
-Apa yang buat kamu suka suami?
-Apa yang buat kamu tidak suka?
-Bagaimana hubungan dengan ipar?
-Bagaimana pendapat keluarga suami kalau anak cewek?
-Terakhir. Kenapa milih Pakistani?
Jawaban Aisha:
"Saya suka dia karena dia lembut tidak kasar/mujhe pasant kiu ke wo rehem dil."
"Saya tidak suka kalau dia lebih royal pada saudara dari ibunya/ mujhe nehi pasant wo mera sohor fazool chiz apne ami ki ristedar."
"Aku tidak punya ipar cewek atau cowok. Karena suamiku anak tunggal/ mujhe koi bi nand our dewer. Kiu ke mera sohor klote bacha."
"Tak ada masalah/ koi problem nehi."
"Karena aku cinta sama dia/ kiu ke mujhe usko pyar karti he.
Jawaban Rina:
"Ganteng/khub surat."
"Dia kalau ngasih adek ceweknya nggak perhitungan. Adeknya sudah punya suami masih juga nadah/ wo apne behen ki sath bhot chiz die. Apne behen shadi suda he lakin phir manggo."
"Manis di depan buruk di belakang/ age mita pice kora.
"Nggak masalah/koi problem nehi."
"Aku suka suami tipe setia. Tidak suka main perempuan/ mera sohor ache insan he. Wo kisi our aurat kabhi dosti nehi kie."
Jawaban Mira:
"Aku lagi pedekate/ mujhe aj sirf dost.
"Dia suka ngatur harus ijin dia apa apa/ wo mera marzi nehi die . Kia kia he unki ijazat pehle."
"Belum punya ya belum kawin jadi nggak ada apa apa/ abi shadi to nehi koi problem."
"Ini sama dengan di atas/ yeh uper same .
"Jujur karena aku sering kecewa sama laki laki kita. Dia mampu membuat aku yakin untuk hidup bersama/ sach he ye ke mera dil kisi our ko todya. Our mera manggeter un ko mujhe yakin kia, in ki sath zindegi guzara."
Jawaban Lia:
"Karena ganteng baik hati dan royal/ khub surat ache dil he our khayal bohot he.
"Cuma dia suka ngatur/ sirf meri marzi nehi he.
"Lumayan baik. Saya sudah asing sendiri. Kalau pun dekat tapi mereka tidak ikut campur/ thehk hn. Mujhe elada he. Nasdiq to he lakin tang nhi kia.
"Ini yang bikin bete. Mertua terus bilang buat anak laki laki. Itu semua kan kehendak Allah/ ye to tention he. Meri sas kehti he beta peda kro. Sab Allah ki marzi he na."
"Dia sangat perhatian. Di banding lelaki manapun yang saya jumpai/ wo bhot khayal karte he. Koi bi jesse un ka mujhe mila."
Jawaban Dewi:
"Cakep. Pintar. Dan berduit. Siapa yang tidak suka/ khub surat. Akal men. Our pessa bi he. Kon nhi pasant karega.
"Terkadang dia terlalu mengawasi aku. Bukan maksud membatasi gerak ku. Lebih ke penjagaan/ kabhi kebab wo bhot kontrol mujh sy. Ye bat nehi he, mujhe koi marzi nehi. Sirf mujhe khayal rakhe."
"Ipar ku paling tua yah. Jadi suami ku yang muda. Ipar ku tidak ikut campur/ meri nand sab se bara. Our mera sohor sab se chota. Is liye wo tang nhi kia."
"Nggak masalah. Ipar ku malah anaknya cewek semua/ koi masalah nehi. Meri nand bi sare ap ne bache larkia."
__ADS_1
"Romantis orangnya. Dan tidak gampang main perempuan royal dari dulu sama saya/ romantic banda he. Our kabhi nehi dosti kisi our aurat. Mere sath bhot khayal.
"Baiklah semua saya baca jawaban dari mbak mbak. Dan itu saya juga buat kan urdunya. Setiap ada kata kata baru tolong di catat ya. Biar nanti nggak nanya terus. Ok. Itu hapal kan juga. Sekarang kita masuk ke materi selanjutnya tanya jawab. Ayo di persilahkan," ujar Aini.
"Mbak apa kabar bahasa Urdunya apa?" tanya Mira.
"Kia hal he/ apa kabar?" jawab Aini. Yang lain ayo bertanya. Dan di catat yah. Juga pratek.
"Saya baik baik saja. Kamu bagaimana? Bahasa Urdunya apa mbak?" tanya lia semangat. Karena dia memang ingin pintar bahasa Urdu. Biar nggak di kadalin terus ama keluarga suami.
"Mein thehk hn. Our ap kia hal hei? Artinya saya baik baik saja dan kamu bagaimana?" jawab Aini.
Sekarang giliran Dewi bertanya. "Mbak kalau bahasa Urdunya, saya cinta kamu apa mbak?
"Saya cinta kamu untuk cewek. Mujhe tum se pyar karti ho( karti untuk cewek karta untuk cowok)," jawab Aini serius.
"Saya lapar mau makan? Apa Urdunya mbak?" tanya Aisha.
"Mujhe bokh lagi he," jawab Aini.
" Terakhir saya ya mbak? Kalau mau bilang. Ngapain nyuruh saya urdu nya bagaimana Mbak?" tanya Rina.
"kiu mujhe kam die atau ngomong mujhe nukerani nehi ho ini artinya saya bukan pembantu.
Setelah jeda beberapa saat karena harus di catat semua. Belum lagi lafaz audio mereka akan di periksa Aini. Semua sangat semangat belajar. Karena memang sangat di butuhkan.
"Mbak Aini. Kalau mau ngomong jangan seenaknya nyuruh saya. Kerjakan sendiri kerja mu. Urdunya Mbak?" tanya Lia.
"Ap ne marzi mujhe kam na dia karo. Khud apna kam to karlo. Itu bahasa urdu pertanyaan mbak Lia. Ayo yang lain lebih semangat.
"Mbak aku kan suka grogi kalau ngomong Urdu. Mereka malah nertawain kalau saya bicara. Sebel deh," ucap Aisha.
"Yah pokoknya kamu pratek saja . Mau benar atau salah. Kebanyakan teman teman kita yang menikah dengan Pakistani mereka enggan memahami bahasa sini. Sedang kan sesama saudara aja bertengkar. Apa lagi yang nggak ada hubungan keluarga. Coba deh kamu pratek terus," jawab Aini.
"Mujhe tum se pyar karti ho meri jaan. Mera dil mat tod na. Saya sangat mencintai kamu sayang .Jangan patahkan hati saya. Benar nggak itu artinya mbak?" tanya Dewi semangat
"Yah kalau bahasa cinta cintaan cepat nangkap. Yang susah tu bahasa formal hehehe," jawab Dewi tertawa.
"Iya sih. Kalau sudah cinta bicara sudah deh taik kucing di kira coklat," jawab Aini.
"Saya mau asing masak bahasa Urdu nya apa mbak?" tanya Rina.
"Mujhe elada cahiye. Bilang aja begitu saya mau asing. Itu Urdunya. Ok sekarang kita rangkum pelajaran hari ini yah. Alasan ke 2 mengapa milih Pakistani. Karena jangan cuma kisah kisah pilu saja yang di sebarkan. Coba deh kisah bahagia jangan tekanan adat melulu.
Pria Pakistan sangat patuh pada ibunya. Dan itu sangat terbukti rata rata di sini ibu itu tidak ada perintahnya yang di langgar. Itu poin penting dalam kalau kamu nanti menikah, dengan Pakistani sudah pasti juga anak anakmu di haruskan menghormati kamu ibunya.
Bagaimana kisah ipar yang ikut campur dan suka minta minta sama saudara laki laki. Kamu jangan protes dulu. Di sini wanita itu tidak bekerja . Rata rata mereka minta uang kepada ayah atau saudara laki laki. Jadi jangan benci dulu. Idihhhh kayak si Aini nggak sebel aja hehehe.
Ingat di sini penulis ingin bersikap adil. Apa yang positif dan negatif. Nah di negara kita. Wanita bebas bekerja jadi mandiri. Memang sebel kalau suami pas pasan ipar pada nadah itu yang bikin kesel minta ampun. Orang kalau perut lapar bisa makan orang. Apa lagi parasit hidup. Wajar kan bertengkar.
Sangat loyal pada saudara dan keluarga. Ini patut di contoh. Di negara kita perselingkuhan itu hal yang sering terjadi. Bahkan di kampung tempat tinggal apa lagi di kota kota. Di sini bagaimana mau selingkuh. Para wanita tidak bebas keluyuran.
Ini poin penting juga kalau punya anak cewek. Anak cewek pun akan terjaga. Tidak ada kata pacaran terbuka di sini.
******
Setelah seminggu belajar bahasa Urdu kayaknya makin seru. Saling tukar pikiran dan memberi suport satu sama lain.
"Mbak Aini kapan kapan kita ngumpul yuk," ucap Aisha di watsapp.
"Aku nggak janji. Tapi kalau di watsapp aku nggak nolak. Yang penting bisa cerita jugakan? Kalaupun tidak ketemu muka," jawab Aini.
"Mera dil ap sy mila/hati saya mau ketemu dikau," jawab Aisha lagi.
"Wkwk itu kok pintar kali bahasa Urdu?" tanya Aini.
"Ya dikit dikit boleh lah. Tapi kan aku belum selancar Mbak Aini. Aku yang sebel itu mertuaku kan sering nyuruh mijit. Aku kan penat juga," ucap Aisha.
__ADS_1
"Lah itu kan baik. Kamu mijit mertua dapat pahala. Kenapa sebel?" tanya Aini.
"Dia nggak punya kerjaan Mbak. Mertua aku kan masih muda. Kalau dengan suami seperti adeknya," jawab Aisha.
"Ya bagaimana dia mertua kamu. Kamu harus berbakti dong," nasehat Aini.
"Suamiku baik. Dia selalu membela aku. Sewaktu aku hamil anak anak ku suami yang repot. Semua dia ngurusin. Mandiin, ceboin, nidurin anak anak. Itu lah aku merasa dengan suami tidak bisa jauh. Memang awal awal ke sini. Aku stress. Tapi kalau ku ingat ingat kebaikan suami belum tentu aku dapat seperti dia lagi. Aku nggak mau berpisah," jawab Aisha.
"Ya kalau ku ingat ucapan mu sebelum pulang dulu. Kayaknya berbeda deh. Sekarang semua baik baik saja," jawab Aini.
"Dulu aku kan masih labil mbak. Aku bingung, nah begitu aku pulang di sana aku tersadar. Bahwa suami ku yang terbaik. Biarlah ku lakukan semua demi anak anak," jawab Aisha lagi.
"Kamu coba perhatikan. Kalau pun di sini kita tidak bebas bukan berarti kita tidak bisa hidup normal. Yang aku tau dari sejak aku datang , di sini nggak ada remaja pacaran terang terangan. Coba perhatikan di tanah air. Dari SD saja sudah pintar. Kalau namanya malam minggu sudah boncengan ama pacar," jawab Aini.
"Iya mbak di kampungku pun ada kejadian anak gadis kampung itu hamil. Begitu di minta tanggung jawab yang cowok dengan enteng bilang, kalau yang ngerjain itu cewek bukan dia saja. Mudah kali orang tua membiarkan anak anaknya ber duaan," jawab Aisha.
"Aku dulu ngeri yah. Karena cerita orang orang tentang perselingkuhan saja. Jadi aku berpikir sepertinya kejujuran itu mahal bagi pasangan suami istri, kalau di sini kita memang di tekan adat. Tapi tidak ada ku dengar si A selingkuh sama si B. Dan si A ternyata istri teman si B. Seharusnya kita bersukur dapat suami Pakistani. Di sini bagaimana mau selingkuh, para wanita tidak bebas," jawab Aini.
"Mbak besok bahasa Urdu percakapan hari hari. Biar pratek langsung," pinta Aisha.
"Baik lah. Nanti kita teruskan. Aku mau pamit dulu," jawab Aini.
*******
Memang benar adanya. Pria Pakistan tipe setia. Itu juga yang Aini akui. Sejak awal sampai detik ini Furqan tetap setia. Tidak ada istilah teman wanita di dalam Hp sekalipun
Dulu Aini sering membuka Hp suami. Di sana semua teman lelaki. Di sini kalau ketahuan seseorang mengganggu wanita dari keluarga baik baik. Bisa bertengkar hebat.
Bukan wajah tampan menawan tubuh atletis bak hero. Memang orang orang Pakistan rata rata tinggi. Karena selalu minum dudh sejak kecil. tulang dan gigi mereka kuat kuat. Dan yang perempuan kadang memiliki fisik laki laki.
Perpaduan wanita Indonesia dengan pria Pakistan tentu menghasilkan anak anak yang cakep cakep.
*******
"Dulu kamu tergila gila pada suami mu. Sampai bela belain pergi dari negaramu. Sekarang kamu menderita. Ya tanggung sendiri dong," jawab kak Aira. Senior yang terbilang judes. Padahal dulu dia juga menderita sama keluarga suaminya.
"Ya aku tau Kak. Tapi aku kan mikir supaya suami berubah," jawab Lia.
"Lia yang nama menikah dengan orang asing itu berarti kamu siap dengan resiko. Kenapa sekarang kamu baru sadar," bentak Kak Aira. Memang Kak Aira senior yang lupa diri. Seharus di nasehatin. Di suport bukan di salah salahkan.
Itu curhat Lia pada Kak Aira. Lia teringat sama Aini. Di cobanya menghubungi Aini. Tidak ada jawaban. Aini memang sibuk waktu Lia telpon.
Kringggg.... Kringgg......
"Halo. Ya maaf nih aku sibuk. Nggak bisa ngobrol lama lama. Nanti ya ku telpon lagi," jawab Aini sambil menutup Hp.
"Akram. Sini bantu ami dulu, cepat lah! Ke mana ini anak. di panggil panggil tidak datang. Ali abang mu mana?" tanya Aini pada Ali.
"Di kamar mandi ami. Bhai dari tadi belum keluar," jawab Ali.
"Kenapa? Akram." Tok tok Aini mengetuk pintu wc.
"Iya ami. Saya sakit perut. Sebentar lagi," jawab Akram.
"Kenapa sayang? Apa yang kamu makan? Sampai sakit perut begitu?" tanya Aini kuatir.
Tiba tiba pintu wc di buka. Akram sangat pucat. "Ami saya mencret. Perut saya mulas sekali," ucap Akram lemah.
Aini segera membaringkan tubuh Akram. "Ya sudah kamu istirahat dulu. Nanti ami urut badan mu juga perut. Ami buat kan teh hangat dulu. Kamu minum biar perasaan enak dikit," ujar Aini sambil berlalu. Segera menuju dapur.
Kringg...... Kringggg...
Ada telpon dari Furqan. "Assalamualaikum," ucap Furqan.
"Waalaikumussalam, ya sayang. Saya sedang buat teh hangat untuk Akram. Perutnya mulas terus. Nanti saya akan urut juga perutnya. Kasihan dia," ucap Aini sedih. Ingat anak sakit suami jauh.
"Kenapa bisa sakit? Dia makan apa? Cepat bagi obat pencahar. Lalu jaga makannya," perintah Furqan. Furqan merasa sedih ingat anak anaknya.
__ADS_1