
Setelah hampir satu minggu tibalah saatnya Tahira pergi. Karena panggilan tugas. Sebagai wanita Pakistan sangat sulit kalau sudah menikah bekerja.
Namun dari awal Tahira dan Jafar sudah punya kesepakatan. Bahwa Tahira tetap akan bekerja.
Jafar bisa memahami. Karena sebelum pacaranpun Tahira memang sudah bekerja. Tahira wanita tamatan universiti. Tidak mungkin dia akan mundur dari pekerjaannya kalaupun sudah menikah.
Bagaimanapun juga dia tetap yakin akan keputusannya. Tentu saja mertuanya tidak terima. Karena dengan begitu, Tahira punya alasan untuk tidak membawa jehez.
"Sebaiknya kamu berhenti saja bekerja," ucap mertuanya sebelum Tahira pergi.
"Maaf sebelum menikah, saya dan Jafar sudah sepakat akan hal ini, saya harap anda bisa terima," jawab Tahira.
"Kalau begitu jangan jadikan alasan kerja untuk tidak membawa jehez," sanggah mertuanya. Mulai menunjukkan wajah tidak suka.
"Maaf saya harus berangkat, jemputan sudah datang, nanti saya kabari lagi," jawab Tahira terburu buru. Karena tidak mau terlambat. Mobil yang menjemput sudah menunggu dari tadi.
Lebih baik aku bergegas gumam Tahira. Kalau tidak nanti dimintanya emas ini. Sekarang ini hak saya. Saya harus bawa sekali. Agar nanti bisa saya jual untuk beli tanah.
Baru beberapa saat dalam mobil jemputan ternyata benar. Hp Tahira berbunyi Ibu mertuanya menanyakan emas yang sedang di pakai Tahira.
"Tahira di mana kau simpan emas yang kau pakai?", tanya mertuanya.
"Maaf bu, saya tadi buru buru jadi tidak sempat membukanya," Tahira memberi alasan. Padahal dia sudah berniat menjualnya nanti. Sekaranglah kesempatan untuk menjualnya. Sekalipun ini hadiah pemberian mertuanya, namun sekarang sudah menjadi hak nya. Kenapa harus di minta balik.
"Apa kamu sengaja mencari alasan?", dengan kesal mertuanya menggerutu.
"Maaf bu, bukan saya mencari alasan. Lagi pula ini kan hak saya. Kenapa saya harus minta ijin dulu untuk membawanya?"
"Secepat mungkin kamu harus kembalikan, paham?", hardik mertuanya.
"Maaf bu, kalau begitu saya terpaksa menjual emas ini. Buat apa ibu kasih kalau setelah itu ibu minta kembali? Lebih baik jangan di kasih," sanggah Tahira.
Di seberang sana ibu mertuanya terus saja mengomel. Memang Tahira berencana menjual emas perkawinannya ini. Kalau tidak nanti pasti akan di minta terus.
Tahira sampai di tempat tugas. Dan mulai melakukan rutinitas kerja. Tempat tinggal nya tidak jauh dari tempat ia bekerja.
Ada ibunya besertanya. Memang Tahira mengajak beliau. Sementara suaminya Jafar sekali kali mengambil cuti dan datang ke tempat Tahira.
"Ibu bagaimana keadaan ibu?" Tahira kuatir ibunya jatuh sakit gara gara memikirkan dirinya.
"Tidak apa Nak! Ibu cuma memikirkan dirimu," jawab ibunya.
"Ibu jangan terlalu memikirkan aku, semua akan baik baik saja," ujar Tahira lirih. Sekalipun dalam hati dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.
"Bagaimana dengan perhiasaanmu? Apa yang akan kau lakukan dengan nya?", selidik ibunya.
"Aku berencana menjualnya ibu. Sebelum aku ke sini mertuaku memang sudah wanti wanti untuk di kembalikan. Tetapi , tadi tepat sekali mobil sudah datang dan aku bergegas pergi. Rupanya beliau menelpon ku. Yah kujawab aja ini sudah menjadi hak ku."
"Apa kata suamimu nanti?", kalau kamu jual."
"Ibu, aku lapar mau istirahat dulu. Nanti kita bicarakan lagi. Ibu masak apa wangi masakan tercium dari dapur. Aku mau ke dapur dulu," sebenarnya Alasan saja Tahira lapar dan mau ke dapur.
Jauh di lubuk hatinya dia pun galau. Apa yang akan di katakan Jafar. Kalau nanti dia menjual perhiasaan ini. Namun dia sudah pikir matang matang.
Tahira ada pekerjaan tetap. Kenapa takut. Kalau sekarang beli tanah dulu, ke depannya tinggal membangun saja lagi. Dan Tahira tidak mau tinggal di rumah mertuanya.
Buat apa tinggal di sana. Tidak punya ruang pribadi. Memang begini kenyataan hidup di Pakistan. Orang asli Pakistan pun kalau mau jujur tidak suka dengan adat sendiri. Tapi lagi lagi dengan alasan yang di buat buat agar patuh pada adat.
Ini perempuan asli sini juga merasakan kekejaman adat sendiri. Memang rata rata begitu. Trus bagaimana dengan Aini yang orang asing.
Kedatangan Aini sebenarnya tidak ada kena mengena dengan adat. Karena juga mereka tidak mengadatkan pernikahan Aini dan Furqan. Tetapi tetap di tuntut Aini harus beradat kepada keluarga suaminya.
********
Kembali pada Tahira.
"Apa kabar sayang", saya sangat merindukan mu. Suara khas dari Jafar membuat hangat suasana hati Tahira.
"Baik, kamu bagaimana? Bila mau ke sini, saya juga rindu", jawab Tahira lagi.
"Sabar yah, mungkin seminggu lagi. Saya akan minta cuti," terang Jafar pada kekasihnya. Memang dalam hati kedua sejoli di mabuk cinta itu menyimpan kerinduan mendalam.
__ADS_1
Namun mereka bukan tipe yang kampungan. Mereka orang terpelajar. Yang satu polisi dan yang satu guru yang mendapat mandat mengajar para siswa baru. Tahira sekolah jurusan "Farmacy". Tetapi sekarang tugasnya melatih para nurses di rumah sakit.
Pekerjaan yang dia dapat sekarang, bukan tanpa hambatan. Banyak pertolongan Jafar kepadanya. Oleh sebab itulah kebersamaan menumbuhkan bibit cinta di antara mereka.
Panjang kisah mereka. Namun tetap juga adat membuat mereka tersiksa. Sekalipun sama sama terpelajar.
******
Tahira hamil
"Kenapa sayang kamu pucat? Ayo kita ke dokter?", saran Jafar begitu melihat istrinya kurang enak badan.
"Nggak usah, saya sendiri juga dokter," jawab Tahira lemah. Mukanya pucat. Badannya meriang panas.
"Tapi, saya jadi kuatir melihat ke adaan mu?", Jafar mencoba membujuk Tahira.
"Saya cuma mau istirahat, mungkin saya terlalu capek," elak Tahira. Karena dia merasa sebenarnya penyebab demam ini seperti sesuatu yang janggal. Merasa mual di pagi hari saja.
"Ok baiklah. Kamu istirahat dulu saya akan beli buah buahan." Jafar pergi keluar kamar meninggalkan istrinya. Di luar ternyata sudah ada ibu Tahira, membawa sup hangat untuk anaknya.
"Ada apa Nak Jafar? Mau ke mana pagi pagi?", tanya ibu Tahira. Karena memang sejak menikah sampai sekarang ibunya ikut anaknya.
"Mau ke pasar bu, ibu mau sesuatu? Biar nanti sekalian saya beli?", tanya Jafar pada mertuanya.
"Nggak usah, ibu nggak mau apa apa," jawab ibu Tahira pada mantunya. Dia bukan tipe ibu yang suka menyusahkan anak anak. Sekalipun dia paham anak anak nya anak yang berbakti.
"Kalau begitu titip Tahira dulu," sambil berlalu keluar rumah.
Jafar merasa kawatir dengan ke adaan Tahira. Tidak biasanya Tahira begini. Namun dia tidak ada pikiran kalau istri nya berbadan dua.
*****
"Sayang coba lihat aku bawa apa saja?" , dengan riang Jafar pulang membawa banyak buah buahan. Namun langkahnya terhenti melihat Istrinya tertidur.
"Nak Jafar, Tahira baru saja tidur," terang mertuanya.
"Baiklah bu, simpan aja semua. Nanti dia bangun baru di hidang kan," jawab Jafar.
Di genggamnya tangan istrinya. Lalu di ciumnya pelan. Karena tidak mahu membangunkan istrinya.
Satu jam berlalu. Tahira terbangun dia terkejut melihat Jafar tidur di sisi ranjang dalam ke adaan duduk. Di belainya kepala suaminya mesra.
"Jafar... Kenapa tidur begitu? Rebahkanlah badanmu di sini.
Pelan Jafar naik ke kasur dan melanjutkan tidurnya. Tahira tersenyum melihat tingkah suaminya. Diselumuti tubuh suaminya. Di kecup kening lelaki itu. Dan raut muka Jafar berubah senyuman menerima perlakuan istrinya.
Tahira berjalan ke luar kamar. Sambil membiarkan suaminya istirahat. Di ruang tamu di lihat ibunya sedang melamun. "Buk ada apa? Apa yang ibu pikirkan?", tanya Tahira.
"Nak, apa rencana mu selanjutnya? Jafar mesti tau, kalau kamu sudah menjual perhiasan mu. Termasuk perhiasan yang di kasih mertuamu," kata ibunya dengan ragu ragu. Takut kalau kalau pembicaraan mereka di dengar Jafar.
"Ibu, saya sudah pikirkan. Ibu jangan kuatir semua akan baik baik saja. Saya akan bicara terus terang ke Jafar. Kalau saya sudah menjual perhiasaan itu. Untuk membeli tanah. Nanti saya akan memulai membangun rumah sendiri. Karena saya juga tidak mahu menumpang di rumah mertua," uacap Tahira panjang lebar pada ibunya. Karena Tahira tau ibunya dari sejak awal pernikahannya selalu memikirkan dirinya. Takut anaknya mendapat perlakuan tidak baik oleh keluarga suaminya. Dan ternyata itu benar.
Tiba tiba pintu di buka pelan. Jafar sudah bangun tersenyum kepada ibu dan anak yang bicara tadi. Yang tak lain tak bukan adalah mertua dan istrinya.
"Sudah bangun? Apa mau mandi?", tanya Tahira pada suaminya.
"Yah saya mau mandi dulu," jawab Jafar. Sambil menuju kamar mandi.
"Baiklah selepas mandi nanti makan dulu sebelum kita pergi ke dokter," kata Tahira.
"Kenapa? Apa kamu masih sakit? Sayang saya sangat kuatir akan dirimu?", jawab Jafar sambil memeriksa Tahira.
"Tak ada masalah penting, pokoknya antar saja saya ke dokter," jawab Tahira.
"Mmm baiklah,".
Brrrrrr....byuuuuur.....
Siraman air ke badan mulai terasa dingin menggigit tulang. Karena sudah mulai memasuki musim dingin.
Jafar segera mandi. Karena tidak tahan lama lama kedinginan. Dan membayangkan segelas minuman hangat. Segera ia keluar kamar mandi. Begitu melalui meja makan tercium aroma sup yang mengugah selera.
__ADS_1
"Mmmhh harumnya, siapa yang buat?" tanya Jafar.
"Sudah selesai mandi, ayo mari sini! Saya juga belum makan. Mari sama sama kita makan."
"Dengan senang hati sayang," cengir Jafar pada istrinya yang membuat istrinya tersenyum oleh tingkah suaminya.
"Mau di pakai nasi? Tanya Tahira.
"Ya campur nasi dan chatni juga saus," jawab Jafar. Chatni adalah sambal ulek khas pakistan. Di buat dari daun sejenis saledri, tetapi bukan saledri. Dari daun ketumbar. Mirip saledri.
"Bagaimana pekerjaan mu? Apa kamu akan pindah juga ke sini?", tanya Tahira.
"Belum tau, aku masih percobaan di sana. Kalau permintaan ku di terima mungkin bisa pindah ke sini. Biar kita bisa setiap hari bertemu," kerling Jafar tersenyum.
"Yah semoga saja. Hari ini kita ke dokter mau memastikan kondisi saya."
"Baiklah. Apa kamu sudah ambil jadwal dokter? Tanya Jafar.
"Belum, dokter itu teman saya kita nanti langsung saja ke kliniknya. Jadi tidak perlu repot repot," jawab Tahira.
Setelah selesai makan mereka bersiap siap pergi. Ibunya yang dari tadi memperhatikan anak dan menantu merasa ada persaan yang tidak nyaman meliputi hatinya. Namun lagi lagi dia tidak bisa mengungkapkan.
"Bu, saya pamit dulu," Tahira berusaha menenangkan ibunya. Dan menyakin kan tidak ada masalah.
"Hati hati doa ibu bersamamu," jawab ibunya lirih. Sambil mencium kening putrinya.
******
Ternyata Tahira sudah hamil memasuki 5 bulan. Dan tentu ke dua pasangan itu bahagia. Namun dalam hati Tahira mencoba mengumpulkan kata kata terbaik untuk bicara masalah perhiasan.
"Selamat kamu hamil! Tapi kenapa baru sekarang periksa? Namun semua baik baik saja , bayinya dalam kondisi sehat," jawab dokter kandungan itu.
"Terimakasih dokter, ijin pamit dulu," Tahira keluar sambil di tuntun Jafar.
"Sayang kita mampir dulu di Cafe dekat sini, ada yang ingin saya ceritakan," dengan hati hati Tahira bicara dengan suaminya.
"Baiklah". Dengan sigap Jafar menuju Cafe tersebut. Setelah memarking motornya. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman untuk duduk.
"Jafar ada yang akan saya sampaikan. Bagaimanapun nanti juga akan ketahuan, oleh karena itu lebih baik saya yang bagi tau duluan," terang Tahira pelan tapi pasti.
Jafar memperhatikan muka istrinya. Tiba tiba dia merasa ada yang tidak biasa. Perhiasan yang di pakai tempo hari tidak ada. Seketika Jafar curiga.
"Tahira , mana perhiasan mu? Kenapa kamu tidak memakainya?", tanya Jafar.
"Itu yang ingin saya sampaikan, saya sudah menjual semua termasuk perhiasan yang kamu beri," jawab Tahira.
"Apaaaa??????? Kenapa????
"Saya belikan tanah ," jawab Tahira.
"Kenapa kamu tidak minta ijin sama saya? Kamu tau ke datangan saya ke sini mau mengambil semua perhiasan itu," bentak Jafar.
Alangkah terkejut Tahira melihat sikap Jafar. Belum pernah dia semarah ini. Memang ada perhiasaan pemberian keluarga Jafar. Tetapi ada juga yang Tahira sendiri punya. Tadi jelas sekali suaminya bilang mau ambil semua.
"Apa maksud ucapan mu? Kenapa mau di ambil semua? Ini juga hak saya. Kamu berikan sebagai hadiah pernikahan kenapa harus di ambil lagi?" , tanyanya bertubi tubi.
"Kau membuat aku susah, ibuku sudah pasti marah besar, dan akan mempersulit hubungan kita," jawab Jafar.
Tahira tidak peduli dengan kemarahan suaminya. Setelah kejadian di Cafe itu. Jafar pulang ke rumah orang tuanya. Dan ternyata ibunya marah marah.
Dan tidak terima apa yang di perbuat Tahira. Ibunya berbagai cara membuat Tahira pindah ke rumahnya. Dia tidak mau lagi rugi ke dua kalinya.
Setelah perhiasan di jual. Dia menunggu kelahiran anaknya. Tahira masih saja bertengkar dengan Jafar. Ibu Tahira yang tau keadaan anaknya semakin sedih. Bahkan dia sakit sakitan.
"Jafar, setelah istrimu melahirkan bawa anakmu ke sini. Sekalian barang barang di situ. Saya tidak mau lagi mendengar alasan apa pun ," jawab ibunya tegas.
"Baiklah bu kita tunggu saja setelah melahirkan," jawab Jafar patuh. Karena dia tidak ingin mendapat murka ibunya lagi. Dan memang sebaiknya anaknya tinggal bersama ibunya. Dari pada istrinya. Nanti siapa yang mengurus.
"Dan ingat saya tidak mau kamu selalu menututi ke inginan istrimu," ancam ibunya.
"Ibu apa masih ada?", tanya Jafar.
__ADS_1
"Tidak ada sudah cukup," jawab ibunya Jafar.