Demi Sibuah Hati

Demi Sibuah Hati
Bisma diam diam bertemu mantan


__ADS_3

Sejak berpisah dengan suaminya. Bisma tinggal bersama orang tuanya. Namun kalau pergi kursus menjahit Bisma dan kasif diam diam ketemuan. Desas desus pertemuan Bisma dan Kasif sudah tersebar di keluarga besar.


Ibu Bisma tidak kuasa menasehatin anaknya. Karena bagaimanapun Bisma dan Kasif saling mencintai. Sering kerabat melihat mereka ketahuan berduaan. Dan Jafar sebagai abang tidak bisa berbuat banyak.


"Apa lagi yang harus saya lakukan untuk anak ini," ucap ibu Bisma.


"Desas desus pertemuan mereka semua keluarga sudah tau," jawab Jafar.


"Coba kamu nasehatin dia, jangan buat malu keluarga. Mereka sudah bercerai. Sekarang diam diam bertemu," jawab Ibu Jafar.


"Ami ji kenapa memaksa kehendak? Ami yang mau Bisma cerai. Sementara mereka sekarang diam diam bertemu. Salah siapa," tanya Jafar.


*******


Hari ini Bisma sudah janjian sama Kasif. Dan dia sengaja bohong pada keluarganya kalau dia ada pertemuan bersama teman sesama kursus.


Bisma sedari rumah sudah mempersiapkan bekal. Kalau kalau nanti lambat pulang.


"Ami ji. Saya nanti pergi ke rumah teman ada acara sesama teman di sana. Mungkin saya pulang lambat," pamit Bisma pada aminya.


"Biar bhai jafar yang ngantar kamu ke sana," ucap ami Bisma.


"Oh tidak usah . Saya pergi sama sama nanti. Kita kumpul di tempat kursus," elak Bisma.


"Tidak bisa. Kalau mau pergi biar bhai mu yang mengantar. Titik. Saya tidak mau ada alasan lagi. Begitu acara selesai kamu harus segera pulang," ucap ibu Bisma tegas. Karena dia sudah mendengar desas desus tentang Bisma.


"Apa Ami tidak percaya sama saya? Kenapa saya harus di curigai? Ami jangan begitu! Saya berhak atas hidup saya," jawab Bisma.


"Kalau kamu berhak atas hidup kamu, maka saya selaku wanita yang mengandung mu jauh lebih berhak," bentak ibunya. Tentu saja Bisma paham maksud ibunya. Namun Bisma sudah nekat. Dia tetap akan bertemu dengan Kasif.


Kali ini Bisma di antar Jafar ke tempat kursus. Di sana Jafar bertanya teman yang mana buat acara pertemuan itu.


"Bisma, kamu tau sifat ami kita. Jadi saya harap kamu jangan macam macam. Sekarang tunjukkan temanmu yang buat acara pertemuan itu," ucap Jafar.


"Bhai apa kamu sendiri lupa? Kamu juga membantah ami! Sekarang kalau saya juga membantah beliau, kenapa Bhai jadi ikut campur?" tanya Bisma.


"Kenapa kamu mempersulit diri sendiri. Apa kata orang orang. Semua membicarakan kamu. Ami jadi pikiran. Lebih baik kamu jangan bertindak bodoh," ucap Jafar.


"Tidak bisa. Saya mencintai Kasif. Kalau ibu sudah membuat saya bercerai. Sekarang ibu akan ijinkan saya menikah lagi dengan Kasif," jawab Bisma tak mau kalah. Dia tau Jafar tidak akan memaksa dirinya lagi.


"Mana teman mu itu?" tanya Jafar.


"Bhai Jafar. Sebaiknya kamu pulang saja. Jaga saja istrimu. Dia juga sering buat ami kita susah," ucap Bisma mengalihkan pembicaraan. "Sudah dulu yah.. Saya mau ke dalam dulu," jawab Bisma lagi. Sambil berlalu masuk ke dalam gedung tempat dia Kursus. Dalam hati betapa senangnya dia. Akan bertemu dengan kekasihnya.


"Hai Bisma apa kabar."


"Baik. Kamu bagaimana," tanya Bisma.


"Ya alhamdulillah baik baik juga." Tiba tiba ada sms masuk. Ternyata dari kasif. Mengatakan kalau dia sudah menunggu di gerbang.


Sambil tersenyum Bisma bangkit. "Maaf ya saya pamit dulu. Sudah di jemput," ucap Bisma sambil tersenyum.


"Siapa? Apa itu mantan mu? Bagaimana kalau keluarga mu tau?" tanya teman Bisma bertubi tubi.


"Tenang saja. Mereka kalau tau pun tidak bisa berbuat banyak. Saya mencintai Kasif. Dan saya ingin kembali bersama dia," jawab Bisma sambil berlalu meninggalkan sobatnya itu.


Begitu keluar dari gedung kursus, Bisma melihat seseorang melambai tangan padanya. Bisma tersenyum pada lelaki itu.


"Ayo berangkat," ucap lelaki itu. Yang tak lain adalah Kasif.


"Bagaimana keluarga mu? Sudah kamu atasi kalau nanti kita lambat pulang," ucap Kasif. Sambil menggenggam tangan Bisma.


"Jangan kuatir. Mereka tidak akan banyak bicara. Sekalipun mereka tau kalau kita ketemuan," jawab Bisma lagi. Sambil bergayut manja di lengan Kasif.


"Mmhhh semoga begitu," jawab Kasif santai. Sudah membayang di pikiran lelaki itu apa yang akan mereka lakukan nanti. Tentu dengan segala persiapan.


"Kita mau kemana? Saya mau kita menghabiskan hari ini berdua saja," rengek Bisma manja.


"Tenang saya sudah pesan tempat kita berkencan. Dan kamu akan menikmati dengan puas nanti ok," jawab Kasif lagi.

__ADS_1


Tidak berapa lama sampai juga sepasang kekasih itu di suatu penginapan yang asri. Udara di tempat itu begitu sejuk. Sangat nyaman untuk memadu kasih.


"Mari kita ke dalam," ajak Kasif. Karena sebelumnya dia sudah memesan kamar.


********


Ternyata Bisma sudah siapkan pengaman diri. Dia sudah suntik anti hamil. Dan mereka sering menikmati hubungan suami istri.


Sebenarnya cuma ke egoisan ibu Bisma yang membuat dia nekat berbuat begitu. Sekalipun di atas kertas mereka sudah bercerai. Namun kenyataannya mereka selalu berjumpa.


kringggg....


"Hallo Bisma, bhai Jafar menelpon ku tadi menanyakan kamu," ucap teman Bisma.


"Kamu bilang apa?" tanya Bisma.


"Saya bilang acara sebentar lagi usai, kamu di mana? Kapan pulang?" tanya sobat Bisma lagi.


"Sekarang kami keluar dari penginapan," jawab Bisma lagi.


Sambil menutup telpon dan berkemas pulang. Semoga cepat sampai di sana sebelum bhai Jafar datang gumam Bisma.


"Kasif. Kita harus pulang sekarang, nanti saya ke duluan abang saya. Bisa marah besar dia nanti. Ayo cepat kita berangkat," ucap Bisma.


"Baiklah. Kapan kapan kita jumpa lagi," jawab Kasif.


"Tapi saya mau ibu saya terima kita. Saya tidak mau diam diam lagi bertemu," jawab Bisma.


Setelah ke dua sejoli itu berkemas. Dan meluncur ke rumah sobat Bisma. Tepat beberapa minit sebelum Jafar datang menjemput Bisma.


kringggg...


"Bisma. Sudah selesai acaranya?" tanya Jafar.


"Sudah bhai, jemputlah saya di rumah teman," jawab Bisma. Sambil melambai tangan pada kekasihnya. Bisma menunggu abangnya datang. Dan berharap Kasif tidak kelihatan oleh Jafar.


"Bisma abangmu sudah sampai," ucap sobat Bisma. Diperhatikannya Bisma dengan seksama.


"Tapi sampai kapan kamu begini terus? Apa tidak sebaiknya kamu terus terang sama keluarga?" saran sobatnya lagi.


"Saya juga tidak mau begini terus! Saya sedang berusaha supaya ibu saya bisa terima hubungan kami," jawab Bisma.


"Semoga ibumu segera memahami ke inginanmu," jawab sobatnya. Cuma sobatnya yang paham keinginan Bisma. Dan memberi suport untuk terus berjuang. Biarkan nanti ibumu sendiri yang mengalah.


"Sudah yah aku pamit. Terimakasih atas semua," Bisma pamit karena Jafar sudah menunggu dari tadi. Bergegas dia keluar menemui abangnya.


"Ayo pulang. Sudah mulai maghrib. Kenapa kamu tidak cepat keluar? Sudah sepuluh menit saya berdiri di sini," uacap Jafar kesal. Karena Bisma sengaja berlambat lambat.


"Iya. Tolong pegang kantong ini. saya pegang bag besar. Tadi saya ke kamar mandi dulu, makanya lambat," jawab Bisma memberi alasan.


"Saya tidak mau kamu terus begini. Cukuplah ini terakhir kali. Kamu perempuan yang sudah bercerai. Tidak baik keluar seperti ini," ucap Jafar tegas.


Motor melaju cepat. Dan sampai di perempat jalan lampu merah.ternyata ada Kasif sedang bertugas. Namun dia pura pura tidak melihat. Padahal baru saja mereka berpisah setelah menghabiskan waktu bersama.


"Kenapa dia melihat kamu," tanya Jafar berbohong. Padahal dia sendiri tau kalau Kasif tidak melihat mereka. Tepatnya pura pura tidak melihat.


"Siapa ?" tanya Bisma sambil menengok kanan kiri.


"Mantan suami mu," jawab Jafar.


Lampu hijau hidup, motor mobil mulai jalan. Dan tiba tiba kantong yang di bawa terjatuh. Karena Jafar lupa mengikatnya tadi. Motor berhenti ke tepi jalan.


"Aduhhh...kenapa jatuh pula," ujar Jafar.


"Kamu berdiri di sini dulu biar saya ambil." Setengah berlari Jafar mengejar kantong tadi. Ternyata sudah di pungut ke tepi oleh Kasif. Kalau tidak bisa terlindas oleh motor dan mobil yang melaju.


"Ini , lain kali hati hati," ucap K.asif gugup.


Jafar melihat ke kantong. Dan matanya tertuju pada kertas."Tunggu. Kenapa ada kertas bertuliskan nama kamu di sini? Dan tertera nama penginapan?" tanya Jafar curiga menahan geram. Ternyata Bisma bohong.

__ADS_1


"Saya tidak paham? Kertas apa?" Kasif kelihatan gugup sekali.


"Ini lihat," Jafar menyodorkan kertas tersebut. "Ternyata kalian membohongi keluargaku. Kamu dan Bisma ketemuan lagi. Ternyata kamu sengaja menginjak harga diri keluargaku. Kalau kamu masih sayang sama Bisma jauhi dia. Paham?" bentak Jafar.


Bisma sudah merasa ada yang aneh. Karena Jafar lama berbicara dengan Kasif sambil menyodorkan kertas.


"Ya ampun. Kenapa aku lupa?. Kenapa tidak kubuang saja tadi? Bisma gelisah.


Sambil menatap tajam Jafar menghardik Bisma."Cepat pulang! Dan jangan membantah lagi. Kalau masih mau kuanggap adek," ucap Jafar menahan kesal dan geram.


Motor melaju ke arah rumah mereka. Ternyata sudah ada ibu mereka di depan membuka pintu.


"Assalamuakaikum," ucap Bisma.


"Waalaikumsalam, ayo masuk," jawab ibu Bisma. Sambil heran melihat Jafar .


"Ini bawa barang barangmu," ujar Jafar pada Bisma. Bisma menurut dan membawa sendiri barang barang mereka.


"Ada apa? Kenapa kamu marah? Apa yang terjadi?" tanya ibunya lagi. Karena Jafar sangat kesal bicara dengan Bisma tadi.


"Ami tanya langsung sama dia! Sama siapa dia pergi. Kita semua di tipu. Katanya mau bertemu teman temannya. Ternyata dia bertemu mantan suaminya." Masih dengan nada kesal menahan marah.


"Apa benar yang di ucap abangmu? Bisma kamu dengar tidak?" ibu Bisma merasa di bohongi. Dan sangat marah. Anaknya tidak menghargai dia sebagai ibu.


"Ami. Kenapa bicara begitu? Kalau saya bertemu dia apa salah? Saya mencintai dia," jawab Bisma


Plaaaakkk satu tamparan keras melayang di pipi Bisma. "Perempuan tak tau diri. Bukannya menyesali perbuatannya, malah menjawab dan membangkang," hardik Jafar pada Bisma.


Sambil melayangkan tangan ke dua kali ibunya melerai. "Sudah! Jangan bertengkar lagi. Dan kamu Bisma masuk ke kamarmu dan saya tidak mau mendengar alasan mu lagi.


Sambil menangis Bisma menuju kamar. Menyendiri merebahkan badannya di kasur. Dan tertidur kelelahan.


*******


"Popo ji, bangun! Dadi ami memanggil kamu," ucap ponakan Bisma. Sambil menggoyang goyang badan Bisma.


"Mmmhh , mari sini cium dulu," ucap Bisma sama Huzel.


"Popo. Tadi anti Aini marah sama saya. Saya main ke rumah popo Yasmin. Trus Akram punya Ami marah."


"Oh...nanti kita ke sana. Kita bagi pelajaran. Kamu lakukan apa yang popo suruh," ucap Bisma. Memang Bisma sengaja buat Aini kesal dengan cara menghasut ponakannya.


Setelah sarapan Bisma sengaja bawa Huzel ke rumah Orang tua angkat Yasmin. Di sana seperti biasa tujuannya cuma satu. Ingin mengganggu Aini dan anak anaknya.


"Kamu pergi ke dapur Akram ada ibunya di situ. Bilang sama dia " saya mau pukul kamu" dan kamu tunggu di situ sampai dia jawab," ajar Bisma pada Huzel keponakannya. Dengan mengangguk paham bocah itu patuh melakukan sesuai perintah.


"Aini. Saya mau pukul kamu." Bocah itu seperti bingung sendiri.


"Oh... Kamu mau mukul saya? Apa salah saya?" jawab Aini.


Tiba tiba Bisma datang. "Ibunya yang bilang akan mukul kamu, dan ibunya yang nyuruh Huzel bilang sama kamu," ucap Bisma sambil menarik Huzel dari dapur Aini.


"Kau ingat aku tidak tau. Kau yang mengajari ponakan mu kurang ajar. Sengaja kau memperdaya dia untuk menggangguku. Dasar perempuan tak tau malu. Kau ingat aku tidak tau apa apa tentang kamu? Apa yang kau lakukan di luar sana. Saya sering mendengar kau di marahi keluarga mu, karena sering bertemu mantan suamimu."


"Bukan urusan kamu ," jawab Bisma.


"Memang bukan urusan saya. Menjadi masalah bila kau ajari anak abangmu seperti tadi. Saya berada di rumah saya. Kalian datang. Tiba tiba bicara mau mukul saya. Masih ada otak kah kamu? Masih waras dirimu?" bentak Aini tak kalah gusar.


Tiba tiba Bisma muntah muntah. Sambil berlari ke kamar mandi. Aini curiga. Tapi bukan urusannya. Lalu di lihatnya Bisma keluar.


"Huzel ayo kita pulang. Jangan layani perempuan asing anjjjj ini," ucap Bisma pada Huzel anak Jafar.


"Dasar mulut tak di jaga. Datang datang ke rumah orang bikin ulah. Dan ngata ngatain orang anjjjj. Mikir pakai otak dikit. Kalau saya anjjj kamu juga anjjjj," jawab Aini lantang.


"Kau orang asing anjjj , keluar dari rumah ini. Ini bukan rumah kamu ini rumah Yasmin yang di kasih ke Furqan," usir Bisma pada Aini. Yang di sambut gelak tawa Aini.


"Hahaha.... Kau ini memang aneh. Urusanmu apa? Kalau benar rumah ini Yasmin yang ngasih ke Furqan. Itu urusan mereka! Dan apa masalahmu? Mereka saudara. Oh iya lupa. Yasmin ngasih haknya ke Furqan dan Furqan menikah dengan saya, apa gara gara itu kamu jadi ngusir saya?" tanya Aini.


"Lebih baik kamu pulang ke negara. Kamu tidak pantas tinggal di sini," terang Bisma menyatakan sikap iri kepada Aini terang terangan.

__ADS_1


"Kalau saya tidak mau. Kau mau apa?" tantang Aini. Sudah nyata dia tak punya hak di sini. Tetapi malah berkuasa di rumah orang. Sifat asli wanita Pakistan apa lagi kalau bukan iri dengki sama Aini.


__ADS_2