
Setelah lama merenung kedua sejoli itu saling menatap dalam dalam. Saling membaca pikiran lawan bicara. Apa yang akan di pilih berpisah atau tetap melanjutkan.
"Jafar, pastikan dulu ibumu menerimaku, baru aku bisa menjawab mau bagaimana kita selanjutnya," ucap Tahira lirih. Karena tidak mungkin menjalani hubungan tanpa restu.
Jafar menatap mata Tahira dalam dalam. "Percayalah padaku, aku sekarang bisa menemuimu karena sudah di ijinkan untuk melanjutkan hubungan kita," terang Jafar pada kekasihnya. Berharap Tahira segera menjawab pertanyaannya.
"Tidak semudah itu, masih ada lagi yang harus kamu yakinkan. Yaitu ibuku. Kalau ibuku menolak mu maka aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita," jawab Tahira lirih. Karena tidak mungkin dia akan membantah ibunya. Yang sudah bersusah payah membiayai sekolahnya sampai sekarang. Ibunya berharap Tahira punya pekerjaan yang baik. Sangat sulit bagi wanita di lingkungan adat yang ketat bisa bekerja di luar.
Apa lagi setelah menikah. Belum tentu mertuanya menerimanya. Dan kalau nanti justru mertuanya menyuruh berhenti bekerja bagaimana?.
"Baiklah, aku juga akan meyakinkan ibumu," dan aku berharap beliau menerimaku. Jawab Jafar yakin.
"Kita lihat saja nanti."
********
Tahira sangat terkejut setelah tau kalau Jafar pernah mencoba mengakhiri hidupnya. Demi mempertahankan hubungan mereka. Teman Tahira yang kasih tau kalau Jafar dirawat di rumah sakit gara gara mencoba bunuh diri.
Ibu Jafar sudah pasrah dengan keputusan anaknya. Kalau tidak di restui maka dia takut anaknya akan nekat untuk kedua kalinya. Dan sudah pasti semua akan menyalahkan dirinya.
"Ami ji, aku mohon ijinkan saya menikah dengan Tahira," pinta Jafar pada ibunya.
"Baiklah asalkan kamu bahagia," pasrah sudah ibunya demi anak laki satu satunya.
"Besok kita akan pergi menemui keluarga Tahira, saya harap ibu akan bicara baik baik. Kumohon ibu jangan mencari alasan untuk membatalkan pernikahan kami."
"Ok, ada lagi? Tanya ibunya.
"Tidak sudah cukup," jawab Jafar.
Seminggu kemudian keluarga Jafar menemui keluarga Tahira. Dan kedua belah pihak setuju menikahkan anak mereka.
Sampai lah hari yang ditunggu tunggu kedua sejoli itu menikah atas dasar suka sama suka.
Pesta besar dengan segala macam rangkaian adat. Ditambah maraknya para undangan. Di hebohkan oleh tabuhan gendang khas pernikahan adat Pakistan.
Semua undangan sedang menikmati jamuan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Berharap semua suka dan tentu tidak lupa amplopnya.
Di sini mengundang akan di undang begitu pula sebaliknya. Kalau seandainya anda di undang lalu di beri ampolop nah begitu giliran mereka mengundang balik anda harus membayar sebanyak amplop yang itu hari mereka beri.
Kalau tidak maka sudah pasti mereka bertengkar. Minta sesuai yang mereka bayar. Rata rata Pakistan beragama islam. Namun pada pratek kehidupan masih kental nuansa hindu. Pengaruh adat india. Karena dulu Pakistan pecahan india.
Seperti perkawinan India Pakistan tidak beda. Sama sama membawa jehez bagi mempelai wanita. Seandainya si wanita tidak di beri jehez itu sesuatu yang memalukan. Apa lagi kalau jeheznya sedikit.
Intinya semakin banyak jeheznya maka semakin baik perlakuan keluarga suami. Bisa dibayangkan kalau setelah menikah melahirkan anak perempuan maka kadang keluarga suaminya bahkan tega menyuruh anaknya kawin lagi atau menceraikan.
Karena memiliki anak perempuan mereka akan rugi. Banyak para orang tua malah menabung dari bayi untuk jehez anaknya kelak.
"Mana jehez pengantin wanita? Tanya undangan.
"Untuk sementara belum di bawa," jawab tante dari pihak wanita.
"Loh kenapa? Bukankah mereka sudah mengadakan pesta?"
"Yah mereka nanti juga tidak tinggal di sini," sanggah tante si pengantin wanita.
"Kenapa begitu?"
"Hei kenapa mengunjingkan jehez? Apa urusan kalian? Terserah merekalah hubungan dengan kalian apa?", tiba tiba Bisma adek Jafar datang. Dan tidak suka ada orang ikut campur urusan keluarganya.
Memang Tahira tidak membawa jehez ke rumah mertuanya. Karena Tahira memang berniat untuk pisah rumah dengan mertuanya.
Inilah yang nanti selalu membuat Tahira dan Jafar bertengkar terus.
"Ayo keluar semua, ijin kan pengantin masuk kamarnya dan istirahat dulu," tiba tiba tante pengantin wanita menyuruh mereka keluar dari kamar pengantin. Semua keluar dengan tergesa gesa.
"Tahira silah kan masuk," ujar tantenya.
__ADS_1
"Tolong pegang ini dan angkat gaun nya," ucap yang lain.
"Ini siapa yang membuang bunga ini, tadi semua sudah di larang jangan masuk ke sini. Lihat semua berantakan cepat bersihkan," perintah tantenya.
"Baik tante," jawab Bisma.
Malam itu bisa dikatakan malam bahagia sekaligus awal derita bagi Tahira. Ternyata perkawinannya juga tidak berjalan mulus. Mertuanya sering mengadu domba antara anak dan menantu.
"Oh...suda tercapai semua keinginan mu? Sekarang wujudkan pula keinginan ku. Kamu jangan lupa minta jehez ke orangtua mu," ucap mertuanya.
"Ami... Kenapa bicara begitu? Baru saja kami menikah, tetapi Ami seolah masih benci," jawab Jafar.
"Apa kamu lupa Jafar? Apa istrimu juga tidak perlu bawa jehez? Dan kamu pun juga akan ikuti semua kemauan istrimu?", ami setelah menikah kami akan pindah ke kota lain. Karena Tahira mendapat pekerjaan di sana. Itulah sebabnya jehez tidak di bawa ke sini."
"Saya tidak mau tau, pokoknya istrimu harus bawa jehez ke sini. Sekarang rumahnya di sini," jawab ibunya lagi.
"Baiklah Ami."
Setelah itu ibunya berlalu keluar. Memang dalam hatinya wanita paroh baya itu masih kesal dengan pernikahan anaknya. Entah kenapa sekalipun Tahira mendapat pekerjaan pegawai negripun mertuanya tetap menyusahkan Tahira dalam masalah jehez.
"Sayang maafkan sikap ibuku, yah, jangan masukkan ke hati," Jafar mencoba menenangkan perasaan wanita yang di cintainya. Yang baru hitungan jam jadi istrinya.
"Ah..tidak apa apa, saya bisa terima kok, memang seharusnya saya sudah membawa jehez ke sini. Tapi kitakan berencana untuk tinggal di sana. Nah nanti susah kalau di bawa ke sini. Kita juga butuh untuk di sana. Karena saya bekerja di sana," jawab Tahira.
"Yah nggak apa apa nanti saya akan mencoba memberi pengertian pada ibu," ujar Jafar.
"Sekarang kita sudah menikah, dengan susah payah semoga kita bisa saling memahami," pinta Tahira lirih.
Karena Tahira paham sekali adat mereka. Sulit ke depannya kalau Tahira tidak menyetujui keinginan ibu mertuanya.
Pagi pagi Tahira sudah bangun."Coba lihat pengantin baru," ucap Bisma. Memang Bisma tidak ubah dengan sikap ibunya.
"Selamat pagi semua," Tahira berbasa basi sekalipun dia tau semua juga tidak menyukainya.
"Pagi juga," jawab mereka serempak.
"Maaf, kamar mandi di mana? Tanya Tahira sambil melihat kiri dan kanan.
"Terimakasih Buk," angguk Tahira sopan.
Di sini rumah masih gaya lama. Dan kamar mandi pun jauh dari kamar. Kalau tiba tiba malam kebelet kencing lumayan repot juga. Apa lagi musim dingin.
Tahira melepas bajunya. Dan brrrr menyiram badannya dengan air sejuk. Sekarang masih musim normal. Masih sanggup mandi dengan air tangki. Dua bulan lagi maka tidak akan sanggup, karena sudah mulai musim dingin.
Cepat cepat dia mandi karena teringat Jafar juga belum bangun. Tahira merasa asing di sini. Apa lagi tanggapan dingin keluarga suaminya.
Baru membuka pintu mau keluar, ternyata ada Bisma di luar sudah menunggu. "Kenapa lama sekali? Orang juga akan menggunakan kamar mandi," ketus Bisma tidak suka.
"Silahkan, saya sudah selesai," jawab Tahira datar.
"Lain kali kalau mau menggunakan kamar mandi, cepat keluar. Ini bukan ruang pribadi semua orang juga butuh."
Ya ampun belum satu minggu di sini sudah mendapat perlakuan tidak baik oleh iparnya. Tenang saja kata Tahira dalam hati, saya juga tidak akan lama di sini.
Pelan dibukanya pintu kamar. Dilihatnya suaminya masih tidur. Perlahan dipegangnya pipi suaminya. Dan...
"Mmmmmhhh....Jafar menggeliat manja."
"Jafar..... Jafar...bangunlah," Tahira mencoba membangunkan Jafar.
"Mmmhhhh," lagi lagi Jafar menggeliat malas.
"Ya sudah nanti ibumu datang ke kamar ini apa kamu tidak malu?", ucap Tahira.
Tok tok tok......
Tok tok tok....
__ADS_1
Dua kali pintu di ketuk dari luar. Ternyata Tahira benar, ibu Jafar datang.
"Iya Bu," Tahira membuka pintu.
Tatapan sinis mertuanya membuat Tahira tidak nyaman. "Kenapa Jafar belum bangun? Kenapa tidak kamu bangunkan? Jangan anggap saya sudah menerima kamu sebagai menantu, lalu kamu bisa berbuat seenaknya."
Miris sekali hati Tahira mendengar ucapan mertuanya."Tadi saya sudah bangunkan , dan dia memang susah bangun," jawab Tahira membela diri.
Tiba tiba pintu di ketuk pembantu. Tok tok.. "Maaf nyonya saya mengantarkan sarapan," ujar pembantunya dari luar.
"Masuklah! Tarok sarapan di meja itu," jawab Tahira pada pembantu itu.Tahira masih kaku dengan kehadiran mertuanya. Tiba tiba mertuanya mulai bicara.
"Kapan kamu akan membawa barang barangmu ke sini? Apa lagi alasan mu sekarang?", tanya mertuanya bertubi tubi. Karena memang mertuanya masih belum bisa menerimanya sepenuh hati. Bahkan detik ini. Tetap menunjukkan muka yang tidak bersahabat.
"Saya dan Jafar sudah sepakat, kalau setelah menikah kami tidak akan tinggal di sini. Karena saya sudah di terima kerja di rumah sakit umum. Jadi saya harus tinggal dekat tempat kerja saya," terang Tahira pada mertuanya.
"Tidak bisa begitu, bekerja atau tidak kamu tetap harus membawa jehez ke sini, titik! Tidak ada alasan lagi, dan saya juga tidak mahu dengar, pafam?", bentak mertuanya.
Sambil berlalu keluar kamar. Dan mengomel terus di luar. Sampai yang lain pun heran dan bertanya ada apa?.
"Adat kita sudah jelas, bahu datang membawa jehez. Tetapi bahu kita punya pilihan sendiri, sengaja tidak membawa jehez ke sini. Lalu apa kata orang orang. Kenapa Jafar punya istri tidak membawa apapun?", kesal mertua Tahira. Bahu dalam bahasa Urdu artinya menantu. Sedang kan mertua perempuan di sebut shasuma.
"Ada apa? Pagi pagi sudah ribut?", tanya suami kalla. Melihat istrinya mengomel pagi pagi. Dan merasa tidak enak di dengar orang. Karena masih ada sanak saudara yang belum pulang. Karena rumah mereka jauh dan harus menginap
"Bagaimana tidak kesal dengan istri anakmu! Baru saja jadi anggota keluarga kita sudah buat peraturan sendiri. Jangan mentang mentang saya sudah ijinkan , Jafar anak saya menikahi dia lalu dia bisa buat peraturan sendiri.
"Sudah lah istriku, berilah masa untuk mereka memberi penjelasan, nanti mereka juga akan bilang," ujar suaminya. Namun lagi lagi kalla Furqan tidak bisa terima.
Yah....ini adat jangan buat malu. Melanggar adat bisa fatal. Tidak peduli apa masalahnya adat tetap adat. Wanita menikah harus membawa isi rumah ke rumah mertuanya.
Jangan di anggap sepele. Ini akan menjadi api dalam sekam. Nanti ke depan pasti menjadi masalah terus. Lebih baik di taati saja.
"Jafar! Bangunlah, apa kamu tidak mau tau ibumu pagi pagi sudah bertanya jehez," Tahira mencoba membangunkan Jafar.
"Mmmhhhh aaaaaahhh," iya saya sudah dengar tadi. Jawab Jafar santai. Karena tidak ada gunanya juga meladeni ibunya pagi pagi. Makanya tadi dia pura pura tidur.
"Kamu ini bagaimana sih? Ibumu pagi pagi sudah ribut kamu malah santai saja," kesal Tahira. Melihat sikap Jafar Tahira makin kesal.
"Trus apa lagi saya buat? Nanti kita akan bicarakan baik baik. Percayalah semua akan baik baik saja," sambil memegang erat tangan istrinya.
"Saya sulit menghadapi sikap ibumu, sepertinya dia tidak akan pernah menerimaku. Namun saya tidak bisa menuruti keinginan beliau. Kamu lah yang beri pengertian."
"Baiklah istriku, jangan kuatir percayalah semua akan baik baik saja, jangan terlalu di fikir," terang Jafar.
*******
Kedua pasangan sejoli itu bisa di bilang menikmati kisah cinta mereka. Sekalipun mertuanya tidak juga bisa menerima keputusan anaknya. Di tambah keinginan menantunya ingin tinggal jauh dari mertua.
Setelah melewati masa bulan madu. Jafar kembali bertugas. Kali ini dia pergi lebih awal dari istrinya. Istrinya mendapat panggilan tugas seminggu kemudian.
Dan selama seminggu tanpa Jafar perlakuan mertua dan ipar benar benar tidak sopan.
"Ami ji, saya akan pergi kerja di luar kota. Tolong jangan buat susah Tahira," ucap Jafar sebelum pergi. Ami ji artinya ya ibu. Biasanya dalam panggilan semisal: ami ji, abu ji.
"Kenapa saya menyusahkan dia? Apa tidak salah? Kamu jangan terlalu mengikuti kemauan dia," jawab ibunya.
"Sudahlah kenapa pagi pagi mulai lagi? Kalian seharusnya saling menyadari kesalahan bukan semakin mempekeruh keadaan," lerai ayah Jafar. Memang ayah Jafar tidak masalah dengan keputusan anak menantunya. Karena baginya yang penting anaknya bahagia.
Berbeda dengan istrinya. Bagaimana pun adat tetaplah adat. Yang tidak bolah di langgar. Sebenarnya bukan adat juga sih. Kalau misal menantunya membawa jehez, tentu mereka bisa memakai juga.
Ini yang sebenarnya alasan jehez. Kadang ada keluarga yang serakah. Setelah di kasih jehez tetap minta lagi. Semakin memberatkan pengantin wanita.
Apalagi kalau ada emas. Setelah emas di kasih ke menantu , lalu di minta lagi dengan alasan yang di buat buat.
"Tahira kalau nanti kamu pergi kerja, emas ini jangan di bawa," ucap mertua perempuan.
"Kenapa ami?", tanya Tahira heran.
__ADS_1
"Nanti hilang biar saya yang simpan," jawab mertuanya lagi.
"Sayakan belum pergi lagi," elak Tahira. Karena sesungguhnya dia paham arah tujuan mertuanya. Namun Tahira sudah bertekad, emas ini akan dia jual untuk beli tanah buat rumah.