur. Dan ibu tidak habis pikir, kita masih selamat. Kita tidak punya siapa siapa lagi. Selain kita berdua. Apa yang akan terjadi ke depannya? Ibu masih takut," jawab wanita tua itu.
"Jangan takut. Aku akan menjalani hidup normal. Menikah punya anak keluarga. Lebih baik kita lupakan saja ini. Masa lalu yang kita tidak mengerti arah tujuan," jawab Busra.
Ibu dan anak itu segera berkemas. Membawa barang seperlunya. Dan keluar dari rumah penuh tragedi itu. Sejenak Busra memandang sekeliling rumahnya. Dan keluar perlahan menarik koper berisi pakaiannya.
"Ayo Bu, kita berangkat," ucap Busra.
"Baik lah," ucap wanita itu.
Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah itu. Malam ini tiada seorang pun di sana. Setelah beberapa jam kemudian. Terjadi ledakan dahsyat di Kamalia.
Buaaaaarrrr.... Buaaarrrrr...
Dua ledakan hebat meratakan rumah yang baru di tinggal Busra.
******
"Ami ji. Saya mau pergi dulu. Nanti sekalian saya beli barang keperluan dapur. Ibu jangan ke mana mana. Semalam terjadi ledakan bom di sini. Banyak polisi bersiaga," ucap Akram
"Kamu yang hati hati di jalan. Cepat pulang bila sudah selesai. Jangan ke mana mana," ucap Aini.
"Baik lah Ami," jawab Akram.
Akram keluar bawa motor. Dan dari kejauhan dia melihat kerumunan masa di tempat kejadian. Ini justru mempermudah pencairan uang yang tinggal dua lagi tersisa. Tetapi Akram sudah melepas laptop itu. Tinggal bagi penemu sekalipun tidak tau tanpa sengaja tetap bisa mengirim kode rahasia.
Akram masuk ke tempat belanja keperluan dapur. Tiba tiba. "Akram," panggil Busra. Di sebelah Busra ada Yasmin.
"Popo. Kok bisa bersama anti Busra?" tanya Akram.
"Ayo sini kita makan dulu," ajak Yasmin.
Mereka bertiga masuk ke sebuah resto. Dan memesan makanan. "Mau makan apa? Biar saya yang traktir," ucap Busra.
"Nasi, ayam goreng. Dan minuman chae," ucap Akram.
"Saya burger. Ayam goreng. Dan coca cola," ucap Yasmin.
"Tidak ada yang mau pizza? Satu pizza size jumbo plzz," ucap Busra.
"Wah kamu ternyata sangat asik yah," ucap Yasmin.
Tidak lama datang pesanan mereka. Dan menikmati semua hidangan tanpa sisa. Sambil bercerita dan saling berbagi. Seolah mereka sudah kenal lama.
Busra ternyata sangat tertarik dengan cerita Yasmin tentang Furqan. Dan berusaha mengenal lebih jauh. Tiba tiba Akram pamit pulang dulu.
"Terimakasih atas makanannya. Saya pamit dulu," ucap Akram.
"Baiklah kamu hati hati, sampaikan salam buat ibumu," ucap Yasmin.
"Baiklah," jawab Akram.
__ADS_1
Lalu Akram pergi menghilang dari keramaian pasar. Ternyata Busra semakin asik bicara dengan Yasmin. Yasmin menatap lama pada Busra.
"Kenapa menatapku demikian?" tanya Busra.
"Kenapa kamu tidak menikah?" tanya Yasmin.
"Aku belum kenal pemuda baik. Yang mahu menikahi ku," jawab Busra.
"Seperti apa karakter pria idaman mu?" tanya Yasmin.
"Mhhh... Seperti apa yah?? Kira kira seperti Akram, hahaha enggak lah aku bercanda," jawab Busra. Sambil meminum coca cola. Entah kenapa tiba tiba Busra berubah dengan Akram. Seolah niat ingin memiliki laptop itu tidak pernah ada.
"Mhh kalau kamu tau abang saya. Saya jamin kamu suka dia," ucap Yasmin.
Deg.... Jantung Busra berdebar. Dan wanita itu kelihatan gugup sekali. Seolah jalan pikirannya tertebak.
"Ah.. Jangan bicara begitu. Furqan kan sudah punya istri dan anak anak," elak Busra.
"Jadi istri ke dua juga nggak masalah. Lagi pula saya tidak begitu suka dengan Aini. Kalau kamu mau saya bisa atur," jawab Yasmin serius.
"Ta...tapi bagaimana mungkin? Saya takut nanti justru Furqan yang menolak. Saya jadi malu," jawab Busra.
"Kalau tidak di coba mana tau," ceplos Yasmin.
"Iya juga yah," jawab Busra.
Perbincangan mereka semakin serius. Dan akhirnya mencapai kesepakatan. Andai Yasmin bisa menjodohkan Busra dengan Furqan maka iming iming uang sudah di depan mata.
"Begini, seandainya kamu mau menikah dengan abang saya. Tanpa kamu kasih uang pun saya setuju. Apa lagi kalau ada hadiah uang. Jadi plus setuju," ucap Yasmin setuju.
"Ok kamu atur saja. Bisa kamu kasih foto foto Furqan?" tanya Busra.
"Kenapa tidak?" jawab Yasmin.
Lalu mereka bubar. Dan pulang ke rumah masing masing. Yasmin naik riksaw sendiri menuju rumah suaminya. Sedang kan Busra pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan dalam mobil tak henti hentinya dia menatap foto Furqan. "Ahk.. Kenapa yah? Kok saya jadi penasaran dengan sosok Furqan. Saya ingin mengenal dia lebih jauh. Semoga dia tidak menolak saya," batin Busra.
*****
"Siapa Nak? Apakah ibu kenal dia? Di mana tinggalnya?" tanya ibunya.
"Furqan. Yang memiliki istri orang asing. Saya kenal saudarinya. Dan ingin kenal lebih jauh dengan sosok Furqan," jawab Busra.
"Maksud kamu? Furqan ayah dari Akram?" tanya Ibunya.
"Loh kok ibu tau?" tanya Busra.
"Ya jelas ibu tau. Akram sering bantu ibu. Sewaktu di Kamalia kita sering bertemu. Karena dia sering ambil air dekat filter. Tak jauh dari rumah kita," ucap Ibunya.
"Ibu, bagaimana pendapat ibu tentang Furqan?" tanya Busra.
"Setau ibu dia anak yang baik. Dia pribadi yang baik. Tapi dia sudah menikah. Setau ibu istrinya tidak pernah pulang sejak datang ke sini," jawab Ibunya.
"Artinya dia sangat rindu negaranya. Tapi kan sekarang Furqan kerja di malaysia. Bisa saja suatu saat nanti dia pulang," jawab Busra.
"Tapi menurut ibu. Justru ibu ingin punya menantu seperti dia," jawab Ibunya.
"Coba lah cari tau keluarganya. Atau nanti kita undang ke sini saudarinya," ucap Busra bersemangat.
Busra semakin penasaran dengan sosok Furqan. Padahal selama ini dia tidak kenal sama sekali. Gara gara Akram lah dia ingin mengenal Furqan. Di tambah dukungan Yasmin. Dia ingin lebih kenal dekat.
Kring.... Kring.... Tiba tiba telpon berbunyi. Ternyata dari Yasmin.
"Sedang apa? Apa saya mengganggu?" tanya yasmin.
"Ah.. Tidak. Saya justru baru cerita dengan ibu saya. Ternyata ibu saya kenal baik dengan Furqan. Yasmin.... Apa kamu bisa mengatur perjodohan ini?" tanya Busra semangat.
"Saya justru ingin mengatakan ini. Nanti saya akan coba bincang sama Sana dan Samer. Kalau Sana dan Samer di kasih uang mesti setuju dengan kita. Kalau saya kamu tidak kasih pun tidak apa," ucap Yasmin.
"Tak apa yang penting perjodohan lancar. Dan saya akan bagi hadiah yang banyak untuk kalian. Karena saya juga sudah capek dengan kesendirian saya. Semoga dengan perjodohan ini saya bisa punya rumah tangga yang bahagia," harap Busra.
__ADS_1
"Dan yang penting kamu setuju dengan syarat syarat kita. Ok . Karena saya justru akan terus mengganggu Aini sampai dia tidak betah di sini dan minta pulang. Begitu dia pulang ke negaranya maka dengan mudah abang saya akan menikah lagi. Paham?" terang Yasmin panjang lebar.
"Baik lah atur saja sama kamu," jawab Busra.
*****
Benar saja, demi ambisinya Yasmin berjuang bagaimana agar Aini hidup menderita di sini. Dan mohon mohon untuk di pulangkan ke negaranya.
Seperti sudah di atur semua oleh Yasmin agar Furqan mengirim Aini pulang. Biar rumah yang di tempati sekarang kosong. Lalu meminta Furqan menikah lagi.
Kring.... Kring....
Telpon dari Furqan tak terjawab. Rupanya Aini lupa menghidupkan bunyi hp.
Sayang kamu ke mana? Kenapa hp tidak di lihat. Apa kabar anak anak? Kamu sendiri bagaimana? Saya kuatir seperti ini kamu tidak mikir. Kalau ada keperluan mendadak trus bagaimana? Setelah kamu lihat, tolong di jawab. Saya mau bicara serius.
Setelah hampir beberapa jam baru lah Aini memeriksa hp nya. Ya ampun sudah banyak sms dan telpon dari Furqan. Aduh pasti dia marah gumam Aini.
Maaf sayang. Hp tidak ada bunyi. Saya lupa periksa. Ada apa? Kami di sini semua baik baik saja. Anak anak sebentar lagi mau ujian naik kelas. Dan mereka belajar dengan baik.
Aini memperhatikan hp. Tidak ada tanda di baca sama Furqan. Tiba tiba pintu di ketuk seseorang. Ternyata Yasmin datang bersama Sana.
"Apa kabar Aini?" tanya mereka.
"Baik. Kok kalian datang tidak ngasih kabar?" tanya Aini.
"Ini rumah abang saya. Dan saya tidak perlu memberi kabar dulu. Kami bisa datang sesuka hati kami. Dan kamu tidak bisa melarang kami. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa pulang ke negara kamu," jawab Yasmin sinis.
"Apa maksud kedatangan kalian? Sepertinya kalian ingin merencanakan sesuatu! Apa itu? Bisa bagi tau saya yang jelas," tanya Aini.
"Mmh.. Bagus. Akhirnya kamu paham juga. Kenapa kamu tidak pulang pulang ke negara kamu," tanya Yasmin.
"Kamu ingat saya mau di sini? Saya juga ingin pulang dan tak mau kembali," jawab Aini lagi. Heran ini saudari suaminya. Ingat sudah hilang nafsu serakahnya. Sekarang malah bangkit lagi keserakahannya.
"Bagus cepat cepat lah kamu pergi dari sini. Biar saya carikan istri untuk Furqan orang sini. Dan patuh adat sini. Bawa jehez tidak macam kamu. Tidak bawa apapun dari keluarga mu," jawab Sana ikut menimpali.
"Oh... Saya sudah paham. Rupanya kamu ingin cari istri untuk Furqan. Biar bisa bawa jehez. Silahkan cari. Sebelum itu kirim saya ke negara saya dulu. Dan saya bawa anak anak saya," jawab Aini.
"Tenang. Mulai detik ini kamu anggap saja sudah di negara kamu," jawab Yasmin
Ternyata benar kelakuan Yasmin. Dia selalu mencari celah kesalahan Aini. Dan melapor pada Furqan. Seperti orang yang sudah buta mata hati. Ingin memisahkan Furqan dan Aini.
Tiba tiba Furqan telpon seperti biasa. Dan menanyakan kabar. "Ada apa sayang? Semua baik baik saja? Apa ada masalah?" tanya Furqan.
"Biasa adek adek mu datang. Sekarang lebih berani lagi. Dia nyuruh saya pergi. Dan mau cari istri orang Pakistan untuk mu," jawab Aini.
"Ah.. Dia bercanda. Jangan kamu ambil pusing. Biar saja dia. Saya tidak mungkin kawin lagi. Kamu jangan kuatir," jawab Furqan.
"Saya tidak kuatir. Tapi saya tetap mau pulang ke negara saya. Bagaimana pun saya tetap mau pulang. Menikah atau tidak dirimu saya tidak peduli. Bisa jadikan kamu nurut ucapan adek adekmu! Dan kamu tidak mengantar saya pulang," ucap Aini.
"Sayang jangan begitu. Ok kalau kamu pulang. Justru kita dekat kan? Kamu bisa ke Malaysia bila bila kamu rindu," jawab Furqan.
Entahlah sepertinya Aini ragu. Tidak yakin dengan ucapan Furqan. Tapi dia tetap mau pulang. Memang sudah lama ingin pergi dari sini. Bukan alasan Furqan mau di carikan Istri lagi atau tidak. Tetapi lebih anak anaklah yang mau pulang.
Aini lama termenung. Tanpa ia sadari Akram datang. "Ami ji. Ada apa? Kenapa bersedih?" tanya Akram. Sambil mencium kening Aini dengan penuh kasih sayang.
"Entahlah Nak. Kenapa tiba tiba ami sedih. Ami ingin kita pulang ke tanah air. Lebih baik kita di sana. Dan Ami ingin kamu pun nanti menikah di sana. Memiliki rumah di sana," ucap Aini.
"Ami kan tau. Saya juga ingin ke sana. Percayalah suatu saat nanti kita pasti bisa pulang," ucap Akram meyakinkan Aini.
Sambil meneteskan air mata Aini terharu mendengarnya. Betapa Akram jadi remaja yang pengertian. Memahami keadaan ibunya. Dan bisa mengerti kemauannya.
''Adekmu mana?" tanya Aini.
"Dia masih ada tugas. Belum pulang dari tuition," jawab Akram.
"Ya sudah kamu jangan banyak bicara sama Yasmin dan Sana. Dia ada di sini. Di tempat poponya. Nanti kalau dia ke sini kamu biasa saja," ucap Aini.
Aini segera sholat menenangkan diri. Dan mencoba tabah menghadapi ipar ipar serakah. Kalau bukan gara gara uang tidak mungkin ipar iparnya ini berbuat begitu. Pasti ada yang di sembunyikan mereka.
__ADS_1
Di kamar sebelah Yasmin dan Sana sudah mengatur berbagai rencana. Supaya Aini benar benar pulang. "Yasmin. Kita tetap buat Aini susah hati. Jadi lama lama dia yang mau pulang. Bukan gara gara kita," ucap Sana serius.
Brakkk..... Bunyi kayu jatuh.