
Ini hari bersejerah dalam hidup Aini. Kontrak kerja sudah di tanda tangani. Dan separo gaji sudah di terima di awal. Dengan uang itu Aini membelikan semua kebutuhan sekolah anak anaknya. Semua orang mengira apa lagi keluarga di tanah air bersuami orang asing hidup senang. Nggak semua senang banyak susah juga.
Tapi yang menikah dengan orang senegara pun banyak problem. Yang jarang di temui pelakor di sini. Karena perempuan di sini tidak bebas. Kalau di negara kita perempuan sendirian kemana mana nggak masalah. Kalau di sini nggak boleh. Nah cuma di sini justru ipar mertua tante baik dari pihak bapak atau ibu itu yang selalu bikin masalah.
Mereka nggak tahan melihat kelebihan yang di miliki orang. Semisal seorang suami membelikan sesuatu keperluan istri perempuan perempuan di keluarga suami heboh. Apa lagi kalau bukan iri. Tapi bila mereka yang dibelikan trus juga nggak mau satu, maunya lebih dari satu. Istilah mereka tamak dan rakus.
Wajar saja karena mereka tidak pernah sekolah. Jadi mereka seumur hidup berkutat di adat saja. Nah sejak datang ke sini ini yang bikin muak.
"Assalamualaikum maaf mbak sibuk nggak?" tanya suara di seberang sana.
"Waalaikumussalam nggak kok mbak free aku," jawab Aini sopan.
"Ya sudah. Saya sudah added mbak sebagai admin group jadi tolong di pandu anggota yah."
"Siap menerima tugas," jawab Aini.
"Semoga sukses."
Hari ini pertama kali Aini memulai pekerjaan dibukanya group dan sudah ada program kerja yang harus di selesaikan. Belum apa apa sudah banyak pertanyaan anggota terpaksa satu persatu dibaca. Setelah beberapa jam cuma mempelototin hp akhirnya kelar juga.
Namun lagi lagi sms japri masuk. Dan menanyakan soal pekerjaan tadi. Aini tidak menjawab karena sudah ada tempat khusus bertanya jawab dan di luar group dia tidak melayani japri.
"Mbak ini bagaimana yah, aku sudah menjelaskan semua di group tapi kok masih japri dan ada yang bertanya soal pribadi yah nggak bolelah," protes Aini.
"Oh iya ya, begini aja Aini nanti kamu tegur di group bilang aja di luar urusan pekerjaan maka tidak ada pertanyaan dan kalau bertanya silahkan di group tidak bole japri."
"Ok mbak ini ada fail terakhir yang aku tidak paham mbak, bisa mbak jelas kan maksudnya?" tanya Aini.
"Yang bagian mana ?"
"Bagian kelompok A"
"Oh itu maksudnya kalau di bagian B semua data lengkap maka di bagian A akan sendirinya terdata, jadi setiap anggota harus melengkapi semua data data di bagian B, nanti kita tinggal copy paste nah yang lain tinggal melanjut kan."
"Tapi itu kan ribet juga mbak?" jawab Aini.
"Ah nggak juga ini ku kasih contoh."
"Oh iya ya, sudah ni ku buat bagaimana sekarang?" tanya Aini lagi dengan serius. Karena dia memang ingin hasil kerjanya memuaskan.
"Nah tinggal melanjutkan, selanjutnya suruh mereka mengisi data data yang ada. Harus lengkap semua. Nanti Mbak periksa lagi sebelum dikirim kembali."
__ADS_1
"Ok Mbak siap, besok ini sudah harus clear. Biar nanti kita tinggal promo saja bagi yang minat mau investasi bisa pilih atau cuma mau traveling boleh juga," jawab Aini semangat kerja.
"Iya nanti kita ada kerja sama dengan agent resmi pariwisata, dan mbak nanti tolong terangkan ke mereka bagaimana prosedurnya biaya dan fasilitas apa saja yang akan di terima."
"Baik mbak," jawab Aini.
Pelan tapi pasti pekerjaan Aini mulai memeras pikirannya. Yang dulu sudah lama tidak mengenal buku sekarang mengotak atik buku kerjanya. Belum lagi kalau menterjemahkan ke bahasa urdu. Ini kebanyakan pria dan sudah pasti ada yang nakal juga. Di samping mengurusi anak anaknya dia juga nyambi menyelesaikan pekerjaannya.
********
Suami Aini meminjam uang kepada Aini. Padahal selama ini suaminya bisa di katakan tidak pernah memberi uang saku.
"Sayang hari ini bapak saya datang, mau berobat kamu ada duit pinjam saya?" Suami Aini mahu minjam uang.
"Kenapa minjam sama saya?" tanya Aini.
"Pinjam lah nanti saya bayar kembali," jawab suaminya setengah memaksa.
"Saya nggak mau, buat apa saya jadi istrimu. kalau keperluan orang tua mu saya pula yang ikut nanggung," jawab Aini.
"Saya anaknya mesti la bertanggung jawab," sanggah suami Aini.
"Kalau begitu kamu carilah pinjaman sama orang lain, bag anak saya sudah rusak dan saya sudah belikan, bag anak anak seharusnya itu tanggung jawab kamu," jawab Aini menjelaskan sikap suami yang berat sebelah.
"Kalau begitu berarti kamu juga tidak cukup gaji untuk membiayai bapak mu, lagian kurang apa selama ini kamu membantu biaya pernikahan adek adek mu itu semua bukan duit bapak mu, setelah menikah adek adek mu malah mereka cuma mikir anak sama bini, trus kalau saya yang bilang kenapa kamu tidak mikirkan kami juga? Yang ada kamu marah marah sama saya," jawab Aini kesal.
"Kalau saya tidak menjaga bapak saya trus siapa lagi mereka juga tidak," jawab suami Aini.
"Salah bapakmu, karena bapak mu memanjakan mereka jadi mereka terbiasa manja sejak kecil sedangkan kamu dari kecil tidak dapat apa apa dari orang tua mu. Sekarang malah adek adek mu lepas tangan," bantah Aini tidak suka pembelaan suaminya ke adek adeknya. Tidak juga sadar sadar.
"Kalau kamu nggak mau minjamkan yah sudah, nggak usah banyak bicara," jawab suaminya mulai kesal.karena Aini tidak meminjamkan uang yang dia mau.
"Lebih baik dengan uang itu, saya puaskan anak anak saya, ngapain juga saya harus ngurusin biaya bapak mu, bapak mu dengan saya tidak suka itu pula saya akan peduli dengan dia, inikan adat kalian dan sekarang kau sendiri untuk biaya anak sama bini pun tak ada uang, eh malah duit di tangan saya mau kamu pinjam apa kah masih ada malu di otak kalian yang kalian banggakan adat kalian," gerutu Aini panjang lebar. Dalam hati Aini bergumam rasain kamu, keluarga mu juga pelit.
Mana mau Aini bantu keluarga suaminya. Aini nggak beli baju anak anaknya butuh makan, pakaian emang selama ini bapak mertua bantu? Memang ipar ipar bantu kagak.
Merekakan bangga dengan adatnya adat menyusahkan anak tertua. Dan yang muda tidak kalau pun yang muda sudah berkeluarga dan tidak menjaga bapaknya bapaknya pun nggak benci ama istri anaknya. Nah terbalik dengan Aini kalaupun suaminya sudah membantu adek adeknya itu tetap sampai sekarang harus bantu sekalipun untuk istri dan anaknya tidak cukup. Adat apaan itu.
Mending kita orang indonesia. Wanita kita juga bekerja dan bisa ngurus rumah bahkan juga ngurus orang tua. Di sini anak perempuan malah ngurus mertua, tetapi ikut campur keluarga, kadang dari ipar mereka mereka juga tidak suka.
Nah itu lah sebabnya mereka nyusahin abangnya karena kalau tidak mereka juga di perlakukan tidak baik. Bukan Aini tidak mau membantu pertama itu bukan tanggung jawab dia sama keluarga suaminya yang kedua keluarga suami juga tidak menghormatinya.
__ADS_1
*******
"Ami ji saya mau makan ayam goreng balado, sudah lama tidak makan," pinta anak sulung Aini berharap.
Aini tersenyum. "Baiklah sayang. Nanti mama buatkan untukmu special. Dan kamu jaga adekmu, sementara mama masak," jawab Aini.
"Ok komandan siap melaksanakan tugas." Sambil membungkuk hormat seperti kasatria menerima perintah ratu. Aini tersenyum geli melihat tingkah si sulung.
Abang adek itu main pedang pedangan. Gara gara drama artogul anak anak Aini ikut ikutan gaya pemain di tv. Artogul mengisahkan seorang kasatria muslim di jaman dulu.
"hiaaattt tang teng." Loncat sana sini abang adek berlagak jagoan.
"Awas kau pengkhianat, kutebas lehermu," teriak si bungsu. Sambil mengacungkan pedang mainan.
"Sebelum itu kau tebas leherku , aku yang duluan memotong kepalamu," ujar si sulung. Berdua mereka asik main . Kadang berteriak kadang tertawa terbahak bahak. Yang ada kepala Aini pening di buat anak anaknya. Namun justru itu yang menjadi hiburan bagi dirinya.
Aroma ayam goreng pesanan jagoan. Mmmmmmm yummmmii..Aini segera menyiapkan nasi beserta sambal ayam goreng balado. Di tambah lalapan mentimun dan tak lupa kerupuk udang.
"Ayo para jagoan. Ayo kita makan dulu. Sebelum makan jangan lupa cuci tangan kalian pakai sabun," ucap Aini pada para jagoannya.
Dengan serempak jagoan Aini menjawab. "Baik Ami. Perintah di laksanakan," jawab mereka serempak. Di sambut gelak tawa mereka, saling mendahului membuka kran air.
"Jangan motong saya dulu," jawab si bungsu.
"Oh tidak bisa , saya abang sudah tentu saya duluan," ledek si abang. Kontan saja si bungsu memercikkan air ke muka si abang sambil berlari.
"Hei...awas kau ya. Tak akan aku lepas nanti," ujar si abang.
"Weeeee wee... ." Sambil mencibir menang si bungsu berlindung ke belakang Aini.
"Apa apaan ini. Kalian berdua bisa berdamai tidak? Kalau tidak , nggak dapat makan ayam goreng. Cuma nasi putih saja," ucap Aini. Dan membuat ke dua jagoan itu terdiam. Karena takut tidak dapat ayam goreng. "Nah begitu kan bagus, duduk diam diam. Makan dengan tenang. Jangan berantam lagi. Paham?" ucap Aini sambil menatap mata ke dua jagoannya.
"Baik ami, kami berdamai pelukkan ayo," ucap si bungsu lagi.
"Ayoooo," jawab si sulung. Sambil tertawa lagi .Aini melihat tingkah mereka geleng geleng kepala.
"Ini untuk abang dan ini untuk adek," ucap Aini . Sambil menyodorkan dua piring buat jagoannya.
"Ami , papa ke mana? Kenapa hari ini tidak kelihatan?" tanya si sulung.
"Papamu pergi ke kampung. Melihat bapaknya," jawab Aini.
__ADS_1
"Memang papa cuti? Kenapa tidak ajak kami jalan jalan?" tanya si bungsu.
"Sudah makan saja dulu. Kasihan mama sudah capek masak, kalian tidak makan," ucap Aini pura pura cemberut. Aduh anakku sayang.